Diberdayakan oleh Blogger.

Professional Time Waster

Ketika juragan turun dari mobil dan memasuki gedung pengadilan, sang supir tersenyum. Kemudian dia menelpon seseorang, tampak begitu mesra. Beberapa menit kemudian mobil yang ia kendarai telah meninggalkan gedung dan lenyap di balik keramaian jalan. Dia tahu, daripada menunggu juragan pulang, lebih baik dia memenuhi janji. Tentu dia tahu janji adalah hutang, dan harus dibayar. Karena dia tidak ingin seperti anggota dewan yang hanya pandai merangkai janji. Tidak begitu lama untuk sampai ke hotel mewah yang dijanjikan. Dia ingat betul kamar yang dipesan, karena seseorang telah menunggu.
Lalu kubuka pintu perlahan, tampak terlihat ruang kamar begitu megah. Dinding dilapisi cat yang berwarna elegan, hiasan dinding dan lukisan yang begitu memesona. Tidak kulihat seorang pun di sana, meja masih tertata rapi dengan bunga dan vas di atasnya. Aku tahu, vas itu dibeli bulan lalu dengan pesan singkat di dalamnya. Khusus untukku.
Dari balik pintu kamar mandi, kudengar gemericik air yang menitik terdengar begitu jelas di telingaku. Kurasa ada seseorang. Tapi aku tidak berani mendekat, aku takut seseorang di dalamnya sedang tidak memakai baju. Kemudian aku duduk di atas ranjang kesukaanmu. Aku lebih baik menunggu, siapa tahu kau adalah hawa yang kucari.
Edisi catatan helda dan ardi
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Seutas mimpi dan aku terjaga merindukanmu. Sungguh, tak ada lagi harapan. Kau merajuk dan aku mengiba. Tapi tak ada pertemuan abadi dan selalu terpisah lagi. Mendambakan kemesraan dan menjalin mimpi bersama sambil terus tergenggam penuh cinta. Saat mentari pagi bersinar maka kau pun berbinar-binar mengharapkanku. Aku pun tersenyum manja menatapmu, sekian lama. Akankah cerita kita yang terus terangkai menjadi nyata. Dan kerinduan ini menemukan telaga menemukan muara tempat kita menyuarakan janji suci di altar bahtera. Kau akan menantikan itu sayang.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kepada angin yang berhembus, kusampaikan salam dan kutitipkan rindu karena tak lagi mampu kutahan. Kau yang merasuk ke dalam jiwaku dan bersemayam di hatiku. Aku tak bisa menyentuhnya. Daun-daun yang melambaikan tangan itu pertanda. Aku hanya bisa menyaksikan tiupan angin di ujung senja, seperti yang kau ceritakan. Kau berdiri di dermaga menantiku. Merapatkan tangan dan kita menggengam jemari, di pelabuhan yang ingin segera kau temui. Tapi apakah angin telah sampai padamu. Saat kulihat badai telah memporak-porandakannya sepanjang jalan dan tepian. Akankah rinduku tercecer di tengah jalan dan terinjak-injak oleh kendaraan. Aku takut kerinduanku tak sampai padamu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Segelas kegelisahan telah dihidangkan mengepulkan resah dan kecemasan yang membubung hingga ke langit hitam. Aku tak tahu, dengan bahasa apa aku harus meminta, secangkir petaka ini telah ada di depan mata. Kucoba untuk melawan hati atas getir dan sedih yang menuai perih, ketika dawai-dawai rindu telah karam pada ujung kelopak mata membanjiri kepiluan hati yang teriris. Hati terburai menjadi semburat titik titik bekerlipan di angkasa menemanimu. Aku ingin mengecup bibirmu dan membiarkan segala isinya tertelan bersama kepedihan
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Mama, aku akan berusaha semampuku membuatmu bangga. Melihatku berkaca-kaca dan ingin segera berhambur memelukku penuh roha haru dan bahagia. Aku akan memberikan yang terbaik sebaik yang aku bisa, dan kau akan mengecup pipiku beberapa kali. Berikanlah doa dan restumu, aku tidak bisa bertahan tanpa itu, kasih dan cinta mama begitu besar sehingga aku terkadang tak mampu menampungnya dalam pengertianku. Aku selalu ingin berjumpa dan mencium tanganmu, membuatmu tertawa dan kita berdua saling berbagi cerita. Sepanjang malam, kau akan terus memanjakanku dengan cerita-cerita yang berbeda. Setiap kali aku melihatmu, aku khawatir bahwa kau akan berhenti mencintaiku dan aku membuatmu kecewa. Mama, aku sangat mencintaimu. Aku akan berusaha sekuat tenaga dan mengerahkan segalanya. Hanya untuk membuatmu bangga, Mama. Do'aku mengalir untukmu sepanjang tarikan nafasku, agar kau tetap menjadi sumber kekuatanku.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku tidak tahu, bagaimana membuat terkadang itu menjadi tidak selalu. Karena kupikir bahwa aku tidak menghindari itu untuk melarikan diri. Aku hanya ingin bersamamu. Kenapa hal sederhana ini bisa menjadi teramat sulit untuk dihubungkan. Dan banyak keterkaitan yang membuatku semakin jauh darimu. Ketika sejauh ini aku berlari hanya untuk bisa membuat jarak menjadi lebih singkat. Aku tidak bisa membawamu ke sini. Aku tidak mengerti apa yang salah tentang keinginanku. Ketika orang harus memandang sesuatu di luar diriku. Sehingga aku tidak berdaya. Apa setiap orang punya hubungan dari jalan masing-masing. Sementara jalan yang kupilih begitu berbeda. Padahal, aku mengharapkan akhir dari perjalanan ini hanya untuk bertemu denganmu, melepas seluruh kekhawatiran ini bersamamu. Tapi kenapa kau tak menatapku lagi. Bahkan kau membuang muka, dan aku tidak bisa melihat matamu yang indah. Setelah sekian lama aku membangun perasaan ini untuk percaya pada satu hal. Kau meruntuhkanya dalam sekejap pandangan mata. Aku tidak bisa bertahan lagi karena aku membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu untuk mengalahkan ketakutan ini, please!.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kau tidak perlu bicara, aku memahami isi hatimu dan mengerti kerinduanmu selama ini. Cinta tak perlu dirumuskan dengan kata-kata. Cinta adalah bahasa yang mampu dituangkan dalam bentuk sentuhan dan bahasa kalbu. Ketika aku tak bisa melihatmu karena jarakmu terlalu dekat. Kemudian kelopak matamu mengatup dan bibirmu merekah seperti bunga. Aku menyambutnya dengan bibirku yang basah. Dan aku menyentuhmu dengan lidah. Membasahi kekeringanmu selama ini. Cinta tak terkatakan telah teruntai indah bersama kecupan dan bibir yang menyatu mesra. Aku tahu bahwa sepanjang apa pun kata yang ingin kau ungkapkan, tak perlu lagi. Aku telah memahaminya sepenuh hati, ketika tanpa sengaja lidahmu menyentuh lidahku seperti berpelukan. Aku tahu bahwa kau sangat mencintaiku, tanpa perlu bicara.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kata-kata itu tak cukup sekadar membuatmu jatuh ke pelukanku. Kau tahu, aku lebih suka berbisik di dekat telingamu karena aroma tubuhmu lebih mudah tercium dan aku bisa merasakan nafasmu lebih terburu-terburu. Dan kau menatapku penuh rayu, ketika belaianmu lebih mesra dan aku tak mampu menahan diriku. Aku selalu ingat dirimu saat mataku terbuka. Di saat semua tampak begitu nyata, aku mulai ragu apakah aku bisa mencapai keinginanku. Ada detak ketika denyut menjadi terhenti bukan karena jantung tak berdetak. Tapi karena dada pun tersentak saat aku merasa bahwa diriku tak mampu meraihmu. Untuk Jatuh mencintaiku.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Malam hanya menyisakan aroma hujan yang mulai hilang. Kau bersembunyi dalam keremangan sementara bibirmu masih mengatup, aku mencoba mencarimu, walaupun sebenarnya samar-samar kulihat matamu terpejam, tapi kau mencoba mencuri pandang, sementara aku sibuk meraba. Kini kau merajuk dan memintaku menemanimu sepanjang malam. Dan aku sangat menyukai setiap malam bersamamu. Bahkan kau memelukku sedemikian kuat sampai aku tak bisa terlepas. Kau menyukai keremangan itu karena kau pikir mata hatiku lebih terbuka. Melihat setiap jengkal dirimu yang gelap. Kau mulai merapat dan aku sangat mengetahui hal itu, kemudian kau menyentuh pipi lebih mesra dan aku dengan mudah menemukan wajahmu dalam gelap. Aku ingin sekali menciummu saat itu. Bahkan lebih baik jika kau lengah, dan aku dengan mudah mendapatkan bibirmu saat kau terkejut menerimanya. Tapi aku mengerti, ada saat dimana hati ini gelap karena cahaya kini mulai redup. Dan kau mampu membuat kegelapan ini tampak jauh lebih terang terlihat.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Terkadang, bening kristal di matamu berubah menjadi getaran yang perlahan melahirkan rintik-rintik air dari ujung bulu mata. Padahal malam itu tidak pula terjadi pertengkaran, aku hanya merasa tidak perlu mengungkapkanya. Hanya terlintas begitu saja dan aku tidak tahu kalau mengundang reaksi negatif bagimu. Aku tidak tahu perasaan begitu sangat menyentuh pada hal-hal yang sebenarnya sederhana. Dan aku tidak melihat kemesraan itu, seperti kemarau panjang yang begitu panas dan kering, maka aku menjadi tanah yang gersang karena tak lagi tersiram air. Sisa dari yang kumiliki hanya air mata, malam itu tak sanggup kutahan sisa itu jatuh dari ujung daun mataku. Kenapa aku begitu lemah dengan perasaan ini. Bahkan ketika kesadaranku masih ada, aku tak mampu lagi membangun seulas senyum yang indah seperti kemarin. Saat kita bertali kasih di balik suara yang tersembunyi kemudian saling menyahut dengan rasa sayang sampai kau membelaiku hingga terpejam. Ternyata tidak mudah membangun keterikatan batin itu, sampai kau terbawa perasaan dan aku tidak bisa berbuat apa selain menyadari kesalahan. Aku semalam tak bisa berpikir selain tentangmu karena menyesal.


Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Seandainya aku dapat mengungkapkan perasaanku, aku ingin kau di sini semesra dahulu dan kita bersama menyatukan peluh yang sempat berteduh di liang mata, membuat purnama melirik kita dengan hati iri. Biarkan awan pun bersembunyi dan bulan pun kesepian. Di kala hati resah, aku selalu mencari cara untuk menutupi keraguanku, namun ketika rindu semakin menyerang, aku hanya mampu bersembunyi di balik jendela. Kalaulah kudapat menghapus jarak membawaku terbang. Aku akan membiarkan udara pun terhenti di saat daun-daun beterbangan, karena aku hanya membutuhkanmu. Akan kuberikan seutuhnya cintaku, seperti hujan yang selalu membagi rintiknya pada setiap ujung daun. Dimana tak kutemukan lagi celah di hatimu, untuk orang lain. Ketika seribu ragu datang, aku tak mampu mengendalikan pikiranku, tapi aku masih bisa bertahan pada hatimu. Saat pagi menjelang dan ragaku terbangun, aku selalu mengingatmu. Aku tak bisa membuat mimpi menjadi panjang seperti tahun-tahun yang tak habis dibagi waktu. Aku hanya bisa melihatmu, seperti melihat bintang yang menerangi jiwaku. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Dalam sekejap, mataku terendam banjir. Bukan karena hujan, bukan juga karena mendung. Aku tak tahu di kemudian hari saat aku melintasi jalan dan melihat langit, apakah aku masih menemukan cahaya terangmu. Pada hari yang lain, di mana kehidupan telah begitu berbeda, aku terdiam. Menatap kosong, dan aku teringat padamu, seketika aku tak bisa menahan perasaan yang bergejolak di dalam dada seperti ingin menembus dinding. Lalu lamat-lamat aku akan terisak, karena kau tidak ada di sini. Apa yang bisa kuperbuat. Sementara bening kristal di mataku mulai tak terbendung lagi. dan aku hanya bisa memeluk dada bukan lantas karena kedinginan, tetapi kesepian. Udara dingin dan kehangatanmu tak terbayang lagi. aku benar-benar tak bisa lepas darimu. Apakah ini ilusi. Dan aku benar-benar merasa nyata, saat kehilanganmu. Saat dimana aku tak mampu berdiri dengan akalku. Namamu selalu terlintas di setiap ujung mimpiku, membangunkanku. Bahkan lebih dari beberapa hari. Dimana aku harus bersembunyi, jika sekelebat bayangmu memenuhi ruang hatiku. Kau selalu menemukanku, dan aku tidak berdaya karena teringat olehmu. Terduduk diam menepi memeluk sendiri sambil menangis, menyebut namamu dalam di hatiku, aku mencintaimu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku tak pernah bisa membayangkan sampai kapan hal ini bertahan, aku menjaga cinta yang sebenarnya tak boleh kusimpan. Kenapa teori cinta tidak cukup dengan dua orang yang saling mencintai. Aku berhubungan denganmu selama bertahun-tahun atas nama cinta. Aku dan kamu merasakan hal yang sama. Akan tetapi hal ini tidak berjalan seperti cerita. Ada hal yang melarang aku untuk berhubungan denganmu, aku tidak mengerti. Apa yang harus aku lakukan untuk tetap mempertahankan perasaan ini, aku tidak ingin ada luka dan air mata. Aku tahu, suatu saat diantara kita ada yang merasa sakit hati dan kau menatapku benci. Tetapi takdir bukan milikku dan kebahagiaan itu tak bisa kukarang sendiri. Aku harus mendapatkan restu. Cinta yang tulus dan janji suci seperti setia tak akan berlaku di sini, cinta adalah dongeng dimana sang putri hidup bersama sang raja. Aku hanya bisa berjalan lewat belakang, diam-diam. Aku memendam perasaanku diam-diam. Dan aku menyembunyikan sebagian tangisku di ujung malam. Kau tidak pernah tahu dari mana datangnya cinta, tapi aku lebih memilih melewatinya dari belakang, untuk bertemu denganmu. Semoga jalan ini tak berakhir buntu dan kau bisa membuka pintu masuk lewat depan dan menatapku dengan cinta, tanpa diam-diam. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ini tentang percakapan kita semalam. Tentang kita berbisik dan saling mengundang tawa. Malam semakin bergulir menjadi pagi. Tapi kita tak pernah memikirkan waktu, aku hanya merasakan luapan rindu. Kau berbincang seakan di depan mata, aku pun tersipu malu, ketika kau mulai merayu. Aku bisa mendengar suara manjamu di atas bantal. Merasakan keremangan yang terlihat terang bagiku, di hatiku. Kau adalah kisah yang akan kututup dengan ciuman. Saat terbangun aku akan selalu mengenangmu seperti semalam. Aku bercerita tentang api yang mengobarkan semangatmu, seperti lentera yang menerangi hatiku, kau lebih terang dari sinar rembulan sekalipun. Tidak akan padam.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sayang, aku masih ingat saat kau menatapku lekat-lekat. Dimana kau masih termangu dan terpaku melihatku, seakan tak percaya. Kau tak sekadar memandang, bola matamu yang teduh menelusuri setiap jengkalku mencari penawar rindu. Kau tersenyum simpul manis dengan garis tipis dan mata berbinar, menyaksikanku. Perlahan langkahmu berat mendekat, merapat. Aku duduk di tepi kursi dan menantimu ke sisi. Kau berlabuh di sebelahku, dan menyandar kepala di dadaku, kudekap. Kubelai angin yang semilir di ujung musim membawa aroma cinta menyemai rindu di bibir manismu. Kurasa, ini adalah saat di mana kunantikan. Derai tangis dan gerimis telah usai. Aku memelukmu, lebih dekat. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Inikah akhir cerita cinta. Namun aku tak mampu memastikan. Bahwa hatiku masih memilihmu dan tak ingin jauh pergi meninggalkanku. Aku tidak tahu bagaimana harus meyakinkanmu, saat ini dan esok sudah tidak berarti lagi. Kau akan pergi jauh dan aku tidak akan menemukanmu lagi, di sini. Ketika ragaku terpaut oleh bayangmu, namun aku tak mampu melepas bahkan untuk sejenak. Mengingatmu, adalah kebahagian yang tak terperikan. Aku tak bisa mengikat hatimu untukku, tapi aku tak rela untuk kehilanganmu. Karena aku begitu menyayangimu. Apakah jarak menjadi kendala, jika cinta yang kau ucap adalah bukti dan janji tulusmu. Aku ingin kau mengingatnya, demi cinta. Apakah keyakinan ini cukup untuk membuatmu bertahan pada satu cinta. (for some one)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Aku masih menunggu dengan cemas. Berharap aku bisa menemukannya dibawah cahaya lampu kota. Bibirku yang basah terlihat bergetar karena dingin. Hujan tiba-tiba datang dan mengguyur tanah. Aku tak sempat berteduh. Detik-detik kembali tumbang karena hari akan segera berganti. Di sini aku masih menantimu sayang. Selamat tahun baru!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Gerimis perlahan turun membasahi hatiku, dingin. Malam semakin kelam dan temaram di pelupuk mataku. Aku tak bisa terpejam, melihatmu menyanyikan senandung rindu di penghujung malam. Aku menemukan cinta di balik sendu. Cinta yang membekas setelah kau melenguh panjang, disini kita merapat dan menyatu bersama deru nafas yang terburu-buru. Kemudian gejolak ini seperti ombak yang bergulung-gulung memintal hasrat menjadi dorongan nafsu. Aku tak ingin cinta habis semalam. Di mataku kau begitu menggairahkan bahkan di saat aku tak lagi memandang. 
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Aku tidak menghiraukan keramaian di sini, ekor mata yang menangkap dan mencuri perhatianku. Aku hanya peduli padamu. Di sini, kutemukan banyak angin yang berhembus, ada banyak pasang mata yang saling bertemu, akan tetapi nafasku hanya bertemu denganmu. Aku hanya ingin menciummu lebih dalam. kau masih menggelayut manja, sementara aku sibuk menopang kepalamu di dadaku. tahukah kau, seseorang di seberang sana sedari tadi melirik dengan pandangan tak suka. kemudian temannya yang berada di sampingnya tampak gelisah tak percaya melihatku, di sini kita berciuman. 
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Mungkin tulisan seperti ini jarang sekali kubuat, tapi aku buat karena aku menyadari sebelum terlambat. Maafkan aku. Terkadang aku begitu egois dan mementingkan diriku sendiri, aku seringkali menyalahkanmu dan tidak melihat permasalahan sebenarnya. Aku tahu, aku tidak bisa menuntut banyak. Aku harus cukup mengerti keadaan ini. Mungkin aku belum melakukan sesuatu yang terbaik untukmu, bahkan belum sama sekali. Aku kira kesalahan selalu terjadi, dan aku tahu aku salah. Aku ingin sedikit berbakti padamu, aku tahu kau punya sebentuk kasih yang berbeda yang kau berikan untukku, kau begitu mengerti dan memahamiku. Sedangkan aku hanya bisa menuntut dan menyalahkan, maafkan aku. Aku akan mencoba memperbaikinya dan bersikap lebih dewasa. Aku ingin mengucapkan ini, bahwa aku juga menyayangimu. Sangat mencintaimu. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku ingin berkisah malam ini, dengan secangkir teh hangat dan gerimis hujan membasahi. Saat kau pikir seseorang dengan sangat mencintaimu. Itu adalah saat kau merasa dicintai. Ada orang yang dengan harapan menantimu. Berbagi kisah dan rindu bercengkrama menghabiskan waktu bersama cinta, rintik hujan, sentuhan bibir dan desahan. Itulah saat kebersamaan. Akan tetapi tak ada yang bisa mengabadikan kebahagiaan itu selain bingkai kenangan, ketika cerita berakhir menyedihkan. Dan kau tidak bisa berpikir lagi karena kau merasa tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi yang perlu dikenang. maka itulah titik dimana harus ada kerelaan dan tidak perlu isak tangis tertahan, tetapi aku tidak bisa menjamin. karena rasa sakit bisa sangat menyiksa dan cinta adalah cerita indah namun tak selalu berakhir indah, maka genggamlah cintamu. jangan kau biarkan dia pergi, bahkan hanya untuk sesaat.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku tidak bisa lagi membedakan kenyataan dan mimpi. Karena saat aku terbangun dan seketika apa yang kurasakan dalam mimpi tidak berarti apa-apa. Begitu juga dengan kenyataan, apa yang kurasakan pada masa lalu hanya tersisa sekeping kenangan yang tak begitu nyata. Sehingga apa bedanya mimpi dan kenyataan. Jika keduanya akan terlewati dan tak akan bisa kembali. Begitu juga dengan mimpi, kau tidak akan mendapati mimpi yang sama, atau kembali pada mimpi semalam yang tampak begitu nyata. Kau hanya bisa memandang kosong tanpa tahu membedakan mimpi dan nyata. Semua tampak seperti angin dan berhembus begitu saja. Aku sangat merasakan kenyataan ini saat peristiwa mimpi berlangsung, dan aku tidak mengingat apa-apa lagi saat kubuka mata dalam kehidupan nyata, atau aku tak bisa lagi mengingat kenangan indah itu karena telah terjadi di masa lalu dan mataku hanya berkedip di masa kini tanpa bisa mengingatnya kembali. Ketika aku berpikir saat ini maka aku merasakan hal ini begitu nyata walaupun sebenarnya dalam kehidupan mimpi atau kehidupan sebenarnya. Sehingga aku akan merekam semua peristiwa ini sebagai bentuk kenyataan, yang akan hilang. Kenangan, memori, ingatan, pikiran, semua akan menjadi unsur-unsur yang semakin sulit dibedakan. Saat aku tak mampu untuk memegang tanganmu, aku selalu bisa bertemu denganmu dalam mimpi. Atau saat aku benar-benar memegang tanganmu, aku selalu berharap ini akan selalu terjadi dan akan terjadi lagi di kemudian hari. Karena mimpi dan kenyataan yang kau rasakan akan berakhir dengan kehilangan yang menyedihkan. Tidak tersisa apa pun selain kesedihan dan penyesalan yang kemudian berubah menjadi semacam bentuk kebencian. Jika kehidupanmu bisa terbagi menjadi dua, maka 12 jam yang tersisa dalam hidupmu adalah mimpi. Dan mimpi itu akan menjadi mimpi yang terpanjang sampai kau menginginkan tertidur lebih lama. Mengapa aku begitu suka memandangimu, karena sebenarnya aku tak begitu kuat menyimpan keseluruhan detil mengenaimu, parasmu, sudut bibrimu, lekuk alismu, kedipan matamu. Aku tak mampu terlepas dari pandanganmu agar kutangkap dalam otakku dengan bentuk yang sama, dirimu. Saat aku berpikir hidup bersamamu adalah mimpi, aku ingin tertidur lebih lama agar mimpi itu benar-benar terjadi. Tapi aku tidak sanggup dengan kenyataan yang membuatku terpisah, antara mimpi dan nyata. Antara harapan dan kenyataan. Antara cinta dan realita. Aku tak sanggup membuka mata jika kuingat bahwa kau tidak bersamaku lagi. aku ingin kau membantuku membangun mimpi ini menjadi  nyata, agar saat kau terbangun, aku bisa melihat kedipan matamu yang sama di hadapanku, masih dalam keadaan tertutup selimut. Tiba-tiba kau tersenyum dan mengajakku tidur dengan senyum manja, kembali pada mimpi kita bersama. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sebenarnya apa sih yang kemudian kau cari, selama bertahun-tahun dan kau berusaha menemukan kebahagiaan, kebenaran. Sementara banyak jalan dan kau hampir kehilangan jalan untuk pulang kembali. Seperti yang diharapkan semua orang, cinta. Mencintai dengan penuh kasih sayang. Ada satu perasaan yang kemudian menyelimuti dan terasa sangat menyejukkan, kerinduan yang kemudian meluap seperti gejolak asmara yang tertahan.
Selama ini, selama aku bernafas dan tak mampu kuhitung detik dan jarum jam yang bergerak. Selama aku mencari kemungkinan untuk menemukan keajaiban, dan arti kebahagiaan itu sendiri. Adakah kau puas dan menikmati jalan yang kau pilih sementara kebenaran itu baru terlihat di masa depan. Sementara tak kutemukan cahaya yang menerangi jalanku. Aku diliputi rasa bimbang dan ragu tentang jalan yang kupilih.
Aku harap, selama aku masih bisa melihat jalan, melihat kemungkinan, melihat berbagai titik-titik terang. Aku masih bisa menggenggam tanganmu, merasakan sentuhan kasih dan belaian tanganmu yang menempel di pipiku, merasakan kerinduanmu. Karena aku takut semuanya kemudian hilang dan jalan itu tak nampak lagi terlihat dan gelap seperti bayang-bayang. Dan akhirnya aku tidak percaya lagi pada harapan dan mimpi.
Kebahagian, barangkali datang jika waktunya tiba. Cinta seperti anugerah akan memberi ketentraman dan kedamaian, lalu waktu berubah kemudian cinta menjadi rasa sakit yang tak terperikan tanpa penawar. Aku percaya pada keyakinan hati yang membangun dan menuntunku berjalan, melewati garis dan terjal yang membuatku ragu, kemudian merindukanmu seperti api lilin yang ingin menyambar angin. Aku ingin kau selalu bersamaku menemukan garis akhir dari perjalanan ini. Cinta.

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Desis ini serupa ular yang merayap kemudian menjalar, aku masih terbaring dan tak bisa bergerak. Hatiku masih terpaut pada bisikan yang membuatku tergetar. Kau begitu menyihirku seperti cinta. Aku tak berdaya dan semalaman hanya memikirkanmu. Desis nafasmu, deru jantungmu. Aku masih bisa melihat ketulusan dari kedipanmu, lalu terpejam. Dan aku mulai meraba-raba, seperti sentuhan bulu merak yang merayap saat membelai. Aku membelaimu hingga dirimu benar-benar terlelap. Saat itu, aku hanya bisa memandangimu dengan penuh cinta. Saat kau berada benar-benar dekat. Sedekat syaraf yang mengakar. Kau masih sama, tetap setia menatapku, walaupun ada derai sendu dan kerinduan yang tak habis hilang semalam. Aku ingin tetap disini, bersamamu. Kemudian bibirku mengatup untuk sesaat. Aku melihat dirimu terlelap dalam pelukanku. Seperti jarum waktu yang terkunci, lamat-lamat mataku hangat, seberkas bening air membasahi. Aku tahu bahwa kemesraan ini tak begitu lama, sehingga aku menyesapi setiap jengkal waktu yang tersisa. Gelora asmara yang begitu membuncah karena luapan rindu yang tak terkira, adalah nyanyian peri yang dikumandangkan sehabis hujan. Aku menyulam rasa rindu dari ciuman yang kau titipkan pada bibirku, membekas. Ketika bibirku mulai merekah dan nafasmu terasa di ujung lidah, aku selalu ingin menciumu dalam satu kecupan yang panjang. Namun, di tempat ini tak kutemukan lagi rinai hujan yang sama. Jarak pandangku terhalang batas waktu. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Mungkin suatu saat aku akan teringat, saat gerimis turun dari kelopak mata dan nafasku tercekat, tentang cerita yang tak bisa kulupa. Seperti merayakan tangisan dan aku hanya melihat pipiku bersimbah air mata dan tanganku memeluk dadaku sendiri. Akankah keindahan ini terlihat saat mataku benar-benar terpejam. Mengapa aku bisa sangat merindukan kematian. Ketika aku tidak bisa berbuat apa-apa dan aku hanya bisa membayangkan keajaiban seakan benar-benar terjadi. Dimanakah arti ketulusan jika aku tak lagi melihat senyum diantara garis bibirmu. aku hanya berdiam menunggu pagi dan selama detik-detik berguguran aku dipenuhi kegelisahan karena memikirkanmu. Dan senandung sendu terus terngiang di telingaku mengajakku bercengkrama dengan kepiluan, kepedihan hati. Kau hanya membisu. Aku tidak lagi menemukan matamu yang bening dan teduh sehingga mataku terendam air. Aku tidak bisa menahan kesedihan karena dadaku berguncang ketika teringat namamu, ada ratusan namamu yang terukir di sini. Setiap kali kucoba hapuskan, kenangan itu seolah baru saja terjadi. Aku menggapai dinding yang rapuh, hatiku pun luruh. Apakah aku buta? Ketika tak ada lagi yang bisa kulihat. Aku hanya bisa meraba diantara deretan huruf mati. Tak ada sentuhan dan senyuman yang tergambar selain tanda kurung yang terpenggal diantara titik dua. Aku sangat merindukanmu dan aku tidak tahu lagi caranya untuk meluapkanya karena telaga di mataku tak terbendung lagi. Dan aku hanya ingin mendengar suaramu. Tapi lamat-lamat langit padam dan tak kudengar kicauan burung yang seringkali melintas di pikiranku. Aku ingin menangkap salah satunya untuk kita pelihara. Ketika jejak air mata itu kuseka dengan secarik kertas tisu maka sekalipun kenangan itu masih tersimpan basah. Dan aku tidak pernah lagi mendengar suaramu. Kenapa kau merampasnya dariku. Pintu langit terkunci dan tak ada lagi cahaya yang menyelinap dalam ruang hatiku. Gelap. Derai tangis yang kusulam menjadi ratapan dan tangisan seperti gemuruh doa yang datang berkumandang pada lubuk hatiku yang sempit. Aku mencarimu diantara titik persimpangan. Aku mencari setiap kemungkinan untuk tetap bersamamu. Ketika keabadian itu terjadi dalam mimpi. Maka aku membangun mimpi-mimpi itu dari malam yang tersisa. Dan aku tidak menemukanmu. Aku hanya menemukan kekosongan dan kehampaan. Dimana lagi kucari bayangmu yang hilang ketika aku tidak dapat melihat bayanganku sendiri. Dan mataku tertutup karena kulihat darah menetes dari dalam hatiku.
Tgl ini kuingat lagi saat kubaca
09 oktober 10
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Memetik dawai rindu pada ujung musim, hatiku basah karena gerimis menitikkan air perlahan. Dingin merasuk dan kepingan hati yang berserak kini kembali kurapikan. Ada getar getar resah yang merambat di pelupuk mata, ketika senarai rindu meluap luap dan aku bisa kembali mendengar suaranya. Suara yang sampai kini selalu terdengar merdu seperti nyanyian senja yang syahdu. Dan untaian nada nada sumbang dapat terhapus oleh ungkapan kasihmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

ga tu nih tadi abis kuliah gw kepikiran hobi gambar
mampir ke stationery
beli crayon faber castel...
mulai dodling dan drawing lagi deh
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Mohon maaf lahir dan batih
salaman, tetangga, ketupat, opor, maaf

lebaran telah tiba...
tanpa terasa telah melewati sebulan penuh puasa

bersihkan hati
mantapkan niat

banyak kata yang salah terucap
banyak kata yang menyinggung hati
banyak perilaku yang tidak berkenan

kepada pembaca:
mohon maaf lahir dan batin
semoga hati kita kembali bersih dan suci
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Awalnya, kupikir dalam laut lebih dalam hati seseorang. Sehingga tak mudah kau menyentuh dasarnya. Mengetahui dalam perasaanya. Namun, aku mulai menyadari betapa luasnya langit lebih luasnya pikiran manusia, tak ada yang bisa menerka, pola pikir dan pandangan seseorang.
Hati selalu terkait emosi dan psikologi. Kedalaman hati selalu membuat orang ingin menggali lebih dalam apa yang tersembunyi. Kau selalu merahasiakannya dariku, menyembunyikan ceritamu. Banyak hal bisa terkubur dalam hati. Betapa sayangnya kau mencintaiku. Tentu kedalamannya tidak mudah diketahui.
Begitu juga dengan pikiranmu yang tidak mudah kutebak, tidak mudah kuduga, tidak mudah kutahan. Seringkali jalan pikiran selalu berbeda arah, berseberangan. Pikiran jauh lebih menguasai ketetapan hati. Dan seberapa kuat keyakinanmu terhadap perasaanmu sendiri kadang bisa runtuh seketika karena kau berubah pikiran dan meragukanya karena sebuah alasan.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Aku tidak begitu mengerti tentang mimpi, yang kutahu mimpi adalah serangkain konsepsi yang terbentuk berdasarkan proses ekstraksi mental, pikiran, memori, kenangan dan hasrat alam bawah sadar untuk membentuk ciptaan proyeksi dalam gambaran yang lain. Benar saja, semalam aku mimpi. Aku memang terlalu sering bermimpi, tentangmu. Dan semalam mimpi kembali membekas. Aku bertemu denganmu. Bertemu dengan seseorang yang sangat kucintai.
Tahukah, mimpi tetaplah mimpi dan kesadaran saat kau terbangun malah akan membuatmu kecewa bahkan menyesalinya.
“kenapa kau bangunkan aku?”
Aku ingin terus merasakan dalam kehidupan mimpi, tapi kusadari bahwa mimpi adalah dunia imajiner yang bersifat temporal, tidak ada yang bisa menjalani mimpi selama-lamanya. Mimpi adalah fiktif dan kenyataan adalah alam sadar yang terbentuk berdasarkan realita dan fakta.
Aku merasakan kenyataan memaksaku untuk mengakui, selamanya mimpi bukanlah keindahan yang abadi, sekalipun kau masuk lebih dalam dan merasakan kenyataan di dalamnya. Mimpi bukanlah bagian yang bisa disentuh, diraba dan dirasakan indera secara penuh.
Konsepsi mimpi tentu memiliki keterikatan secara emosional, sehingga saat kau mengalami mimpi buruk, maka keterkejutan dan ketakutan itu akan masih terasa walaupun kau telah bangkit dari tidurmu.
Aku ingin, sebatas ingin, seperti harapan kosong, bahwa mimpi terbentuk abadi dalam ingatanku bahkan dalam kenyataan sadarku. Pertemuan yang membekas dan berakhir dengan pelukan hangat akan selalu terbayang dalam otakku. Bahwa mimpi adalah luapan perasaan terdalam seseorang. Dan aku memimpikanmu jauh dari kesadaranku. Agar aku bisa selalu bertemu denganmu.
Ragaku lepas dan pikiranku melayang, hatiku terbang karena mimpi meruntuhkan akalku. Bertemu denganmu, dan kita menjalani kebersamaan yang hangat. Aku merasakan hembusan nafasmu, merasakan detak jantungmu, merasakan tatapan matamu. Aku benar-benar merasakanmu.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Suatu malam yang dingin, selepas hujan yang basah oleh gerimis. Kulihat seorang perempuan terdampar di beranda, menyembunyikan senyum. Wajahnya yang manis terbungkus matanya yang sayu. Ujung jari manisnya menjepit sepuntung rokok yang tinggal setengah. Asap kecil menguap diterbangkan angin. Di sudut bibirnya terdapat luka kecil yang mengering. Dia terlihat cemas, duduknya gusar dengan tangan kiri menopang dagu. Ada senandung sendu yang digumamkan hatinya. Guratan kesedihan terukir jelas di bawah kelopak matanya, karena garis air mata seringkali melintas di permukaan pipinya. Aku tidak melihat sinar dari matanya yang sendu. Perempuan itu seorang diri menyandar dinding putih di sebelah pintu toko. Dia mengenakan pakaian yang telah basah dan dingin. Puntung rokoknya yang terbakar mulai padam. Aku melihatnya sedikit gemetar dan giginya saling mengunci. Hembusan nafas yang berat dari hidungnya masih menyisakan kepulan asap. Rambutnya tidak terlihat karena dia mengenakan kain pembungkus kepala, tapi di lehernya terdapat seuntai kalung yang tenggelam diantara belahan dadanya. Malam menerpakan angin dan dingin. Perempuan itu terus menggigil memeluk dirinya sendiri.
Aku tidak mengenalnya, kemudian tiba-tiba aku sudah duduk sedekat ini. Merasakan hembusan nafasnya yang bercampur asap. Tapi kilatan cahaya lampu yang memantul dari matanya membuatku semakin mendekat. Aku ingin mengetahui, apa yang dirasakanya. Sebentuk kegetiran yang bisa dihabiskan bersama. Malam yang dingin saat purnama bercumbu, apakah dia mempedulikan kisah seorang perempuan yang terdampar, aku semakin merapat. Aku tidak menunggu perintah dan duduk di sebelahnya. Kunyalakan api kecil untuk membakar sisa rokoknya, tak ada kata-kata. Aku tidak perlu ungkapan manis, kita bisa saling berbicara dengan hati. Tidak perlu bahasa, cukup sederhana sebagaimana angin mengirimkan kabar rindu pada pujangga. Aku bercengkrama dengan kerinduan ini dalam waktu lama. Dia seolah tidak menolakku. Kedipan matanya yang dalam dan gerakan bibirnya yang berirama saat menghisap tembakau yang terbakar itu. Aku menyukainya.
Dia masih terdiam memaku tanpa mengakui sesuatu. Malam seperti ini selalu dingin bagiku. Padahal badanku hangat dan aku bisa sedikit memberikan api kecil lagi untuknya. Dia hanya menggelengkan kepala, dan memandangku seolah tak percaya. Sebotol minuman yang kubawa kuletakkan begitu saja di sebelahnya, berharap dia tertarik untuk meraih lalu meminumnya. Dia menghisap rokok lagi lebih dalam, cahaya putih lampu mulai meredup. Kini keremangan menyelimuti dan dia sepertinya tidak takut sama sekali, terutama terhadapku. Dia masih tidak berbicara, aku ingin dia tetap seperti itu, kemudian membilas matanya yang sayu agar tetap terjaga. Agar kita bisa bercengkrama lebih lama dan saling menatap satu sama lain tanpa perasaan.  Bagiku, kebersamaan selalu memberi arti tersendiri, walaupun kita tidak saling mengerti.
Aku menggenggam telapak tangan yang mulai beku oleh dingin. Lalu lintas jalan  mulai sepi dan sejauh pandangan mataku terasa lengang tanpa cahaya lampu. Aku tidak merokok dan sebenarnya membenci asap. Kepulannya itu seringkali membuatku tersedak hingga batuk. Tapi dia sepertinya menikmati itu dan aku tidak bisa merebut kenikmatan itu darinya. Aku tidak memiliki secangkir kopi hangat, minuman yang kubawa terlalu dingin untuk diminum. Jadi aku tidak bisa membagi kehangatan dengannya selain api, yang mungkin bisa membakar hatinya. Aku masih tidak berani bertanya atau menyebutkan nama, tidak perlu. Aku sama sekali ingin duduk di sini dan mendekatinya, itu saja. Tanpa perlu berbasa-basi dan bercerita banyak tentang kehidupan. Buat apa aku menceritakanya kembali, sedangkan kehidupan adalah cerita itu sendiri. Atau mungkin setiap orang punya cerita yang berbeda dalam hidupnya. Jadi aku lebih baik menyimpannya sendiri.
Dia terlihat pucat setelah hisapan rokoknya yang terakhir dan menatap mataku tidak biasa. Abu yang berjatuhan itu hilang tersambar angin dan lenyap begitu saja tak bersisa. Kemudian dia memegang botol minumanku dan membenturkanya ke dinding, gaduh membelah sepi ketika botol itu pecah dan berhamburan. aku mulai takut, perasaan khawatir mulai timbul. Pecahan botol yang masih dipegangnya tiba-tiba dia hunuskan kepadaku dengan mata jalang, dia tidak berteriak. Sorot matanya yang tajam bagiku lebih dari mengancam. Dia bangkit berdiri dan tangannya menepis dinding, menjaga keseimbangan agar tidak jatuh. Lalu aku sedemikian terkejut karena ujung pecahannya yang lancip ia arahkan ke perutnya sendiri. Aku terpana.
Aku tidak bisa berbuat banyak, kejadiannya sedemikian cepat. Dia tiba-tiba kalap dan hilang kesadaran, aku tidak bisa mencegahnya karena tatapan matanya yang galak. Aku hanya ingin mendekatinya, tapi ujung botol itu menakutiku. Dalam beberapa detik kudengar jeritan kesakitan dari bibirnya yang berwarna gelap. Dan aku bisa merasakan hembusan nafasnya terhenti setelah tersengal-sengal. Darah mengalir dari balik bajunya yang basah oleh darah. Aku tidak tahu, dan hanya bisa menatapnya iba. Dia tidak bergerak sama sekali.
Sayup-sayup terdengar suara begitu halus dan merdu, seperti bisikan yang dipenuhi desahan lembut dan manja, aku masih tidak percaya dan tidak mencari sumber suara. Kupikir salah dengar dan bisa saja suara itu timbul dari pikiranku sendiri.
“Mas, boleh minta apinya?”
Aku menyalakan api dan tersenyum padanya karena perempuan yang terdampar di beranda kini bisa kudengar suaranya. Aku terlalu jauh membayangkanya dan sadar bahwa dia masih di depanku dalam keadaan baik-baik saja.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku pernah merasakannya
Dengan sadar aku merasa bahwa aku sangat mencintainya
Dengan tidak sadar aku takut kehilangannya
Tapi aku tidak pernah berada diantara keduanya
Sadar dan tidak sadar

Aku tidak tahu bagaimana membuat hal itu terjadi
Ketika kesadaranku dan ketidaksadaranku terasa sama

Aku hanya perlu merasakanya
Jauh lebih lama
Atau selama-lamanya

Karena aku selalu merasa terluka bahkan jauh sebelum itu terjadi
Walaupun aku terkadang yakin suatu saat pasti terjadi

Aku tidak bisa membedakan antara nyata dan maya
Ketika perasaanku dalam mimpi dan kenyataan adalah sama
Aku mencintainya

Apakah perasaan ini akan sama
Sampai kapan pun
Aku tidak bisa menentukan takdirku sendiri

Aku hanya bisa membuat itu terjadi seolah-olah keajaiban datang
Dan keajaiban memang selalu datang

Aku tidak bisa membayangkan lagi
Jika hati dan otakku tidak bekerja

Sampai aku lupa atau lebih tepatnya berpura-pura lupa
Aku pernah sangat mencintainya
Dan berpikir mati jauh lebih baik daripada tidak bersamanya sama sekali

Karena aku tidak bisa menghilangkan rasa sakit
Jika luka yang terasa pedih pun tak terlihat nyata
Tapi begitu menyakitkan

Setiap malam aku tidak pernah berhenti memikirkannya
Bagaimana hubungan yang membentuk ketiga hal itu tersambung
Dan aku akan mendapatkan keajaiban itu menjadi takdirku

Setiap kali terbangun maka dadaku terasa sesak karena rasa takut
Kemudian aku berusaha menenangkan diri karena pikiranku dipenuhi olehnya
Bahkan lebih nyata dalam mimpi-mimpiku

Setiap kali aku gelisah dan seperti kehilangan arah
Karena aku tidak yakin pada pertanyaan yang sempat membuatku ragu
Apakah aku bisa membuatnya bahagia

Aku ingin selalu bersamamu...
always


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
banyak temanku yang bertanya: kok sekarang jarang posting blog?

kenapa?
aku menyadari kegiatan menulis sangat menyenangkan

tetapi
menulis blog
seperti mengikat perasaanku pada hal ini : tulisan

ketika aku menulis keguncangan jiwaku yang penuh emosi
saat aku membaca kembali tulisanku di blog, maka guncangan itu akan kembali terasa

ketika aku mengukir kesedihan ini dalam kata-kata
saat aku membaca kembali, maka kata-kata itu seperti mengiris bawah merah yang membuatku menitikkan air mata. dan bening kristal di mata akan perlahan-lahan menggenangi retina

ketika luapan kegembiraan itu tertanam dalam sebaris cerita
saat aku membaca kembali, maka kebahagiaan itu akan menyunggingkan senyumku dan semua hal lebih terasa indah

saat aku membaca kembali?
apakah aku tidak perlu membaca kembali?

aku menulis
maka aku mengikat perasaanku pada deretan huruf kaku yang berjiwa dan kutiupkan roh padanya
aku tidak ingin perasaanku terikat dalam tulisan-tulisanku sendiri

kata memang seringkali mewakilinya
tapi aku tidak sanggup...

membacanya kembali
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
saat ini aku tak bisa lagi berpikir tentang cinta
aku tak lagi bisa menerka tentang realita

kenyataan dan harapan sama sekali berbeda
seperti pikiran dan tindakan yang jelas tidak serupa

hatiku bimbang
saat tak ada kepastian dan jaminan yang bisa kuraba
ketika masa depan terlihat suram

aku kehilangan ceritaku yang sesungguhnya
aku kehabisa senyum tawa dan canda

jika saat ini ada keajaiban
aku tidak ingin berpura-pura seakan terjadi keajaiban

apa kenyataan yang melingkupi
jika penderitaan seakan hinggap dalam setiap mimpi

cinta
realita
dan keajaiban
adalah tiga titik yang membentuk segitiga jika terhubungkan
aku membutuhkan jembatan
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
berpikir positif
seolah-olah
semua terjadi dengan baik

bebaskanlah
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

ternyata selalu ada harapan

selalu ada secercah cahaya

selalu

bersemangat!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
untuk mendapatkan apa yang kau inginkan ada harga yang harus kau bayar. Untuk mewujudkan mimpi, ada harga yang harus kau tebus. Untuk memahami arti pengorbanan, ada harga yang harus kau penuhi. Untuk mengerti arti kehilangan, ada harga yang harus kau sadari. Untuk menemukan cinta, ada harga yang harus kau lunasi. Untuk mendapatkan kebahagiaan, ada harga yang harus kau tawar. Untuk mengobati lukamu, ada harga yang harus kau yakini
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
masih terus berharap
kutemukan kembali bagian yang hilang...
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
tanpa sengaja
kemerlip cahaya malam berbinar-binar
kutemukan diantara dedaunan
rerumputan
dan semilir angin di pucuk daun pisang

kulihat setitik cahaya itu beterbangan
sungguh menawan
keajaiban tuhan

kucari di dasar belukar
kudapati hatiku terurai sepi

kunang-kunang
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

kesabaran
menahan gemuruh dada
mengusap muka
membelai hati yang terluka
menata diri dengan pikiran terbuka

menanti
hujan yang datang setelah gerimis jatuh
menunggu keajaiban
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
semuanya berubah

banyak hal berubah

berkembang
tumbuh

seiring berjalannya waktu
cintaku pun bersemi
tumbuh
mekar
mengakar
seperti bunga
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
aku lelah menanti pagi
aku lelah meniti hari
impian kian bersemi
namun semua berujung mimpi

dimanakah cinta kudapatkan
jika tak kutemukan kebahagiaan

aku lelah menjejakkan kaki
aku lelah melangkahkan jemari

aku ingin segera mati
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
suatu pagi
aku terbangun dengan setengah hati
kepala berat dan hati berduri

pikiranku terpenuhi oleh api
kesadaranku hilang ingin segera pergi
aku merindukan mati

tak ada tempat lagi
untukku memastikan
hidup tak habis sehari
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Use our secret safe tonight and are we out of sight Will our world come tumbling down Will they find our hiding place Is this our last embrace Ohh will the world stop caving in  It could be wrong Could be wrong But it should've been right It could be wrong Could be wrong But let our hearts ignite It could be wrong Could be wrong Are we digging a whole It could be wrong Could be wrong This is out of control It could be wrong Could be wrong It can never last It could be wrong Could be wrong Must erase it fast It could be wrong Could be wrong But it could've been right  Love is our resistance Keep us a promise they wont stop breaking us down Hold me Our lips must always be schooled  If we live our life in fear I'll wait a thousand years Just to see you smile again Kill the press for love in peace You'll wake the far police We can hide the truth inside It could be wrong Could be wrong But it should've been right It could be wrong Could be wrong Let our hearts ignite It could be wrong Could be wrong Are we digging a whole It could be wrong Could be wrong This is out of control It could be wrong Could be wrong It can never last It could be wrong Could be wrong Lets erase it fast It could be wrong Could be wrong But it could've been right  Love is our resistance Keep us a promise and they wont start breaking us down Hold me Our lips must always be schooled Good Night has reached his end We can pretend We must run... We must run... It's time to run  Take us away from hell Protect us for the... RESISTANCE...
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
tak pernah kutemukan jalan lurus
melintas dua pohon beringin tua

menutup mata

meraba-raba hati
menapaki jejak kehidupan
berharap

kesucian hati menuntunku
berjalan
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
aku memberi kebebasan pada dirinya...
karena di persimpangan ini tentu terbuka jalan

tapi aku tetap memastikan
di sini
aku masih mencintaimu...
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

hari ini
aku menengadah langit
memejamkan mata
meraba hati yang telah buta
semoga Tuhan mau membukakan pintu-Nya

Ya Allah

aku mohon pada-Mu...
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

mendadak
aku ingin mataku buta
karena hatiku terluka
sebilah parang bersarang dalam dada
bukan karena pengkhianatan
tapi aku tak sanggup menahan derita
cinta
seperti cahaya
menyilaukan
membutakanku...
maka
adakah oedipus sebenarnya
aku ingin menemaninya
dalam kebutaan dan kehampaan
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

hariku mulai kosong, tepian sudut dalam hatiku mulai bolong
ketika mataku tak menemukanmu di pagi hari
sebentuk rasa mulai terbingkai dalam hati
kehilanganmu...
begitu berat
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  Maret (2)
      • Surga dari Hongkong!
      • Moammar Emka's Jakarta Undercover: Sex Supermarket?
  • ►  2016 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (45)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (16)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (59)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (9)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (116)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (16)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2010 (39)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (12)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates