Aku butuh kamu, saat cintaku
berdiri sendiri. Saat aku terjebak pada cinta yang tak kupahami. Aku mencintaimu
dalam diam dan kesendirian. Seolah waktu tak membawaku padamu. Ketika kata-kata
dan suara tak mampu menegaskan hatiku. Bahwa cinta membutuhkan wujud nyata yang
dapat kuraba, dapat kusentuh. Ketika perasaan ini, hanya mampu kurindukan
sendiri. Tanpa bayangmu disana, tanpa senyummu di depan mata. Lantas, aku hanya
memandang cermin karena getaran dalam dadaku sama sekali tak terlihat. Sekejap,
kurasakan getir yang kuat saat mataku terpejam. Perasaan yang dulu hilang kini
datang hanya membawa luka. Jika janji harus terucap kata maka aku bersumpah tak pernah mau menorehkan luka baru dengan janji yang tak kuyakini. Jika nanti
adalah rentang waktu yang tak pasti. Apakah cinta yang kurasakan adalah
sebentuk ketidakpastian. Jika aku hanya mampu mencintai dalam sendirian
Awan terlihat indah menggantung
di langit biru seperti gumpalan kapas yang lembut. Aku suka, saat kutemukan
dirimu terbaring di rerumputan hijau sambil memandang langit. Aku tak pernah
tahu ketika sampul tali itu hilang, lantas kutemukan milikmu masih tersangkut
oleh masa lalu. Aku akan menanti, jika kau ingin. Tapi kau tak memberiku
harapan ketika sorot matamu masih kosong tak memandangku. Ketika kusapa mesra,
kau hanya tersenyum seakan menyembunyikan luka. Apakah kau masih ragu tentang
cuaca esok hari, sementara kau terus menatap jendela seakan tak percaya hari
ini masih secerah dahulu. Setelah kupikir kau adalah tempatku berteduh, kau
membuatnya hujan turun hari ini. Begitu mendadak sehingga membuatku kecewa, aku
berada di batas ambang kesabaranku. Tentang perasaan yang harus kupastikan,
jika tak ada pilihan. Aku akan pergi daripada harus menunggumu merapikan sisa
kepingan hati yang masih berserakan. Ketika kututup pintu, aku harap kau tak
pernah mengetuknya lagi. Bahkan untuk sekali saja.
Kini aku harus lewati seluruh
jejak yang terhapus oleh masa lalu. Ketika kau memutuskan pergi, dari hidupku. Tak
kutemukan lagi arah untuk menuju. Jika, nanti kau tak kembali, aku akan
menunggu separuh waktu. Malam yang hilang pun kusendiri, sepi hatiku tanpa
dirimu. Andai saja, sepanjang malam aku dapat merasakan bulan bercengkrama
mesra, angin pun melagukan nada sendu. Tidak penting lagi, ketika semua
kenangan yang tersimpan itu hanya kembali melukai hati. Maka, bersama langkah
yang tersisa, kuhimpun asa tuk temukan secercah harapan, di antara puing-puing
perasaanku yang hancur karenamu. Selalu ada, nama yang kutemukan di sudut
malam. Meski ragu, kan kucoba menggapaimu, untuk satu tujuan. Bahwa kehidupan
selama ini mengajariku kenyataan lebih dari segalanya, jika perasaan dan
segala kerinduan ini harus kukorbankan. Demi sebuah pilihan.
Aroma
pasir yang bercumbu bersama desahan ombak dan buih yang menyatu udara tercium
begitu harum seperti tubuhmu yang terpapar sinar surya. Ketika waktu masih
bersama, aku dan kamu menjejaki bibir pantai dalam suatu sore yang mesra. Melihat
perlahan mentari lenyap di batas senja berpendar keemasan bercerita tentang
penantian yang melelahkan. Sepenuhnya, aku masih mengingat laut. Seperti ombak
yang berkejaran untuk sampai meraih pasir ketika karang menghadang dan aku
tahu, kamu masih menggenggam tanganmu. Hembusan angin dan belainya menarikan
dedaunan seperti bergoyang. Saat itu, kutemukan aku begitu ingin bertahan. Menikmati
setiap detik dan hari yang mulai tenggelam oleh malam. Karena, aku
merindukanmu.
ada rindu yang terbungkus cemburu, ketika kau sembunyikan satu nama yang tak kuketahui. entah, perasaan ini terabaikan oleh tanda-tanda yang tersamarkan. manakah kalimat yang kutulis di secarik kertas, kutujukan pada sebuah alamat. nanti, kabar berubah jadi angin yang lenyap bagai asap. aku harus mencari udara segar. ketika sisa dalam paru-paruku tak terpenuhi udara. dadaku sesak. memaksaku keluar untuk sejenak menghela nafas. selalu ada dinding yang membatasiku untuk melihat lebih jauh dan menyentuhmu lebih dekat.semacam perasaan ingin tapi tak ingin. rasa mauku yang separuh hilang. dan aku tak mengerti ketika suatu malam aku dan kamu saling bicara tanpa suara. bukan lantas berbisik, tapi kata-katamu serupa tetesan telaga yang jatuh dari ujung daun. aku tahu, kau tidak mengerti. begitu pun aku. kalimat apa yang harus kupilih untuk memulai merangkai ungkapan ini. mungkin satu kata yang terdengar sendu. maaf, aku harus jujur padamu.aku salah menilaimu.
Meski, aku telah mencoba. Menghentikan
waktu dan menepikan rindu, tetapi rasa yang tertinggal masih menjejakkan
bayangmu. Selintas waktu kucoba berlari membuang senyummu, namun bingkai
parasmu masih tersimpan di sudut mataku. Jika dalam sekian tahun ada waktu
dimana aku harus berhenti lantas tak berjumpa denganmu, adalah tahun-tahun yang
mungkin aku harapkan. Karena titik dimana kamu berhenti akan bertemu pada titik
dimana aku kembali. Kita masih berada di garis orbit yang sama, rute perjalanan
cinta akan berputar dan berakhir padamu. Aku ingin, kau menjadi akhir tujuan
perjalananku. Setelah sekian waktu kucoba ikuti arah dimana angin menuju, aku
ingin bertemu titik tanpa koma. Aku ingin sampai pada garis akhir dari segala
pendakianku. Lalu aku bisa mengintip sang surya terbit di ufuk sana dengan
tersenyum. Lalu, aku dan kamu. Kita berpegangan tangan untuk menatap langit
yang sama. Seandainya cerita cinta masih dapat kubagi, kau akan mendapat
seluruh halaman yang kupunya untuk kutulis namamu, di setiap sudut hati. Jika,
aku masih bisa percaya, deretan huruf yang kuhapus bisa kutulis ulang. Sementara
halaman ini sudah tak cukup lagi untukmu, maaf.
Aku hanya termangu, saat mataku
bertemu pada satu surat. Surat yang indah menurutku karena terukir huruf
berwarna emas dengan pita yang menghiasinya. Kamu tahu, itu adalah surat
undangan pernikahan. Sejenak, aku membaca sebuah nama. Aku sangat hafal dengan
nama itu, nama yang sering kusebut dalam hati. Sehingga dalam sekejap mampu
membangkitkan seluruh kenangan yang terkubur dalam. Dan kenangan itu pula yang
membangkitkan bulir mata yang kucoba rendam selama ini. Aku masih selalu lemah
pada kenangan. Pada cerita yang tidak bisa kuingkari, setelah kucoba buang jauh
perasaan itu, entah mengapa surat ini dengan mudah membangkitkan lukaku yang
sempat mengering. Surat yang mungkin berlaku hanya satu hari, tapi membuka luka
besar yang kututup seribu hari yang lalu. Bahkan, aku tak berani untuk
membukanya. Atau sekadar mengetahui lokasi dimana pernikahan itu berlangsung. Aku
takut, luka yang sempat terobati akan kambuh. Aku hanya ingin sembuh.





