Sebaris air yang menetes dari
embun di kaca, aku mengamati lampu-lampu kota yang mulai padam. Bahkan, aku tak
pernah tahu kenapa bisa berada di sini. Menunggumu tak pasti. Haruskah aku
mengurai rasa sakit ini seorang diri dan meneguknya perlahan hingga habis. Sementara
kamu bersembunyi dan tak pernah muncul lagi, seakan aku hanya tempatmu berlari.
Tempat menyampaikan keluh kesahmu selama ini. Harusnya aku sadar, kamu tak
pernah mau berjanji agar aku tak pernah menanti. Nyatanya, aku selalu
menunggumu, meski tak pernah kau anggap peduli.
Gerimis akhirnya mereda, saat aku
merasa telah menunggu terlalu lama. Menanti kehadiranmu setelah habis secangkir
kopi dan menanti balasan pesanku. Tahukah kamu, aku telah membatalkan janji
untuk bertemu denganmu dan memberanikan diri bersembunyi dari keresahanku. Bersembunyi
dari degup jantung yang tak kumengerti, bersembunyi dari luka yang mungkin
telah kulupakan. Adakah kamu mengerti, aku menunggumu untuk kali terakhir. Sebelum
aku menyadari, bahwa kamu memang tak seharusnya kutunggu. Seperti kabar yang
tak pernah jelas, simpang-siur. Adakah perasaanmu layaknya kabar burung?
Aku ingin membagi sebuah kisah
tentang duka yang tak pernah dirayakan, tentang perpisahan yang berakhir tanpa
pelukan. ketika perasaanku tak sempat kucurahkan sementara perbincangan kita
terhenti karena waktu, hatiku terkunci karena ragu. Jemariku tak mampu meraba
beberapa huruf yang tak sanggup kurangkai, bibirku terkatup menatap sendu. Kamu
tak pernah memberiku kesempatan untuk mengurai degup jantungku yang memburu,
tentang nafasku yang tercekat karena angin tiba-tiba lenyap di sekitar. Aku menatap
nanar tentang kenangan yang tak seharusnya kusimpan. Apakah sebenarnya
perpisahan adalah salah satu bentuk takdir. Terkadang, perpisahan memang
diharapkan terjadi, agar aku lebih mengerti dunia bukan saja berbicara tentang
pertemuan. Ketika angin berhenti dan aku tak bernapas lagi, berarti aku harus
pergi. Meninggalkan dunia. Merindukan tempat di mana namaku berakhir terukir di
bebatuan. Meski, harus berderai air mata.
Kamu tahu, rasanya berada di
antara ambang dilema ketika jemari kita bersentuhan dengan ombak dan semilir
angin tak mampu meredam gemuruh dada. Bahkan, aku tak merasa dingin ketika
buih-buih air yang menggenang membasahi telapak kakiku. Aku mencoba tenang,
melemparkan pandangan. Hamparan biru langit terpampang jauh tak tertembus batas
mata. Aku bingung, apa yang sebenarnya kurasakan. Hatiku terombang-ambing. Terkadang
aku dengan mudah dihempaskan karang, terkadang aku kuat bertahan di tepian. Tapi
apalah arti sebuah pilihan, ketika ombak selalu berpulang pada samudera. Lautan
seakan tenang tapi selalu menyimpan sejuta pertanyaan, begitu pun setelah
hatiku terseret jauh ke kedalaman. Adakah jawaban bisa kutemukan di sini, di
antara karang, di antara pasir dan ombak, di antara sela jemariku yang basah,
di antara celah hati yang terendam air, di antara kepingan luka. Aku pun lelah
menanti senja, menanti arah.
Tak ada garis senyum di parasku,
setelah genangan air mata membasahi pipi. Merajut kepedihan atas luka yang
mungkin tak pernah kulupakan. Kamu tahu, aku begitu besar untuk mencoba
berhenti. Tapi aku tak bisa berhenti untuk mencintaimu. Ketika kudengar
langsung dari bibirmu, itu rasanya sudah sangat menyakitkan buatku. Air mata
tumpah membanjiri malam yang akan selalu kuingat. Tentang hari kita bersama,
senyum dan tawa kita. Mungkin, Cuma tawaku. Kau tak pernah benar-benar tertawa.
Apalagi mencintaiku, aku tahu kau tak pernah mencintaiku. aku sadar, kita
saling mengerti tapi kita tak pernah saling memahami, terutama hati. Ketika segala
kurasakan dan perasaan ini mengatakan cinta kepadamu. Aku tak berhak untuk
mendapatkan cinta membalas untukku. Aku tahu, rasanya cinta sendirian. Seperti saat
aku berada di sudut gelap malam dalam keremangan lampu kamar, aku menahan sedu
dan isak tangisku. Sendirian.
Berkas cahaya senyum yang hilang,
hilang terbiaskan benci di antara serpihan rasa sakit. Sakit lukaku yang terus
memaksaku diam dalam sendu, sendu lara mengekalkan rindu yang berjejalan. Berjalan
di antara waktu yang tak pernah berhenti terlebih kembali, kembali di antara
puing-puing harapan yang terputus. Terputus oleh kebisuan sunyi yang membeku di
sudut hatimu, hatimu telah pergi menjauh dari batas senja. Senja yang kulihat
bersamamu saling menggenggam tangan, tangan yang berpelukan di ruas-ruas jari
kita yang lembut. Kelembutan yang terhapus oleh masa lalu karena cinta tak
pernah datang lagi bahkan sekalipun terucap janji, janji yang tertinggal dalam
ungkapan kosong tak bermakna lagi. Lagian aku tahu, sekalipun datang kembali
cintaku tak akan pernah sama. Sama terlihat maupun kaurasakan.





