Segelas kegelisahan telah dihidangkan mengepulkan resah dan kecemasan yang membubung hingga ke langit hitam. Aku tak tahu, dengan bahasa apa aku harus meminta, secangkir petaka ini telah ada di depan mata. Kucoba untuk melawan hati atas getir dan sedih yang menuai perih, ketika dawai-dawai rindu telah karam pada ujung kelopak mata membanjiri kepiluan hati yang teriris. Hati terburai menjadi semburat titik titik bekerlipan di angkasa menemanimu. Aku ingin mengecup bibirmu dan membiarkan segala isinya tertelan bersama kepedihan
Mama, aku akan berusaha semampuku membuatmu bangga. Melihatku berkaca-kaca dan ingin segera berhambur memelukku penuh roha haru dan bahagia. Aku akan memberikan yang terbaik sebaik yang aku bisa, dan kau akan mengecup pipiku beberapa kali. Berikanlah doa dan restumu, aku tidak bisa bertahan tanpa itu, kasih dan cinta mama begitu besar sehingga aku terkadang tak mampu menampungnya dalam pengertianku. Aku selalu ingin berjumpa dan mencium tanganmu, membuatmu tertawa dan kita berdua saling berbagi cerita. Sepanjang malam, kau akan terus memanjakanku dengan cerita-cerita yang berbeda. Setiap kali aku melihatmu, aku khawatir bahwa kau akan berhenti mencintaiku dan aku membuatmu kecewa. Mama, aku sangat mencintaimu. Aku akan berusaha sekuat tenaga dan mengerahkan segalanya. Hanya untuk membuatmu bangga, Mama. Do'aku mengalir untukmu sepanjang tarikan nafasku, agar kau tetap menjadi sumber kekuatanku.
Aku tidak tahu, bagaimana membuat terkadang itu menjadi tidak selalu. Karena kupikir bahwa aku tidak menghindari itu untuk melarikan diri. Aku hanya ingin bersamamu. Kenapa hal sederhana ini bisa menjadi teramat sulit untuk dihubungkan. Dan banyak keterkaitan yang membuatku semakin jauh darimu. Ketika sejauh ini aku berlari hanya untuk bisa membuat jarak menjadi lebih singkat. Aku tidak bisa membawamu ke sini. Aku tidak mengerti apa yang salah tentang keinginanku. Ketika orang harus memandang sesuatu di luar diriku. Sehingga aku tidak berdaya. Apa setiap orang punya hubungan dari jalan masing-masing. Sementara jalan yang kupilih begitu berbeda. Padahal, aku mengharapkan akhir dari perjalanan ini hanya untuk bertemu denganmu, melepas seluruh kekhawatiran ini bersamamu. Tapi kenapa kau tak menatapku lagi. Bahkan kau membuang muka, dan aku tidak bisa melihat matamu yang indah. Setelah sekian lama aku membangun perasaan ini untuk percaya pada satu hal. Kau meruntuhkanya dalam sekejap pandangan mata. Aku tidak bisa bertahan lagi karena aku membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu untuk mengalahkan ketakutan ini, please!.
Kau tidak perlu bicara, aku memahami isi hatimu dan mengerti kerinduanmu selama ini. Cinta tak perlu dirumuskan dengan kata-kata. Cinta adalah bahasa yang mampu dituangkan dalam bentuk sentuhan dan bahasa kalbu. Ketika aku tak bisa melihatmu karena jarakmu terlalu dekat. Kemudian kelopak matamu mengatup dan bibirmu merekah seperti bunga. Aku menyambutnya dengan bibirku yang basah. Dan aku menyentuhmu dengan lidah. Membasahi kekeringanmu selama ini. Cinta tak terkatakan telah teruntai indah bersama kecupan dan bibir yang menyatu mesra. Aku tahu bahwa sepanjang apa pun kata yang ingin kau ungkapkan, tak perlu lagi. Aku telah memahaminya sepenuh hati, ketika tanpa sengaja lidahmu menyentuh lidahku seperti berpelukan. Aku tahu bahwa kau sangat mencintaiku, tanpa perlu bicara.
Kata-kata itu tak cukup sekadar membuatmu jatuh ke pelukanku. Kau tahu, aku lebih suka berbisik di dekat telingamu karena aroma tubuhmu lebih mudah tercium dan aku bisa merasakan nafasmu lebih terburu-terburu. Dan kau menatapku penuh rayu, ketika belaianmu lebih mesra dan aku tak mampu menahan diriku. Aku selalu ingat dirimu saat mataku terbuka. Di saat semua tampak begitu nyata, aku mulai ragu apakah aku bisa mencapai keinginanku. Ada detak ketika denyut menjadi terhenti bukan karena jantung tak berdetak. Tapi karena dada pun tersentak saat aku merasa bahwa diriku tak mampu meraihmu. Untuk Jatuh mencintaiku.
Malam hanya menyisakan aroma hujan yang mulai hilang. Kau bersembunyi dalam keremangan sementara bibirmu masih mengatup, aku mencoba mencarimu, walaupun sebenarnya samar-samar kulihat matamu terpejam, tapi kau mencoba mencuri pandang, sementara aku sibuk meraba. Kini kau merajuk dan memintaku menemanimu sepanjang malam. Dan aku sangat menyukai setiap malam bersamamu. Bahkan kau memelukku sedemikian kuat sampai aku tak bisa terlepas. Kau menyukai keremangan itu karena kau pikir mata hatiku lebih terbuka. Melihat setiap jengkal dirimu yang gelap. Kau mulai merapat dan aku sangat mengetahui hal itu, kemudian kau menyentuh pipi lebih mesra dan aku dengan mudah menemukan wajahmu dalam gelap. Aku ingin sekali menciummu saat itu. Bahkan lebih baik jika kau lengah, dan aku dengan mudah mendapatkan bibirmu saat kau terkejut menerimanya. Tapi aku mengerti, ada saat dimana hati ini gelap karena cahaya kini mulai redup. Dan kau mampu membuat kegelapan ini tampak jauh lebih terang terlihat.
Terkadang, bening kristal di matamu berubah menjadi getaran yang perlahan melahirkan rintik-rintik air dari ujung bulu mata. Padahal malam itu tidak pula terjadi pertengkaran, aku hanya merasa tidak perlu mengungkapkanya. Hanya terlintas begitu saja dan aku tidak tahu kalau mengundang reaksi negatif bagimu. Aku tidak tahu perasaan begitu sangat menyentuh pada hal-hal yang sebenarnya sederhana. Dan aku tidak melihat kemesraan itu, seperti kemarau panjang yang begitu panas dan kering, maka aku menjadi tanah yang gersang karena tak lagi tersiram air. Sisa dari yang kumiliki hanya air mata, malam itu tak sanggup kutahan sisa itu jatuh dari ujung daun mataku. Kenapa aku begitu lemah dengan perasaan ini. Bahkan ketika kesadaranku masih ada, aku tak mampu lagi membangun seulas senyum yang indah seperti kemarin. Saat kita bertali kasih di balik suara yang tersembunyi kemudian saling menyahut dengan rasa sayang sampai kau membelaiku hingga terpejam. Ternyata tidak mudah membangun keterikatan batin itu, sampai kau terbawa perasaan dan aku tidak bisa berbuat apa selain menyadari kesalahan. Aku semalam tak bisa berpikir selain tentangmu karena menyesal.
Seandainya aku dapat mengungkapkan perasaanku, aku ingin kau di sini semesra dahulu dan kita bersama menyatukan peluh yang sempat berteduh di liang mata, membuat purnama melirik kita dengan hati iri. Biarkan awan pun bersembunyi dan bulan pun kesepian. Di kala hati resah, aku selalu mencari cara untuk menutupi keraguanku, namun ketika rindu semakin menyerang, aku hanya mampu bersembunyi di balik jendela. Kalaulah kudapat menghapus jarak membawaku terbang. Aku akan membiarkan udara pun terhenti di saat daun-daun beterbangan, karena aku hanya membutuhkanmu. Akan kuberikan seutuhnya cintaku, seperti hujan yang selalu membagi rintiknya pada setiap ujung daun. Dimana tak kutemukan lagi celah di hatimu, untuk orang lain. Ketika seribu ragu datang, aku tak mampu mengendalikan pikiranku, tapi aku masih bisa bertahan pada hatimu. Saat pagi menjelang dan ragaku terbangun, aku selalu mengingatmu. Aku tak bisa membuat mimpi menjadi panjang seperti tahun-tahun yang tak habis dibagi waktu. Aku hanya bisa melihatmu, seperti melihat bintang yang menerangi jiwaku.
Dalam sekejap, mataku terendam banjir. Bukan karena hujan, bukan juga karena mendung. Aku tak tahu di kemudian hari saat aku melintasi jalan dan melihat langit, apakah aku masih menemukan cahaya terangmu. Pada hari yang lain, di mana kehidupan telah begitu berbeda, aku terdiam. Menatap kosong, dan aku teringat padamu, seketika aku tak bisa menahan perasaan yang bergejolak di dalam dada seperti ingin menembus dinding. Lalu lamat-lamat aku akan terisak, karena kau tidak ada di sini. Apa yang bisa kuperbuat. Sementara bening kristal di mataku mulai tak terbendung lagi. dan aku hanya bisa memeluk dada bukan lantas karena kedinginan, tetapi kesepian. Udara dingin dan kehangatanmu tak terbayang lagi. aku benar-benar tak bisa lepas darimu. Apakah ini ilusi. Dan aku benar-benar merasa nyata, saat kehilanganmu. Saat dimana aku tak mampu berdiri dengan akalku. Namamu selalu terlintas di setiap ujung mimpiku, membangunkanku. Bahkan lebih dari beberapa hari. Dimana aku harus bersembunyi, jika sekelebat bayangmu memenuhi ruang hatiku. Kau selalu menemukanku, dan aku tidak berdaya karena teringat olehmu. Terduduk diam menepi memeluk sendiri sambil menangis, menyebut namamu dalam di hatiku, aku mencintaimu.
Aku tak pernah bisa membayangkan sampai kapan hal ini bertahan, aku menjaga cinta yang sebenarnya tak boleh kusimpan. Kenapa teori cinta tidak cukup dengan dua orang yang saling mencintai. Aku berhubungan denganmu selama bertahun-tahun atas nama cinta. Aku dan kamu merasakan hal yang sama. Akan tetapi hal ini tidak berjalan seperti cerita. Ada hal yang melarang aku untuk berhubungan denganmu, aku tidak mengerti. Apa yang harus aku lakukan untuk tetap mempertahankan perasaan ini, aku tidak ingin ada luka dan air mata. Aku tahu, suatu saat diantara kita ada yang merasa sakit hati dan kau menatapku benci. Tetapi takdir bukan milikku dan kebahagiaan itu tak bisa kukarang sendiri. Aku harus mendapatkan restu. Cinta yang tulus dan janji suci seperti setia tak akan berlaku di sini, cinta adalah dongeng dimana sang putri hidup bersama sang raja. Aku hanya bisa berjalan lewat belakang, diam-diam. Aku memendam perasaanku diam-diam. Dan aku menyembunyikan sebagian tangisku di ujung malam. Kau tidak pernah tahu dari mana datangnya cinta, tapi aku lebih memilih melewatinya dari belakang, untuk bertemu denganmu. Semoga jalan ini tak berakhir buntu dan kau bisa membuka pintu masuk lewat depan dan menatapku dengan cinta, tanpa diam-diam.
Ini tentang percakapan kita semalam. Tentang kita berbisik dan saling mengundang tawa. Malam semakin bergulir menjadi pagi. Tapi kita tak pernah memikirkan waktu, aku hanya merasakan luapan rindu. Kau berbincang seakan di depan mata, aku pun tersipu malu, ketika kau mulai merayu. Aku bisa mendengar suara manjamu di atas bantal. Merasakan keremangan yang terlihat terang bagiku, di hatiku. Kau adalah kisah yang akan kututup dengan ciuman. Saat terbangun aku akan selalu mengenangmu seperti semalam. Aku bercerita tentang api yang mengobarkan semangatmu, seperti lentera yang menerangi hatiku, kau lebih terang dari sinar rembulan sekalipun. Tidak akan padam.
Sayang, aku masih ingat saat kau menatapku lekat-lekat. Dimana kau masih termangu dan terpaku melihatku, seakan tak percaya. Kau tak sekadar memandang, bola matamu yang teduh menelusuri setiap jengkalku mencari penawar rindu. Kau tersenyum simpul manis dengan garis tipis dan mata berbinar, menyaksikanku. Perlahan langkahmu berat mendekat, merapat. Aku duduk di tepi kursi dan menantimu ke sisi. Kau berlabuh di sebelahku, dan menyandar kepala di dadaku, kudekap. Kubelai angin yang semilir di ujung musim membawa aroma cinta menyemai rindu di bibir manismu. Kurasa, ini adalah saat di mana kunantikan. Derai tangis dan gerimis telah usai. Aku memelukmu, lebih dekat.
Inikah akhir cerita cinta. Namun aku tak mampu memastikan. Bahwa hatiku masih memilihmu dan tak ingin jauh pergi meninggalkanku. Aku tidak tahu bagaimana harus meyakinkanmu, saat ini dan esok sudah tidak berarti lagi. Kau akan pergi jauh dan aku tidak akan menemukanmu lagi, di sini. Ketika ragaku terpaut oleh bayangmu, namun aku tak mampu melepas bahkan untuk sejenak. Mengingatmu, adalah kebahagian yang tak terperikan. Aku tak bisa mengikat hatimu untukku, tapi aku tak rela untuk kehilanganmu. Karena aku begitu menyayangimu. Apakah jarak menjadi kendala, jika cinta yang kau ucap adalah bukti dan janji tulusmu. Aku ingin kau mengingatnya, demi cinta. Apakah keyakinan ini cukup untuk membuatmu bertahan pada satu cinta. (for some one)Aku masih menunggu dengan cemas. Berharap aku bisa menemukannya dibawah cahaya lampu kota. Bibirku yang basah terlihat bergetar karena dingin. Hujan tiba-tiba datang dan mengguyur tanah. Aku tak sempat berteduh. Detik-detik kembali tumbang karena hari akan segera berganti. Di sini aku masih menantimu sayang. Selamat tahun baru!
Gerimis perlahan turun membasahi hatiku, dingin. Malam semakin kelam dan temaram di pelupuk mataku. Aku tak bisa terpejam, melihatmu menyanyikan senandung rindu di penghujung malam. Aku menemukan cinta di balik sendu. Cinta yang membekas setelah kau melenguh panjang, disini kita merapat dan menyatu bersama deru nafas yang terburu-buru. Kemudian gejolak ini seperti ombak yang bergulung-gulung memintal hasrat menjadi dorongan nafsu. Aku tak ingin cinta habis semalam. Di mataku kau begitu menggairahkan bahkan di saat aku tak lagi memandang.
Aku tidak menghiraukan keramaian di sini, ekor mata yang menangkap dan mencuri perhatianku. Aku hanya peduli padamu. Di sini, kutemukan banyak angin yang berhembus, ada banyak pasang mata yang saling bertemu, akan tetapi nafasku hanya bertemu denganmu. Aku hanya ingin menciummu lebih dalam. kau masih menggelayut manja, sementara aku sibuk menopang kepalamu di dadaku. tahukah kau, seseorang di seberang sana sedari tadi melirik dengan pandangan tak suka. kemudian temannya yang berada di sampingnya tampak gelisah tak percaya melihatku, di sini kita berciuman.
Mungkin tulisan seperti ini jarang sekali kubuat, tapi aku buat karena aku menyadari sebelum terlambat. Maafkan aku. Terkadang aku begitu egois dan mementingkan diriku sendiri, aku seringkali menyalahkanmu dan tidak melihat permasalahan sebenarnya. Aku tahu, aku tidak bisa menuntut banyak. Aku harus cukup mengerti keadaan ini. Mungkin aku belum melakukan sesuatu yang terbaik untukmu, bahkan belum sama sekali. Aku kira kesalahan selalu terjadi, dan aku tahu aku salah. Aku ingin sedikit berbakti padamu, aku tahu kau punya sebentuk kasih yang berbeda yang kau berikan untukku, kau begitu mengerti dan memahamiku. Sedangkan aku hanya bisa menuntut dan menyalahkan, maafkan aku. Aku akan mencoba memperbaikinya dan bersikap lebih dewasa. Aku ingin mengucapkan ini, bahwa aku juga menyayangimu. Sangat mencintaimu.
Aku ingin berkisah malam ini, dengan secangkir teh hangat dan gerimis hujan membasahi. Saat kau pikir seseorang dengan sangat mencintaimu. Itu adalah saat kau merasa dicintai. Ada orang yang dengan harapan menantimu. Berbagi kisah dan rindu bercengkrama menghabiskan waktu bersama cinta, rintik hujan, sentuhan bibir dan desahan. Itulah saat kebersamaan. Akan tetapi tak ada yang bisa mengabadikan kebahagiaan itu selain bingkai kenangan, ketika cerita berakhir menyedihkan. Dan kau tidak bisa berpikir lagi karena kau merasa tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi yang perlu dikenang. maka itulah titik dimana harus ada kerelaan dan tidak perlu isak tangis tertahan, tetapi aku tidak bisa menjamin. karena rasa sakit bisa sangat menyiksa dan cinta adalah cerita indah namun tak selalu berakhir indah, maka genggamlah cintamu. jangan kau biarkan dia pergi, bahkan hanya untuk sesaat.
Aku tidak bisa lagi membedakan kenyataan dan mimpi. Karena saat aku terbangun dan seketika apa yang kurasakan dalam mimpi tidak berarti apa-apa. Begitu juga dengan kenyataan, apa yang kurasakan pada masa lalu hanya tersisa sekeping kenangan yang tak begitu nyata. Sehingga apa bedanya mimpi dan kenyataan. Jika keduanya akan terlewati dan tak akan bisa kembali. Begitu juga dengan mimpi, kau tidak akan mendapati mimpi yang sama, atau kembali pada mimpi semalam yang tampak begitu nyata. Kau hanya bisa memandang kosong tanpa tahu membedakan mimpi dan nyata. Semua tampak seperti angin dan berhembus begitu saja. Aku sangat merasakan kenyataan ini saat peristiwa mimpi berlangsung, dan aku tidak mengingat apa-apa lagi saat kubuka mata dalam kehidupan nyata, atau aku tak bisa lagi mengingat kenangan indah itu karena telah terjadi di masa lalu dan mataku hanya berkedip di masa kini tanpa bisa mengingatnya kembali. Ketika aku berpikir saat ini maka aku merasakan hal ini begitu nyata walaupun sebenarnya dalam kehidupan mimpi atau kehidupan sebenarnya. Sehingga aku akan merekam semua peristiwa ini sebagai bentuk kenyataan, yang akan hilang. Kenangan, memori, ingatan, pikiran, semua akan menjadi unsur-unsur yang semakin sulit dibedakan. Saat aku tak mampu untuk memegang tanganmu, aku selalu bisa bertemu denganmu dalam mimpi. Atau saat aku benar-benar memegang tanganmu, aku selalu berharap ini akan selalu terjadi dan akan terjadi lagi di kemudian hari. Karena mimpi dan kenyataan yang kau rasakan akan berakhir dengan kehilangan yang menyedihkan. Tidak tersisa apa pun selain kesedihan dan penyesalan yang kemudian berubah menjadi semacam bentuk kebencian. Jika kehidupanmu bisa terbagi menjadi dua, maka 12 jam yang tersisa dalam hidupmu adalah mimpi. Dan mimpi itu akan menjadi mimpi yang terpanjang sampai kau menginginkan tertidur lebih lama. Mengapa aku begitu suka memandangimu, karena sebenarnya aku tak begitu kuat menyimpan keseluruhan detil mengenaimu, parasmu, sudut bibrimu, lekuk alismu, kedipan matamu. Aku tak mampu terlepas dari pandanganmu agar kutangkap dalam otakku dengan bentuk yang sama, dirimu. Saat aku berpikir hidup bersamamu adalah mimpi, aku ingin tertidur lebih lama agar mimpi itu benar-benar terjadi. Tapi aku tidak sanggup dengan kenyataan yang membuatku terpisah, antara mimpi dan nyata. Antara harapan dan kenyataan. Antara cinta dan realita. Aku tak sanggup membuka mata jika kuingat bahwa kau tidak bersamaku lagi. aku ingin kau membantuku membangun mimpi ini menjadi nyata, agar saat kau terbangun, aku bisa melihat kedipan matamu yang sama di hadapanku, masih dalam keadaan tertutup selimut. Tiba-tiba kau tersenyum dan mengajakku tidur dengan senyum manja, kembali pada mimpi kita bersama.
Sebenarnya apa sih yang kemudian kau cari, selama bertahun-tahun dan kau berusaha menemukan kebahagiaan, kebenaran. Sementara banyak jalan dan kau hampir kehilangan jalan untuk pulang kembali. Seperti yang diharapkan semua orang, cinta. Mencintai dengan penuh kasih sayang. Ada satu perasaan yang kemudian menyelimuti dan terasa sangat menyejukkan, kerinduan yang kemudian meluap seperti gejolak asmara yang tertahan.
Selama ini, selama aku bernafas dan tak mampu kuhitung detik dan jarum jam yang bergerak. Selama aku mencari kemungkinan untuk menemukan keajaiban, dan arti kebahagiaan itu sendiri. Adakah kau puas dan menikmati jalan yang kau pilih sementara kebenaran itu baru terlihat di masa depan. Sementara tak kutemukan cahaya yang menerangi jalanku. Aku diliputi rasa bimbang dan ragu tentang jalan yang kupilih.
Aku harap, selama aku masih bisa melihat jalan, melihat kemungkinan, melihat berbagai titik-titik terang. Aku masih bisa menggenggam tanganmu, merasakan sentuhan kasih dan belaian tanganmu yang menempel di pipiku, merasakan kerinduanmu. Karena aku takut semuanya kemudian hilang dan jalan itu tak nampak lagi terlihat dan gelap seperti bayang-bayang. Dan akhirnya aku tidak percaya lagi pada harapan dan mimpi.
Kebahagian, barangkali datang jika waktunya tiba. Cinta seperti anugerah akan memberi ketentraman dan kedamaian, lalu waktu berubah kemudian cinta menjadi rasa sakit yang tak terperikan tanpa penawar. Aku percaya pada keyakinan hati yang membangun dan menuntunku berjalan, melewati garis dan terjal yang membuatku ragu, kemudian merindukanmu seperti api lilin yang ingin menyambar angin. Aku ingin kau selalu bersamaku menemukan garis akhir dari perjalanan ini. Cinta.


















