Diberdayakan oleh Blogger.

Professional Time Waster



Aku ingin membagi sebuah kisah tentang duka yang tak pernah dirayakan, tentang perpisahan yang berakhir tanpa pelukan. ketika perasaanku tak sempat kucurahkan sementara perbincangan kita terhenti karena waktu, hatiku terkunci karena ragu. Jemariku tak mampu meraba beberapa huruf yang tak sanggup kurangkai, bibirku terkatup menatap sendu. Kamu tak pernah memberiku kesempatan untuk mengurai degup jantungku yang memburu, tentang nafasku yang tercekat karena angin tiba-tiba lenyap di sekitar. Aku menatap nanar tentang kenangan yang tak seharusnya kusimpan. Apakah sebenarnya perpisahan adalah salah satu bentuk takdir. Terkadang, perpisahan memang diharapkan terjadi, agar aku lebih mengerti dunia bukan saja berbicara tentang pertemuan. Ketika angin berhenti dan aku tak bernapas lagi, berarti aku harus pergi. Meninggalkan dunia. Merindukan tempat di mana namaku berakhir terukir di bebatuan. Meski, harus berderai air mata.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Kamu tahu, rasanya berada di antara ambang dilema ketika jemari kita bersentuhan dengan ombak dan semilir angin tak mampu meredam gemuruh dada. Bahkan, aku tak merasa dingin ketika buih-buih air yang menggenang membasahi telapak kakiku. Aku mencoba tenang, melemparkan pandangan. Hamparan biru langit terpampang jauh tak tertembus batas mata. Aku bingung, apa yang sebenarnya kurasakan. Hatiku terombang-ambing. Terkadang aku dengan mudah dihempaskan karang, terkadang aku kuat bertahan di tepian. Tapi apalah arti sebuah pilihan, ketika ombak selalu berpulang pada samudera. Lautan seakan tenang tapi selalu menyimpan sejuta pertanyaan, begitu pun setelah hatiku terseret jauh ke kedalaman. Adakah jawaban bisa kutemukan di sini, di antara karang, di antara pasir dan ombak, di antara sela jemariku yang basah, di antara celah hati yang terendam air, di antara kepingan luka. Aku pun lelah menanti senja, menanti arah.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Suatu malam, aku berniat untuk bertemu denganmu di suatu tempat. Tempat yang mungkin akan menjadi satu ingatan yang terkunci dalam kenangan. Sebuah tempat yang jauh dari keramaian. Aku sebut tempat itu adalah titik persimpangan. Sebuah lorong kecil yang gelap hanya dilalui jalan setapak dan sesekali tergenang air jika turun hujan. Hanya sebuah tiang tinggi dengan lampu yang mulai meredup menyinari. Aku menunggu sendiri, tepat di bawah lampu tiang. Berharap dengan cemas, apakah kamu akan datang. Sesekali keresahan tak dapat kusembunyikan sambil menggigit jari. Tidak banyak orang yang melalui lorong itu karena gelap, tapi di sini lah aku bertemu denganmu. Saat kususuri jalan untuk masuk ke dalam sebuah gang di lorong sempit setelah membeli makan malam, secara kebetulan aku berpapasan denganmu. Kupikir ini pertama kalinya aku melihatmu dalam keremangan cahaya, tapi tampak bersinar.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Tak ada garis senyum di parasku, setelah genangan air mata membasahi pipi. Merajut kepedihan atas luka yang mungkin tak pernah kulupakan. Kamu tahu, aku begitu besar untuk mencoba berhenti. Tapi aku tak bisa berhenti untuk mencintaimu. Ketika kudengar langsung dari bibirmu, itu rasanya sudah sangat menyakitkan buatku. Air mata tumpah membanjiri malam yang akan selalu kuingat. Tentang hari kita bersama, senyum dan tawa kita. Mungkin, Cuma tawaku. Kau tak pernah benar-benar tertawa. Apalagi mencintaiku, aku tahu kau tak pernah mencintaiku. aku sadar, kita saling mengerti tapi kita tak pernah saling memahami, terutama hati. Ketika segala kurasakan dan perasaan ini mengatakan cinta kepadamu. Aku tak berhak untuk mendapatkan cinta membalas untukku. Aku tahu, rasanya cinta sendirian. Seperti saat aku berada di sudut gelap malam dalam keremangan lampu kamar, aku menahan sedu dan isak tangisku. Sendirian.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Berkas cahaya senyum yang hilang, hilang terbiaskan benci di antara serpihan rasa sakit. Sakit lukaku yang terus memaksaku diam dalam sendu, sendu lara mengekalkan rindu yang berjejalan. Berjalan di antara waktu yang tak pernah berhenti terlebih kembali, kembali di antara puing-puing harapan yang terputus. Terputus oleh kebisuan sunyi yang membeku di sudut hatimu, hatimu telah pergi menjauh dari batas senja. Senja yang kulihat bersamamu saling menggenggam tangan, tangan yang berpelukan di ruas-ruas jari kita yang lembut. Kelembutan yang terhapus oleh masa lalu karena cinta tak pernah datang lagi bahkan sekalipun terucap janji, janji yang tertinggal dalam ungkapan kosong tak bermakna lagi. Lagian aku tahu, sekalipun datang kembali cintaku tak akan pernah sama. Sama terlihat maupun kaurasakan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Di tengah tiupan angin yang melambai di suatu senja, aku melihat bayangmu. Hatiku dingin, bukan lantas ingin. Aku tidak mengerti kenapa hati begitu lelah dan rasanya ingin menyerah. Ketika kau tak pernah benar-benar pergi. Kau bisa dengan mudah menggoyahkan seluruh keteguhan hati ini. Bahkan aku masih ingat kapan terakhir kali aku berdiri dalam kesunyian. Sedang bayang-bayangmu merasuk masuk tanpa mengetuk pintu. Apa artinya aku berjuang jika seorang diri. Kita pernah punya rasa yang sama, ketika kau bilang rasanya sudah biasa saja. Aku tahu, aku harus berhenti tanpamu. Mungkin diantara cinta, masih ada seberkas benci yang terselip di sudut hati. Mencoba pergi, melepasmu. Memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengisi relung hatimu yang kosong, sejak kau pergi. Meninggalkanku seorang diri, tanpa ucapan selamat tinggal. Aku berdiri menggenggam seberkas bunga, menunggumu. Akan tetapi, aku melihat kau pergi menjauh. Aku tak pernah bertemu pada kesempatan untuk melihatmu di bagian akhir. Kau telah membuat segalanya indah selama ini kukenang menjadi akhir dari segalanya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  Maret (2)
      • Surga dari Hongkong!
      • Moammar Emka's Jakarta Undercover: Sex Supermarket?
  • ►  2016 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (45)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (16)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (59)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (9)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (116)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (16)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2010 (39)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (12)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates