Pagi yang dingin, aku dibangunkan
deburan ombak dan buih laut yang berkejaran di bibir pantai. Lalu kuhirup aroma
hujan semalam sewangi harum bunga lily. Di ujung dermaga kulihat awak kapal
yang bergoyang mengikuti irama ombak. Aku terduduk di sebuah kursi kayu tua dan
memandang langit. Tak pernah kurasakan setenang ini. Meraba hati yang basah
karena semalam ternyata turun hujan. Indahnya, saat tubuhku menyatu bersama air
laut dan menyaksikan terumbu karang dan ikan yang menakjubkan. Aku begitu dekat,
bahkan ketika tarikan nafasku tercekat. Tak ada hal yang bisa kurindukan selain
senyuman. Bahkan, di kedalaman air yang tak kutahu jantungku masih berdegup
kencang merasakan sisa-sisa kegetiran. Hingga menjelang senja, saat kapal mulai
berlabuh dan aku merapat pada tepian dermaga sambil berjalan, kusaksikan langit
mega yang mulai merona merah jingga. Dan angin membelaiku mesra, tiupan anginya
menerbangkan helai rambutku. Sampai kutahu, waktu tak pernah membawaku pada
perhentian tentang cinta. Dirimu.
Entah, malam itu rasanya seperti
oksigen mulai menipis dan aku rasanya tidak bisa bernafas. Gerimis pun tak
terbendung lagi. Setelah sekian lama akhirnya aku harus merasakan ruang kedap
udara. Pintu yang mulai terbuka itu pun tertutup dan aku tak bisa bernafas
lagi. Aku akan terbangun esok hari tanpa melihat matahari, aku akan berteman
dengan kegelapan. Kesunyian yang kucoba mulai kuakrabi menjadi keheningan alam
yang kurindukan. Dinding-dinding mendengar ketukan hatiku yang menjerit
tertahan, bukankah aku terbiasa dengan kesepian. Pagi akan berubah menjadi
malam dan akan terus seperti itu. Maka, langit menjadi sama ketika mendung
datang dan tak kulihat lagi bintang di sana. Rasanya aku masih merasakan sesak
saat kutulis ulang perasaan ini. Bisikan hati yang mulai terdengar oleh
burung-burung gereja. Aku akan
menantikan sang surya, saat aku benar-benar merindukan hamparan padang hijau
rumput sehabis hujan. Aku terbaring di sana, menghirup udara bebas.
Apa kau sebut itu cinta, ketika
gejolak dalam dadamu tak mampu kau redam. Semenjak langit terlihat indah
padahal masih berwarna biru. Hitungan waktu yang terbuang karena menunggu,
menanti harapan akan cuaca esok hari. Siapa bisa mengira, awan cerah di pagi
hari berubah sendu dan gerimis ketika petang datang. Dan aku hanya terdiam
sendiri di kesunyian malam sambil memikirkanmu, membayangkanmu. Jika suatu hari
aku bertemu denganmu secara kebetulan pada waktu yang tak kuketahui. Ketika cinta
datang menyapa kau tak pernah mengenal waktu. Ketika perasaan rindu datang kau
tak mampu membendung luapan rindu. Jika saja, bahasa cinta mudah
dimengerti dan aku bisa bertemu denganmu. Maka, seluruh anganku tentang
bayangmu yang hilang akan hadir dalam setiap mimpiku, dalam setiap pejaman
mataku. Inikah rasanya cinta.
Aku butuh kamu, saat cintaku
berdiri sendiri. Saat aku terjebak pada cinta yang tak kupahami. Aku mencintaimu
dalam diam dan kesendirian. Seolah waktu tak membawaku padamu. Ketika kata-kata
dan suara tak mampu menegaskan hatiku. Bahwa cinta membutuhkan wujud nyata yang
dapat kuraba, dapat kusentuh. Ketika perasaan ini, hanya mampu kurindukan
sendiri. Tanpa bayangmu disana, tanpa senyummu di depan mata. Lantas, aku hanya
memandang cermin karena getaran dalam dadaku sama sekali tak terlihat. Sekejap,
kurasakan getir yang kuat saat mataku terpejam. Perasaan yang dulu hilang kini
datang hanya membawa luka. Jika janji harus terucap kata maka aku bersumpah tak pernah mau menorehkan luka baru dengan janji yang tak kuyakini. Jika nanti
adalah rentang waktu yang tak pasti. Apakah cinta yang kurasakan adalah
sebentuk ketidakpastian. Jika aku hanya mampu mencintai dalam sendirian
Awan terlihat indah menggantung
di langit biru seperti gumpalan kapas yang lembut. Aku suka, saat kutemukan
dirimu terbaring di rerumputan hijau sambil memandang langit. Aku tak pernah
tahu ketika sampul tali itu hilang, lantas kutemukan milikmu masih tersangkut
oleh masa lalu. Aku akan menanti, jika kau ingin. Tapi kau tak memberiku
harapan ketika sorot matamu masih kosong tak memandangku. Ketika kusapa mesra,
kau hanya tersenyum seakan menyembunyikan luka. Apakah kau masih ragu tentang
cuaca esok hari, sementara kau terus menatap jendela seakan tak percaya hari
ini masih secerah dahulu. Setelah kupikir kau adalah tempatku berteduh, kau
membuatnya hujan turun hari ini. Begitu mendadak sehingga membuatku kecewa, aku
berada di batas ambang kesabaranku. Tentang perasaan yang harus kupastikan,
jika tak ada pilihan. Aku akan pergi daripada harus menunggumu merapikan sisa
kepingan hati yang masih berserakan. Ketika kututup pintu, aku harap kau tak
pernah mengetuknya lagi. Bahkan untuk sekali saja.
Kini aku harus lewati seluruh
jejak yang terhapus oleh masa lalu. Ketika kau memutuskan pergi, dari hidupku. Tak
kutemukan lagi arah untuk menuju. Jika, nanti kau tak kembali, aku akan
menunggu separuh waktu. Malam yang hilang pun kusendiri, sepi hatiku tanpa
dirimu. Andai saja, sepanjang malam aku dapat merasakan bulan bercengkrama
mesra, angin pun melagukan nada sendu. Tidak penting lagi, ketika semua
kenangan yang tersimpan itu hanya kembali melukai hati. Maka, bersama langkah
yang tersisa, kuhimpun asa tuk temukan secercah harapan, di antara puing-puing
perasaanku yang hancur karenamu. Selalu ada, nama yang kutemukan di sudut
malam. Meski ragu, kan kucoba menggapaimu, untuk satu tujuan. Bahwa kehidupan
selama ini mengajariku kenyataan lebih dari segalanya, jika perasaan dan
segala kerinduan ini harus kukorbankan. Demi sebuah pilihan.





