Sebut saja Supri, dia sangat mencintai Ningsih. Setelah dua
tahun berpacaran rupanya kantor menugaskan dinas keluar negeri ke Jepang. Ningsih
mendengar kabar itu dengan senang bercampur sedih. Senang, karena akhirnya
Supri mendapat promosi jabatan dan naik secara finansial. Tapi, dia juga sedih
karena harus berpisah jauh dengan Supri.
Supri akan menjalani long
distance relationship dengan Ningsih. Hal itu berarti Supri harus
mempersiapkan hati sekuat baja dan kesabaran setebal tembok Cina.
“Ningsih, aku akan pergi jauh.”
“Iya, Bang. Aku juga tak sanggup melepasmu pergi.”
Kemudian mereka berpelukan sangat erat di bandara, kayak biskuit oreo.
Ningsih yang ke mana-mana selalu diantar dan dijemput oleh Supri merasa
kehilangan tukang ojek langganan. Supri dengan jaket kulit hitam yang sudah
mengelupas, pun harus menghadapi kenyataan ini.
“Ningsih, ini jaket abang satu-satunya. Simpan ya layaknya
hati abang.”
“Berarti hati abang udah jelek, dong.”
“Nggak apa-apa, jelek-jelek sayangnya sepenuh hati.”
Ningsih tersipu malu sambil menggerak-gerakkan ekornya. Ekor
matanya. Ningsih yang suka menghangatkan Supri selama ini pun tak mau kalah
memberikan cinderamata. Belum sempat Supri menarik napas, Ningsih mendekapnya. Kemudian
kedua tanganya menyusup ke balik bajunya. Menyentuh punggungnya.
“Ini akan menghangatkanmu di perjalanan.”
“Terima kasih, Ningsih.”
Ningsih masih mengusap-usap punggung Supri untuk kali terakhir.
Semakin lama dekapan pun semakin erat.
“Rasanya, kini jadi panas ya, Ningsih.”
“Iya, Bang.”
Hidung Supri mulai menghidu aroma ganjil dan terlihat tak
nyaman. Dia meregangkan pelukan Ningsih.
“Abang malu ya, dilihatin banyak orang di bandara seperti
ini.”
“Bukan, pelukan kamu biasanya hangat. Sekarang terasa panas
membakar kulitku.”
“Iya, bang biar awet selama di jalan.”
“Emang, kamu pake apa, Ningsih?”
“Balsem hot, Bang.”
“Cukup, Ningsih.”
Mereka kemudian berdiri saling berhadapan. Di bandara, ruang
tunggu. Mereka seakan ingin membekukan waktu. Detik jam terasa begitu cepat
seperti kilatan pesawat jet.
“Semoga pesawatnya delay,” ucap Supri dalam hati.
Ada keheningan tercipta. Ningsih menyentuh pipi Supri dengan
lembut. Mata Supri berkaca-kaca. Bening Kristal itu tak sanggup dibendungnya.
“Kamu jangan bersedih meninggalkanku, Supri.”
Supri masih terisak. Bulir bening itu akhirnya menetes. Getir
itu tergambar jelas di raut wajah Supri. Ningsih semakin lembut mengusap pipi Supri.
“Abang harus kuat, ya.”
Supri mengangkat dagu. Disedotnya cairan bening yang mulai
menggumpal di lobang hidungnya.
“Panas, Ningsih. Tanganmu bekas balsam panas!”
“oh… oh, maaf, Bang.”
Supri pun mengusap sisa air mata dengan lengannya. Lalu
lalang orang di ruang tunggu semakin sepi. Satu per satu masuk ke dalam
pesawat. Ini adalah momen mengharukan melapaskan pergi seseorang yang begitu
dicintai.
“Abang jangan lupa ngabarin aku, ya.”
Supri hanya menggangguk lemas.
“Ingat, Bang. Chat aku harus dibalas. Sudah cukup cintaku
dulu pernah tak kau balas.”
Supri menggangguk cepat. Kemudian hening lagi. Tangan Ningsi
menggenggam Supri, menggenapkan sela jemari dengan erat. Seolah jabatan tangan
terakhir kalinya.
“Abang, boleh kau memenuhi permintaanku?”
“Apa saja, boleh untukmu Ningsih.”
“Aku mau ngupil, tapi tanganku bekas balsam. Bolehkah aku
meminjam jarimu untuk mengupil?”
Supri langsung tari saman. Kemudian dia duduk di antara dua
sujud cukup lama. Ningsih pun mengurungkan permintaan itu.
“Aku cuma minta kamu setia, Abang.”
“Baik, aku pegang janji dan amanat untuk setia kepadamu.
“Kita seperti adegan AADC di bandara ya.”
Supri hanya tersenyum simpul. Dia menunduk mengambil tiket
dari tas yang diletakkan di lantai. Akan tetapi, seperti geluduk di pematang
sawah dan menyambar tiang listrik kemudian roboh menimpa warung di pinggir
jalan, ternyata Supri sedang makan mie goreng di warung itu. Dia kaget bukan
kepalang matanya tertuju pada jari manis Ningsih. Jari itu sudah tak lagi
dilingkari cincin pemberian Supri. Melainkan cincin lain.
Supri sedih berlinang air mata. (lanjutkan ending cerita ini versi kamu dalam kolom komentar)
*kisah Supri dan Ningsih ada di buku #Relationshit Alitt Susanto







