Diberdayakan oleh Blogger.

Professional Time Waster


Sebaris air yang menetes dari embun di kaca, aku mengamati lampu-lampu kota yang mulai padam. Bahkan, aku tak pernah tahu kenapa bisa berada di sini. Menunggumu tak pasti. Haruskah aku mengurai rasa sakit ini seorang diri dan meneguknya perlahan hingga habis. Sementara kamu bersembunyi dan tak pernah muncul lagi, seakan aku hanya tempatmu berlari. Tempat menyampaikan keluh kesahmu selama ini. Harusnya aku sadar, kamu tak pernah mau berjanji agar aku tak pernah menanti. Nyatanya, aku selalu menunggumu, meski tak pernah kau anggap peduli.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Gerimis akhirnya mereda, saat aku merasa telah menunggu terlalu lama. Menanti kehadiranmu setelah habis secangkir kopi dan menanti balasan pesanku. Tahukah kamu, aku telah membatalkan janji untuk bertemu denganmu dan memberanikan diri bersembunyi dari keresahanku. Bersembunyi dari degup jantung yang tak kumengerti, bersembunyi dari luka yang mungkin telah kulupakan. Adakah kamu mengerti, aku menunggumu untuk kali terakhir. Sebelum aku menyadari, bahwa kamu memang tak seharusnya kutunggu. Seperti kabar yang tak pernah jelas, simpang-siur. Adakah perasaanmu layaknya kabar burung?
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar


Aku ingin membagi sebuah kisah tentang duka yang tak pernah dirayakan, tentang perpisahan yang berakhir tanpa pelukan. ketika perasaanku tak sempat kucurahkan sementara perbincangan kita terhenti karena waktu, hatiku terkunci karena ragu. Jemariku tak mampu meraba beberapa huruf yang tak sanggup kurangkai, bibirku terkatup menatap sendu. Kamu tak pernah memberiku kesempatan untuk mengurai degup jantungku yang memburu, tentang nafasku yang tercekat karena angin tiba-tiba lenyap di sekitar. Aku menatap nanar tentang kenangan yang tak seharusnya kusimpan. Apakah sebenarnya perpisahan adalah salah satu bentuk takdir. Terkadang, perpisahan memang diharapkan terjadi, agar aku lebih mengerti dunia bukan saja berbicara tentang pertemuan. Ketika angin berhenti dan aku tak bernapas lagi, berarti aku harus pergi. Meninggalkan dunia. Merindukan tempat di mana namaku berakhir terukir di bebatuan. Meski, harus berderai air mata.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Kamu tahu, rasanya berada di antara ambang dilema ketika jemari kita bersentuhan dengan ombak dan semilir angin tak mampu meredam gemuruh dada. Bahkan, aku tak merasa dingin ketika buih-buih air yang menggenang membasahi telapak kakiku. Aku mencoba tenang, melemparkan pandangan. Hamparan biru langit terpampang jauh tak tertembus batas mata. Aku bingung, apa yang sebenarnya kurasakan. Hatiku terombang-ambing. Terkadang aku dengan mudah dihempaskan karang, terkadang aku kuat bertahan di tepian. Tapi apalah arti sebuah pilihan, ketika ombak selalu berpulang pada samudera. Lautan seakan tenang tapi selalu menyimpan sejuta pertanyaan, begitu pun setelah hatiku terseret jauh ke kedalaman. Adakah jawaban bisa kutemukan di sini, di antara karang, di antara pasir dan ombak, di antara sela jemariku yang basah, di antara celah hati yang terendam air, di antara kepingan luka. Aku pun lelah menanti senja, menanti arah.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Suatu malam, aku berniat untuk bertemu denganmu di suatu tempat. Tempat yang mungkin akan menjadi satu ingatan yang terkunci dalam kenangan. Sebuah tempat yang jauh dari keramaian. Aku sebut tempat itu adalah titik persimpangan. Sebuah lorong kecil yang gelap hanya dilalui jalan setapak dan sesekali tergenang air jika turun hujan. Hanya sebuah tiang tinggi dengan lampu yang mulai meredup menyinari. Aku menunggu sendiri, tepat di bawah lampu tiang. Berharap dengan cemas, apakah kamu akan datang. Sesekali keresahan tak dapat kusembunyikan sambil menggigit jari. Tidak banyak orang yang melalui lorong itu karena gelap, tapi di sini lah aku bertemu denganmu. Saat kususuri jalan untuk masuk ke dalam sebuah gang di lorong sempit setelah membeli makan malam, secara kebetulan aku berpapasan denganmu. Kupikir ini pertama kalinya aku melihatmu dalam keremangan cahaya, tapi tampak bersinar.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Tak ada garis senyum di parasku, setelah genangan air mata membasahi pipi. Merajut kepedihan atas luka yang mungkin tak pernah kulupakan. Kamu tahu, aku begitu besar untuk mencoba berhenti. Tapi aku tak bisa berhenti untuk mencintaimu. Ketika kudengar langsung dari bibirmu, itu rasanya sudah sangat menyakitkan buatku. Air mata tumpah membanjiri malam yang akan selalu kuingat. Tentang hari kita bersama, senyum dan tawa kita. Mungkin, Cuma tawaku. Kau tak pernah benar-benar tertawa. Apalagi mencintaiku, aku tahu kau tak pernah mencintaiku. aku sadar, kita saling mengerti tapi kita tak pernah saling memahami, terutama hati. Ketika segala kurasakan dan perasaan ini mengatakan cinta kepadamu. Aku tak berhak untuk mendapatkan cinta membalas untukku. Aku tahu, rasanya cinta sendirian. Seperti saat aku berada di sudut gelap malam dalam keremangan lampu kamar, aku menahan sedu dan isak tangisku. Sendirian.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Berkas cahaya senyum yang hilang, hilang terbiaskan benci di antara serpihan rasa sakit. Sakit lukaku yang terus memaksaku diam dalam sendu, sendu lara mengekalkan rindu yang berjejalan. Berjalan di antara waktu yang tak pernah berhenti terlebih kembali, kembali di antara puing-puing harapan yang terputus. Terputus oleh kebisuan sunyi yang membeku di sudut hatimu, hatimu telah pergi menjauh dari batas senja. Senja yang kulihat bersamamu saling menggenggam tangan, tangan yang berpelukan di ruas-ruas jari kita yang lembut. Kelembutan yang terhapus oleh masa lalu karena cinta tak pernah datang lagi bahkan sekalipun terucap janji, janji yang tertinggal dalam ungkapan kosong tak bermakna lagi. Lagian aku tahu, sekalipun datang kembali cintaku tak akan pernah sama. Sama terlihat maupun kaurasakan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  Maret (2)
      • Surga dari Hongkong!
      • Moammar Emka's Jakarta Undercover: Sex Supermarket?
  • ►  2016 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (45)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (16)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (59)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (9)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (116)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (16)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2010 (39)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (12)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates