Diberdayakan oleh Blogger.

Professional Time Waster

Apalah arti cinta jika berakhir tak bersama. Ketika kau hanya mampu menatapnya bersanding dengan orang lain. Melihatnya tersenyum bukan kepadamu melainkan kepadanya sambil merajuk manja. Kau hanya bisa tulus, bukan karena tak percaya. Tapi takdir terkadang tak berpihak padamu. Mungkin, tidak ada lagi yang tersisa. Kau hanya mampu mengusap pipimu karena basah saat terbangun memimpikannya. Sungguh, rasa sakit itu bukan karena dia tak lagi cinta padamu. Tetapi ketika cinta seperti tak ada artinya lagi. Dan kau sama sekali tak bisa membayangkan cinta yang lain. Cintamu yang hilang takkan terganti cinta yang sama. Bertemu orang lain, tak mampu sembuhkan luka. Barangkali hanya menutupi kenangan atau sekedar mengalihkan rasa sakit yang suatu saat akan terbuka kembali. Bahkan, di saat-saat mimpi yang tak pernah bisa kau kendalikan. Dia hadir, bahkan masih seperti cinta. Maka saat itu yang ada hanya duka yang mengalir seperti hujan di tengah terik mentari. Aku selalu memimpikanmu.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

Akhirnya, aku mengerti. Apa yang ada di pikiranmu saat ini. Aku tahu, ketika raga tak lagi bersama. Hati saling bertaut tapi jarak begitu terbentang memisahkan kita. Ketika yang kau inginkan adalah ragaku, sementara aku hanya bisa menatap bulan. Entah, sampai kapan aku bisa sampai ke bulan. Apakah aku telah merasa lelah karena kerinduan yang menyiksa. Ketika kau mungkin punya rasa terhadap orang lain. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kupasrahkan saja semua pada waktu. Bagaimana cinta menguatkanku. Aku percaya sepenuhnya, padamu. Aku selalu memikirkanmu, di antara mimpi-mimpi yang terlelap ketika malam. Berharap hatimu tak berubah. Untukku.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kapan terakhir kali kau merasa bahagia karena cinta. Bahagia dengan luapan perasaan tak tertuliskan. Bahkan tak mampu terjamah kata-kata. Saat itulah kau merasa, betapa berharganya dicintai. Menjadikan gelap malam penuh bintang. Sekelumit masalah menerpa kemudian lenyap dari pandangan mata. Hidup terasa ringan. Tapi seketika kau rasakan jatuh. Bahkan saat perasaanmu masih penuh dengan bunga. Seketika bunga-bunga kering lantas mati. Bukan saja layu tapi juga sendu. Bahkan bunga pun butuh cinta. Maka apakah hatimu kering karena cinta telah hilang. Sementara kemudian hatimu terkunci karena tak kau temukan cinta yang sama.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hatiku berbunga. Ketika kusapa dirimu dan kau sambut tawa lepas dan berhasil merampas keresahanku. Kutahu, dengan suaramu saja. Bahkan seketika langit pun menyala. Aku senang sekali. Karena bukan saja harapan yang membuatku tegak berdiri. Senyummu, dalam mimpiku. Bukan sekadar maya, mimpi bukan sekadar janji. Mungkin sekeping cerita menjadi sajian hangat di pagi hari melepas rindu dan sendu. Aku suka walaupun hanya sekejap  masa. Berbagi kisah saat mentari sedang tersenyum menari-nari. Aku suka, ketika dirimu bahagia. Selalu berharap begitu. Bahkan jika saat terpisah nanti, kudengar kau bahagia. Bisa-bisa aku menitikan mata haru. Arti dari cinta tak harus memiliki. Ternyata, aku masih memilikimu. Di hatiku, kau selalu ada. Merasakan betapa kebahagiaan terlepas dari arti bersama, di antara air mataku yang jatuh. Bersembunyi dari kesedihan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Secepat itukah rasa cinta itu pergi, ketika aku masih berdiri menanti. Sedangkan semalam aku masih memimpikanmu. Secepat itukah rasa sayang itu hilang, ketika sampai detik ini pun wajahmu masih terbayang. Aku pun tak mengerti. Ketika garis lurus bertemu pada satu titik dan aku berusaha untuk menjauh, pada titik lain aku pasti bertemu denganmu. Bagaimana kalau kau tak ingin. Rasa galau kembali menghampiri. Sesaat, cinta pun berjarak. Memandang jauh bintang bekerlipan indah, tapi selamanya tak kan pernah kuraih. Kau indah disana, sedangkan hatiku di sini. Bahkan, kenangan pun tak sanggup mengembalikannya. Cinta kemudian perlahan pergi. Tapi bintang tetap indah disana. Biarlah, ketika cinta pergi sekalipun. Masih ada cerita bintang jatuh. Aku mencintaimu, entah sampai kapan. Atau haruskah kukubur untuk selamanya. Bersama jasadku dan perasaanku. Kau menjadi begitu diam, bukan lagi tak mesra. Kau pun tak bertanya. Ternyata, apa yang selama ini kutakuti benar. Cinta akan berakhir dengan kehilangan yang tak terelakkan. Meski, perasaanku masih sangat mencintainya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Barangkali cinta tak seharusnya ada. Ketika rasaku tak menemukan tepian lagi karena hatiku jatuh berserakan pecah hingga berkeping. Mencintaimu tak terukur masa dan waktu. Kurindu, memandang bingkai parasmu yang lucu sambil tersenyum menatap manja padaku. Malam itu, aku benar-benar tak bisa menahan bendungan air di mataku. Karena tiba-tiba mataku meleleh. Air pun menerjang dan dadaku terguncang. Hatiku sakit karena kelemahanku. Tak pernah bisa lepas darimu. Apakah kenangan menjadi tak berarti lagi di kemudian hari. Sementara selalu ada perasaanmu di setiap benda-benda. Di setiap mimpi-mimpi. Maka di setiap gambar dirimu, aku selalu ingin. Memelukmu dari belakang. Sesaat hembusan nafasmu tertahan karena kudengar isak tangis. Dan pelukanmu merenggang karena tak rela. Matamu basah. Aku tahu bukan saja matamu, hatimu pun menangis. Karena kita tak pernah rela cinta menyakiti. Sedang aku masih cinta.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Mengapa, kau tak semesra dahulu memelukku karena ingin. Ketika kau berbisik karena cinta. Dan hembusan nafasmu terasa mengalir di dada. Aku ragu, ketika kebisuan ini menjelma resah dan gelisah. Tak ada yang bisa mengobati selain kerinduan yang bertemu karena harap. Lalu aku memelukmu karena dingin. mencumbumu karena bunga telah merekah merebakkan wangi nan candu. Alunan rindu menjadi syahdu. Aku ingin. Karena semalam mendung kembali datang karena kau tak juga membalas kerinduanku. Sementara buah ranum di pucuk randu. Aku bisa sangat menangis karena pesanku tak terbalas. Ketika hasratku tak bertemu puas. Ketika sebagian ragaku terlepas. Dan perasaanku diliputi kegalauan yang terlalu. Bahwa sampai detik ini aku masih berusaha. Untuk bisa berdiri pada satu keyakinan. Cinta selalu mengobati. Meski rindu semacam pisau belati yang mampu menusukku. Hingga berdarah.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Saat kau tahu bahwa hidupmu tinggal sejengkal tangan, menyadari bahwa hidup tak lepas dari kesalahan. Ketika kau rasa rindu juga berlaku sama seperti luka. Ketika daun diterbangkan angin pun terhempas jatuh, begitu juga perasaanku. Ketika hatiku ini kuserahkan padamu. Segala yang kuketahui adalah tentangmu. Kebahagianku adalah senyum terindahmu. Aku seperti tak punya waktu lagi. Sikapmu berubah, aku pun bersedih. Entah, kenapa cinta tak membawaku pada ketenangan. Sementara resah dan gelisah selalu mengganggu. Kupikir cinta tak akan pernah luluh. Tapi rasanya hatiku mencair manakala kau pun menemukan tautan yang lain. Tak kuasa kubendung rasa sedih ini menjadi luapan sungai yang membanjir diantara sisinya, aku masih sayang.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Getir hati yang teriris karena pedih sementara turun perlahan gerimis, malamku kini kembali ranum bersama segelas resahku yang mengepulkan kerinduan. Di antara purnama dan selimut hitam di angkasa, aku bisa melihat binar matamu yang memudar. Kemudian perlahan-lahan lenyap. Meresap ke dalam ronngga-rongga perih hati yang terbalut luka. Cintamu adalah pujaan, seperti perhiasan. Kau begitu berharga, melebihi kata berarti. Kemudian mengalun nada-nada sendu dari bias permukaan mataku. Mengalir lagu kesedihan. Rintik-rintik hujan seakan bercengkerama sangat akrab melewati percakapan mesra, berbincang mengenai romantika cinta. Menangis, memiliki sejuta arti. Sedih, melewati jutaan rasa pelik yang menguras hati. Kini, dalam sendiri kuharap. Dalam sepi kudekap. Sisa cinta yang masih tersisa di antara puing-puing runtuhnya keyakinanku, di antara kepingan-kepingan rindu yang pecah. Aku memintal sebagian benang asmara untuk selalu terkait denganmu, membentuk lembaran kisah cinta selembut sutra. Kemudian kuselimuti dirimu penuh kehangatan. Kepada segelas resah yang basah karena tercampur gerimis. Aku ingin dicinta. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kau tahu, sebentar lagi aku mati. Itulah kata yang seringkali kudengar. Kematian adalah cerita yang menarik ketika hidup hanya menyisakan kepedihan. Sandiwara dan penuh kepalsuan. Di atas ranjangku, bisikan itu masih terdengar. Mengalun diantara helai rambutku yang terurai. Aku akan mati, ucapku. Aku telah siap. Bahkan sebelum jauh niatku muncul. Aku seperti merindukan kematian. Ketika darah yang mengalir dan mataku tak lagi menangis. Sesaat itu aku tersenyum, menyampaikan salam terakhir. Mendendangkan nyanyian cinta yang lirih terdengar mengalun. Disini, kukatakan dalam hati. Seperti yang kau inginkan. Aku akan pergi darimu, untuk selamanya. Setelah itu, aku tak akan pernah menampakkan diri dalam bentuk apa pun. Aku benar-benar akan lenyap dari hidupmu. Meninggalkan kenangan yang akan segera terlupakan. Cinta, tak perlu dipersoalkan. Cukup sederhana ketika hidup akan berakhir mati. Maka cinta pun akan berakhir sakit hati. Maka untuk menutup segala kesalahanku, aku perlu mati. Inilah akhir kisah hidupku yang tak begitu indah. Senyumku selalu untukmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Taburan bunga duka mengiringi kepergianmu, taburan kristal air mata melayat kepedihanmu. Kita sama-sama menggali kubur kita sendiri. Terjerembab ke dalam lorong gelap dan bersandar pada tanah. Napasku tak berhembus lagi. Tanah perlahan merasuki seluruh lubang hidungku. Lebih baik aku pergi. Daripada harus menjelma sebatang bunga akasia di tanah gersang. Sia-sia. Kau menggelayut mimpi di setiap lelap tidurku. Namun, apalah arti sebuah mimpi. Selalu berakhir dengan ketiadaan. Terlupa. Lebih baik aku tumbuh di atas pusara tanah merah yang masih basah. Karena doa-doa tergantung diantara reranting dan sepucuk surat kepada tuhan. Aku tak bisa melayarkan cinta karena perasaanku jauh dalam terkubur. Bahkan hatiku terkunci rapat karena rantai telah membelenggu oleh dengki dan kebencian, kekecewaan dan harapan kosong yang tersisa. Ke manakah tempat yang bisa membuat mataku kembali bercahaya. Aku tak menemukannya selain dekapanmu. Selain kehangatan cintamu. Di antara jurang yang memisahkan jarak, aku selalu menantikan jauh di dasar jurang. Bahkan jika aku harus jatuh ke dalam. Terbentur keras, lalu berdarah-darah. Demi cinta.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kini lautan semakin terhisap habis lantaran mataku dangkal. Ketika kesedihan menjadi terlalu dan dasar mataku tak berair lagi. Ketika tangis pun menjalar seperti lahar dingin dan turun melewati pipi, bukan air tetapi larva pijar panas yang berasap menganak kali. Aku tak bisa mengungkap bentuk kepedihanku. Ketika rasa sayangku habis karena gelas pun pecah. Bukan separuhnya, melainkan tumpah ruah habis menyeluruh. Hatiku, sesaat kering. Jiwaku sesaat gersang. Dan mataku kembali kemarau bukan lantaran kehabisan air. Tapi karena cuaca tak lagi berpacaran denganku. Aku butuh surgamu. Ketika dahaga karena hasrat luapan kerinduan yang membuncah di tengah padang. Membentuk semacam oase yang terbayang hamparan danau. Bahkan sebenarnya sama sekali hatiku telah meradang. Kini, hanya butiran pasir yang jatuh dari mataku ketika menangis. Dan aku pun mengais butir-butir pasir itu untuk kembali kusimpan, agar aku masih bisa menangis, di kemudian hari.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Di atas pusara itu mataku hanyut dalam luruh derai tangis yang berurai gerimis. Senja telah berkabung sedang hatiku dirundung pilu. Maka tatkala kesepian dan kesenyapan hati telah menepikan rasa benci. Aku tak bisa dalam sedetik untuk berdiri di atas kaki sendiri. Menatap langit kosong dan seluruh semesta padam serta bungkam. Tak ada cinta yang benar-benar bertahan dalam tahta. Jika hati ini kemudian terpasung oleh luka. Kekecewaan mendalam serta merta merajaiku. Kau, telah membuat segala awal menjadi akhir. Ketika api pun padam pada binar-binar kerinduan. Aku hanya tak bisa, menjadikanmu semacam kisah cerita. Ketika harapan semestinya berpisah dengan realita. Maka tak ada lagi cerita tentangmu. Tak ada lagi rindu. Rindu akan purnama yang bersahaja di singgasana. Hatiku melayat. Ketika separuh jiwaku telah mati. Karena cintamu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kapan terakhir kali kau nyatakan cinta. Merasakan kerinduan dan lubuk hati terpenjara oleh perasaan yang tak terdefinisikan. Ketika kamus tak mampu membendung perasaanmu untuk diungkapkan. Saat itulah cinta seperti syair yang dikumandangkan. Kemudian awal selalu saja bertemu akhir dan kisah cinta teramat tragis menjadi kehilangan yang tak terelakkan. Bagi kau yang baru terjatuh karena cinta, nikmatilah. Karena kau bisa jatuh. Maka kau pun bisa bangkit. Saat dirimu terhempas dan dadamu berdarah-darah karena hatimu telah terlalu terluka. Obat yang membuatmu tenang adalah keyakinanmu. Ketika kau percaya bisa untuk bertahan karena cinta, maka kau bisa berusaha untuk melepas cinta. Tinggal kesedihan dan berurai air mata meninggalkan jejak kebisuan yang beku. Hatimu rapuh karena hatimu telah jatuh. Bukan karena cinta, tapi karena dirimu. Ketika cinta memisahkan harapan dan kenyataan. Aku berharap tak bertemu di persimpangan jalan. menantimu untuk kembali dalam dekapan, cinta. Aku yakin, kenangan akan menjadi lembaran album yang bisa tersimpan, untuk kembali menikmati cinta yang tertinggal, terlalu indah untuk dilupakan. Bukan saja dalam album dan bingkai foto tapi jauh di dasar hatimu, pernah ada cinta.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Awan mulai terselimut kabut tipis keabuan. Perlahan berarak dan mulai merapat menutup kapas putih. Terdengar gemuruh tertahan hendak melawan. Ada kekhawatiran dan rasa kalut yang menyatu menyerbu dada. Perasaanku, mendung. Aku tak tahu apakah malam ini turun badai beserta angin bertiup kencang kemudian hujan menderas, atau sekadar gerimis kecil yang menggelitik karena gemerciknya menyentuh daun satu-satu. Mungkin, barangkalai hanya mendung seperti kaca tipis yang menyelimuti mata. Tak juga hendak meledakkan isak tangis atau menumpahkan kesedihan. Hati manusia siapa tahu. Begitu pun hujan datang siapa tahu. Aku tak bisa menebak. Mengetahui segalanya saat terjadi badai, mengetahuinya sesaat hujan mereda, mengetahuinya seusai tanah mulai basah. Ketika harapan itu harus terpaksa ditutup karena realita. Seketika langit padam. Tak bercahaya. Seketika air muka berubah sendu. Seketika mata hendak turun salju. Hidup telah memberikan pelajaran apa yang tak pernah tertangkap waktu. Aku mulai termenung dan hanya terduduk menopang dagu. Apakah aku bisa, siapa tahu. Cinta tak lagi soal waktu. Aku ingin segera tahu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Mungkin, tak mudah bagimu memaafkanku. Karena sakit yang menorehkan luka bahkan merobek kalbu. Tak sekadar luka tapi juga kepiluan hati yang mendera. Lantaran kau merasakan pedih yang melanda tersiram air cuka. Hatimu gelap. Maaf pun tak tersedia. Bahkan penuh syarat. Atau bisa jadi ditunda. Tak mudah karena ketulusan tak lagi singgah dihatimu. Kebencian adalah jeruji yang mengekangmu dari ikhlas mengampuni. Butuh lebih dari sekadar permohonan maaf sepenuh hati. Ada harga yang harus dibayar. Ada dendam yang harus terbalas. Manakah diantara kebencian yang mampu hilang selama emosi menguasaimu. Hanya nuranimu barangkali bisa membebaskan, dari belenggu rasa enggan untuk memberi. Rasa legawa dan lapang dada. Menyerahkan rasa sakit pada keikhlasan. Berhenti mengedapankan emosi dan membiarkan jiwa bebas pada kesucian. Bahkan kau menumpahkan segala tangis untuk membayar kesedihan. Untuk meredam kekecewaan. Tapi maaf tak pernah bisa ditawar untuk bisa terbayar. Hanya cinta dan ketulusan hati yang mampu berikan rasa ikhlas tanpa berharap untuk terbalas. Rasa sakit, masa lalu. Kebencian tak akan mendatangkan jiwa dan mengekalkan hati pada kedamaian. Berilah aku cinta. Maafkan aku. Maka kucintaimu dengan ikhlas.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Daun cemara tua kecoklatan akan tertiup angin lalu jatuh terkulai dan luruh ke tanah. Hati siapa pun akan terhempas dan menahan perih. Ada kebencian dan dendam. Tapi ada cinta yang sejuk dan sebening embun pagi. Aku tahu, nuranimu masih luas sejauh langit terbentang. Aku menggenggam erat tanganmu, dengan harap dan getir. Ada lega dan bias haru menitik air mata yang menggantung di ujung. Memelukmu. Meminta dekap yang hangat. Matamu pun berkedip karena aku segera mengecupmu. Mengetuk hatimu. Rasa sayang begitu indah. Aku pun tak kuasa, dengan penuh rasa syukur. Bersamamu, meniti hari dengan penuh asmara. Lembaran hari berganti dan waktu terlambat untuk berhenti. Di antara masa yang terlewati, tak perlu ada penyesalan.  Mohon maaf lahir dan bathin. kembali hati menjadi suci menjelang masa depan yang dinanti.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kau telah permainkan resah dan gelisahku. Ketika rasa harap tak lagi berpangkal pada kenyataan. Menunggu detik-detik yang terasa kabur, jembatan kita telah roboh. Kita masih melihat langit yang sama, sekalipun semalam sempat padam. Masih kulihat bintang menebarkan cinta dan kemilaunya. Seperti pasir putih yang kau simpan dalam botol, maka terpaan cahaya memantulkan bias dan terbitlah pelangi. Dimanakah senja kini, jika yang ada hanya kesendirian. Deru nafas bisa kudengar sendiri. Tak ada lagi riak tawa seperti deru ombak yang menyusul. Hatiku membisu lantaran perasaanku telah membeku. Menatap kosong sejauh mata memandang, tak ada lagi kedamaian. Hatiku selaksa air yang berjelaga kemudian turun menderas, bermuara pada hulu mendambakan ketenangan. Jika kau mampu meredam ombak maka peluklah diriku sesejuk angin sore. Lalu kau boleh tumbuh dimana pun, karena hatiku siap untuk kau tanam, lalu kujadikan taman seperti syurga. Aku menginginkanmu, sayang
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Kita masih bisa mengerti ketika bahasa hati kita berbicara. Ketika aku masih bisa mengungkapkan isi hatiku dalam bentuk bahasa. Kau pun bisa menerjemahkan perasaanmu dengan bingkai kata-kata. Sebenarnya hati kita masih sama. perasaanku masih ingin bersama tak sekadar ingin. Kau lebih sekadar cantik untuk kucintai karena kau adalah sesuatu yang sangat berarti bagiku lebih dari sekadar kumiliki untuk selamanya. Bayang wajahmu tak hanya menghiasi ruang kamarku, lebih dari itu bayang-bayang parasmu memenuhi ruang hatiku. Kau jaga selalu hatiku, menuntun jalan ketika terjal dan berliku karena jurang. Kuserahkan semuanya pada waktu apakah cinta bisa kadaluarsa. Apakah semua tentang cinta adalah cerita tanpa sebentuk realita. Garis tangan telah menunjukan bahwa di matamu bisa kulihat permukaan air yang tenang.  
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Aku baru tahu, semua kenangan itu tak berarti apa-apa. Semakin kusimpan semakin kugenggam duri. Sakit. Cinta tak bisa menyelamatkanku. Ketika cerita indah itu terhapus begitu saja karena hubungan kita terputus. Aku hanya memandang kosong, mungkin kebahagiaan itu ada saat kita benar-benar merasakan cinta. Ketika cinta itu hilang, kenangan, cerita indah tak lebih dari sekadar bara api yang tak bisa lama disimpan. Kau dengan mudahnya menghapus semuanya. Sementara aku dilanda kegelisahan karena masih terlalu mencintaimu. Semakin kucoba untuk melepasmu semakin aku tahu lebih dekat dengan rasa sakit. Rasa kecewa, lalu dilema. Apa arti kesetiaan jika tak mampu membuatku bertahan, cinta pun hilang karena yang kumiliki hanya sekali. Kau hempaskan aku seperti itu, pecah berkeping-keping. Butuh waktu untuk menata ulang kembali serpihan pecahan-pecahan untuk membentuk bingkai hati yang utuh, siapa tahu ada bagian kecil yang hilang. Aku tak bisa berbuat apa-apa. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  Maret (2)
      • Surga dari Hongkong!
      • Moammar Emka's Jakarta Undercover: Sex Supermarket?
  • ►  2016 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (45)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (16)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (59)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (9)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (116)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (16)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2010 (39)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (12)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates