Semalam, aku baru tahu rasanya cinta. Seperti coklat panas yang terasa hangat di lidah dan manis dikecup bibir. Aroma begitu membelai lembut hidung dan membuatku sedikit terpesona. Coklat itu seperti menatap lekat-lekat. Kau bukan saja membuatku kagum, kau begitu menarik perhatianku. Setelah kau kisahkan ceritamu. Aku tahu rasanya cinta. Melewati berbagai konflik dan tragedi, menyisakan pengertian dan arti kasih sayang. Kau setia menghitung detik untuk terus bersamaku. Menjaga perasaan ini yang terus bersemi dan kadang menggelora. Asmara menjadi seperti selezat coklat. Dan kita habiskan sepotong demi sepotong sampai ujung malam berakhir menjadi kesunyian. Aku ingin sekali memelukmu malam itu, berlari dan menghampirimu. Mendaratkan ciuman terhangat di setiap sudut yang bisa kucapai. Kau membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Karena kau lebih dari sekadar untuk dicintai. Semalam, aku baru tahu rasanya cinta.
Di sini, sepiku sendiri. Kubungkus selaput duka dengan secarik tisu yang kemudian basah kuusap saja membasuh luka. Cinta tidak seperti pisau, tapi tajam mampu menorehkan luka. Bukan lantaran kau nyanyikan senandung sendu dan rapalan doa, melainkan bait-bait titian sunyi yang teriris kepiluan hati. Di sini, hatiku terbagi. Antara cinta dan benci. Dua keping rasa yang bersatu dalam sebongkah hati yang mulai karat karena debu dan dosa. Ketika matamu seperti bola lampu yang berpijar menyala api. Aku ingin menebus dosa. Mungkin dengan secawan anggur merah, atau barangkali sekalian saja dengan darah. Aku tak tahu arti keabadian. Ketika semuanya bisa terjadi oleh keniscayaan. Disini, sunyi menyepi. Tak ada riuh tawa memecah telinga di tengah malam kota. Hanya rinai gerimis yang menepis kerinduanku tentang pelangi yang tak pernah datang lagi. Di antara tepian sungai yang kutemukan seuntai selendang sutra. Kemanakah harus kukembalikan rindu. Ketika kau titipkan cahaya senja di setiap pejaman mataku. Memanjakanku. Di sini, mataku merapi.
Akhirnya aku rindu pada angin dan belain lembut yang mesra serupa kain sutra yang tersulur dari benang emas. Aku rindu pada rintik air yang gemercik menerpa batu-batu kali yang menganak mengalir tepian mengantarku pada kesunyian yang tak kuketahui. Aku rindu pada deretan huruf mati yang berderet panjang terpajang di lembaran-lemabaran cerita kisah perjalanan hidupmu. Aku rindu padamu. tak bisa kutepis perasaan ini, hingga tetes terakhir di gelas menyisakan aroma yang membuatku lupa tentang waktu. Kini, aku hanya bisa pasrah memandang kosong tentang bulan yang terpasung luka. Apakah kau juga merindukanku, seperti tarian ilalang yang tak sempat memeluk bulan, bahkan sekadar mencumbu. Aku ingin desahmu, seperti rintihan yang tertahan karena cinta. Tapi cinta tinggal sepotong, aku tak bisa membaginya.
Benar saja, kau tidak hanya membuatku buta. Kau juga membuatku tidak percaya lagi tentang cinta. Kau masih saja menyembunyikan rahasia. Setelah ujung belati yang kau simpan menusuk jantungku. Kau membuatku tak berdaya hingga melumpuhkan akalku. Meruntuhkan seluruh persendianku, aku tak bisa apa-apa, sembari bersimbah air mata dan aku tak bisa memejamkan mata. Lantaran darah telah menetes. Aku lemas, kau tega membuatku tak hanya menderita, tapi tersiksa. Setiap yang kulakukan hanya untukmu, tapi kau mengacuhkanku seakan tiada berarti apa-apa. Kau tidak saja menembakan peluru timah panas itu ke dadaku, tapi kau juga tembakkan tepat di kepalaku. Aku terkapar dan berlumuran darah. Kau yang kukenal selama ini, lenyap bersama seluruh kenangan yang tak bisa lagi kuingat. Kau mendustakanku dan membuatku ragu, apakah sebenarnya cinta. Ketika rasa itu hanya bisa tergenggam dalam jarak yang terhitung. Aku tidak cukup punya angka untuk menebusnya dan berjalan tanpa arah. Aku tak percaya, kau bisa berbuat begitu padaku. Sekali, tapi menyakitkan dan selalu kuingat.
Kau bisa saja berkilah, atau beralasan. Cukup sudah kebohonganmu, aku tak suka. Kau membuatku berpikir menjadi berputar terhadap kebalikan fakta, atau menganalisa kemungkinan dan prasangka, itu membuatku nyaris putus asa. Kau bisa bicarakan hal ini pun sambil berbisik-bisik, jangan kau kubur dalam hatimu. Lelah kakiku melangkah, karena kau adalah telapak yang menahanku selama ini dari kata menyerah. Kemanakah angin harus berpulang, tiada rumah berteduh untuk sejenak singgah. Ketika rasaku bercampur menjadi arah angin yang tak menentu aku ingin bertemu kamu, menjadikannya garis senyum mengulas indah di bibirmu. Kau mampu mewarnai bibirku. Karena aku tidak bisa mengarang bahwa takdir telah mengikatku bersamamu. Aku hanya mencoba mengiringi kisah hidupku hanya bersamamu. Menjadikanmu kisah yang mungkin indah terdengar, manis dan penuh mesra. Jangan kau pergi.
Sebenarnya apa kisah kehidupanmu yang membuatku terpukau. Kembali kubertanya, hidup adalah sejarah, cerita dan kisah. Sejauh mana alur itu berjalan dan menuai konflik. Dimana titik balik untuk berdiri di puncak dan lupa akan daratan, atau diterbangkan angin karena tak pernah kembali berpijak di tanah. Dalam setiap detik kita bergerak dan melakukan perubahan pada garis linear atau secara variabel, di setiap titik itu ada kemungkinan dan kesempatan. Untuk berubah maju berkembang, atau tidak sama sekali, bahkan terpuruk jatuh mundur jauh ke belakang. Sejenak, pikirkan mengenai perubahan dalam hidupmu. Semuanya tentu ada bayaranya, kau harus berkorban banyak. Buatlah keputusanmu untuk mengambil sikap. Ini bukan kisah dalam film, yang mungkin membuatmu bertepuk tangan karena kagum, tapi film hanya berdurasi. Hidupmu jauh lebih berjangka, untuk mencapai apa yang menjadi impianmu. Mungkin suatu saat aku akan mengakuinya, dan menyesal, bahkan ketika kau tak sadar. Bahwa jalan yang kupilih saat ini hanya untuk membuat garis linear pada hubungan kordinat bertemu pada titik simpul denganmu.
Aku masih merasakan nafasmu. Ketika semua darah mengalir menjadi begitu cepat. Deru nafasmu yang terasa di telingaku. Bahkan, belenggu itu mampu merengkuh bibirku. Aku ingin terus di sini, menemanimu. Ketika setiap gerakanmu mampu terlihat, dan aku tidak bisa bersembunyi, apalagi perasaanku. Aku tidak bisa lepas darimu, merindukanmu. Kau pun tak banyak bicara, hanya sesekali tertawa, atau tersenyum. Tapi aku suka, bukan dari caramu tersenyum tapi caramu menatapku, lekat, penuh cinta. Masih adakah ketidakmengertian diantara kita, ketika rasa ini bercampur ke dalam gelas. Kau pun dengan seketika menuntaskannya dalam satu tegukan dan tarikan nafas. Aku pun mengerti, lebih dari sekadar arti pelukan hanya untuk menerjemahkan arti kedekatan. Kau mampu menyatukan semunya bahkan di saat matamu terpejam.
Malam ini aku mulai bisa tersenyum. Kau tahu, bagiku kau adalah jelaga jernih layaknya danau di musim kemarau yang menghempaskan dahagaku. Ketika kurasa kalut dan resah jiwa, aku hanya ingin menemui dan sedikit membagi kisah denganmu. Kuakui, pengertianmu adalah kesabaranmu. Kurasa kau mampu melampauinya. Langit tetap hitam, tapi bintang tak pernah padam. Aku pun selalu senang bahkan hanya mendapat pesan atau sapaan darimu. Bahkan ketika tak bisa kulihat matamu, aku selalu mengikuti ucapanmu. Bahkan, ketika kau tak sadar. Aku tak pernah habis mencintaimu. Karena kau lebih dari sekadar alasan. Untuk tetap kucintai.
Sepasang merpati merapatkan cengkeraman di atas ranting dan dahan. Gerimis masih turun perlahan dan bias kaca membekas menyamarkan padangan mata. Aku menatap kosong. Lampu-lampu jalanan seperti kunang-kunang di musim hujan. Adakah kau memikirkan bulan malam ini. Ketika tak kulihat lagi sinarnya tertutup mendung. Dan aku di sini masih menunggumu. Aku ingin menemuimu, tapi kau tak ingin. Aku ingin menemanimu, tapi kau bilang tak usah. Aku pun resah. Hadirku hanya untuk membuatmu sekadar melepas tawa. Mungkin, kau masih menunggu bulan itu datang agar aku bisa menemuimu
Mataku belum sempat benar-benar terbuka, lalu kudengar teriakan. Tapi aku tak bisa melihat apapun. Nampak kabut tebal menyelimuti. Hawa panas mulai terasa membakar kulitku. Aku melihat reruntuhan. Lalu suara batuk di seberang kamarku. Itu adalah kamar Ibuku. Aku tak bisa bangkit karena terhalang sesuatu yang berat menimpa pahaku. Bahkan untuk melihat telapak tanganku sendiri mataku sangat perih. Apa yang terjadi. Aku tak bisa mengingat apa pun tentang semalam. Kecuali kita saling bersenggama dan bergumul di atas ranjang. Lalu kau pun memberiku minum, yang mampu membuatku terkantuk, lalu terlelap. Tapi kau tidak di sini, kemanakah dirimu. Kemudian yang kutahu kobaran api di atas itu ambruk bersama reruntuhan puing dan kayu besar menghantam kepalaku, selebihnya aku tak tahu.
Mungkin, aku akan membiarkan diriku tersesat untuk menemukan sebuah jalan. Ketika setiap kesempatan dan jalan yang ada tampak di depan mata, masih ragu untuk kujejaki. Langkahku selama ini mungkin menjauhkanku pada alur cerita. Namun apakah kau merasakan bahwa setiap ujung gang aku selalu menunggumu, aku bahkan rela berbelok dan berkorban untukmu. Tapi kau selalu mencari jalan yang lebih jauh dari tempatku berdiri. Apalah arti jarak jika hatimu sebenarnya pun tak berjarak dan kita sedemikian dekat lebih dari skala. Tapi mungkin jarak pandangku yang membayangimu. Karena ketika kulihat bulan yang sama masih terhalang dinding. Aku bahkan harus melompat, memanjat dan terjun dengan segala keberanianku. Hanya untuk bisa menemukanmu dari titik kordinat yang berbeda. Dari setiap kekhawatiranku pada alasan, aku takut kau pun menjauh dariku lebih dari sekadar jarak.
Malam itu, aku ingin sekali menyentuhmu. Kau begitu dingin, seperti salju. Bukan, kau lebih seperti eskrim, dingin tapi lembut di dalam. Manis di lidah, dan terasa hangat bila tersentuh. Kau sama sekali mudah tersentuh, ketika emosi melandamu. Aku hanya bisa menunggu dan mengecup jari, mengulumnya seperti permen. Kapan malam bisa menjadi hangat bagimu. Ketika masa aku benar-benar ingin, sekedar menyapa. Atau cuma mendengar suaramu seperti nyanyian burung cemara. Aku mencintaimu, seperti dingin eskrim di dalam kulkas. Aku mampu membuatmu bertahan walaupun dingin, tapi tetap lembut di dalam.
Gelombang udara masih dingin terasa. Kau pun masih dingin. aku bisa saja menghangatkanmu. Tapi tubuhku masih terbalut kain. Aku malu, untuk melepas baju. Tapi raut mukamu masih nampak dingin. kubelai saja, mungkin akan terasa hangat. Walaupun hujan turun di hati kita, kau masih akan merasakan kehangatan dariku. Sehangat uap. Walaupun tanpa asap, seperti sketsa udara di atas cangkir kopi. Segelas saja sungguh terasa nikmat, bukan saja hangat. Tapi cukup nikmat. Masihkah kau mau melayaniku seperti secangkir kopi. Bukan karena warnanya yang hitam. Karena kau mampu melepaskan dingin.
Dia hanya duduk di sudut gelap. Tanpa cahaya. Angin terasa dingin. Lelaki itu hanya memandang kosong. Kemudian dia ambil sepuntung rokok dari balik saku. Dia ragu. Ini rokok terakhirnya malam ini. Malam masih panjang. Dia tidak bisa menghabiskan sisa malam ini sendirian dengan sebatang rokok yang tersisa. Apa yang harus dilakukannya. Tak ada pilihan. Api pun menyala bergoyang ketika ujung rokok terbakar dan api tersambar angin. Lalu padam. Dihisapnya dalam-dalam sepanjang tarikan nafasnya menelannya jauh ke dalam. Asap pun menyembul keluar dari rahang dan mulutnya. Sisanya membubung terbawa angin setelah keluar dari kedua lobang hidungnya. Tiba-tiba dia terbatuk. Apa yang bisa dinikmati ketika malam terasa dingin dan tak ada kepastian. Serpihan-serpihan tembakau tua mulai berubah menjadi abu dan asap yang lenyap diterpa angin. Begitu asap mulai membentuk sketsa dan semuanya hilang begitu saja. Inikah akhir dari cerita cinta. Ketika kau hisap dalam kemudian kau hembuskan asap seperti membuang angin dan lenyap tanpa bekas karena abu yang tersisa pun tak begitu berharga sementara kau akan sangat menyesalinya, bukan lantas karena api yang membakarnya, tapi karena kau pun lenyap meninggalkanku seperti angin. Selintas berhembus kemudian hilang. Dia masih duduk, seperti menunggu. Rokoknya tinggal setengah. Dia tidak bisa menahan diri untuk menghisap. Sementara malam semakin dingin. Menanti detik-detik waktu yang berguguran seperti daun di musim kemarau telah membuat rokok pun tak terasa berbeda. Berkali-kali dia merokok, berkali-kali juga dia telah menyesalinya. Api telah membawanya hilang dan terbakar habis. Sedang dia tak pernah mendapatkan apa pun selain penyesalan. Sudut yang gelap, tak ada cahaya. Asap putih terbang menari gemulai dan penuh gairah. Bibir kering yang penuh dahaga. Mata pun mulai padam karena gelap telah membutakannya. Mungkin, dia akan menyerah pada akhirnya. Membuang puntung kemudian menginjaknnya. Mencampakkannya seperti tisu yang ternoda. Bukan saja tak berharga, setelah kau hisap habis kenikmatannya. Dia melepahkanya seperti sepah. Padahal, tanpanya dia pikir bisa menahan dendam. Dia bangkit dan berdiri, memandang jauh ke depan. Terkadang, cinta bisa begitu bergairah terbakar api, kemudian kau hisap dalam, semakin terbakar habis lalu kau buang, tidak saja kau campakkan kemudian kau injak-injak seperti sampah bahkan kau tak sempat memalingkan muka. Menatapnya barang sejenak. Dia pun pergi mencari yang lain, karena malam tentu semakin dingin. di sudut yang paling gelap. Puntung itu terabaikan. Bahkan oleh pemiliknya sendiri.
Sejak mama menemukan foto seorang perempuan di dalam saku ayah, mama tak pernah terlihat tenang berhadapannya. Sesekali mama bertanya dengan nada tinggi, kemudian membentak dan marah. Tapi ayah selalu mengelak dan tidak mengakui wanita yang ada di dalam sakunya. Mama menyebutnya wanita jalang. Ayah pun tak menerima, dia mengatakan wanita itu adalah temannya. Lantas kenapa ada foto di dalam saku. Sungguh mencurigakan, untuk apa foto itu. Ayah pun tak bisa menjawab. Dia hanya mendengus kesal dan mengatakan mama terlalu ikut campur. Aku pun hanya diam sambil terduduk mendengarkan mereka beradu mulut. Suaranya tentu terdengar hingga ke luar, terlebih saat ayah marah dan mulai memaki-maki, menurutku tak pantas.
Mama masih berkabung, matanya tampak masuk ke dalam. Mungkin, semalam mama tak bisa memejamkan mata lantaran terus memikirkannya. Aku tahu ma, kau masih mencintai ayah. Tapi apakah kau tak cukup sadar akan luka yang telah merobekkan hatimu. Dan dia pergi begitu saja tanpa memalingkan muka. Dia tak lebih dari sekedar belati bagimu. Semakin kau memikirkannya maka luka yang kau rasakan semakin dalam. Aku ingin mama tahu, aku lebih mendukungmu. Ayah memang tidak berperasaan.
Aku coba menenangkan Mama, sapu tanganya basah penuh air mata. Mama hanya terduduk di ranjang tempat mereka berdua memadu cinta. Akan tetapi tak ada cinta lagi di sini, sorot pandangan mama pun kosong. Matanya sembab, aku hanya bisa memeluk Mama. Mama tak berbicara sepatah kata pun, memandangi foto pernikahan itu dengan sesunggukan. Aku pun larut dalam kesedihan, Mama aku akan selalu bersamamu. Aku sadar bahwa perceraian tidak membawa kebahagiaan bagiku. Mungkin bagi Ayah, aku tidak tahu. Aku mulai membencinya.
Mungkin kau akan setuju dengan pendapatku. Sejak Ayah pergi, mama pun meraung-raung di kamarnya. Aku bingung, apa yang tengah terjadi. Kau tahu, Ayah menceraikan mama. Aku lemas dan tak kuasa berdiri. Malam itu, yang terdengar di telingaku hanya pertengkaran, ditutup dengan pintu yang terbanting dan mama sesunggukan di dalam kamarnya. Aku hanya terdiam. Tiba-tiba mataku pun terluka. Aku ketuk pintu kamar mama, tak ada jawaban. Aku benci perceraian. Apakah kau pikir perceraian tidak berpengaruh apa-apa terhadapaku. Kau sama sekali tidak memikirkannya.
Semua hal akan tampak terlihat lebih indah pada waktunya. Pada waktu yang telah ditetapkan dan kenyataan pun berjalan sebagaimana mestinya. Ada waktu untuk menunggu dan menanti penuh harapan. Ada waktu untuk menangis karena kesedihan dan penyesalan yang begitu dalam. Ada waktu untuk tertawa pada hal yang lucu. Ada waktu untuk diam dan menatap kosong tentang jalan hidup yang tak pasti. Ada waktu untuk berserah diri dan merelakan semuanya dengan penuh keikhlasan membiarkan segalanya terjadi. Ada waktu untuk melepaskan diri dan menyadari sepenuhnya kehidupan harus terus berjalan. Masih ada waktu untuk membuatmu bertahan, tentang cinta, masa depan dan kehidupan yang sebenarnya. Kau hanya perlu waktu untuk membuktikannya terjadi. Atau tidak sama sekali.
Apakah selama ini kita hanya bersandiwara, dan berpura-pura tampak lebih nyata. Bertemu denganmu, kemudian tersenyum. Menyapa, kemudian saling bicara. Bercerita kemudian saling bertegur sapa. Aku dan kamu, kita. Menggenggam tangan dan saling menatap dalam. Kemudian mengedip dan senyum kembali merekah. Aku menyentuhmu, membelaimu. Kau pun menatapku, kemudian menyentuhku. Lalu aku hanya mempunyai bahasa tubuh yang tak perlu dikisahkan. Karena kita sama-sama tahu. Waktu berjalan begitu cepat, sehingga aku tak bisa menghentikannya barang sejenak. Bahkan untuk menghela nafas. Karena kau seperti terburu-buru. Dan aku tidak memberikan kesempatan padamu untuk jeda. Aku lebih suka waktu berjalan lebih lambat, atau terhenti saja. Tapi kau seperti tak mempedulikannya, kau hanya lebih memerhatikanku. Aku suka, barangkali ini lebih dari sandiwara. Karena dengan atau tidak sekalipun, kau bersamaku. Mendekapku sedekat ini. Tak berjarak dan kutahu, kau sangat menyukainya. Saat kisah ini tampak lebih nyata, untuk kau rasakan. Kau sentuh, membekas.


















