Terkadang, bening kristal di matamu berubah menjadi getaran yang perlahan melahirkan rintik-rintik air dari ujung bulu mata. Padahal malam itu tidak pula terjadi pertengkaran, aku hanya merasa tidak perlu mengungkapkanya. Hanya terlintas begitu saja dan aku tidak tahu kalau mengundang reaksi negatif bagimu. Aku tidak tahu perasaan begitu sangat menyentuh pada hal-hal yang sebenarnya sederhana. Dan aku tidak melihat kemesraan itu, seperti kemarau panjang yang begitu panas dan kering, maka aku menjadi tanah yang gersang karena tak lagi tersiram air. Sisa dari yang kumiliki hanya air mata, malam itu tak sanggup kutahan sisa itu jatuh dari ujung daun mataku. Kenapa aku begitu lemah dengan perasaan ini. Bahkan ketika kesadaranku masih ada, aku tak mampu lagi membangun seulas senyum yang indah seperti kemarin. Saat kita bertali kasih di balik suara yang tersembunyi kemudian saling menyahut dengan rasa sayang sampai kau membelaiku hingga terpejam. Ternyata tidak mudah membangun keterikatan batin itu, sampai kau terbawa perasaan dan aku tidak bisa berbuat apa selain menyadari kesalahan. Aku semalam tak bisa berpikir selain tentangmu karena menyesal.
Seandainya aku dapat mengungkapkan perasaanku, aku ingin kau di sini semesra dahulu dan kita bersama menyatukan peluh yang sempat berteduh di liang mata, membuat purnama melirik kita dengan hati iri. Biarkan awan pun bersembunyi dan bulan pun kesepian. Di kala hati resah, aku selalu mencari cara untuk menutupi keraguanku, namun ketika rindu semakin menyerang, aku hanya mampu bersembunyi di balik jendela. Kalaulah kudapat menghapus jarak membawaku terbang. Aku akan membiarkan udara pun terhenti di saat daun-daun beterbangan, karena aku hanya membutuhkanmu. Akan kuberikan seutuhnya cintaku, seperti hujan yang selalu membagi rintiknya pada setiap ujung daun. Dimana tak kutemukan lagi celah di hatimu, untuk orang lain. Ketika seribu ragu datang, aku tak mampu mengendalikan pikiranku, tapi aku masih bisa bertahan pada hatimu. Saat pagi menjelang dan ragaku terbangun, aku selalu mengingatmu. Aku tak bisa membuat mimpi menjadi panjang seperti tahun-tahun yang tak habis dibagi waktu. Aku hanya bisa melihatmu, seperti melihat bintang yang menerangi jiwaku.
Dalam sekejap, mataku terendam banjir. Bukan karena hujan, bukan juga karena mendung. Aku tak tahu di kemudian hari saat aku melintasi jalan dan melihat langit, apakah aku masih menemukan cahaya terangmu. Pada hari yang lain, di mana kehidupan telah begitu berbeda, aku terdiam. Menatap kosong, dan aku teringat padamu, seketika aku tak bisa menahan perasaan yang bergejolak di dalam dada seperti ingin menembus dinding. Lalu lamat-lamat aku akan terisak, karena kau tidak ada di sini. Apa yang bisa kuperbuat. Sementara bening kristal di mataku mulai tak terbendung lagi. dan aku hanya bisa memeluk dada bukan lantas karena kedinginan, tetapi kesepian. Udara dingin dan kehangatanmu tak terbayang lagi. aku benar-benar tak bisa lepas darimu. Apakah ini ilusi. Dan aku benar-benar merasa nyata, saat kehilanganmu. Saat dimana aku tak mampu berdiri dengan akalku. Namamu selalu terlintas di setiap ujung mimpiku, membangunkanku. Bahkan lebih dari beberapa hari. Dimana aku harus bersembunyi, jika sekelebat bayangmu memenuhi ruang hatiku. Kau selalu menemukanku, dan aku tidak berdaya karena teringat olehmu. Terduduk diam menepi memeluk sendiri sambil menangis, menyebut namamu dalam di hatiku, aku mencintaimu.
Aku tak pernah bisa membayangkan sampai kapan hal ini bertahan, aku menjaga cinta yang sebenarnya tak boleh kusimpan. Kenapa teori cinta tidak cukup dengan dua orang yang saling mencintai. Aku berhubungan denganmu selama bertahun-tahun atas nama cinta. Aku dan kamu merasakan hal yang sama. Akan tetapi hal ini tidak berjalan seperti cerita. Ada hal yang melarang aku untuk berhubungan denganmu, aku tidak mengerti. Apa yang harus aku lakukan untuk tetap mempertahankan perasaan ini, aku tidak ingin ada luka dan air mata. Aku tahu, suatu saat diantara kita ada yang merasa sakit hati dan kau menatapku benci. Tetapi takdir bukan milikku dan kebahagiaan itu tak bisa kukarang sendiri. Aku harus mendapatkan restu. Cinta yang tulus dan janji suci seperti setia tak akan berlaku di sini, cinta adalah dongeng dimana sang putri hidup bersama sang raja. Aku hanya bisa berjalan lewat belakang, diam-diam. Aku memendam perasaanku diam-diam. Dan aku menyembunyikan sebagian tangisku di ujung malam. Kau tidak pernah tahu dari mana datangnya cinta, tapi aku lebih memilih melewatinya dari belakang, untuk bertemu denganmu. Semoga jalan ini tak berakhir buntu dan kau bisa membuka pintu masuk lewat depan dan menatapku dengan cinta, tanpa diam-diam.
Ini tentang percakapan kita semalam. Tentang kita berbisik dan saling mengundang tawa. Malam semakin bergulir menjadi pagi. Tapi kita tak pernah memikirkan waktu, aku hanya merasakan luapan rindu. Kau berbincang seakan di depan mata, aku pun tersipu malu, ketika kau mulai merayu. Aku bisa mendengar suara manjamu di atas bantal. Merasakan keremangan yang terlihat terang bagiku, di hatiku. Kau adalah kisah yang akan kututup dengan ciuman. Saat terbangun aku akan selalu mengenangmu seperti semalam. Aku bercerita tentang api yang mengobarkan semangatmu, seperti lentera yang menerangi hatiku, kau lebih terang dari sinar rembulan sekalipun. Tidak akan padam.
Sayang, aku masih ingat saat kau menatapku lekat-lekat. Dimana kau masih termangu dan terpaku melihatku, seakan tak percaya. Kau tak sekadar memandang, bola matamu yang teduh menelusuri setiap jengkalku mencari penawar rindu. Kau tersenyum simpul manis dengan garis tipis dan mata berbinar, menyaksikanku. Perlahan langkahmu berat mendekat, merapat. Aku duduk di tepi kursi dan menantimu ke sisi. Kau berlabuh di sebelahku, dan menyandar kepala di dadaku, kudekap. Kubelai angin yang semilir di ujung musim membawa aroma cinta menyemai rindu di bibir manismu. Kurasa, ini adalah saat di mana kunantikan. Derai tangis dan gerimis telah usai. Aku memelukmu, lebih dekat.
Inikah akhir cerita cinta. Namun aku tak mampu memastikan. Bahwa hatiku masih memilihmu dan tak ingin jauh pergi meninggalkanku. Aku tidak tahu bagaimana harus meyakinkanmu, saat ini dan esok sudah tidak berarti lagi. Kau akan pergi jauh dan aku tidak akan menemukanmu lagi, di sini. Ketika ragaku terpaut oleh bayangmu, namun aku tak mampu melepas bahkan untuk sejenak. Mengingatmu, adalah kebahagian yang tak terperikan. Aku tak bisa mengikat hatimu untukku, tapi aku tak rela untuk kehilanganmu. Karena aku begitu menyayangimu. Apakah jarak menjadi kendala, jika cinta yang kau ucap adalah bukti dan janji tulusmu. Aku ingin kau mengingatnya, demi cinta. Apakah keyakinan ini cukup untuk membuatmu bertahan pada satu cinta. (for some one)Aku masih menunggu dengan cemas. Berharap aku bisa menemukannya dibawah cahaya lampu kota. Bibirku yang basah terlihat bergetar karena dingin. Hujan tiba-tiba datang dan mengguyur tanah. Aku tak sempat berteduh. Detik-detik kembali tumbang karena hari akan segera berganti. Di sini aku masih menantimu sayang. Selamat tahun baru!
Gerimis perlahan turun membasahi hatiku, dingin. Malam semakin kelam dan temaram di pelupuk mataku. Aku tak bisa terpejam, melihatmu menyanyikan senandung rindu di penghujung malam. Aku menemukan cinta di balik sendu. Cinta yang membekas setelah kau melenguh panjang, disini kita merapat dan menyatu bersama deru nafas yang terburu-buru. Kemudian gejolak ini seperti ombak yang bergulung-gulung memintal hasrat menjadi dorongan nafsu. Aku tak ingin cinta habis semalam. Di mataku kau begitu menggairahkan bahkan di saat aku tak lagi memandang.
Aku tidak menghiraukan keramaian di sini, ekor mata yang menangkap dan mencuri perhatianku. Aku hanya peduli padamu. Di sini, kutemukan banyak angin yang berhembus, ada banyak pasang mata yang saling bertemu, akan tetapi nafasku hanya bertemu denganmu. Aku hanya ingin menciummu lebih dalam. kau masih menggelayut manja, sementara aku sibuk menopang kepalamu di dadaku. tahukah kau, seseorang di seberang sana sedari tadi melirik dengan pandangan tak suka. kemudian temannya yang berada di sampingnya tampak gelisah tak percaya melihatku, di sini kita berciuman.
Mungkin tulisan seperti ini jarang sekali kubuat, tapi aku buat karena aku menyadari sebelum terlambat. Maafkan aku. Terkadang aku begitu egois dan mementingkan diriku sendiri, aku seringkali menyalahkanmu dan tidak melihat permasalahan sebenarnya. Aku tahu, aku tidak bisa menuntut banyak. Aku harus cukup mengerti keadaan ini. Mungkin aku belum melakukan sesuatu yang terbaik untukmu, bahkan belum sama sekali. Aku kira kesalahan selalu terjadi, dan aku tahu aku salah. Aku ingin sedikit berbakti padamu, aku tahu kau punya sebentuk kasih yang berbeda yang kau berikan untukku, kau begitu mengerti dan memahamiku. Sedangkan aku hanya bisa menuntut dan menyalahkan, maafkan aku. Aku akan mencoba memperbaikinya dan bersikap lebih dewasa. Aku ingin mengucapkan ini, bahwa aku juga menyayangimu. Sangat mencintaimu.
Aku ingin berkisah malam ini, dengan secangkir teh hangat dan gerimis hujan membasahi. Saat kau pikir seseorang dengan sangat mencintaimu. Itu adalah saat kau merasa dicintai. Ada orang yang dengan harapan menantimu. Berbagi kisah dan rindu bercengkrama menghabiskan waktu bersama cinta, rintik hujan, sentuhan bibir dan desahan. Itulah saat kebersamaan. Akan tetapi tak ada yang bisa mengabadikan kebahagiaan itu selain bingkai kenangan, ketika cerita berakhir menyedihkan. Dan kau tidak bisa berpikir lagi karena kau merasa tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi yang perlu dikenang. maka itulah titik dimana harus ada kerelaan dan tidak perlu isak tangis tertahan, tetapi aku tidak bisa menjamin. karena rasa sakit bisa sangat menyiksa dan cinta adalah cerita indah namun tak selalu berakhir indah, maka genggamlah cintamu. jangan kau biarkan dia pergi, bahkan hanya untuk sesaat.
Aku tidak bisa lagi membedakan kenyataan dan mimpi. Karena saat aku terbangun dan seketika apa yang kurasakan dalam mimpi tidak berarti apa-apa. Begitu juga dengan kenyataan, apa yang kurasakan pada masa lalu hanya tersisa sekeping kenangan yang tak begitu nyata. Sehingga apa bedanya mimpi dan kenyataan. Jika keduanya akan terlewati dan tak akan bisa kembali. Begitu juga dengan mimpi, kau tidak akan mendapati mimpi yang sama, atau kembali pada mimpi semalam yang tampak begitu nyata. Kau hanya bisa memandang kosong tanpa tahu membedakan mimpi dan nyata. Semua tampak seperti angin dan berhembus begitu saja. Aku sangat merasakan kenyataan ini saat peristiwa mimpi berlangsung, dan aku tidak mengingat apa-apa lagi saat kubuka mata dalam kehidupan nyata, atau aku tak bisa lagi mengingat kenangan indah itu karena telah terjadi di masa lalu dan mataku hanya berkedip di masa kini tanpa bisa mengingatnya kembali. Ketika aku berpikir saat ini maka aku merasakan hal ini begitu nyata walaupun sebenarnya dalam kehidupan mimpi atau kehidupan sebenarnya. Sehingga aku akan merekam semua peristiwa ini sebagai bentuk kenyataan, yang akan hilang. Kenangan, memori, ingatan, pikiran, semua akan menjadi unsur-unsur yang semakin sulit dibedakan. Saat aku tak mampu untuk memegang tanganmu, aku selalu bisa bertemu denganmu dalam mimpi. Atau saat aku benar-benar memegang tanganmu, aku selalu berharap ini akan selalu terjadi dan akan terjadi lagi di kemudian hari. Karena mimpi dan kenyataan yang kau rasakan akan berakhir dengan kehilangan yang menyedihkan. Tidak tersisa apa pun selain kesedihan dan penyesalan yang kemudian berubah menjadi semacam bentuk kebencian. Jika kehidupanmu bisa terbagi menjadi dua, maka 12 jam yang tersisa dalam hidupmu adalah mimpi. Dan mimpi itu akan menjadi mimpi yang terpanjang sampai kau menginginkan tertidur lebih lama. Mengapa aku begitu suka memandangimu, karena sebenarnya aku tak begitu kuat menyimpan keseluruhan detil mengenaimu, parasmu, sudut bibrimu, lekuk alismu, kedipan matamu. Aku tak mampu terlepas dari pandanganmu agar kutangkap dalam otakku dengan bentuk yang sama, dirimu. Saat aku berpikir hidup bersamamu adalah mimpi, aku ingin tertidur lebih lama agar mimpi itu benar-benar terjadi. Tapi aku tidak sanggup dengan kenyataan yang membuatku terpisah, antara mimpi dan nyata. Antara harapan dan kenyataan. Antara cinta dan realita. Aku tak sanggup membuka mata jika kuingat bahwa kau tidak bersamaku lagi. aku ingin kau membantuku membangun mimpi ini menjadi nyata, agar saat kau terbangun, aku bisa melihat kedipan matamu yang sama di hadapanku, masih dalam keadaan tertutup selimut. Tiba-tiba kau tersenyum dan mengajakku tidur dengan senyum manja, kembali pada mimpi kita bersama.
Sebenarnya apa sih yang kemudian kau cari, selama bertahun-tahun dan kau berusaha menemukan kebahagiaan, kebenaran. Sementara banyak jalan dan kau hampir kehilangan jalan untuk pulang kembali. Seperti yang diharapkan semua orang, cinta. Mencintai dengan penuh kasih sayang. Ada satu perasaan yang kemudian menyelimuti dan terasa sangat menyejukkan, kerinduan yang kemudian meluap seperti gejolak asmara yang tertahan.
Selama ini, selama aku bernafas dan tak mampu kuhitung detik dan jarum jam yang bergerak. Selama aku mencari kemungkinan untuk menemukan keajaiban, dan arti kebahagiaan itu sendiri. Adakah kau puas dan menikmati jalan yang kau pilih sementara kebenaran itu baru terlihat di masa depan. Sementara tak kutemukan cahaya yang menerangi jalanku. Aku diliputi rasa bimbang dan ragu tentang jalan yang kupilih.
Aku harap, selama aku masih bisa melihat jalan, melihat kemungkinan, melihat berbagai titik-titik terang. Aku masih bisa menggenggam tanganmu, merasakan sentuhan kasih dan belaian tanganmu yang menempel di pipiku, merasakan kerinduanmu. Karena aku takut semuanya kemudian hilang dan jalan itu tak nampak lagi terlihat dan gelap seperti bayang-bayang. Dan akhirnya aku tidak percaya lagi pada harapan dan mimpi.
Kebahagian, barangkali datang jika waktunya tiba. Cinta seperti anugerah akan memberi ketentraman dan kedamaian, lalu waktu berubah kemudian cinta menjadi rasa sakit yang tak terperikan tanpa penawar. Aku percaya pada keyakinan hati yang membangun dan menuntunku berjalan, melewati garis dan terjal yang membuatku ragu, kemudian merindukanmu seperti api lilin yang ingin menyambar angin. Aku ingin kau selalu bersamaku menemukan garis akhir dari perjalanan ini. Cinta.
Desis ini serupa ular yang merayap kemudian menjalar, aku masih terbaring dan tak bisa bergerak. Hatiku masih terpaut pada bisikan yang membuatku tergetar. Kau begitu menyihirku seperti cinta. Aku tak berdaya dan semalaman hanya memikirkanmu. Desis nafasmu, deru jantungmu. Aku masih bisa melihat ketulusan dari kedipanmu, lalu terpejam. Dan aku mulai meraba-raba, seperti sentuhan bulu merak yang merayap saat membelai. Aku membelaimu hingga dirimu benar-benar terlelap. Saat itu, aku hanya bisa memandangimu dengan penuh cinta. Saat kau berada benar-benar dekat. Sedekat syaraf yang mengakar. Kau masih sama, tetap setia menatapku, walaupun ada derai sendu dan kerinduan yang tak habis hilang semalam. Aku ingin tetap disini, bersamamu. Kemudian bibirku mengatup untuk sesaat. Aku melihat dirimu terlelap dalam pelukanku. Seperti jarum waktu yang terkunci, lamat-lamat mataku hangat, seberkas bening air membasahi. Aku tahu bahwa kemesraan ini tak begitu lama, sehingga aku menyesapi setiap jengkal waktu yang tersisa. Gelora asmara yang begitu membuncah karena luapan rindu yang tak terkira, adalah nyanyian peri yang dikumandangkan sehabis hujan. Aku menyulam rasa rindu dari ciuman yang kau titipkan pada bibirku, membekas. Ketika bibirku mulai merekah dan nafasmu terasa di ujung lidah, aku selalu ingin menciumu dalam satu kecupan yang panjang. Namun, di tempat ini tak kutemukan lagi rinai hujan yang sama. Jarak pandangku terhalang batas waktu.
Mungkin suatu saat aku akan teringat, saat gerimis turun dari kelopak mata dan nafasku tercekat, tentang cerita yang tak bisa kulupa. Seperti merayakan tangisan dan aku hanya melihat pipiku bersimbah air mata dan tanganku memeluk dadaku sendiri. Akankah keindahan ini terlihat saat mataku benar-benar terpejam. Mengapa aku bisa sangat merindukan kematian. Ketika aku tidak bisa berbuat apa-apa dan aku hanya bisa membayangkan keajaiban seakan benar-benar terjadi. Dimanakah arti ketulusan jika aku tak lagi melihat senyum diantara garis bibirmu. aku hanya berdiam menunggu pagi dan selama detik-detik berguguran aku dipenuhi kegelisahan karena memikirkanmu. Dan senandung sendu terus terngiang di telingaku mengajakku bercengkrama dengan kepiluan, kepedihan hati. Kau hanya membisu. Aku tidak lagi menemukan matamu yang bening dan teduh sehingga mataku terendam air. Aku tidak bisa menahan kesedihan karena dadaku berguncang ketika teringat namamu, ada ratusan namamu yang terukir di sini. Setiap kali kucoba hapuskan, kenangan itu seolah baru saja terjadi. Aku menggapai dinding yang rapuh, hatiku pun luruh. Apakah aku buta? Ketika tak ada lagi yang bisa kulihat. Aku hanya bisa meraba diantara deretan huruf mati. Tak ada sentuhan dan senyuman yang tergambar selain tanda kurung yang terpenggal diantara titik dua. Aku sangat merindukanmu dan aku tidak tahu lagi caranya untuk meluapkanya karena telaga di mataku tak terbendung lagi. Dan aku hanya ingin mendengar suaramu. Tapi lamat-lamat langit padam dan tak kudengar kicauan burung yang seringkali melintas di pikiranku. Aku ingin menangkap salah satunya untuk kita pelihara. Ketika jejak air mata itu kuseka dengan secarik kertas tisu maka sekalipun kenangan itu masih tersimpan basah. Dan aku tidak pernah lagi mendengar suaramu. Kenapa kau merampasnya dariku. Pintu langit terkunci dan tak ada lagi cahaya yang menyelinap dalam ruang hatiku. Gelap. Derai tangis yang kusulam menjadi ratapan dan tangisan seperti gemuruh doa yang datang berkumandang pada lubuk hatiku yang sempit. Aku mencarimu diantara titik persimpangan. Aku mencari setiap kemungkinan untuk tetap bersamamu. Ketika keabadian itu terjadi dalam mimpi. Maka aku membangun mimpi-mimpi itu dari malam yang tersisa. Dan aku tidak menemukanmu. Aku hanya menemukan kekosongan dan kehampaan. Dimana lagi kucari bayangmu yang hilang ketika aku tidak dapat melihat bayanganku sendiri. Dan mataku tertutup karena kulihat darah menetes dari dalam hatiku.
Tgl ini kuingat lagi saat kubaca
09 oktober 10
Memetik dawai rindu pada ujung musim, hatiku basah karena gerimis menitikkan air perlahan. Dingin merasuk dan kepingan hati yang berserak kini kembali kurapikan. Ada getar getar resah yang merambat di pelupuk mata, ketika senarai rindu meluap luap dan aku bisa kembali mendengar suaranya. Suara yang sampai kini selalu terdengar merdu seperti nyanyian senja yang syahdu. Dan untaian nada nada sumbang dapat terhapus oleh ungkapan kasihmu.
ga tu nih tadi abis kuliah gw kepikiran hobi gambar
mampir ke stationery
beli crayon faber castel...
mulai dodling dan drawing lagi deh
Mohon maaf lahir dan batih
salaman, tetangga, ketupat, opor, maaf
lebaran telah tiba...
tanpa terasa telah melewati sebulan penuh puasa
bersihkan hati
mantapkan niat
banyak kata yang salah terucap
banyak kata yang menyinggung hati
banyak perilaku yang tidak berkenan
kepada pembaca:
mohon maaf lahir dan batin
semoga hati kita kembali bersih dan suci
salaman, tetangga, ketupat, opor, maaf
lebaran telah tiba...
tanpa terasa telah melewati sebulan penuh puasa
bersihkan hati
mantapkan niat
banyak kata yang salah terucap
banyak kata yang menyinggung hati
banyak perilaku yang tidak berkenan
kepada pembaca:
mohon maaf lahir dan batin
semoga hati kita kembali bersih dan suci
Awalnya, kupikir dalam laut lebih dalam hati seseorang. Sehingga tak mudah kau menyentuh dasarnya. Mengetahui dalam perasaanya. Namun, aku mulai menyadari betapa luasnya langit lebih luasnya pikiran manusia, tak ada yang bisa menerka, pola pikir dan pandangan seseorang.
Hati selalu terkait emosi dan psikologi. Kedalaman hati selalu membuat orang ingin menggali lebih dalam apa yang tersembunyi. Kau selalu merahasiakannya dariku, menyembunyikan ceritamu. Banyak hal bisa terkubur dalam hati. Betapa sayangnya kau mencintaiku. Tentu kedalamannya tidak mudah diketahui.
Begitu juga dengan pikiranmu yang tidak mudah kutebak, tidak mudah kuduga, tidak mudah kutahan. Seringkali jalan pikiran selalu berbeda arah, berseberangan. Pikiran jauh lebih menguasai ketetapan hati. Dan seberapa kuat keyakinanmu terhadap perasaanmu sendiri kadang bisa runtuh seketika karena kau berubah pikiran dan meragukanya karena sebuah alasan.
Hati selalu terkait emosi dan psikologi. Kedalaman hati selalu membuat orang ingin menggali lebih dalam apa yang tersembunyi. Kau selalu merahasiakannya dariku, menyembunyikan ceritamu. Banyak hal bisa terkubur dalam hati. Betapa sayangnya kau mencintaiku. Tentu kedalamannya tidak mudah diketahui.
Begitu juga dengan pikiranmu yang tidak mudah kutebak, tidak mudah kuduga, tidak mudah kutahan. Seringkali jalan pikiran selalu berbeda arah, berseberangan. Pikiran jauh lebih menguasai ketetapan hati. Dan seberapa kuat keyakinanmu terhadap perasaanmu sendiri kadang bisa runtuh seketika karena kau berubah pikiran dan meragukanya karena sebuah alasan.


















