Diberdayakan oleh Blogger.

Professional Time Waster


Sebelum kau pergi, aku masih bisa melihat punggungmu. Tapi seketika itu juga kesedihan muncul di pelupuk mata. Kau tak berpaling muka, seperti terakhir kulihat. Kau pun tak memelukku, karena kulihat kau jatuh dalam pelukan yang lain. Pelukan yang kubenci. Jika kau ingin, aku akan sepenuh hati untuk memelukmu. Tapi, aku tahu. Kau lebih memilih yang lain. Saat itu, aku tahu kepergianmu adalah keinginanmu sendiri. Merelakanmu pergi dari sisa kebisuan yang tersimpan. Waktu tak akan pernah memintaku berhenti, termasuk untuk kembali. Saat dimana aku berdiri menyaksikanmu dalam hening, dalam pelukan yang lain. Barangkali, ini adalah perpisahan tanpa pelukan seperti yang kubaca dalam kisahmu. Semoga tak pernah kulihat lagi punggungmu, karena aku tak ingin.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Aku mengerti, kenapa cinta tak mengenal durasi. Dan perasaan membawaku kembali pada jalan dimana harusnya aku pergi. Nyatanya kau telah mengabaikanku. Kau masih sempat mengunjungi rumahku, hatiku. Mungkin, jika waktu dapat kubeli untuk menghapus beberapa tahun. Maka aku akan menawar dengan harga tertinggi, tapi perasaan tak dapat saling menawar. Ketika kutepikan perasaan rindu nyatanya seperti mengirim surat tanpa alamat. Entah kepada angin, entah kepada laut. Jika elemen masih bersatu dan garis orbit selalu membawaku pada masa lalu. Tentang kita, tentang cerita yang tak pernah berakhir. Seperti kehilangan yang terjadi, aku berlari untuk menghindari bayanganmu. Aku sempat meminta hujan, agar jejakmu terhapus. Tapi hujan tidak lantas turun setiap hari dan terik mentari masih menerpa bayangmu. Aku tahu arah dimana angin menuju. Aku tahu, kau tak memberiku pilihan selain pergi. aku akan menghilang.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
tak kudengar rinai dendang rindu yang biasa kau senandungkan, saat matamu menyusuri setiap jengkal diriku. menatapku mesra dalam lelap. ketika kau menyerah pada arti kesendirian dan kau beradu rasa tentang cinta. dan aku hanya berdiri di ambang pintu tak lantas mengetuk, apalagi menyapa. kecuali, malam semakin temaram dan aku terjebak karena hujan. menyisir helai rambut yang kukenal. menikmati aroma tubuhmu dalam hening. tak perlu berucap kata karena kedipan matamu seakan memanggil-manggil, untuk kupeluk dalam hangat. jika hujan tak mampu menghapus bayangmu, maka kuizinkan kau menetap barang sebentar. merapikan serpihan rindu yang berserakan. menata kembali bening kristal yang jatuh dari mata, menjadi butiran-butiran berlian. maka aku tak dapat pergi, lantas menutup pintu. karena hatiku terkunci, oleh getir dan benci yang tak kupahami. sejak, aku tahu gelas itu tak berbentuk lagi, setelah kau jatuhkan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku tahu arti hadirku tak berarti lagi, ketika langit padam dan kerlip bintang semakin redup menyambutku datang, malam menjadi saksi berat hembusan nafasku meninggalkanmu pergi, melepas hatimu, seraya menepikan hati yang terluka. Aku bersembunyi dan berkaca di balik mataku yang basah, melihatmu melangkah. Melihatmu dalam jarak pandang terdekat untuk terakhir kali, masih kuingat nafasmu. Masih kurasakan denyutmu saat tangan kita berjumpa dan saling bersentuhan. Untuk detik yang berharga kubingkai senyum indahmu dalam sekejap mata, untuk kuingat. Jika suatu hari nanti tak kutemukan lagi bintang bersinar sama maka akan kutebus senyumu dengan lentera hati yang tak pernah padam, saat semunya telah berakhir. Hatiku lelah untuk menanti, dan mimpi akan hilang setelah pagi datang menjelang. Aku masih ingat, rasanya ketika degup jantungku berbeda, bukan saat pertama memandangmu, tapi saat setiap namamu kusebutkan. Terdengar lirih memanggil-manggil, kesunyian menjadi bahasa yg lebih akrab menemaniku, tanpa secangkir kopi. Ketika dirimu benar-benar hilang. Aku tak mampu bertahan dengan langkah kaki yg rapuh, menapaki sisa-sisa waktu, apa aku terkubur ketika jiwaku mati, menjadi bunga yang kering. Mengingatmu, akan kisah yang kupercaya. Ingatan-ingatan tentang rasa yang terselip masih saja mengusik batinku, mungkin tak mampu membuatku mati. Tapi perlahan-lahan kau telah merampas jiwaku. Dan tak pernah kau kembalikan
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ada getir yg tersisa ketika jarum jam terhenti tepat saat jantungku tak berdetak dalam sesaat, hitungan jam tak berarti jika luka hati masih terasa nyeri karena menghitung hari saja tak cukup. bahkan, batas senja terhalang waktu untuk berjumpa denganmu. tentang cinta yg padam karena benci terkubur dendam. seiring perjalanan waktu mengiringi jejak bayangmu yang terhapus angin, aku disini masih mengeja cinta. belajar tentang kata yang kurangkai dengan hati, tentang makna yg kutulis dengan ketulusan. Sebab hujan tak pernah memintamu menangis, setelah kau pergi. Tetes-tetes kerinduan yg meretas di ujung daun memintal rindu, mengabadikan kenangan indah bersamamu. Tak akan lama lagi hilang
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Menanti gerimis yang tak kunjung datang, kepulan keresahan masih tergambar di parasku. Semalam, aku masih memimpikanmu. Aku lelah untuk bertahan jika bayangmu masih menghantuiku. Suatu malam yang sama ketika pelukmu masih tergambar jelas di mataku hingga aroma tubuhmu menyelinap ke rongga hidungku, membangkitkan kenangan yang terkubur lama, tentang kamu. Tentang cinta yang terjalin indah di antara dua hati. Mendekapmu dalam sunyi, membelaimu mesra. Dalam keremangan kugenggam tanganmu, terasa nyata. Tak perlu kuraba ketika bibirku merapat menemukan bibirmu dan kita saling berpegangan. Tak perlu kata-kata, aku tahu kamu masih cinta. Tapi aku tak tahu bagaimana kutemukan cahayamu lagi di kegelapan malam
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Tak ada yang bisa menjelaskan arti rasanya dalam sebuah titik dimana aku tak pernah tahu bayangan selalu mengikutiku kemana pun aku pergi. Jejak-jejak yang tercetak di bawah sinar lampu mengikuti seluruh gerakanku. Begitu juga bayanganmu yang selalu mengikutiku, saat jalanku maupun diamku. Adakah aku dan bayanganku akan terpisah.seperti jejak yang terhapus hujan. Aku ingin bayanganmu hilang, pun aku tak perlu memadamkan lampu. Kau tak lebih dari rasa yang tertinggal, ketika semuanya menjadi sia-sia dan kau tak pernah menganggap itu berarti. Aku telah menjadikanmu ingatan yang panjang tertanam dalam benakku, juga hatiku. Sementara kau tak pernah tahu rasa sakit itu tak pernah tersembuhkan, bahkan oleh bayanganmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Tak kulihat lagi cinta di matamu. Tak ada lagi bening sendu yang lembut dan teduh menghiasi rona parasmu. Matamu terlihat sayu dan bibir pun menukik kaku menyimpulkan garis datar yang tipis. Aku tahu, di sana tak ada lagi sayang. Hatimu telah terbalut oleh rasa jenuh. Aku tak bisa memaksamu lagi, bahkan tak sempat kupaksa. Jika akhirnya aku harus memilih dan kau pergi penuh dengan ambigu. Aku ragu untuk menyimpan hatiku. Kotak besi yang kujaga rapi tempat biasa hatiku tersimpan, kini sudah berkarat dan tak bisa dikunci. Maka, aku tak perlu cinta. Mungkin untuk saat ini, jika harus terbebani oleh segenap perasaan rindu yang belum terbayar, masih dihinggapi rasa benci yang menyelinap di celah hatiku. Aku ingin terlepas dari belenggu kemudian berusaha menghapus cuplikan-cuplikan drama cinta di otakku. Bahkan, mungkin kenangan yang tak pernah bisa menyelamatkan cinta. Kecuali arti kesia-siaan yang kudapatkan. Waktu tak pernah mau menunggu.Cintaku tersapu ombak
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Lama aku berpikir untuk tersadar, selama ini aku terjebak pada perasaanku sendiri. Cinta itu bukan ujung panah yang menancap dalam dada. Ketika mata panah menusuk jantungmu lalu energi yang ditimbulkan pun habis karena berhenti. Maka energiku pun akan habis untuk mencintaimu. Lalu sebenarnya kau tak membalas cintaku. Kau malah melepaskan anak panah kemudian menusuk hatiku. kehilanganmu, untuk belajar menemukan jutaan harapan. Cinta adalah arah dimana kamu menuju, bukan arah dimana kamu berhenti lalu berpaling dan menjauh pergi. Kau akan selalu ada, bahkan saat aku pergi dengan langkah gontai di malam hari. Untuk menemukan pagi aku harus berjuang menghabiskan malam seorang diri. Mungkin, kau punya satu alasan untuk meninggalkanku. Tapi aku masih memiliki jutaan harapan yang lain bahwa bintang di sana akan selalu tampak bersinar.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Inilah akhir dari setiap bagian cerita. Aku harus memaksa diriku untuk berhenti mencintaimu. Menutup luka yang belum sempat mongering, mengunci hati dan menitipkan perasaanku yang remuk. Aku sudah berusaha untuk bertahan, tapi luka semakin menjalar dan rasa sakit itu menyebar ke setiap aliran darahku. Bahkan, kau tak pernah berpikir itu menyakitkanku. Bertahun-tahun seperti merajut mimpi dan harapan, namun terbakar dalam sekejap. Betapa pilunya hatiku saat bayangmu tengah hadir dalam setiap tidurku. Seolah cinta masih semanis dulu, kenyataan membuka mataku saat terjaga dan kau tak pernah di sini, lagi. Kesalahan terindah yang kubuat untuk mencintaimu sampai kini harus kuhentikan. Dimana akhir kisah tidak selalu terdengar bahagia. Dan aku tidak bisa mengelak dari perpisahan ini karena keinginanmu. Aku masih mengakui, kamu adalah bagian cerita hidupku yang indah. Sampai waktu akan membawaku pergi untuk melupakanmu dan menganggap cinta itu tak ada.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Aku ingat, butiran kapas itu terbang. Seperti butiran debu yang terhapus angin. Kini, kenangan menjadi kepingan masa lalu. Terbang, terhapus masa. Aku tak mengerti kenapa aku begitu lelah untuk mengingatmu. Ketika kenangan, rasa cinta menjadi ilusi. Kenyataan membuatku bangun dari mimpi sekian lama. Hidup selalu membawaku pergi, cinta selalu menjebakku. Aku tak ingin, jatuh terlalu dalam. Kau telah membuat segala keyakinanku selama ini sia-sia. Bahkan, tulisan ini. Tak ada artinya lagi. Selama, waktu-waktu terbuang percuma. Cinta menjadi bayangan semu. Keterikatan hati hanya sebuah kata yang terucap. Tapi janji tertinggal cerita. Siapa sangka, air tenang selalu menghanyutkan. Kau bukan saja telah menghanyutkan hatiku, tapi menenggelamkannya jauh ke dasar lautan.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Aku terjatuh dan tak bisa bangun lagi. Ketika air mata mulai mengering di dasar hatiku. Tak ada yang tersisa kecuali dahaga dan rindu yang tak menentu. Tak ada arah jalan pulang. Tersesat dalam ruang hampa tak bersudut. Jika nanti, ada kesempatan membawaku kembali pada cinta yang sama. aku ingin kembali pada keyakinanku. Karena cinta telah menghabiskan percayaku tentang kesetiaan. Tentang waktu yang membuatku bertahan. Suatu ketika terkenang kembali aroma tubuhmu yang tercium samar-samar tak bisa kucegah dan berlari menutup mata, hatiku masih mengejarmu. Ada bayangmu yang tertinggal membekas jejak kebisuan hatiku yang bungkam karena kesepian. Menatap langit-langit kosong serta merta cahaya lampu begitu menyilaukan. Malam itu, aku memelukmu dalam dingin. mengunci rapat pintu, agar kau tak pergi. Tapi kau tetap pergi, meninggalkanku.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku tahu, di sudut kecil hatimu masih kulihat pelita kecil yang menyala bergoyang. Aku tahu, diam-diam kutitipkan salam rindu yang kuhembuskan bersama angin setiap hela nafasku. Menyebut bilangan angka yang tak terhitung sejak pertemuan denganmu. Seketika perpisahan menjadi jawaban setiap keraguanku. Mataku menghangat dan bulir bening melelehi pipi. Dari bibir kering yang kemudian basah saat kukecup mengalirkan hangatnya debur dada dan jantung yang menyatu dengan perasaan cinta yang meletup. Letupan itu kini tak terasa lagi sejak lava hangat menyembur dari mataku. Setiap malam kulirik bintang yang enggan menatap lampu. Kamarku sekejap menjadi gulita dan hatiku mulai meremang. Merindukanmu, sendiri. Apakah aku bisa menawar luka dengan cinta yang mulai hilang sementara rindu telah menjebakku pada perasaan bersalah. Menyalahkan waktu dan pertemuan yang tak pernah abadi. 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Tak kutunggu senja kembali, secercah harapan kosong mulai sirna. Lampu kota mulai temaram dan petang kini semakin muram. Jika aku menjadi orang lain untuk belajar mencari cara bagaimana menjadi diri sendiri. Seringkali aku tersesat di antara pertanyaan yang tak kutemui jawabnya. Setelah sekian lama meniti lembar bersama, aku masih ingat untuk pertama kalinya jantungku berdetak lebih cepat. Saat aku berniat untuk memanggilmu, dari seberang gagang telpon. Bertanya padamu, tentang kabar, tentang kamu. Kini, aku harus bertanya pada siapa. Ketika rindu tak bertemu alamatnya. Ketika dahaga tak bertemu telaga. Sendiri, mencari celah di sudut-sudut kota. Untuk sekadar membunuh waktu dan melewatkan masa. Membuang segala keresahan di antara bibir cangkir yang mulai dingin. aku ingin sekali, menghilang.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Tak terhitung berapa kali terbersit bayang wajahmu melintas di benakku, tak terukur jauh jarak untuk menggapaimu lagi. Aku kehilanganmu, itu cukup membuatku sedih menumpahkan air mata. Bukan saja semalam, waktu-waktu berganti dalam sekejap mata dan aku tidak bisa lari dari kesedihan. Selalu saja, kenangan seperti memutar waktu dan menampilkan seluruh adegan bersamamu. Saat itu, aku hanya bisa tersenyum. Kemudian waktu kembali merampas menjadi kepedihan hati yang tak terelakkan. Kau pergi, tak mampu membuat mataku melihat. Tidur tak mampu lagi kumendekap bayang dalam pelukmu selain mimpi buruk yang menghantuiku. Adakah cinta membawamu kembali, seketika jantungku berhenti saat nafasku mulai tertahan. Seperti isak tangis yang tertawan saat aku mulai merindukanmu. Dari balik tirai keresahan yang selalu menyelimuti, aku selalu bertanya. Adakah kau kan kembali dengan senyuman.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Semalam, aku jatuh terkulai bersimbah air mata. Memimpikanmu bersama orang lain dan aku tak bisa berbuat apa-apa selain merasakan mimpi seperti nyata. Waktu berjalan lambat dan aku tak bisa mempercepatnya seperti tiupan angin. Sementara, tetes embun dimataku basah mengalir cepat tak terhadang. Aku tak bisa membedakannya lagi. Bagiku mimpi dan nyata sama terasa menyakitkan. Kau pun pergi, bukan saja dalam hidupku. Kau juga pergi bahkan dari mimpiku, menghapus segala kenangan yang tersisa. Aku tak tahu lagi cara mengumpulkan waktu bersamamu, aku tak tahu lagi cara menghabiskan kenangan bersamamu. Ketika kau pun pergi dari sisa waktu hidupku, aku tak menemukanmu lagi bahkan dalam tidurku. Aku ingin kamu. Kembali mengisi sudut ruang hatiku yang kosong, dan menguncinya. 
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

Menunggu pagi. Akankah hujan masih terasa sama, miris diantara gerimis. Aku tak bisa mengabaikan keresahanku karena terbangun memimpikanmu. Sesaat, masa dapat terhapus. Akan tetapi kenangan begitu kuat tergambar di setiap malamku. Kemana harus kupergi jauh melangkahkan kaki, sedang jejak bayangmu masih tercetak jelas di sepanjang jalan. Menantikan pagi, yang habis perlahan bersama sisa keresahan. Aku hanya bisa bercumbu dengan bibir cangkir segelas kopi. Membayangkanmu, menikmati kehangatan yang tak bisa terulang. Seteguk, lalu habis. Tak ada malam-malam bersamamu merindukan pagi yang datang terlambat sebelum kau terlelap. Aku ingin bukan sekadar kenangan, aku ingin bersamamu menunggu pagi, terulang. 
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Kita tak lagi bersama, bukan karena jarak yang memisahkan kita. Bukan pula rentang waktu yang membedakan kita. Entah, semacam batas bening tak berbayang jelas menjauhkan kita. Aku tak mengerti saat alasan bisa sangat memukul perasaanku. Ketika kau ungkapkan pada pagi hari itu saja, aku tak mampu berdiri untuk melihat bayanganku sendiri. Kupikir, jarak bukan lagi masalah karena kau akan segera pindah. Aku bisa bertemu denganmu kapan saja, seketika itu menjadi sia-sia karena kau menyerah pada perasaanmu sendiri. Aku pun tak sanggup menyelamatkan bulir bening yang jatuh saat namaku disebutkan. Sampai setiap malam aku takut lagi untuk menatapmu. Waktu tak lagi berharga ketika bertahun-tahun menjadi sia-sia karena kau hancurkan dalam sehari. Dimanakah kucari hati yang hilang. Menjelang pagi kutemukan diriku terbangun bersimbah air mata, memimpikanmu. Bayang-bayangmu memudar, tapi perasaan itu masih kuat. Justru bertambah sakit.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Menjelang pagi, aku tak sanggup membangun mimpi. Kenyataan yang memaksaku pergi karena malam adalah mimpi buruk yang selalu menghantui. Ketika mentari bersembunyi di balik selimut. Aku tak pernah menemukan cahaya di wajahku. Tidak seberkas senyum, tidak juga pandangan mata yang berbinar. Melainkan garis hitam melingkar di bawah mata, karena semalam tak mampu terpejam. Aku takut untuk membuka mata, terlebih hati. Setelah kutahu kau hujamkan belati tepat menusuk jantungku. Apa salahku, tak pernah kau tawarkan pilihan. Hingga remuk sedu sedan yang tertahan di dalam dada. Kau tak pernah tahu masih ada bayangmu dalam mimpiku, setelah kupadamkan lampu sekalipun. Aku tak bisa membalut luka yang kutahan meski perih terasa. Jika nanti, kucoba berlari untuk menemukan cahaya. Lebih baik aku terbakar daripada tertusuk tanpa alasan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Aku tak menyangka, sekiranya matahari tak pernah bersinar lagi. Tiba-tiba saja suatu hari laksana bencana, datang tanpa tiupan sangkakala. Kini, daun mengering selama mentari tak terbit lagi di ufuk sana. Rerumputan kian merindukaan terpaan cahaya. Sejak, langit berubah pekat dan mendung sepanjang musim. Bukan saja angin tak punya alamat untuk berteduh, nyanyian sepi kian menyapa di bawah rindang pohon cemara. Saat itu, aku terbangun menahan getir yang timbul di sudut mata. Memimpikan layarmu terkembang dan menjauh pergi menghapuskan namaku yang tertulis di pasir pantai. Nada sendu mengalun mengiringi pejaman mataku, berharap menjadi akhir dari segala cerita. Tak ada lagi lambaian tangan di ujung dermaga. Selain luka yang kubalut dengan senyum paksa. Mengeja gerimis yang jatuh menerpa wajahku. Hatiku tenggelam jauh ke dasar lautan. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  Maret (2)
      • Surga dari Hongkong!
      • Moammar Emka's Jakarta Undercover: Sex Supermarket?
  • ►  2016 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (45)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (16)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (59)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (9)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (116)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (16)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2010 (39)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (12)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates