Diberdayakan oleh Blogger.

Professional Time Waster



Aku butuh kamu, saat cintaku berdiri sendiri. Saat aku terjebak pada cinta yang tak kupahami. Aku mencintaimu dalam diam dan kesendirian. Seolah waktu tak membawaku padamu. Ketika kata-kata dan suara tak mampu menegaskan hatiku. Bahwa cinta membutuhkan wujud nyata yang dapat kuraba, dapat kusentuh. Ketika perasaan ini, hanya mampu kurindukan sendiri. Tanpa bayangmu disana, tanpa senyummu di depan mata. Lantas, aku hanya memandang cermin karena getaran dalam dadaku sama sekali tak terlihat. Sekejap, kurasakan getir yang kuat saat mataku terpejam. Perasaan yang dulu hilang kini datang hanya membawa luka. Jika janji harus terucap kata maka aku bersumpah tak pernah mau menorehkan luka baru dengan janji yang tak kuyakini. Jika nanti adalah rentang waktu yang tak pasti. Apakah cinta yang kurasakan adalah sebentuk ketidakpastian. Jika aku hanya mampu mencintai dalam sendirian
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Awan terlihat indah menggantung di langit biru seperti gumpalan kapas yang lembut. Aku suka, saat kutemukan dirimu terbaring di rerumputan hijau sambil memandang langit. Aku tak pernah tahu ketika sampul tali itu hilang, lantas kutemukan milikmu masih tersangkut oleh masa lalu. Aku akan menanti, jika kau ingin. Tapi kau tak memberiku harapan ketika sorot matamu masih kosong tak memandangku. Ketika kusapa mesra, kau hanya tersenyum seakan menyembunyikan luka. Apakah kau masih ragu tentang cuaca esok hari, sementara kau terus menatap jendela seakan tak percaya hari ini masih secerah dahulu. Setelah kupikir kau adalah tempatku berteduh, kau membuatnya hujan turun hari ini. Begitu mendadak sehingga membuatku kecewa, aku berada di batas ambang kesabaranku. Tentang perasaan yang harus kupastikan, jika tak ada pilihan. Aku akan pergi daripada harus menunggumu merapikan sisa kepingan hati yang masih berserakan. Ketika kututup pintu, aku harap kau tak pernah mengetuknya lagi. Bahkan untuk sekali saja.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Kini aku harus lewati seluruh jejak yang terhapus oleh masa lalu. Ketika kau memutuskan pergi, dari hidupku. Tak kutemukan lagi arah untuk menuju. Jika, nanti kau tak kembali, aku akan menunggu separuh waktu. Malam yang hilang pun kusendiri, sepi hatiku tanpa dirimu. Andai saja, sepanjang malam aku dapat merasakan bulan bercengkrama mesra, angin pun melagukan nada sendu. Tidak penting lagi, ketika semua kenangan yang tersimpan itu hanya kembali melukai hati. Maka, bersama langkah yang tersisa, kuhimpun asa tuk temukan secercah harapan, di antara puing-puing perasaanku yang hancur karenamu. Selalu ada, nama yang kutemukan di sudut malam. Meski ragu, kan kucoba menggapaimu, untuk satu tujuan. Bahwa kehidupan selama ini mengajariku kenyataan lebih dari segalanya, jika perasaan dan segala kerinduan ini harus kukorbankan. Demi sebuah pilihan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aroma pasir yang bercumbu bersama desahan ombak dan buih yang menyatu udara tercium begitu harum seperti tubuhmu yang terpapar sinar surya. Ketika waktu masih bersama, aku dan kamu menjejaki bibir pantai dalam suatu sore yang mesra. Melihat perlahan mentari lenyap di batas senja berpendar keemasan bercerita tentang penantian yang melelahkan. Sepenuhnya, aku masih mengingat laut. Seperti ombak yang berkejaran untuk sampai meraih pasir ketika karang menghadang dan aku tahu, kamu masih menggenggam tanganmu. Hembusan angin dan belainya menarikan dedaunan seperti bergoyang. Saat itu, kutemukan aku begitu ingin bertahan. Menikmati setiap detik dan hari yang mulai tenggelam oleh malam. Karena, aku merindukanmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
ada rindu yang terbungkus cemburu, ketika kau sembunyikan satu nama yang tak kuketahui. entah, perasaan ini terabaikan oleh tanda-tanda yang tersamarkan. manakah kalimat yang kutulis di secarik kertas, kutujukan pada sebuah alamat. nanti, kabar berubah jadi angin yang lenyap bagai asap. aku harus mencari udara segar. ketika sisa dalam paru-paruku tak terpenuhi udara. dadaku sesak. memaksaku keluar untuk sejenak menghela nafas. selalu ada dinding yang membatasiku untuk melihat lebih jauh dan menyentuhmu lebih dekat.semacam perasaan ingin tapi tak ingin. rasa mauku yang separuh hilang. dan aku tak mengerti ketika suatu malam aku dan kamu saling bicara tanpa suara. bukan lantas berbisik, tapi kata-katamu serupa tetesan telaga yang jatuh dari ujung daun. aku tahu, kau tidak mengerti. begitu pun aku. kalimat apa yang harus kupilih untuk memulai merangkai ungkapan ini. mungkin satu kata yang terdengar sendu. maaf, aku harus jujur padamu.aku salah menilaimu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Meski, aku telah mencoba. Menghentikan waktu dan menepikan rindu, tetapi rasa yang tertinggal masih menjejakkan bayangmu. Selintas waktu kucoba berlari membuang senyummu, namun bingkai parasmu masih tersimpan di sudut mataku. Jika dalam sekian tahun ada waktu dimana aku harus berhenti lantas tak berjumpa denganmu, adalah tahun-tahun yang mungkin aku harapkan. Karena titik dimana kamu berhenti akan bertemu pada titik dimana aku kembali. Kita masih berada di garis orbit yang sama, rute perjalanan cinta akan berputar dan berakhir padamu. Aku ingin, kau menjadi akhir tujuan perjalananku. Setelah sekian waktu kucoba ikuti arah dimana angin menuju, aku ingin bertemu titik tanpa koma. Aku ingin sampai pada garis akhir dari segala pendakianku. Lalu aku bisa mengintip sang surya terbit di ufuk sana dengan tersenyum. Lalu, aku dan kamu. Kita berpegangan tangan untuk menatap langit yang sama. Seandainya cerita cinta masih dapat kubagi, kau akan mendapat seluruh halaman yang kupunya untuk kutulis namamu, di setiap sudut hati. Jika, aku masih bisa percaya, deretan huruf yang kuhapus bisa kutulis ulang. Sementara halaman ini sudah tak cukup lagi untukmu, maaf.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Aku hanya termangu, saat mataku bertemu pada satu surat. Surat yang indah menurutku karena terukir huruf berwarna emas dengan pita yang menghiasinya. Kamu tahu, itu adalah surat undangan pernikahan. Sejenak, aku membaca sebuah nama. Aku sangat hafal dengan nama itu, nama yang sering kusebut dalam hati. Sehingga dalam sekejap mampu membangkitkan seluruh kenangan yang terkubur dalam. Dan kenangan itu pula yang membangkitkan bulir mata yang kucoba rendam selama ini. Aku masih selalu lemah pada kenangan. Pada cerita yang tidak bisa kuingkari, setelah kucoba buang jauh perasaan itu, entah mengapa surat ini dengan mudah membangkitkan lukaku yang sempat mengering. Surat yang mungkin berlaku hanya satu hari, tapi membuka luka besar yang kututup seribu hari yang lalu. Bahkan, aku tak berani untuk membukanya. Atau sekadar mengetahui lokasi dimana pernikahan itu berlangsung. Aku takut, luka yang sempat terobati akan kambuh. Aku hanya ingin sembuh.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  Maret (2)
      • Surga dari Hongkong!
      • Moammar Emka's Jakarta Undercover: Sex Supermarket?
  • ►  2016 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (45)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (16)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (59)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (9)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (116)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (16)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2010 (39)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (12)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates