Diberdayakan oleh Blogger.

Professional Time Waster



Pagi yang dingin, aku dibangunkan deburan ombak dan buih laut yang berkejaran di bibir pantai. Lalu kuhirup aroma hujan semalam sewangi harum bunga lily. Di ujung dermaga kulihat awak kapal yang bergoyang mengikuti irama ombak. Aku terduduk di sebuah kursi kayu tua dan memandang langit. Tak pernah kurasakan setenang ini. Meraba hati yang basah karena semalam ternyata turun hujan. Indahnya, saat tubuhku menyatu bersama air laut dan menyaksikan terumbu karang dan ikan yang menakjubkan. Aku begitu dekat, bahkan ketika tarikan nafasku tercekat. Tak ada hal yang bisa kurindukan selain senyuman. Bahkan, di kedalaman air yang tak kutahu jantungku masih berdegup kencang merasakan sisa-sisa kegetiran. Hingga menjelang senja, saat kapal mulai berlabuh dan aku merapat pada tepian dermaga sambil berjalan, kusaksikan langit mega yang mulai merona merah jingga. Dan angin membelaiku mesra, tiupan anginya menerbangkan helai rambutku. Sampai kutahu, waktu tak pernah membawaku pada perhentian tentang cinta. Dirimu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Entah, malam itu rasanya seperti oksigen mulai menipis dan aku rasanya tidak bisa bernafas. Gerimis pun tak terbendung lagi. Setelah sekian lama akhirnya aku harus merasakan ruang kedap udara. Pintu yang mulai terbuka itu pun tertutup dan aku tak bisa bernafas lagi. Aku akan terbangun esok hari tanpa melihat matahari, aku akan berteman dengan kegelapan. Kesunyian yang kucoba mulai kuakrabi menjadi keheningan alam yang kurindukan. Dinding-dinding mendengar ketukan hatiku yang menjerit tertahan, bukankah aku terbiasa dengan kesepian. Pagi akan berubah menjadi malam dan akan terus seperti itu. Maka, langit menjadi sama ketika mendung datang dan tak kulihat lagi bintang di sana. Rasanya aku masih merasakan sesak saat kutulis ulang perasaan ini. Bisikan hati yang mulai terdengar oleh burung-burung gereja.  Aku akan menantikan sang surya, saat aku benar-benar merindukan hamparan padang hijau rumput sehabis hujan. Aku terbaring di sana, menghirup udara bebas.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Apa kau sebut itu cinta, ketika gejolak dalam dadamu tak mampu kau redam. Semenjak langit terlihat indah padahal masih berwarna biru. Hitungan waktu yang terbuang karena menunggu, menanti harapan akan cuaca esok hari. Siapa bisa mengira, awan cerah di pagi hari berubah sendu dan gerimis ketika petang datang. Dan aku hanya terdiam sendiri di kesunyian malam sambil memikirkanmu, membayangkanmu. Jika suatu hari aku bertemu denganmu secara kebetulan pada waktu yang tak kuketahui. Ketika cinta datang menyapa kau tak pernah mengenal waktu. Ketika perasaan rindu datang kau tak mampu  membendung luapan rindu. Jika saja, bahasa cinta mudah dimengerti dan aku bisa bertemu denganmu. Maka, seluruh anganku tentang bayangmu yang hilang akan hadir dalam setiap mimpiku, dalam setiap pejaman mataku. Inikah rasanya cinta.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Aku butuh kamu, saat cintaku berdiri sendiri. Saat aku terjebak pada cinta yang tak kupahami. Aku mencintaimu dalam diam dan kesendirian. Seolah waktu tak membawaku padamu. Ketika kata-kata dan suara tak mampu menegaskan hatiku. Bahwa cinta membutuhkan wujud nyata yang dapat kuraba, dapat kusentuh. Ketika perasaan ini, hanya mampu kurindukan sendiri. Tanpa bayangmu disana, tanpa senyummu di depan mata. Lantas, aku hanya memandang cermin karena getaran dalam dadaku sama sekali tak terlihat. Sekejap, kurasakan getir yang kuat saat mataku terpejam. Perasaan yang dulu hilang kini datang hanya membawa luka. Jika janji harus terucap kata maka aku bersumpah tak pernah mau menorehkan luka baru dengan janji yang tak kuyakini. Jika nanti adalah rentang waktu yang tak pasti. Apakah cinta yang kurasakan adalah sebentuk ketidakpastian. Jika aku hanya mampu mencintai dalam sendirian
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Awan terlihat indah menggantung di langit biru seperti gumpalan kapas yang lembut. Aku suka, saat kutemukan dirimu terbaring di rerumputan hijau sambil memandang langit. Aku tak pernah tahu ketika sampul tali itu hilang, lantas kutemukan milikmu masih tersangkut oleh masa lalu. Aku akan menanti, jika kau ingin. Tapi kau tak memberiku harapan ketika sorot matamu masih kosong tak memandangku. Ketika kusapa mesra, kau hanya tersenyum seakan menyembunyikan luka. Apakah kau masih ragu tentang cuaca esok hari, sementara kau terus menatap jendela seakan tak percaya hari ini masih secerah dahulu. Setelah kupikir kau adalah tempatku berteduh, kau membuatnya hujan turun hari ini. Begitu mendadak sehingga membuatku kecewa, aku berada di batas ambang kesabaranku. Tentang perasaan yang harus kupastikan, jika tak ada pilihan. Aku akan pergi daripada harus menunggumu merapikan sisa kepingan hati yang masih berserakan. Ketika kututup pintu, aku harap kau tak pernah mengetuknya lagi. Bahkan untuk sekali saja.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Kini aku harus lewati seluruh jejak yang terhapus oleh masa lalu. Ketika kau memutuskan pergi, dari hidupku. Tak kutemukan lagi arah untuk menuju. Jika, nanti kau tak kembali, aku akan menunggu separuh waktu. Malam yang hilang pun kusendiri, sepi hatiku tanpa dirimu. Andai saja, sepanjang malam aku dapat merasakan bulan bercengkrama mesra, angin pun melagukan nada sendu. Tidak penting lagi, ketika semua kenangan yang tersimpan itu hanya kembali melukai hati. Maka, bersama langkah yang tersisa, kuhimpun asa tuk temukan secercah harapan, di antara puing-puing perasaanku yang hancur karenamu. Selalu ada, nama yang kutemukan di sudut malam. Meski ragu, kan kucoba menggapaimu, untuk satu tujuan. Bahwa kehidupan selama ini mengajariku kenyataan lebih dari segalanya, jika perasaan dan segala kerinduan ini harus kukorbankan. Demi sebuah pilihan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  Maret (2)
      • Surga dari Hongkong!
      • Moammar Emka's Jakarta Undercover: Sex Supermarket?
  • ►  2016 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (45)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (16)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (59)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (9)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (116)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (16)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2010 (39)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (12)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates