Diberdayakan oleh Blogger.

Professional Time Waster

Seandainya aku dapat membekukan waktu dan menahan jarum jam untuk bergerak. Lama-lamat matamu berkilat basah, sebelum terpejam. Aku tahu, sebentar lagi terbitlah rindu. Setelah pelukan terakhir malam itu dan ciuman panjang yang tertinggal. Kau mulai menghitung hari, bahkan setelah pertemuan kita. Aku pun tak bisa tinggal, sementara esok masih harus kujelang. Merindukanmu tak pernah habis semalam. Begitu pun kau merasa tak pernah cukup menuntaskan rindu bersamaku. Aku bahagia, asal bersamamu. Menerbitkan rindu-rindu yang panjang tentang hari-hari dan penantian. Akan kusimpan sisa senyummu untuk kuingat, begitu pun setiap jengkal sela parasmu. Seperti sapuan kuas dalam kanvas, aku pun melukis wajahmu dalam benakku. Agar, aku bisa menghadirkanmu tepat saat mataku terpejam.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kamu tahu, terkadang ingatan begitu kuat membekas mengikat kenangan dan sesekali menayangkan beberapa  kilas peristiwa memori silam. Tetapi ingatan bisa juga dengan mudahnya kabur terlupakan begitu saja meski beberapa kali usaha dilakukan untuk membangkitkan ingatan. Mengenangmu, bisa saja muda bagiku menguarkan aroma rindu hujan dan gerimis ketika kita terjebak di sudut halte menunggu bus datang. Bahkan, untuk kesekian kalinya. Aku hanya bisa menatap kotak kecil itu dengan mata sendu. Terkenang sebuah peristiwa pahit yang ingin kukubur dalam. 
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Semburat senja membias memantulkan terpaan cahaya yang menembus kaca jendela tempat aku sedari tadi melabuhkan lamunanku padamu. Di gerbong ini, letupan rindu masih membekas saat kereta perlahan meninggalkan stasiun. Adakah kamu tetap menanti meski tak ada kepastian? Aku memandang keluar jendela dan membayangkan memori beberapa tahun silam. Cahaya senja akan selalu sama di sudut sore. Akankah getaran di dadaku masih sama kala namamu disebutkan dan perasaan luapan rindu hadir mendekap rasa. Aku masih menatap langit, menyaksikan awan yang berwarna keemasan membentuk siluet yang indah. Merindukanmu. Selalu saja menimbulkan getar di dadaku. Menerbitkan resah-resah tak kumengerti dan perasaanku meluap seperti tak terbendung lagi. Setiap ingatan tentangmu yang kusimpan, selalu saja menerbitkan kerinduan yang tak bisa kuhindari. Sesekali muncul dan membuatku tersenyum lama.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Aku akan selalu mengingat hari ini, ketika kata menjadi tak ada artinya. Maaf menjadi sesal akhir yang tertahan di ujung lidah, bahkan pelukan tak membawamu kembali. Sesaat, mengiri lembah pipiku yang basah karena bulir bening tak sanggup kubendung. Kenapa akhirnya kau menyerah dan memutuskan pergi. Meski, kau tahu aku sangat terluka. Bahkan, kau tak mau menemuiku untuk memberikan penjelasan. Akankah hari yang telah kita lalui bersama hanya menjadi ingatan yang kemudian terlupakan. Haruskah kuabadikan air mata ini agar tak lagi jatuh. Kepergianmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Seringkali, kita mudah untuk bersembunyi dan berpura-pura. Seperti hati yang percaya bahwa segalanya akan indah pada waktunya. Tapi tahukah kisah tentang waktu yang bergegas mengejar rindu. Belakangan, bahkan aku tak bisa mengelabuinya. Waktu semakin berlalu dan tak pernah tergapai lagi. Masa-masa penantian panjang tentang luka hati yang belum sempat terhapus, tentang kenangan yang belum sempat terkubur, begitu juga tentang benci yang tak sempat terbuang. Aku berjalan seolah menghentikan waktu. Bahkan usia semakin berjarak, dan aku akan kembali berakhir pada kehilangan, kesempatan. Jika nanti tak punya rentang waktu. Jika esok tak pernah menitipkan janji. Aku kembali bertanya pada detik yang berguguran begitu terabaikan. Bahkan kamu tak peduli banyak waktu yang kuhabiskan bersamamu. Begitu juga hari-hari bahagia bersamamu. Mengekalkan rindu dan mengabadikan momen indah. Meski, terlambat.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Jika ada satu hari di mana kesempatan itu ada untukku. Maukah kau kembali, mengenang satu hari kita bersama. Meski, tak terlibat perasaan. Aku bahagia saat tawaku mekar seperti bunga akasia. Ditemani rintik hujan kau melindungiku dari gerimis di bawah payung biru. Menyusuri jalan kemarin sore sebelum kamu pergi. Membawa janji untuk datang dan bertemu kembali. Entah, apakah kau sungguh-sungguh atau cuma untuk membuatku tenang. Menunggu, senja yang tak pernah kembali jingga terbit untuk kau tunjuk, menggenggam jemariku erat. Di sanalah, katamu. Matahari akan kembali.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kamu tahu, tak pernah kurasakan getar di dadaku seperti ini. Sesak yang tak bisa kuterjemahkan, namun meluapkan rindu yang tak bisa kulepas. Memandangmu, tak pernah bisa kulihat lebih dekat. Aku mengenalmu, tapi tak lebih kumiliki. Bayangmu, cinta semu yang tak bisa kuungkap. Meresahkan hatiku sendiri bila senyummu tak lagi untukku. Jika, tatapan sendu matamu yang teduh tak pernah mengarah kepadaku. bila, cinta membawakan pesannya sendiri. Menjadikan degup jantung di dadaku, mampu kuredam. Semoga, kamu tahu perasaanku butuh kau balaskan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sebaris air yang menetes dari embun di kaca, aku mengamati lampu-lampu kota yang mulai padam. Bahkan, aku tak pernah tahu kenapa bisa berada di sini. Menunggumu tak pasti. Haruskah aku mengurai rasa sakit ini seorang diri dan meneguknya perlahan hingga habis. Sementara kamu bersembunyi dan tak pernah muncul lagi, seakan aku hanya tempatmu berlari. Tempat menyampaikan keluh kesahmu selama ini. Harusnya aku sadar, kamu tak pernah mau berjanji agar aku tak pernah menanti. Nyatanya, aku selalu menunggumu, meski tak pernah kau anggap peduli.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Gerimis akhirnya mereda, saat aku merasa telah menunggu terlalu lama. Menanti kehadiranmu setelah habis secangkir kopi dan menanti balasan pesanku. Tahukah kamu, aku telah membatalkan janji untuk bertemu denganmu dan memberanikan diri bersembunyi dari keresahanku. Bersembunyi dari degup jantung yang tak kumengerti, bersembunyi dari luka yang mungkin telah kulupakan. Adakah kamu mengerti, aku menunggumu untuk kali terakhir. Sebelum aku menyadari, bahwa kamu memang tak seharusnya kutunggu. Seperti kabar yang tak pernah jelas, simpang-siur. Adakah perasaanmu layaknya kabar burung?
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar


Aku ingin membagi sebuah kisah tentang duka yang tak pernah dirayakan, tentang perpisahan yang berakhir tanpa pelukan. ketika perasaanku tak sempat kucurahkan sementara perbincangan kita terhenti karena waktu, hatiku terkunci karena ragu. Jemariku tak mampu meraba beberapa huruf yang tak sanggup kurangkai, bibirku terkatup menatap sendu. Kamu tak pernah memberiku kesempatan untuk mengurai degup jantungku yang memburu, tentang nafasku yang tercekat karena angin tiba-tiba lenyap di sekitar. Aku menatap nanar tentang kenangan yang tak seharusnya kusimpan. Apakah sebenarnya perpisahan adalah salah satu bentuk takdir. Terkadang, perpisahan memang diharapkan terjadi, agar aku lebih mengerti dunia bukan saja berbicara tentang pertemuan. Ketika angin berhenti dan aku tak bernapas lagi, berarti aku harus pergi. Meninggalkan dunia. Merindukan tempat di mana namaku berakhir terukir di bebatuan. Meski, harus berderai air mata.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Kamu tahu, rasanya berada di antara ambang dilema ketika jemari kita bersentuhan dengan ombak dan semilir angin tak mampu meredam gemuruh dada. Bahkan, aku tak merasa dingin ketika buih-buih air yang menggenang membasahi telapak kakiku. Aku mencoba tenang, melemparkan pandangan. Hamparan biru langit terpampang jauh tak tertembus batas mata. Aku bingung, apa yang sebenarnya kurasakan. Hatiku terombang-ambing. Terkadang aku dengan mudah dihempaskan karang, terkadang aku kuat bertahan di tepian. Tapi apalah arti sebuah pilihan, ketika ombak selalu berpulang pada samudera. Lautan seakan tenang tapi selalu menyimpan sejuta pertanyaan, begitu pun setelah hatiku terseret jauh ke kedalaman. Adakah jawaban bisa kutemukan di sini, di antara karang, di antara pasir dan ombak, di antara sela jemariku yang basah, di antara celah hati yang terendam air, di antara kepingan luka. Aku pun lelah menanti senja, menanti arah.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Suatu malam, aku berniat untuk bertemu denganmu di suatu tempat. Tempat yang mungkin akan menjadi satu ingatan yang terkunci dalam kenangan. Sebuah tempat yang jauh dari keramaian. Aku sebut tempat itu adalah titik persimpangan. Sebuah lorong kecil yang gelap hanya dilalui jalan setapak dan sesekali tergenang air jika turun hujan. Hanya sebuah tiang tinggi dengan lampu yang mulai meredup menyinari. Aku menunggu sendiri, tepat di bawah lampu tiang. Berharap dengan cemas, apakah kamu akan datang. Sesekali keresahan tak dapat kusembunyikan sambil menggigit jari. Tidak banyak orang yang melalui lorong itu karena gelap, tapi di sini lah aku bertemu denganmu. Saat kususuri jalan untuk masuk ke dalam sebuah gang di lorong sempit setelah membeli makan malam, secara kebetulan aku berpapasan denganmu. Kupikir ini pertama kalinya aku melihatmu dalam keremangan cahaya, tapi tampak bersinar.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Tak ada garis senyum di parasku, setelah genangan air mata membasahi pipi. Merajut kepedihan atas luka yang mungkin tak pernah kulupakan. Kamu tahu, aku begitu besar untuk mencoba berhenti. Tapi aku tak bisa berhenti untuk mencintaimu. Ketika kudengar langsung dari bibirmu, itu rasanya sudah sangat menyakitkan buatku. Air mata tumpah membanjiri malam yang akan selalu kuingat. Tentang hari kita bersama, senyum dan tawa kita. Mungkin, Cuma tawaku. Kau tak pernah benar-benar tertawa. Apalagi mencintaiku, aku tahu kau tak pernah mencintaiku. aku sadar, kita saling mengerti tapi kita tak pernah saling memahami, terutama hati. Ketika segala kurasakan dan perasaan ini mengatakan cinta kepadamu. Aku tak berhak untuk mendapatkan cinta membalas untukku. Aku tahu, rasanya cinta sendirian. Seperti saat aku berada di sudut gelap malam dalam keremangan lampu kamar, aku menahan sedu dan isak tangisku. Sendirian.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  Maret (2)
      • Surga dari Hongkong!
      • Moammar Emka's Jakarta Undercover: Sex Supermarket?
  • ►  2016 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (45)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (16)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (59)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (9)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (116)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (16)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2010 (39)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (12)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates