Diberdayakan oleh Blogger.

Professional Time Waster


Selembar daun yang gugur adalah pertanda, ketika ranting tak kuasa lagi untuk bertahan dan menggenggam tangkai. Jika bunga layu sebelum musim gugur. Maka cuaca hari ini sungguh muram, ketika cahaya hilang dan mentari pun terpejam. Langit berubah mendung sementara awan pun telah mengabu. Gerimis hujan, menjadi pertanda jika langit pun menangis. Tetesan yang jatuh berguguran bersama detik yang tak berarti. Lalu aku bisa menghirup aroma basah tanah yang ranum mewangi karena terjamah air lantas bercumbu bersama udara. Petrichor, aroma yang kukenal. Jauh lebih wangi dari aroma tubuhmu. Di balik kesedihan hujan maka terbitlah wangi kesuburan. Kemudian perlahan sang surya tersenyum penuh gairah. Kulihat terpaan sinar yang hangat menerpaku. Menyerap hingga ke jantungku, aku melihat di balik hujan. Ada kisah baru ketika hari berganti.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kau tahu, aku menunggumu sampai petang. Keresahanku semakin nyata manakala kabar pun tak terbalas. Mungkin, kau mengabaikanku. Tapi aku tahu kau sedang membuatku diam. Apa karena aku salah, tidak menghadirkan bukti dan tak lantas mengakui. Jika saja, ketika kutanya ada jawabnya. Dari sore menjelang malam aku diliputi kegelisahan. Kapan aku pulang, sekadar merapatkan hati di dermaga. Tapi tak juga ada kiriman pesan. Saat itu, aku tahu kau bersama orang lain. Harusnya aku sadar, bunga yang tumbuh mekar di pekarangan sebelah taman barangkali telah terpaut hati oleh bunga yang lain. Maka untuk apa aku menunggu, jika pesanku tak juga kau balas. Jika aku hanya ingin bertemu, bahkan dalam pandangan mata. Kau tahu, semalaman aku menahan diri untuk tidak segera pulang hanya untuk mendapatkan jawaban. Tidak ada satu pun orang yang tahu. Dalam sepi, kulihat kau mengharapkan pelukan yang lain, aku pun sedih. Mengetahui jika harapan tak bertemu selalu berakhir dengan kekecewaan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sebelum kau pergi, aku masih bisa melihat punggungmu. Tapi seketika itu juga kesedihan muncul di pelupuk mata. Kau tak berpaling muka, seperti terakhir kulihat. Kau pun tak memelukku, karena kulihat kau jatuh dalam pelukan yang lain. Pelukan yang kubenci. Jika kau ingin, aku akan sepenuh hati untuk memelukmu. Tapi, aku tahu. Kau lebih memilih yang lain. Saat itu, aku tahu kepergianmu adalah keinginanmu sendiri. Merelakanmu pergi dari sisa kebisuan yang tersimpan. Waktu tak akan pernah memintaku berhenti, termasuk untuk kembali. Saat dimana aku berdiri menyaksikanmu dalam hening, dalam pelukan yang lain. Barangkali, ini adalah perpisahan tanpa pelukan seperti yang kubaca dalam kisahmu. Semoga tak pernah kulihat lagi punggungmu, karena aku tak ingin.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Aku mengerti, kenapa cinta tak mengenal durasi. Dan perasaan membawaku kembali pada jalan dimana harusnya aku pergi. Nyatanya kau telah mengabaikanku. Kau masih sempat mengunjungi rumahku, hatiku. Mungkin, jika waktu dapat kubeli untuk menghapus beberapa tahun. Maka aku akan menawar dengan harga tertinggi, tapi perasaan tak dapat saling menawar. Ketika kutepikan perasaan rindu nyatanya seperti mengirim surat tanpa alamat. Entah kepada angin, entah kepada laut. Jika elemen masih bersatu dan garis orbit selalu membawaku pada masa lalu. Tentang kita, tentang cerita yang tak pernah berakhir. Seperti kehilangan yang terjadi, aku berlari untuk menghindari bayanganmu. Aku sempat meminta hujan, agar jejakmu terhapus. Tapi hujan tidak lantas turun setiap hari dan terik mentari masih menerpa bayangmu. Aku tahu arah dimana angin menuju. Aku tahu, kau tak memberiku pilihan selain pergi. aku akan menghilang.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
tak kudengar rinai dendang rindu yang biasa kau senandungkan, saat matamu menyusuri setiap jengkal diriku. menatapku mesra dalam lelap. ketika kau menyerah pada arti kesendirian dan kau beradu rasa tentang cinta. dan aku hanya berdiri di ambang pintu tak lantas mengetuk, apalagi menyapa. kecuali, malam semakin temaram dan aku terjebak karena hujan. menyisir helai rambut yang kukenal. menikmati aroma tubuhmu dalam hening. tak perlu berucap kata karena kedipan matamu seakan memanggil-manggil, untuk kupeluk dalam hangat. jika hujan tak mampu menghapus bayangmu, maka kuizinkan kau menetap barang sebentar. merapikan serpihan rindu yang berserakan. menata kembali bening kristal yang jatuh dari mata, menjadi butiran-butiran berlian. maka aku tak dapat pergi, lantas menutup pintu. karena hatiku terkunci, oleh getir dan benci yang tak kupahami. sejak, aku tahu gelas itu tak berbentuk lagi, setelah kau jatuhkan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku tahu arti hadirku tak berarti lagi, ketika langit padam dan kerlip bintang semakin redup menyambutku datang, malam menjadi saksi berat hembusan nafasku meninggalkanmu pergi, melepas hatimu, seraya menepikan hati yang terluka. Aku bersembunyi dan berkaca di balik mataku yang basah, melihatmu melangkah. Melihatmu dalam jarak pandang terdekat untuk terakhir kali, masih kuingat nafasmu. Masih kurasakan denyutmu saat tangan kita berjumpa dan saling bersentuhan. Untuk detik yang berharga kubingkai senyum indahmu dalam sekejap mata, untuk kuingat. Jika suatu hari nanti tak kutemukan lagi bintang bersinar sama maka akan kutebus senyumu dengan lentera hati yang tak pernah padam, saat semunya telah berakhir. Hatiku lelah untuk menanti, dan mimpi akan hilang setelah pagi datang menjelang. Aku masih ingat, rasanya ketika degup jantungku berbeda, bukan saat pertama memandangmu, tapi saat setiap namamu kusebutkan. Terdengar lirih memanggil-manggil, kesunyian menjadi bahasa yg lebih akrab menemaniku, tanpa secangkir kopi. Ketika dirimu benar-benar hilang. Aku tak mampu bertahan dengan langkah kaki yg rapuh, menapaki sisa-sisa waktu, apa aku terkubur ketika jiwaku mati, menjadi bunga yang kering. Mengingatmu, akan kisah yang kupercaya. Ingatan-ingatan tentang rasa yang terselip masih saja mengusik batinku, mungkin tak mampu membuatku mati. Tapi perlahan-lahan kau telah merampas jiwaku. Dan tak pernah kau kembalikan
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ada getir yg tersisa ketika jarum jam terhenti tepat saat jantungku tak berdetak dalam sesaat, hitungan jam tak berarti jika luka hati masih terasa nyeri karena menghitung hari saja tak cukup. bahkan, batas senja terhalang waktu untuk berjumpa denganmu. tentang cinta yg padam karena benci terkubur dendam. seiring perjalanan waktu mengiringi jejak bayangmu yang terhapus angin, aku disini masih mengeja cinta. belajar tentang kata yang kurangkai dengan hati, tentang makna yg kutulis dengan ketulusan. Sebab hujan tak pernah memintamu menangis, setelah kau pergi. Tetes-tetes kerinduan yg meretas di ujung daun memintal rindu, mengabadikan kenangan indah bersamamu. Tak akan lama lagi hilang
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Menanti gerimis yang tak kunjung datang, kepulan keresahan masih tergambar di parasku. Semalam, aku masih memimpikanmu. Aku lelah untuk bertahan jika bayangmu masih menghantuiku. Suatu malam yang sama ketika pelukmu masih tergambar jelas di mataku hingga aroma tubuhmu menyelinap ke rongga hidungku, membangkitkan kenangan yang terkubur lama, tentang kamu. Tentang cinta yang terjalin indah di antara dua hati. Mendekapmu dalam sunyi, membelaimu mesra. Dalam keremangan kugenggam tanganmu, terasa nyata. Tak perlu kuraba ketika bibirku merapat menemukan bibirmu dan kita saling berpegangan. Tak perlu kata-kata, aku tahu kamu masih cinta. Tapi aku tak tahu bagaimana kutemukan cahayamu lagi di kegelapan malam
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Tak ada yang bisa menjelaskan arti rasanya dalam sebuah titik dimana aku tak pernah tahu bayangan selalu mengikutiku kemana pun aku pergi. Jejak-jejak yang tercetak di bawah sinar lampu mengikuti seluruh gerakanku. Begitu juga bayanganmu yang selalu mengikutiku, saat jalanku maupun diamku. Adakah aku dan bayanganku akan terpisah.seperti jejak yang terhapus hujan. Aku ingin bayanganmu hilang, pun aku tak perlu memadamkan lampu. Kau tak lebih dari rasa yang tertinggal, ketika semuanya menjadi sia-sia dan kau tak pernah menganggap itu berarti. Aku telah menjadikanmu ingatan yang panjang tertanam dalam benakku, juga hatiku. Sementara kau tak pernah tahu rasa sakit itu tak pernah tersembuhkan, bahkan oleh bayanganmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Tak kulihat lagi cinta di matamu. Tak ada lagi bening sendu yang lembut dan teduh menghiasi rona parasmu. Matamu terlihat sayu dan bibir pun menukik kaku menyimpulkan garis datar yang tipis. Aku tahu, di sana tak ada lagi sayang. Hatimu telah terbalut oleh rasa jenuh. Aku tak bisa memaksamu lagi, bahkan tak sempat kupaksa. Jika akhirnya aku harus memilih dan kau pergi penuh dengan ambigu. Aku ragu untuk menyimpan hatiku. Kotak besi yang kujaga rapi tempat biasa hatiku tersimpan, kini sudah berkarat dan tak bisa dikunci. Maka, aku tak perlu cinta. Mungkin untuk saat ini, jika harus terbebani oleh segenap perasaan rindu yang belum terbayar, masih dihinggapi rasa benci yang menyelinap di celah hatiku. Aku ingin terlepas dari belenggu kemudian berusaha menghapus cuplikan-cuplikan drama cinta di otakku. Bahkan, mungkin kenangan yang tak pernah bisa menyelamatkan cinta. Kecuali arti kesia-siaan yang kudapatkan. Waktu tak pernah mau menunggu.Cintaku tersapu ombak
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Lama aku berpikir untuk tersadar, selama ini aku terjebak pada perasaanku sendiri. Cinta itu bukan ujung panah yang menancap dalam dada. Ketika mata panah menusuk jantungmu lalu energi yang ditimbulkan pun habis karena berhenti. Maka energiku pun akan habis untuk mencintaimu. Lalu sebenarnya kau tak membalas cintaku. Kau malah melepaskan anak panah kemudian menusuk hatiku. kehilanganmu, untuk belajar menemukan jutaan harapan. Cinta adalah arah dimana kamu menuju, bukan arah dimana kamu berhenti lalu berpaling dan menjauh pergi. Kau akan selalu ada, bahkan saat aku pergi dengan langkah gontai di malam hari. Untuk menemukan pagi aku harus berjuang menghabiskan malam seorang diri. Mungkin, kau punya satu alasan untuk meninggalkanku. Tapi aku masih memiliki jutaan harapan yang lain bahwa bintang di sana akan selalu tampak bersinar.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Inilah akhir dari setiap bagian cerita. Aku harus memaksa diriku untuk berhenti mencintaimu. Menutup luka yang belum sempat mongering, mengunci hati dan menitipkan perasaanku yang remuk. Aku sudah berusaha untuk bertahan, tapi luka semakin menjalar dan rasa sakit itu menyebar ke setiap aliran darahku. Bahkan, kau tak pernah berpikir itu menyakitkanku. Bertahun-tahun seperti merajut mimpi dan harapan, namun terbakar dalam sekejap. Betapa pilunya hatiku saat bayangmu tengah hadir dalam setiap tidurku. Seolah cinta masih semanis dulu, kenyataan membuka mataku saat terjaga dan kau tak pernah di sini, lagi. Kesalahan terindah yang kubuat untuk mencintaimu sampai kini harus kuhentikan. Dimana akhir kisah tidak selalu terdengar bahagia. Dan aku tidak bisa mengelak dari perpisahan ini karena keinginanmu. Aku masih mengakui, kamu adalah bagian cerita hidupku yang indah. Sampai waktu akan membawaku pergi untuk melupakanmu dan menganggap cinta itu tak ada.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  Maret (2)
      • Surga dari Hongkong!
      • Moammar Emka's Jakarta Undercover: Sex Supermarket?
  • ►  2016 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (45)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (16)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (59)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (9)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (116)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (16)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2010 (39)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (12)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates