Aku hanya termangu, saat mataku
bertemu pada satu surat. Surat yang indah menurutku karena terukir huruf
berwarna emas dengan pita yang menghiasinya. Kamu tahu, itu adalah surat
undangan pernikahan. Sejenak, aku membaca sebuah nama. Aku sangat hafal dengan
nama itu, nama yang sering kusebut dalam hati. Sehingga dalam sekejap mampu
membangkitkan seluruh kenangan yang terkubur dalam. Dan kenangan itu pula yang
membangkitkan bulir mata yang kucoba rendam selama ini. Aku masih selalu lemah
pada kenangan. Pada cerita yang tidak bisa kuingkari, setelah kucoba buang jauh
perasaan itu, entah mengapa surat ini dengan mudah membangkitkan lukaku yang
sempat mengering. Surat yang mungkin berlaku hanya satu hari, tapi membuka luka
besar yang kututup seribu hari yang lalu. Bahkan, aku tak berani untuk
membukanya. Atau sekadar mengetahui lokasi dimana pernikahan itu berlangsung. Aku
takut, luka yang sempat terobati akan kambuh. Aku hanya ingin sembuh.
Selembar daun yang gugur adalah
pertanda, ketika ranting tak kuasa lagi untuk bertahan dan menggenggam tangkai.
Jika bunga layu sebelum musim gugur. Maka cuaca hari ini sungguh muram, ketika
cahaya hilang dan mentari pun terpejam. Langit berubah mendung sementara awan
pun telah mengabu. Gerimis hujan, menjadi pertanda jika langit pun menangis. Tetesan
yang jatuh berguguran bersama detik yang tak berarti. Lalu aku bisa menghirup
aroma basah tanah yang ranum mewangi karena terjamah air lantas bercumbu bersama
udara. Petrichor, aroma yang kukenal. Jauh lebih wangi dari aroma tubuhmu. Di balik
kesedihan hujan maka terbitlah wangi kesuburan. Kemudian perlahan sang surya
tersenyum penuh gairah. Kulihat terpaan sinar yang hangat menerpaku. Menyerap hingga
ke jantungku, aku melihat di balik hujan. Ada kisah baru ketika hari berganti.
Kau tahu, aku menunggumu sampai
petang. Keresahanku semakin nyata manakala kabar pun tak terbalas. Mungkin, kau
mengabaikanku. Tapi aku tahu kau sedang membuatku diam. Apa karena aku salah,
tidak menghadirkan bukti dan tak lantas mengakui. Jika saja, ketika kutanya ada
jawabnya. Dari sore menjelang malam aku diliputi kegelisahan. Kapan aku pulang,
sekadar merapatkan hati di dermaga. Tapi tak juga ada kiriman pesan. Saat itu,
aku tahu kau bersama orang lain. Harusnya aku sadar, bunga yang tumbuh mekar di
pekarangan sebelah taman barangkali telah terpaut hati oleh bunga yang lain. Maka
untuk apa aku menunggu, jika pesanku tak juga kau balas. Jika aku hanya ingin
bertemu, bahkan dalam pandangan mata. Kau tahu, semalaman aku menahan diri
untuk tidak segera pulang hanya untuk mendapatkan jawaban. Tidak ada satu pun
orang yang tahu. Dalam sepi, kulihat kau mengharapkan pelukan yang lain, aku
pun sedih. Mengetahui jika harapan tak bertemu selalu berakhir dengan
kekecewaan.
Sebelum kau pergi, aku masih bisa
melihat punggungmu. Tapi seketika itu juga kesedihan muncul di pelupuk mata. Kau
tak berpaling muka, seperti terakhir kulihat. Kau pun tak memelukku, karena
kulihat kau jatuh dalam pelukan yang lain. Pelukan yang kubenci. Jika kau
ingin, aku akan sepenuh hati untuk memelukmu. Tapi, aku tahu. Kau lebih memilih
yang lain. Saat itu, aku tahu kepergianmu adalah keinginanmu sendiri. Merelakanmu
pergi dari sisa kebisuan yang tersimpan. Waktu tak akan pernah memintaku berhenti,
termasuk untuk kembali. Saat dimana aku berdiri menyaksikanmu dalam hening,
dalam pelukan yang lain. Barangkali, ini adalah perpisahan tanpa pelukan
seperti yang kubaca dalam kisahmu. Semoga tak pernah kulihat lagi punggungmu,
karena aku tak ingin.
Aku mengerti, kenapa cinta tak
mengenal durasi. Dan perasaan membawaku kembali pada jalan dimana harusnya aku
pergi. Nyatanya kau telah mengabaikanku. Kau masih sempat mengunjungi rumahku,
hatiku. Mungkin, jika waktu dapat kubeli untuk menghapus beberapa tahun. Maka aku
akan menawar dengan harga tertinggi, tapi perasaan tak dapat saling menawar. Ketika
kutepikan perasaan rindu nyatanya seperti mengirim surat tanpa alamat. Entah kepada
angin, entah kepada laut. Jika elemen masih bersatu dan garis orbit selalu
membawaku pada masa lalu. Tentang kita, tentang cerita yang tak pernah
berakhir. Seperti kehilangan yang terjadi, aku berlari untuk menghindari
bayanganmu. Aku sempat meminta hujan, agar jejakmu terhapus. Tapi hujan tidak
lantas turun setiap hari dan terik mentari masih menerpa bayangmu. Aku tahu
arah dimana angin menuju. Aku tahu, kau tak memberiku pilihan selain pergi. aku
akan menghilang.
tak kudengar rinai dendang rindu yang biasa kau senandungkan, saat
matamu menyusuri setiap jengkal diriku. menatapku mesra dalam lelap.
ketika kau menyerah pada arti kesendirian dan kau beradu rasa tentang
cinta. dan aku hanya berdiri di ambang pintu tak lantas mengetuk,
apalagi menyapa. kecuali, malam semakin temaram dan aku terjebak karena
hujan. menyisir helai rambut yang kukenal. menikmati aroma tubuhmu dalam
hening. tak perlu berucap kata karena kedipan matamu seakan
memanggil-manggil, untuk kupeluk dalam hangat. jika hujan tak mampu
menghapus bayangmu, maka kuizinkan kau menetap barang sebentar.
merapikan serpihan rindu yang berserakan. menata kembali bening kristal
yang jatuh dari mata, menjadi butiran-butiran berlian. maka aku tak
dapat pergi, lantas menutup pintu. karena hatiku terkunci, oleh getir
dan benci yang tak kupahami. sejak, aku tahu gelas itu tak berbentuk
lagi, setelah kau jatuhkan.
Aku tahu arti hadirku tak berarti lagi, ketika langit padam dan kerlip bintang semakin redup menyambutku datang, malam menjadi saksi berat hembusan nafasku meninggalkanmu pergi, melepas hatimu, seraya menepikan hati yang terluka. Aku bersembunyi dan berkaca di balik mataku yang basah, melihatmu melangkah. Melihatmu dalam jarak pandang terdekat untuk terakhir kali, masih kuingat nafasmu. Masih kurasakan denyutmu saat tangan kita berjumpa dan saling bersentuhan. Untuk detik yang berharga kubingkai senyum indahmu dalam sekejap mata, untuk kuingat. Jika suatu hari nanti tak kutemukan lagi bintang bersinar sama maka akan kutebus senyumu dengan lentera hati yang tak pernah padam, saat semunya telah berakhir. Hatiku lelah untuk menanti, dan mimpi akan hilang setelah pagi datang menjelang. Aku masih ingat, rasanya ketika degup jantungku berbeda, bukan saat pertama memandangmu, tapi saat setiap namamu kusebutkan. Terdengar lirih memanggil-manggil, kesunyian menjadi bahasa yg lebih akrab menemaniku, tanpa secangkir kopi. Ketika dirimu benar-benar hilang. Aku tak mampu bertahan dengan langkah kaki yg rapuh, menapaki sisa-sisa waktu, apa aku terkubur ketika jiwaku mati, menjadi bunga yang kering. Mengingatmu, akan kisah yang kupercaya. Ingatan-ingatan tentang rasa yang terselip masih saja mengusik batinku, mungkin tak mampu membuatku mati. Tapi perlahan-lahan kau telah merampas jiwaku. Dan tak pernah kau kembalikan
Ada getir yg tersisa ketika jarum jam terhenti tepat saat jantungku tak berdetak dalam sesaat, hitungan jam tak berarti jika luka hati masih terasa nyeri karena menghitung hari saja tak cukup. bahkan, batas senja terhalang waktu untuk berjumpa denganmu. tentang cinta yg padam karena benci terkubur dendam. seiring perjalanan waktu mengiringi jejak bayangmu yang terhapus angin, aku disini masih mengeja cinta. belajar tentang kata yang kurangkai dengan hati, tentang makna yg kutulis dengan ketulusan. Sebab hujan tak pernah memintamu menangis, setelah kau pergi. Tetes-tetes kerinduan yg meretas di ujung daun memintal rindu, mengabadikan kenangan indah bersamamu. Tak akan lama lagi hilang







