Seandainya aku dapat membekukan
waktu dan menahan jarum jam untuk bergerak. Lama-lamat matamu berkilat basah,
sebelum terpejam. Aku tahu, sebentar lagi terbitlah rindu. Setelah pelukan
terakhir malam itu dan ciuman panjang yang tertinggal. Kau mulai menghitung
hari, bahkan setelah pertemuan kita. Aku pun tak bisa tinggal, sementara esok
masih harus kujelang. Merindukanmu tak pernah habis semalam. Begitu pun kau
merasa tak pernah cukup menuntaskan rindu bersamaku. Aku bahagia, asal
bersamamu. Menerbitkan rindu-rindu yang panjang tentang hari-hari dan
penantian. Akan kusimpan sisa senyummu untuk kuingat, begitu pun setiap jengkal
sela parasmu. Seperti sapuan kuas dalam kanvas, aku pun melukis wajahmu dalam
benakku. Agar, aku bisa menghadirkanmu tepat saat mataku terpejam.
Kamu tahu, terkadang ingatan
begitu kuat membekas mengikat kenangan dan sesekali menayangkan beberapa kilas peristiwa memori silam. Tetapi ingatan
bisa juga dengan mudahnya kabur terlupakan begitu saja meski beberapa kali
usaha dilakukan untuk membangkitkan ingatan. Mengenangmu, bisa saja muda bagiku
menguarkan aroma rindu hujan dan gerimis ketika kita terjebak di sudut halte
menunggu bus datang. Bahkan, untuk kesekian kalinya. Aku hanya bisa menatap
kotak kecil itu dengan mata sendu. Terkenang sebuah peristiwa pahit yang ingin
kukubur dalam.
Semburat senja membias memantulkan terpaan cahaya yang
menembus kaca jendela tempat aku sedari tadi melabuhkan lamunanku padamu. Di gerbong
ini, letupan rindu masih membekas saat kereta perlahan meninggalkan stasiun. Adakah
kamu tetap menanti meski tak ada kepastian? Aku memandang keluar jendela dan
membayangkan memori beberapa tahun silam. Cahaya senja akan selalu sama di
sudut sore. Akankah getaran di dadaku masih sama kala namamu disebutkan dan
perasaan luapan rindu hadir mendekap rasa. Aku masih menatap langit,
menyaksikan awan yang berwarna keemasan membentuk siluet yang indah. Merindukanmu.
Selalu saja menimbulkan getar di dadaku. Menerbitkan resah-resah tak kumengerti
dan perasaanku meluap seperti tak terbendung lagi. Setiap ingatan tentangmu
yang kusimpan, selalu saja menerbitkan kerinduan yang tak bisa kuhindari. Sesekali
muncul dan membuatku tersenyum lama.
Aku akan selalu mengingat hari ini, ketika kata menjadi tak ada
artinya. Maaf menjadi sesal akhir yang tertahan di ujung lidah, bahkan pelukan
tak membawamu kembali. Sesaat, mengiri lembah pipiku yang basah karena bulir
bening tak sanggup kubendung. Kenapa akhirnya kau menyerah dan memutuskan
pergi. Meski, kau tahu aku sangat terluka. Bahkan, kau tak mau menemuiku untuk
memberikan penjelasan. Akankah hari yang telah kita lalui bersama hanya menjadi
ingatan yang kemudian terlupakan. Haruskah kuabadikan air mata ini agar tak
lagi jatuh. Kepergianmu.
Seringkali, kita mudah untuk
bersembunyi dan berpura-pura. Seperti hati yang percaya bahwa segalanya akan
indah pada waktunya. Tapi tahukah kisah tentang waktu yang bergegas mengejar
rindu. Belakangan, bahkan aku tak bisa mengelabuinya. Waktu semakin berlalu dan
tak pernah tergapai lagi. Masa-masa penantian panjang tentang luka hati yang
belum sempat terhapus, tentang kenangan yang belum sempat terkubur, begitu juga
tentang benci yang tak sempat terbuang. Aku berjalan seolah menghentikan waktu.
Bahkan usia semakin berjarak, dan aku akan kembali berakhir pada kehilangan,
kesempatan. Jika nanti tak punya rentang waktu. Jika esok tak pernah menitipkan
janji. Aku kembali bertanya pada detik yang berguguran begitu terabaikan. Bahkan
kamu tak peduli banyak waktu yang kuhabiskan bersamamu. Begitu juga hari-hari
bahagia bersamamu. Mengekalkan rindu dan mengabadikan momen indah. Meski,
terlambat.
Jika ada satu hari di mana kesempatan itu ada untukku. Maukah
kau kembali, mengenang satu hari kita bersama. Meski, tak terlibat perasaan. Aku
bahagia saat tawaku mekar seperti bunga akasia. Ditemani rintik hujan kau
melindungiku dari gerimis di bawah payung biru. Menyusuri jalan kemarin sore
sebelum kamu pergi. Membawa janji untuk datang dan bertemu kembali. Entah,
apakah kau sungguh-sungguh atau cuma untuk membuatku tenang. Menunggu, senja
yang tak pernah kembali jingga terbit untuk kau tunjuk, menggenggam jemariku
erat. Di sanalah, katamu. Matahari akan kembali.
Kamu tahu, tak pernah kurasakan getar di dadaku seperti ini.
Sesak yang tak bisa kuterjemahkan, namun meluapkan rindu yang tak bisa kulepas.
Memandangmu, tak pernah bisa kulihat lebih dekat. Aku mengenalmu, tapi tak
lebih kumiliki. Bayangmu, cinta semu yang tak bisa kuungkap. Meresahkan hatiku
sendiri bila senyummu tak lagi untukku. Jika, tatapan sendu matamu yang teduh
tak pernah mengarah kepadaku. bila, cinta membawakan pesannya sendiri. Menjadikan
degup jantung di dadaku, mampu kuredam. Semoga, kamu tahu perasaanku butuh kau
balaskan.
Sebaris air yang menetes dari
embun di kaca, aku mengamati lampu-lampu kota yang mulai padam. Bahkan, aku tak
pernah tahu kenapa bisa berada di sini. Menunggumu tak pasti. Haruskah aku
mengurai rasa sakit ini seorang diri dan meneguknya perlahan hingga habis. Sementara
kamu bersembunyi dan tak pernah muncul lagi, seakan aku hanya tempatmu berlari.
Tempat menyampaikan keluh kesahmu selama ini. Harusnya aku sadar, kamu tak
pernah mau berjanji agar aku tak pernah menanti. Nyatanya, aku selalu
menunggumu, meski tak pernah kau anggap peduli.
Gerimis akhirnya mereda, saat aku
merasa telah menunggu terlalu lama. Menanti kehadiranmu setelah habis secangkir
kopi dan menanti balasan pesanku. Tahukah kamu, aku telah membatalkan janji
untuk bertemu denganmu dan memberanikan diri bersembunyi dari keresahanku. Bersembunyi
dari degup jantung yang tak kumengerti, bersembunyi dari luka yang mungkin
telah kulupakan. Adakah kamu mengerti, aku menunggumu untuk kali terakhir. Sebelum
aku menyadari, bahwa kamu memang tak seharusnya kutunggu. Seperti kabar yang
tak pernah jelas, simpang-siur. Adakah perasaanmu layaknya kabar burung?
Aku ingin membagi sebuah kisah
tentang duka yang tak pernah dirayakan, tentang perpisahan yang berakhir tanpa
pelukan. ketika perasaanku tak sempat kucurahkan sementara perbincangan kita
terhenti karena waktu, hatiku terkunci karena ragu. Jemariku tak mampu meraba
beberapa huruf yang tak sanggup kurangkai, bibirku terkatup menatap sendu. Kamu
tak pernah memberiku kesempatan untuk mengurai degup jantungku yang memburu,
tentang nafasku yang tercekat karena angin tiba-tiba lenyap di sekitar. Aku menatap
nanar tentang kenangan yang tak seharusnya kusimpan. Apakah sebenarnya
perpisahan adalah salah satu bentuk takdir. Terkadang, perpisahan memang
diharapkan terjadi, agar aku lebih mengerti dunia bukan saja berbicara tentang
pertemuan. Ketika angin berhenti dan aku tak bernapas lagi, berarti aku harus
pergi. Meninggalkan dunia. Merindukan tempat di mana namaku berakhir terukir di
bebatuan. Meski, harus berderai air mata.
Kamu tahu, rasanya berada di
antara ambang dilema ketika jemari kita bersentuhan dengan ombak dan semilir
angin tak mampu meredam gemuruh dada. Bahkan, aku tak merasa dingin ketika
buih-buih air yang menggenang membasahi telapak kakiku. Aku mencoba tenang,
melemparkan pandangan. Hamparan biru langit terpampang jauh tak tertembus batas
mata. Aku bingung, apa yang sebenarnya kurasakan. Hatiku terombang-ambing. Terkadang
aku dengan mudah dihempaskan karang, terkadang aku kuat bertahan di tepian. Tapi
apalah arti sebuah pilihan, ketika ombak selalu berpulang pada samudera. Lautan
seakan tenang tapi selalu menyimpan sejuta pertanyaan, begitu pun setelah
hatiku terseret jauh ke kedalaman. Adakah jawaban bisa kutemukan di sini, di
antara karang, di antara pasir dan ombak, di antara sela jemariku yang basah,
di antara celah hati yang terendam air, di antara kepingan luka. Aku pun lelah
menanti senja, menanti arah.
Tak ada garis senyum di parasku,
setelah genangan air mata membasahi pipi. Merajut kepedihan atas luka yang
mungkin tak pernah kulupakan. Kamu tahu, aku begitu besar untuk mencoba
berhenti. Tapi aku tak bisa berhenti untuk mencintaimu. Ketika kudengar
langsung dari bibirmu, itu rasanya sudah sangat menyakitkan buatku. Air mata
tumpah membanjiri malam yang akan selalu kuingat. Tentang hari kita bersama,
senyum dan tawa kita. Mungkin, Cuma tawaku. Kau tak pernah benar-benar tertawa.
Apalagi mencintaiku, aku tahu kau tak pernah mencintaiku. aku sadar, kita
saling mengerti tapi kita tak pernah saling memahami, terutama hati. Ketika segala
kurasakan dan perasaan ini mengatakan cinta kepadamu. Aku tak berhak untuk
mendapatkan cinta membalas untukku. Aku tahu, rasanya cinta sendirian. Seperti saat
aku berada di sudut gelap malam dalam keremangan lampu kamar, aku menahan sedu
dan isak tangisku. Sendirian.








