Desis ini serupa ular yang merayap kemudian menjalar, aku masih terbaring dan tak bisa bergerak. Hatiku masih terpaut pada bisikan yang membuatku tergetar. Kau begitu menyihirku seperti cinta. Aku tak berdaya dan semalaman hanya memikirkanmu. Desis nafasmu, deru jantungmu. Aku masih bisa melihat ketulusan dari kedipanmu, lalu terpejam. Dan aku mulai meraba-raba, seperti sentuhan bulu merak yang merayap saat membelai. Aku membelaimu hingga dirimu benar-benar terlelap. Saat itu, aku hanya bisa memandangimu dengan penuh cinta. Saat kau berada benar-benar dekat. Sedekat syaraf yang mengakar. Kau masih sama, tetap setia menatapku, walaupun ada derai sendu dan kerinduan yang tak habis hilang semalam. Aku ingin tetap disini, bersamamu. Kemudian bibirku mengatup untuk sesaat. Aku melihat dirimu terlelap dalam pelukanku. Seperti jarum waktu yang terkunci, lamat-lamat mataku hangat, seberkas bening air membasahi. Aku tahu bahwa kemesraan ini tak begitu lama, sehingga aku menyesapi setiap jengkal waktu yang tersisa. Gelora asmara yang begitu membuncah karena luapan rindu yang tak terkira, adalah nyanyian peri yang dikumandangkan sehabis hujan. Aku menyulam rasa rindu dari ciuman yang kau titipkan pada bibirku, membekas. Ketika bibirku mulai merekah dan nafasmu terasa di ujung lidah, aku selalu ingin menciumu dalam satu kecupan yang panjang. Namun, di tempat ini tak kutemukan lagi rinai hujan yang sama. Jarak pandangku terhalang batas waktu.
Mungkin suatu saat aku akan teringat, saat gerimis turun dari kelopak mata dan nafasku tercekat, tentang cerita yang tak bisa kulupa. Seperti merayakan tangisan dan aku hanya melihat pipiku bersimbah air mata dan tanganku memeluk dadaku sendiri. Akankah keindahan ini terlihat saat mataku benar-benar terpejam. Mengapa aku bisa sangat merindukan kematian. Ketika aku tidak bisa berbuat apa-apa dan aku hanya bisa membayangkan keajaiban seakan benar-benar terjadi. Dimanakah arti ketulusan jika aku tak lagi melihat senyum diantara garis bibirmu. aku hanya berdiam menunggu pagi dan selama detik-detik berguguran aku dipenuhi kegelisahan karena memikirkanmu. Dan senandung sendu terus terngiang di telingaku mengajakku bercengkrama dengan kepiluan, kepedihan hati. Kau hanya membisu. Aku tidak lagi menemukan matamu yang bening dan teduh sehingga mataku terendam air. Aku tidak bisa menahan kesedihan karena dadaku berguncang ketika teringat namamu, ada ratusan namamu yang terukir di sini. Setiap kali kucoba hapuskan, kenangan itu seolah baru saja terjadi. Aku menggapai dinding yang rapuh, hatiku pun luruh. Apakah aku buta? Ketika tak ada lagi yang bisa kulihat. Aku hanya bisa meraba diantara deretan huruf mati. Tak ada sentuhan dan senyuman yang tergambar selain tanda kurung yang terpenggal diantara titik dua. Aku sangat merindukanmu dan aku tidak tahu lagi caranya untuk meluapkanya karena telaga di mataku tak terbendung lagi. Dan aku hanya ingin mendengar suaramu. Tapi lamat-lamat langit padam dan tak kudengar kicauan burung yang seringkali melintas di pikiranku. Aku ingin menangkap salah satunya untuk kita pelihara. Ketika jejak air mata itu kuseka dengan secarik kertas tisu maka sekalipun kenangan itu masih tersimpan basah. Dan aku tidak pernah lagi mendengar suaramu. Kenapa kau merampasnya dariku. Pintu langit terkunci dan tak ada lagi cahaya yang menyelinap dalam ruang hatiku. Gelap. Derai tangis yang kusulam menjadi ratapan dan tangisan seperti gemuruh doa yang datang berkumandang pada lubuk hatiku yang sempit. Aku mencarimu diantara titik persimpangan. Aku mencari setiap kemungkinan untuk tetap bersamamu. Ketika keabadian itu terjadi dalam mimpi. Maka aku membangun mimpi-mimpi itu dari malam yang tersisa. Dan aku tidak menemukanmu. Aku hanya menemukan kekosongan dan kehampaan. Dimana lagi kucari bayangmu yang hilang ketika aku tidak dapat melihat bayanganku sendiri. Dan mataku tertutup karena kulihat darah menetes dari dalam hatiku.
Tgl ini kuingat lagi saat kubaca
09 oktober 10
Memetik dawai rindu pada ujung musim, hatiku basah karena gerimis menitikkan air perlahan. Dingin merasuk dan kepingan hati yang berserak kini kembali kurapikan. Ada getar getar resah yang merambat di pelupuk mata, ketika senarai rindu meluap luap dan aku bisa kembali mendengar suaranya. Suara yang sampai kini selalu terdengar merdu seperti nyanyian senja yang syahdu. Dan untaian nada nada sumbang dapat terhapus oleh ungkapan kasihmu.
ga tu nih tadi abis kuliah gw kepikiran hobi gambar
mampir ke stationery
beli crayon faber castel...
mulai dodling dan drawing lagi deh
Mohon maaf lahir dan batih
salaman, tetangga, ketupat, opor, maaf
lebaran telah tiba...
tanpa terasa telah melewati sebulan penuh puasa
bersihkan hati
mantapkan niat
banyak kata yang salah terucap
banyak kata yang menyinggung hati
banyak perilaku yang tidak berkenan
kepada pembaca:
mohon maaf lahir dan batin
semoga hati kita kembali bersih dan suci
salaman, tetangga, ketupat, opor, maaf
lebaran telah tiba...
tanpa terasa telah melewati sebulan penuh puasa
bersihkan hati
mantapkan niat
banyak kata yang salah terucap
banyak kata yang menyinggung hati
banyak perilaku yang tidak berkenan
kepada pembaca:
mohon maaf lahir dan batin
semoga hati kita kembali bersih dan suci
Awalnya, kupikir dalam laut lebih dalam hati seseorang. Sehingga tak mudah kau menyentuh dasarnya. Mengetahui dalam perasaanya. Namun, aku mulai menyadari betapa luasnya langit lebih luasnya pikiran manusia, tak ada yang bisa menerka, pola pikir dan pandangan seseorang.
Hati selalu terkait emosi dan psikologi. Kedalaman hati selalu membuat orang ingin menggali lebih dalam apa yang tersembunyi. Kau selalu merahasiakannya dariku, menyembunyikan ceritamu. Banyak hal bisa terkubur dalam hati. Betapa sayangnya kau mencintaiku. Tentu kedalamannya tidak mudah diketahui.
Begitu juga dengan pikiranmu yang tidak mudah kutebak, tidak mudah kuduga, tidak mudah kutahan. Seringkali jalan pikiran selalu berbeda arah, berseberangan. Pikiran jauh lebih menguasai ketetapan hati. Dan seberapa kuat keyakinanmu terhadap perasaanmu sendiri kadang bisa runtuh seketika karena kau berubah pikiran dan meragukanya karena sebuah alasan.
Hati selalu terkait emosi dan psikologi. Kedalaman hati selalu membuat orang ingin menggali lebih dalam apa yang tersembunyi. Kau selalu merahasiakannya dariku, menyembunyikan ceritamu. Banyak hal bisa terkubur dalam hati. Betapa sayangnya kau mencintaiku. Tentu kedalamannya tidak mudah diketahui.
Begitu juga dengan pikiranmu yang tidak mudah kutebak, tidak mudah kuduga, tidak mudah kutahan. Seringkali jalan pikiran selalu berbeda arah, berseberangan. Pikiran jauh lebih menguasai ketetapan hati. Dan seberapa kuat keyakinanmu terhadap perasaanmu sendiri kadang bisa runtuh seketika karena kau berubah pikiran dan meragukanya karena sebuah alasan.
Aku tidak begitu mengerti tentang mimpi, yang kutahu mimpi adalah serangkain konsepsi yang terbentuk berdasarkan proses ekstraksi mental, pikiran, memori, kenangan dan hasrat alam bawah sadar untuk membentuk ciptaan proyeksi dalam gambaran yang lain. Benar saja, semalam aku mimpi. Aku memang terlalu sering bermimpi, tentangmu. Dan semalam mimpi kembali membekas. Aku bertemu denganmu. Bertemu dengan seseorang yang sangat kucintai.
Tahukah, mimpi tetaplah mimpi dan kesadaran saat kau terbangun malah akan membuatmu kecewa bahkan menyesalinya.
“kenapa kau bangunkan aku?”
Aku ingin terus merasakan dalam kehidupan mimpi, tapi kusadari bahwa mimpi adalah dunia imajiner yang bersifat temporal, tidak ada yang bisa menjalani mimpi selama-lamanya. Mimpi adalah fiktif dan kenyataan adalah alam sadar yang terbentuk berdasarkan realita dan fakta.
Aku merasakan kenyataan memaksaku untuk mengakui, selamanya mimpi bukanlah keindahan yang abadi, sekalipun kau masuk lebih dalam dan merasakan kenyataan di dalamnya. Mimpi bukanlah bagian yang bisa disentuh, diraba dan dirasakan indera secara penuh.
Konsepsi mimpi tentu memiliki keterikatan secara emosional, sehingga saat kau mengalami mimpi buruk, maka keterkejutan dan ketakutan itu akan masih terasa walaupun kau telah bangkit dari tidurmu.
Aku ingin, sebatas ingin, seperti harapan kosong, bahwa mimpi terbentuk abadi dalam ingatanku bahkan dalam kenyataan sadarku. Pertemuan yang membekas dan berakhir dengan pelukan hangat akan selalu terbayang dalam otakku. Bahwa mimpi adalah luapan perasaan terdalam seseorang. Dan aku memimpikanmu jauh dari kesadaranku. Agar aku bisa selalu bertemu denganmu.
Ragaku lepas dan pikiranku melayang, hatiku terbang karena mimpi meruntuhkan akalku. Bertemu denganmu, dan kita menjalani kebersamaan yang hangat. Aku merasakan hembusan nafasmu, merasakan detak jantungmu, merasakan tatapan matamu. Aku benar-benar merasakanmu.
Suatu malam yang dingin, selepas hujan yang basah oleh gerimis. Kulihat seorang perempuan terdampar di beranda, menyembunyikan senyum. Wajahnya yang manis terbungkus matanya yang sayu. Ujung jari manisnya menjepit sepuntung rokok yang tinggal setengah. Asap kecil menguap diterbangkan angin. Di sudut bibirnya terdapat luka kecil yang mengering. Dia terlihat cemas, duduknya gusar dengan tangan kiri menopang dagu. Ada senandung sendu yang digumamkan hatinya. Guratan kesedihan terukir jelas di bawah kelopak matanya, karena garis air mata seringkali melintas di permukaan pipinya. Aku tidak melihat sinar dari matanya yang sendu. Perempuan itu seorang diri menyandar dinding putih di sebelah pintu toko. Dia mengenakan pakaian yang telah basah dan dingin. Puntung rokoknya yang terbakar mulai padam. Aku melihatnya sedikit gemetar dan giginya saling mengunci. Hembusan nafas yang berat dari hidungnya masih menyisakan kepulan asap. Rambutnya tidak terlihat karena dia mengenakan kain pembungkus kepala, tapi di lehernya terdapat seuntai kalung yang tenggelam diantara belahan dadanya. Malam menerpakan angin dan dingin. Perempuan itu terus menggigil memeluk dirinya sendiri.
Aku tidak mengenalnya, kemudian tiba-tiba aku sudah duduk sedekat ini. Merasakan hembusan nafasnya yang bercampur asap. Tapi kilatan cahaya lampu yang memantul dari matanya membuatku semakin mendekat. Aku ingin mengetahui, apa yang dirasakanya. Sebentuk kegetiran yang bisa dihabiskan bersama. Malam yang dingin saat purnama bercumbu, apakah dia mempedulikan kisah seorang perempuan yang terdampar, aku semakin merapat. Aku tidak menunggu perintah dan duduk di sebelahnya. Kunyalakan api kecil untuk membakar sisa rokoknya, tak ada kata-kata. Aku tidak perlu ungkapan manis, kita bisa saling berbicara dengan hati. Tidak perlu bahasa, cukup sederhana sebagaimana angin mengirimkan kabar rindu pada pujangga. Aku bercengkrama dengan kerinduan ini dalam waktu lama. Dia seolah tidak menolakku. Kedipan matanya yang dalam dan gerakan bibirnya yang berirama saat menghisap tembakau yang terbakar itu. Aku menyukainya.
Dia masih terdiam memaku tanpa mengakui sesuatu. Malam seperti ini selalu dingin bagiku. Padahal badanku hangat dan aku bisa sedikit memberikan api kecil lagi untuknya. Dia hanya menggelengkan kepala, dan memandangku seolah tak percaya. Sebotol minuman yang kubawa kuletakkan begitu saja di sebelahnya, berharap dia tertarik untuk meraih lalu meminumnya. Dia menghisap rokok lagi lebih dalam, cahaya putih lampu mulai meredup. Kini keremangan menyelimuti dan dia sepertinya tidak takut sama sekali, terutama terhadapku. Dia masih tidak berbicara, aku ingin dia tetap seperti itu, kemudian membilas matanya yang sayu agar tetap terjaga. Agar kita bisa bercengkrama lebih lama dan saling menatap satu sama lain tanpa perasaan. Bagiku, kebersamaan selalu memberi arti tersendiri, walaupun kita tidak saling mengerti.
Aku menggenggam telapak tangan yang mulai beku oleh dingin. Lalu lintas jalan mulai sepi dan sejauh pandangan mataku terasa lengang tanpa cahaya lampu. Aku tidak merokok dan sebenarnya membenci asap. Kepulannya itu seringkali membuatku tersedak hingga batuk. Tapi dia sepertinya menikmati itu dan aku tidak bisa merebut kenikmatan itu darinya. Aku tidak memiliki secangkir kopi hangat, minuman yang kubawa terlalu dingin untuk diminum. Jadi aku tidak bisa membagi kehangatan dengannya selain api, yang mungkin bisa membakar hatinya. Aku masih tidak berani bertanya atau menyebutkan nama, tidak perlu. Aku sama sekali ingin duduk di sini dan mendekatinya, itu saja. Tanpa perlu berbasa-basi dan bercerita banyak tentang kehidupan. Buat apa aku menceritakanya kembali, sedangkan kehidupan adalah cerita itu sendiri. Atau mungkin setiap orang punya cerita yang berbeda dalam hidupnya. Jadi aku lebih baik menyimpannya sendiri.
Dia terlihat pucat setelah hisapan rokoknya yang terakhir dan menatap mataku tidak biasa. Abu yang berjatuhan itu hilang tersambar angin dan lenyap begitu saja tak bersisa. Kemudian dia memegang botol minumanku dan membenturkanya ke dinding, gaduh membelah sepi ketika botol itu pecah dan berhamburan. aku mulai takut, perasaan khawatir mulai timbul. Pecahan botol yang masih dipegangnya tiba-tiba dia hunuskan kepadaku dengan mata jalang, dia tidak berteriak. Sorot matanya yang tajam bagiku lebih dari mengancam. Dia bangkit berdiri dan tangannya menepis dinding, menjaga keseimbangan agar tidak jatuh. Lalu aku sedemikian terkejut karena ujung pecahannya yang lancip ia arahkan ke perutnya sendiri. Aku terpana.
Aku tidak bisa berbuat banyak, kejadiannya sedemikian cepat. Dia tiba-tiba kalap dan hilang kesadaran, aku tidak bisa mencegahnya karena tatapan matanya yang galak. Aku hanya ingin mendekatinya, tapi ujung botol itu menakutiku. Dalam beberapa detik kudengar jeritan kesakitan dari bibirnya yang berwarna gelap. Dan aku bisa merasakan hembusan nafasnya terhenti setelah tersengal-sengal. Darah mengalir dari balik bajunya yang basah oleh darah. Aku tidak tahu, dan hanya bisa menatapnya iba. Dia tidak bergerak sama sekali.
Sayup-sayup terdengar suara begitu halus dan merdu, seperti bisikan yang dipenuhi desahan lembut dan manja, aku masih tidak percaya dan tidak mencari sumber suara. Kupikir salah dengar dan bisa saja suara itu timbul dari pikiranku sendiri.
“Mas, boleh minta apinya?”
Aku menyalakan api dan tersenyum padanya karena perempuan yang terdampar di beranda kini bisa kudengar suaranya. Aku terlalu jauh membayangkanya dan sadar bahwa dia masih di depanku dalam keadaan baik-baik saja.
Aku pernah merasakannya
Dengan sadar aku merasa bahwa aku sangat mencintainya
Dengan tidak sadar aku takut kehilangannya
Tapi aku tidak pernah berada diantara keduanya
Sadar dan tidak sadar
Aku tidak tahu bagaimana membuat hal itu terjadi
Ketika kesadaranku dan ketidaksadaranku terasa sama
Aku hanya perlu merasakanya
Jauh lebih lama
Atau selama-lamanya
Karena aku selalu merasa terluka bahkan jauh sebelum itu terjadi
Walaupun aku terkadang yakin suatu saat pasti terjadi
Aku tidak bisa membedakan antara nyata dan maya
Ketika perasaanku dalam mimpi dan kenyataan adalah sama
Aku mencintainya
Apakah perasaan ini akan sama
Sampai kapan pun
Aku tidak bisa menentukan takdirku sendiri
Aku hanya bisa membuat itu terjadi seolah-olah keajaiban datang
Dan keajaiban memang selalu datang
Aku tidak bisa membayangkan lagi
Jika hati dan otakku tidak bekerja
Sampai aku lupa atau lebih tepatnya berpura-pura lupa
Aku pernah sangat mencintainya
Dan berpikir mati jauh lebih baik daripada tidak bersamanya sama sekali
Karena aku tidak bisa menghilangkan rasa sakit
Jika luka yang terasa pedih pun tak terlihat nyata
Tapi begitu menyakitkan
Setiap malam aku tidak pernah berhenti memikirkannya
Bagaimana hubungan yang membentuk ketiga hal itu tersambung
Dan aku akan mendapatkan keajaiban itu menjadi takdirku
Setiap kali terbangun maka dadaku terasa sesak karena rasa takut
Kemudian aku berusaha menenangkan diri karena pikiranku dipenuhi olehnya
Bahkan lebih nyata dalam mimpi-mimpiku
Setiap kali aku gelisah dan seperti kehilangan arah
Karena aku tidak yakin pada pertanyaan yang sempat membuatku ragu
Apakah aku bisa membuatnya bahagia
Aku ingin selalu bersamamu...
always
banyak temanku yang bertanya: kok sekarang jarang posting blog?
kenapa?
aku menyadari kegiatan menulis sangat menyenangkan
tetapi
menulis blog
seperti mengikat perasaanku pada hal ini : tulisan
ketika aku menulis keguncangan jiwaku yang penuh emosi
saat aku membaca kembali tulisanku di blog, maka guncangan itu akan kembali terasa
ketika aku mengukir kesedihan ini dalam kata-kata
saat aku membaca kembali, maka kata-kata itu seperti mengiris bawah merah yang membuatku menitikkan air mata. dan bening kristal di mata akan perlahan-lahan menggenangi retina
ketika luapan kegembiraan itu tertanam dalam sebaris cerita
saat aku membaca kembali, maka kebahagiaan itu akan menyunggingkan senyumku dan semua hal lebih terasa indah
saat aku membaca kembali?
apakah aku tidak perlu membaca kembali?
aku menulis
maka aku mengikat perasaanku pada deretan huruf kaku yang berjiwa dan kutiupkan roh padanya
aku tidak ingin perasaanku terikat dalam tulisan-tulisanku sendiri
kata memang seringkali mewakilinya
tapi aku tidak sanggup...
membacanya kembali
kenapa?
aku menyadari kegiatan menulis sangat menyenangkan
tetapi
menulis blog
seperti mengikat perasaanku pada hal ini : tulisan
ketika aku menulis keguncangan jiwaku yang penuh emosi
saat aku membaca kembali tulisanku di blog, maka guncangan itu akan kembali terasa
ketika aku mengukir kesedihan ini dalam kata-kata
saat aku membaca kembali, maka kata-kata itu seperti mengiris bawah merah yang membuatku menitikkan air mata. dan bening kristal di mata akan perlahan-lahan menggenangi retina
ketika luapan kegembiraan itu tertanam dalam sebaris cerita
saat aku membaca kembali, maka kebahagiaan itu akan menyunggingkan senyumku dan semua hal lebih terasa indah
saat aku membaca kembali?
apakah aku tidak perlu membaca kembali?
aku menulis
maka aku mengikat perasaanku pada deretan huruf kaku yang berjiwa dan kutiupkan roh padanya
aku tidak ingin perasaanku terikat dalam tulisan-tulisanku sendiri
kata memang seringkali mewakilinya
tapi aku tidak sanggup...
membacanya kembali
saat ini aku tak bisa lagi berpikir tentang cinta
aku tak lagi bisa menerka tentang realita
kenyataan dan harapan sama sekali berbeda
seperti pikiran dan tindakan yang jelas tidak serupa
hatiku bimbang
saat tak ada kepastian dan jaminan yang bisa kuraba
ketika masa depan terlihat suram
aku kehilangan ceritaku yang sesungguhnya
aku kehabisa senyum tawa dan canda
jika saat ini ada keajaiban
aku tidak ingin berpura-pura seakan terjadi keajaiban
apa kenyataan yang melingkupi
jika penderitaan seakan hinggap dalam setiap mimpi
cinta
realita
dan keajaiban
adalah tiga titik yang membentuk segitiga jika terhubungkan
aku membutuhkan jembatan
aku tak lagi bisa menerka tentang realita
kenyataan dan harapan sama sekali berbeda
seperti pikiran dan tindakan yang jelas tidak serupa
hatiku bimbang
saat tak ada kepastian dan jaminan yang bisa kuraba
ketika masa depan terlihat suram
aku kehilangan ceritaku yang sesungguhnya
aku kehabisa senyum tawa dan canda
jika saat ini ada keajaiban
aku tidak ingin berpura-pura seakan terjadi keajaiban
apa kenyataan yang melingkupi
jika penderitaan seakan hinggap dalam setiap mimpi
cinta
realita
dan keajaiban
adalah tiga titik yang membentuk segitiga jika terhubungkan
aku membutuhkan jembatan
untuk mendapatkan apa yang kau inginkan ada harga yang harus kau bayar. Untuk mewujudkan mimpi, ada harga yang harus kau tebus. Untuk memahami arti pengorbanan, ada harga yang harus kau penuhi. Untuk mengerti arti kehilangan, ada harga yang harus kau sadari. Untuk menemukan cinta, ada harga yang harus kau lunasi. Untuk mendapatkan kebahagiaan, ada harga yang harus kau tawar. Untuk mengobati lukamu, ada harga yang harus kau yakini
masih terus berharap
kutemukan kembali bagian yang hilang...
kutemukan kembali bagian yang hilang...
tanpa sengaja
kemerlip cahaya malam berbinar-binar
kutemukan diantara dedaunan
rerumputan
dan semilir angin di pucuk daun pisang
kulihat setitik cahaya itu beterbangan
sungguh menawan
keajaiban tuhan
kucari di dasar belukar
kudapati hatiku terurai sepi
kunang-kunang
kemerlip cahaya malam berbinar-binar
kutemukan diantara dedaunan
rerumputan
dan semilir angin di pucuk daun pisang
kulihat setitik cahaya itu beterbangan
sungguh menawan
keajaiban tuhan
kucari di dasar belukar
kudapati hatiku terurai sepi
kunang-kunang
kesabaran
menahan gemuruh dada
mengusap muka
membelai hati yang terluka
menata diri dengan pikiran terbuka
menanti
hujan yang datang setelah gerimis jatuh
menunggu keajaiban
semuanya berubah
banyak hal berubah
berkembang
tumbuh
seiring berjalannya waktu
cintaku pun bersemi
tumbuh
mekar
mengakar
seperti bunga
banyak hal berubah
berkembang
tumbuh
seiring berjalannya waktu
cintaku pun bersemi
tumbuh
mekar
mengakar
seperti bunga
aku lelah menanti pagi
aku lelah meniti hari
impian kian bersemi
namun semua berujung mimpi
dimanakah cinta kudapatkan
jika tak kutemukan kebahagiaan
aku lelah menjejakkan kaki
aku lelah melangkahkan jemari
aku ingin segera mati
aku lelah meniti hari
impian kian bersemi
namun semua berujung mimpi
dimanakah cinta kudapatkan
jika tak kutemukan kebahagiaan
aku lelah menjejakkan kaki
aku lelah melangkahkan jemari
aku ingin segera mati
suatu pagi
aku terbangun dengan setengah hati
kepala berat dan hati berduri
pikiranku terpenuhi oleh api
kesadaranku hilang ingin segera pergi
aku merindukan mati
tak ada tempat lagi
untukku memastikan
hidup tak habis sehari
aku terbangun dengan setengah hati
kepala berat dan hati berduri
pikiranku terpenuhi oleh api
kesadaranku hilang ingin segera pergi
aku merindukan mati
tak ada tempat lagi
untukku memastikan
hidup tak habis sehari















