Diberdayakan oleh Blogger.

Professional Time Waster


Ternyata Insidious 3 itu nggak serem, sepanjang film gue merem. Itu kalo nggak berani nonton film horor. Nah, selama nonton film ketiga ini gue dapat pengalaman banyak soal bagaimana film horror itu jadi serem di mata penonton.
Beberapa scene berhasil membuat gue teriak histeris, menutup mata sebelah, atau mencengkeram kursi dengan kuat. Bahkan, penonton yang lain ada yang walk out keluar dari bioskop. Entah, antara ketakutan atau kebelet pipis.
Gue mau menceritakan pengalaman nonton film ini, tapi gue nggak mau terjebak spoiler. Maka, bersiaplah untuk mengetahu hal apa saja yang perlu dipersiapkan.
Film ini banyak setting gelap, ini untuk memperkuat ungkapan, “Jangan main magrib-magrib, nanti diculik setan!”. Nah, ungkapan tersebut tepat karena berlaku juga dalam film Insidious 3. Kamu bisa bawa sarung ke bioskop untuk bersembunyi, kalo-kalo adegan mengejutkan datang.
Film ini pemerannya sama dengan film sebelumnya. Jangan marah kalo kamu yang mengikuti film dari Insidious 1 menemukan pemeran yang sama dalam Insidious 3. Bukan karena mereka malas untuk audisi casting tapi mereka dipakai lagi karena karakter mereka cocok dalam film. Maka, bersiaplah kecewa bagi kamu yang nonton film untuk mencari adegan sensual atau pemain yang ganteng.
Film ini hantunya modern. Hantu jenis yang stylis dan tahu berpakaian, tahu aturan berjalan dengan menapaki lantai, dan tahu cara ngagetin orang. Jangan bayangkan tiba-tiba dalam bioskop kamu bakal kerasukan. Tapi, kalo nonton terlalu tegang kamu tiba-tiba ditepuk pundaknya sama petugas biskop karena filmnya udah habis.
Film ini sejak awal bikin galau. Gimana tidak, ada pernyataan. “Semua orang pasti mati.” Film ini bikin kita cepet sadar bahwa hidup ini sementara, cepet insaf dan mendadak inget dosa, dan buat kamu yang punya utang jadi tiba-tiba ngelus dompet bawaanya pengin sedekah aja. Siapkan iman dan takwa, setelah hidup pasti ada kematian. Siapkan bekal untuk akhirat ya.
Intinya, kalaupun kamu nggak ngikutin dari awal jangan khawatir nggak bisa ngikutin film ini. Insidious 3 nggak bikin sampai bulu kuduk sikap lilin atau jantung berdegup dangdut, tapi sukses bikin kamu terkesiap!
(next baca part 2 ya, karena yang ini nggak mau spoiler)
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Kepulan asap putih cappuccino terhidang bersama guratan cemas menunggu. Memang, menanti selalu dekat dengan ketidakpastian. Kedai kopi yang biasa ramai, sore ini tampak lengang. Hanya satu dua orang saja yang terlihat memenuhi kursi. Bahkan, tak ada gelak tawa dari barista yang biasa dia temui kala memesan green tea latte seminggu yang lalu.
“Katanya, akhirnya kamu putus sama Bram. Gimana perasaanmu?” tanya Kinna khawatir.
“Iya, cowok brengsek jangan pernah dikasih hati, pake alasan nggak kuat LDR. Lagian aku mudah melupakannya.”
“Ya sudah kamu nanti ceritakan gebetan baru kamu ya,”
Kinna, menyesap bibir cangkir dengan pelan. Hatinya begitu cemas karena Melani tak kunjung datang. Dari waktu yang dijanjikan, bahkan dia sudah telat sekitar setengah jam. Hari ini adalah keputusan, tapi juga bercampur dengan keraguan. Melani mengabarkan baru pulang dari Australia dan membawa oleh-oleh. Sahabatnya itu bercerita telah menyelesaikan studi.
“Aku akan pulang ke Jakarta, melanjutkan mimpiku yang terunda,” ungkap Melani setibanya di bandara.
“Kamu tidak perlu banyak bicara, kita lanjutkan di kedai kopi langganan,” kataku
“Baiklah, aku pastikan datang di sana tepat waktu.”
Di antara detik yang mulai gugur dan daun-daun di sekitar kedai bahkan tak pernah layu karena terbuat dari plastik. Kinna menatap kosong kaca yang mulai berdebu. Di antara waktu yang terlewati selama ini bersama Melani, malam ini dia akan memutuskan sesuatu.
“Aku kangen kamu, kangen kekonyolan kita bersama,”
“Iya, di Australia nggak seru, temen-temen pada serius semua.”
Kinna kembali teringat perbincangan telepon bersama Melani. Sudut matanya terlihat mengkilat karena berkas bening membasahi. Pramusaji yang mengenakan seragam berwarna abu itu datang menghampiri. Dengan senyum ramahnya pramusaji menuangkan gula cair kemudian berlalu pergi. Secangkir kopi, angin sore, dan kenangan selalu dekat dengan ingatan yang menayangkan kejadian-kejadian di masa lalu.
Lalu pintu kedai terbuka disusul dengan Melani yang datang dengan memakai dress berwarna merah panjang dan belahan di bagian paha. Rambutnya yang terikat cepol membuatnya terlihat manis. Sepatu high heels hitam dan tas kecil itu digenggamnya erat. Tampak rautnya ceria dan menahan kerinduan yang teramat sangat.
Kinna bangkit berdiri. Melani semakin mendekat. Mereka larut dalam pelukan panjang. Kinna mengusap bahu Melani dan dibalas dengan guncangan pelan olehnya. Kini, dua sahabat yang terpisah dua negara akhirnya kembali dipertemukan.
“Akhirnya kita bertemu,”
“Iya, aku kangen sekali.”
Lalu Kinna mengacungkan tangan memanggil pramusaji dan memesan green tea latte kesukaan Melani. Terlihat Kinna menarik napas panjang. Telapak tangan terasa lebih dingin. Guratan cemas kembali tercetak jelas di keningnya. Melani hanya tersenyum puas memandang sahabatnya itu.
“Kamu kelihatan lebih kurus,” ungkap Melani.
“Kamu kelihatan jauh lebih cantik,” balas Kinna
Pramusaji datang dengan nampan dan gelas berisi minuman hijau. Sementara Kinna berusaha sibuk memutar cangkir karena cappuccino tinggal seteguk lagi. Melihat air muka Melani, Kinna jadi menahan diri. Dia membiarkan sahabatnya itu mengambil jeda untuk menuntaskan dahaga dan rasa lelah.
Waktu semakin gugur dan bunga plastik akan selalu terlihat sama. Tak ada yang bisa mengelak dari perubahan, termasuk bergulirnya waktu.
“Aku tidak punya banyak waktu,” Kinna membuka kalimat.
Lalu disingkapnya tangan sebelah kanan untuk memperlihatkan jemari sebelah kiri. Berkilau ujung batu berlian yang memantul oleh sinar lampu tersemat cincin di jari manis Kinna. Tak perlu waktu lama Melani mampu menangkap wujud benda itu. Sangat mencolok dan indah. Tak sadar Melani menyambut tangan kanan Kinna dan mengusapnya lembut. Disentuhnya cincin yang melingkar itu dan ditatapnya dengan nanar.
Kinna semakin cemas, tapi berusaha menyembunyikannya.
“Selamat ya, akhirnya kamu akan menikah,” kata Melani.
“Iya, terima kasih.”
Seolah Melani tak bisa membaca keresahan Kinna malah fokus pada jemarinya. Melani begitu terpesonanya dengan batu berlian di tangan sahabatnya itu. Angin sore semakin senyap. Bunga plastik di tepi meja tak sanggup menandingi indahnya cincin Kinna. Satu tegukan terakhir berharap mampu membasuh kebimbangannya.
Kinna menarik kursi mundur ke belakang. Mata berusaha tajam menatap sahabatnya. Sudut mata Kinna terbit seberkas bulir bening.
“Tapi, aku masih harus meminta restu.”
“Dari siapa?” tiba-tiba Melani tersentak
“Dari kamu,”
Melani masih menggenggam jari manis Kinna. Tangannya memutar cincin dengan hati-hati. Terukir nama, “Bram.” Langit seketika runtuh.




Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Bertahan di bawah terik siang membakar peluhku. Ada hela saat kudorong bongkahan kayu dan piring yang berserak. Toples kaca yang retak dan sendok terpelanting jauh. Di atas aspal, kita beradu. Aku melajukan baja besi sementara kakek tua mendorong gerobak. Hantaman keras awak mobil tak terhindari membentur dagangan es cendol.
Kakek tua tertatih tak sanggup berdiri. Aku mendekatinya. Kalau saja lampu di pertigaan itu tak mati. Mungkin, tragedi ini tak jadi berita. Kakek tua sesenggukan karena plastik hitam berisi lembaran uang pun jatuh. Aku melihatnya iba.
Semua orang berdiri menonton kami. Puluhan pasang mata menyaksikan sambil berdiri. Sementara tak ada satu pun yang membantu kakek tua. Lalu seorang pemuda berkalung kamera mengarahkan lensa kepada kami berkilat lampu menyilaukan.

Aku, terkejut melihat tubuhku masih berada di dalam mobil.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Menahan getir, membuang rasa khawatir memikirkanmu. Meski, hujan belum reda. Aku masih menunggumu di bawah payung merah di sudut kantin sebelah gerobak bakso. Iya, bakso kesukaan kamu. Setiap kali musim hujan, kita akan betah berlama-lama menikmati daging bulat yang empuk itu. Meski dingin, bersebelahan denganmu terasa hangat. Pernah, suatu kali kamu kesal karena semangkok bakso yang telah dipesan tidak ada kucainya. Kamu suka sayuran, aku suka daging. Kita jelas berbeda tapi bersatu dalam mangkuk yang sama.
Tukang bakso itu adalah kenangan. Sesendok teh sambel bisa membuatku kepedesan, berkeringat dingin. Kamu tertawa melihat ekspresi mukaku yang merah padam. Bahkan, cerita romantis kita ada di tukang bakso. Kamu pernah menitipkan surat ketika tukang bakso lagi mencacah sawi sebelum dicampurkan ke dalam kuali yang panas. Surat itu aku ambil sepulang dari sekolah begitu memesan satu porsi dibungkus.
Kamu, lebih menikmati bakso selagi hujan. Kupikir, apa bedanya? Aku lebih menikmati semangkok bakso ketika bersamamu. Meski aku membeli baksonya saja, tanpa kuah dan sayur. Kemudian seperti anak kecil, aku membeli biji baso yang kecil ditusuk ke lidil. Tukang bakso punya resep sendiri ketika memberi bumbu sate bakso milikku. Biar tidak terasa pedas, mang bakso memberikan lada. Lalu dguyur kecap manis dan sedikit air cuka.
Apa yang kamu pikirkan dengan semangkuk bakso. Ketika mang bakso sibuk melayani pembeli lalu aku menunggu giliran sambil menantikan kedatanganmu. Semangkok bakso lebih dari sekadar kenangan untuk memikirkanmu.
Hujan belum reda, tukang bakso pun sibuk mengaduk-aduk kuali. Biasanya, kamu memesan semangkok bakso bening tanpa sayur dan bihun. Kamu menyebutnya bakso polos. Aku lebih suka menyebutnya bakso kesepian. Hanya biji baso berendam di kuah bening tanpa kecap maupun sambel. Hanya sedikit terasa asin dan gurih berkat taburan bawang goreng.
Saat itu, kamu mengomentari gambar ayam di mangkok yang tak pernah berkokok. Padahal, dia sendiri dan selalu kesepian. Kataku, mereka tak pernah kesepian karena selalu ditemani tukang bakso. Bahkan, sampai sekarang kamu tak pernah mau menyebut nama tukang bakso itu. Kita hanya menyebutnya, Mang Bakso. Selain karena tipikal mukanya yang bulat, sikapnya pun sehangat kuahnya. Aku pun kurang lebih banyak memiliki kemiripan dengannya.
Menantikan hujan reda berdiri di sebelah gerobak bakso, jelas membangkitkan kemesraan kita saat berlari menghindari hujan. Berdiam diri menunggu jemputan sambil duduk memesan semangkok bakso. Bahkan, pernah suatu hari kita berbagi bakso dalam satu mangkok. Itu rasanya lebih romantis saat aku menikmati bihun di salah satu ujungnya, dan kamu menyeruput ujung bihun lainnnya. Mata kita bertemu dan berkedip-kedip karena asap bening panas kuah bakso. Lalu, kita tertawa. Tertawa bahagia.
Caramu memakan bakso, kedipan matamu saat menahan panas sebelum sesuap kuah bakso masuk ke dalam mulut. Membuatku merinding mengenangmu. Biasanya, ketika musim hujan kamu lebih rela basah karena tak sempat berteduh untuk mengejar tukang bakso sebelum pergi. Tukang bakso favorit kita akan berkeliling jika jam sekolah habis.
Tapi, perasaanku tak pernah habis. Semangkok bakso bisa jadi cara bagiku untuk mengekalkan bayangmu dalam kerinduanku.
Ada saat merindukanmu begitu menyenangkan sambil menunggu hujan reda di sebelah gerobak tukang bakso, sambil membayangkan kehadiranmu. Lantas aku tersenyum bukan karena mengingat tempat favorit kita, tapi obrolan kita. Tentang filosofi bakso. Bedanya bakso urat dan bakso daging. Bedanya pakai bihun dan mi kuning. Bedanya, bakso berkuah dan bertusuk kayak sate. Kita bicara banyak, bakso bukan sekadar makanan. Bakso adalah kenangan.
Jika hal sederhana mengingatmu menyunggingkan senyum, kamu berhasil membuat garis lurus bibirku melengkung menerbitkan seulas senyum yang menawan. Aku di sini, tepat di sebelah gerobak tukang bakso akan selalu berusaha membuatmu senang. Seandainya, kau di sini masih menyukai semangkok bakso kenangan. Meski kau tak bisa kumiliki. Meski kau hanya berkas asap bening yang mengepul ketika tutup kuali dibuka dan diterbangkan angin, tak mampu kugapai.
Aku akan selalu di sini, membantu mang bakso mencacah sayur kucai dan menaburkan serpihan perasaanku untuk semangkok bakso yang kamu pesan. Persembahan dariku, ketulusan hati untuk terus membuatmu tersenyum menikmati hidangan bakso. Bakso jualan aku dan ayahku.


Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Bagaimana rasanya ketika hati tak lagi menemukan ruang untuk singgah, bahkan untuk ditempati. Jika pada akhirnya hati tak lagi memilih melainkan pergi. Aku bisa membaca jelas sorot matamu yang begitu dingin memandangku. Padahal, kemarin kau masih ceritakan kisah roman picisan yang berakhir bahagia. Lalu kenapa itu tidak terjadi pada kisah cinta kita?
Aku menggenggam tanganmu melingkarkan jemari untuk merasakan hangat telapakmu. Seandainya kamu tahu, debar dada yang membuncah selama ini sama sekali tak berkurang. Kau memandangku tapi kosong. Aku tak menemukan lagi rinai hujan membias di matamu.
Mengingat, saat-saat kau berlari menghindari gerimis hujan dengan tumpukan buku di atas kepala. Aku rela menunggumu lebih dari sejam. Hanya untuk memastikan kau datang di halte yang dijanjikan.  Bisa dipastikan langit masih mengabu karena mendung menyelimuti. Aku ingin melihatmu untuk terakhir kali.
“Sampai kapan hujan ini mereda?” tanyamu dengan paras begitu cemas.
“Mungkin, sebentar lagi. Biarkan kita menikmati sisa hujan,”  kataku.
Aku ingin membekukan waktu dan berharap pertemuan ini terulang kembali. Meski akhirnya aku tahu tak ada lagi pelukan. Tak ada lagi senyuman. Taka da lagi sebentuk kecil perhatian. Kau seutuhnya kukenang dalam ingatan. Jejak dirimu tergambar dalam tayangan panjang film dalam imajinasiku. Kau sama sekali tak akan hilang.
Kita berdiri bersisian sementara hati tak lagi beriringan. Meski, dulu kita terjalin rasa tapi hal ini tak berlangsung lama. Kau memandang jalanan yang basah. Aku berdiri di antara tepian hati yang sebentar lagi terpisah.
“Mengapa kau tega melakukan ini?” tanyaku lagi.
“Bukankah pada akhirnya, kita juga akan berpisah. Meski dengan cara yang lain.” tambahnya.
Aku masih sempat melihat parasnya yang lembut dari ekor mataku sambil mencuri pandang. Kau sama sekali tak membalas. Genggaman tangaku tak juga kau jabat. Aku membayangkan bagaimana rasanya menari di bawah hujan bersamamu. Sementara, hal itu tak mungkin terjadi.
“Apakah kamu masih mencintaiku?” tanyaku lagi dengan getir.
“Masih.”
“Lalu, kenapa kau memutuskan untuk berpisah?”
Kau terpaku, tak lantas langsung menjawab. Sambil menarik helaan napas dan udara dingin kau berusaha membaca pikiranku. Aku menggigit bibir bawah menahan gemas menantikan jawabmu. Jika saja hujan akan berakhir. Harusnya perasaanku ikut berakhir sementara rasa sayang itu masih ada.
“Cinta datang dan pergi, seperti hujan. Barangkali begitulah perasaanku.”
Rintik hujan masih terdengar mengalun di atas atap halte tempat kita berteduh. Menepikan hati yang sebentar lagi jatuh. Sementara cinta harus berakhir. Perasaan pun semestinya disudahi. Adakah hati yang bisa memaksakan diri jika nyatanya masih memiliki cinta.
Hal itu masih jadi tanda tanya. Kita bergenggaman tangan. Hati kita sudah berseberangan jalan. Pandangan mata pun berbeda ke depan. Meski kita berdiri di bawah langit yang sama, tapi sudah berbeda arah dan tujuan.
“Tak semestinya cinta kita berakhir seperti ini,” kataku.
“Saat hujan berhenti, tak ada lagi kita.”
Haruskah kucari alasan untuk berhenti mencintai, sementara mencintaimu tak butuh alasan, melainkan ketulusan. Garis tipis antara gulita dan cahaya melukiskan langit mendung tak disinari pancaran mahatari. Semoga ada pelangi setelah hujan.


Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Malam kian ranum tatkala ibu masih rebah di atas kasur. Sudah tiga malam, ibu tak angkat bicara. Parasnya pias nan muram. Aku cemas dan khawatir. Duka lara apa yang Ibu simpan seorang diri. Beliau tak juga membagi kisahnya kepadaku. Di antara malam-malam yang lain biasanya ibu selalu mendendangkan cerita untuk mengantarkanku tidur. Tapi, kini sudah tak ada lagi. Ibu hanya mengurung diri diam di kamar.
Setiap malam, ibu akan beringsut di balik selimut dan bersembunyi dari terangnya lampu. Beliau selalu menyuruhku membuka jendela agar cahaya bulan bisa masuk. Aku pun termangu menatap langit yang bertabur bintang mempertanyakan Ibu. Sejak tak ada kabar dari Ayah, ibu jadi pendiam seribu bahasa. Sepertinya, beliau berhenti untuk bicara.
Lalu, ketika malam beranjak larut. Samar-samar aku mendengar sesenggukan dan isak tangis tertahan dari dalam kamar Ibu. Kamar yang seharusnya juga diisi oleh Ayah itu kian sepi. Aku merapatkan telinga ke dinding berharap mendengar curahan hati ibu rerdengar di antara derai tangis yang pilu. Sebaliknya, tanpa pengantar dongeng dari Ibu, mataku jadi tak bisa terpejam. Aku selalu terjaga meskipun telah larut malam.
Malam itu, tak ada suara isakan tangis. Purnama kian ranum. Semilir angin berembus masuk melewati celah ventilasi di atas jendela. Derap langkahku terdengar. Dari balik pintu dengan debar dan ragu, aku putar tuas pintu. Hanya terdapat selimut yang menutupi seluruh badan Ibu. Aku bahkan, tidak bisa melihat parasnya. Dengan bersijingkat, aku terpana melihat butiran-butiran Kristal berserakan di lantai kayu rumah.
Dari manakah semua Kristal itu berasal, apakah perhiasan ibu?
Lalu, kubuka jendela agar sinar purnama bebas menyelinap masuk. Aku pun dapat mengintip bintang dari kamar Ibu. Kupungut satu per satu Kristal yang berserakan di lantai. Kumasukkan ke dalam kain kecil tempa biasa kusimpan kacamata dulu. Ibu masih tergolek di atas kasur berselimutkan kain perdu. Aku mendekatinya penuh hati-hati tanpa bersuara.
Aku tak mau mengusik tidurnya barangkali terganggu. Namun, mataku terperanjat begitu kusibakkan selimut dari tubuh ibu. Ibu meringkuk lemas memeluk lututnya sendiri, sambil merintih. Lirih isakan itu tak terdengar tapi matanya begitu terpejam. Lalu, dari matanya keluar butiran kristal-kristal berkilauan yang berserakan itu. Sedu-sedannya memang tak terdengar. Tapi, air matanya berganti dengan kristal-kristal yang kukumpulkan. Beliau tak bersuara, tapi kuyakin kesedihannya tak terkira
Aku duduk di tepi ranjangnya sambil menyeka pipinya perlahan. Mengusap punggungnya. Kesedihan membuat air mata jatuh tak berkesudahan.
Sudahlah, Bu. Meski ayah tak pernah pulang lagi sejak peristiwa pesawat itu. Cinta Ibu begitu besar untuknya. Berhentilah menangis, Bu.
Aku memeluk Ibu dalam dekapan yang begitu erat. Ibu menggenggam secarik foto Ayah. Aku pun mendendangkan kisah kepada Ibu tentang arti cinta yang begitu besar, penantian seorang Ibu yang ditinggal ayah pergi tak kembali. Lamat-lamat dalam hati aku berdoa. Semoga masih ada kesempatan untuk bertemu ayah, meski tak mungkin.
Lalu, aku menutup jendela. Menyalakan lampu kamar. Merias wajah ibu dengan bedak. Memulas lipstick merah di bibir ibu yang pucat. Meski, aku tak yakin. Masih adakah harapan untuk kita.


Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Udara ibu kota tercemar polusi ketika pedagang gemblong mangkal di tempat biasa. Karbon monoksida bercampur di udara. Bising deru kendaraan yang bergegas saling menyalakan klakson. Di tengah hiruk pikuk klakson dan padatnya jalanan protocol Jakarta, terjadi sebuah kecelakaan. Seorang bapak yang pulang dari rutinitas bekerja, mobilnya tak sengaja menyenggol motor yang melaju kencang. Begitu mobil bapak itu menyenggol, motor langsung tak terkendali dan jatuh. Seorang anak yang kebetulan tak memakai helm itu tersungkur dan kepalanya menghantam bahu jalan. Darah merah langsung tercecer di tepi jalan.
Sore hari yang macet itu, seorang anak terkapar di tengah jalan. Pelipis kanannya berdarah. Tak ada yang mengenali anak kecil itu. Pakaian lusuh dan celana pendek yang dikenakannya tampak kumal. Dilihat lebih dekat, celana itu adalah seragam sekolah. Tak jauh dari anak kecil terkapar, teronggok sepeda motor. Sebelahnya mobil mewah terparkir begitu saja. Kemudian tergesa-gesa bapak-bapak berpakaian kemeja rapi dan berdasi keluar dari mobil mewah itu. Tangan kanannya masih menggenggam gemblong. Dengan raut pucat pasi dan keringat dingin bapak itu mendekati anak yang terkapar. Anak itu lemah tak berdaya. Dia tak sadarkan diri. Motor yang berada tak jauh darinya terlihat rusak parah. Bahkan stang kemudinya bengkok. Bapak itu langsung terduduk dengan perasaan kacau.
Dia tak mengira anak itu sudah tak sadarkan diri. Suara klakson mobil di sekitarnya semakin membuatnya cemas. Dalam perjalanan pulang seperti ini kemacetan memang tak terhindari. Tapi, siapa sangka melaju sepeda motor yang menerobos dan menyalip di antara sela-sela padatnya mobil. Menyedihkan, bapak itu masih ingat detik-detik sebelum bumper depan mobilnya menyenggol motor yang membuat oleng dan jatuh. Dengan panik, dia mengeluarkan handphone untuk melakukan panggilan darurat panggilan ambulance. Tetapi, di tengah kemacetan seperti ini tak mungkin bantuan segera datang.
Siapa sangka, anak kecil yang terkapar dan berdarah di pelipis kanannya adalah seseorang yang sangat ia cintai. Padahal, baru kemarin rasanya bapak itu menghabiskan waktu bersama anaknya sendiri. Baru kemarin, tepat di akhir pekan bapak itu menghadiahinya sepeda motor. Bahkan, dia rela membatalkan janji meeting besar perusahaanya demi bertemu anaknya yang baru naik kelas. Tak ada yang tahu, gemblong di tanganya masih tergenggam. Tak jauh dari kemacetan itu, tukang gemblong masih berjualan seperti biasa. Tak ada yang tahu gemblong yang dimakan bapak itu, tercemar polusi. Gemblong yang dimakan mengakibatkan daya konsentrasi bapak menurun dan memicu kecelakaan tunggal sore ini.
Ternyata, tak ada yang tahu gula yang dipakai untuk membuat gemblong adalah gula kimia yang berbahaya. Tak ada yang tahu cinta yang begitu besar tak mampu mencegah datangnya kematian dan celaka.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Terakhir yang kuingat adalah genggaman tanganmu, kilatan basah di matamu. Saat, aku tahu kau akan pergi tanpa meninggalkan pelukan.  Kau begitu ketakutan, menaiki wahana ini. Aku menggenggam tanganmu erat. Kau bilang akan pergi jauh, sehingga aku ingin hari pertemuan terakhir kita begitu berkesan.
“Aku takut ketinggian.”
“Aku jauh lebih takut kehilanganmu.”
“Kenapa kau mengajakku ke sini?”
“Agar kamu tahu seberapa besar ketakutanku kehilanganmu.”
Kau bilang, akan kuliah di luar negeri. Dari puncak bianglala aku bisa melihat pemandangan kota. Aku bisa melihat resah yang menggelayut di parasmu. Dan seolah luka menanti di depan mata. Aku mendekatkan diri dan merapatkan bibir untuk mengecup keningmu. Aku tak ingin dilupakan.
Begitu berada di puncak, kau terkejut setangah mati. Debar itu terasa begitu tanganku menyentuh lehermu.
“Kelak, kamu akan tahu begitu beratnya merindukanmu.”
Mungkin aku tidak akan mendapat pelukan, tapi aku akan mengecupmu lebih lama, sampai wahana ini berhenti. Atau detak jantungku berhenti.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Sebut saja Supri, dia sangat mencintai Ningsih. Setelah dua tahun berpacaran rupanya kantor menugaskan dinas keluar negeri ke Jepang. Ningsih mendengar kabar itu dengan senang bercampur sedih. Senang, karena akhirnya Supri mendapat promosi jabatan dan naik secara finansial. Tapi, dia juga sedih karena harus berpisah jauh dengan Supri.
Supri akan menjalani long distance relationship dengan Ningsih. Hal itu berarti Supri harus mempersiapkan hati sekuat baja dan kesabaran setebal tembok Cina.
“Ningsih, aku akan pergi jauh.”
“Iya, Bang. Aku juga tak sanggup melepasmu pergi.”
Kemudian mereka berpelukan sangat erat di bandara, kayak biskuit oreo. Ningsih yang ke mana-mana selalu diantar dan dijemput oleh Supri merasa kehilangan tukang ojek langganan. Supri dengan jaket kulit hitam yang sudah mengelupas, pun harus menghadapi kenyataan ini.
“Ningsih, ini jaket abang satu-satunya. Simpan ya layaknya hati abang.”
“Berarti hati abang udah jelek, dong.”
“Nggak apa-apa, jelek-jelek sayangnya sepenuh hati.”
Ningsih tersipu malu sambil menggerak-gerakkan ekornya. Ekor matanya. Ningsih yang suka menghangatkan Supri selama ini pun tak mau kalah memberikan cinderamata. Belum sempat Supri menarik napas, Ningsih mendekapnya. Kemudian kedua tanganya menyusup ke balik bajunya. Menyentuh punggungnya.
“Ini akan menghangatkanmu di perjalanan.”
“Terima kasih, Ningsih.”
Ningsih masih mengusap-usap punggung Supri untuk kali terakhir. Semakin lama dekapan pun semakin erat.
“Rasanya, kini jadi panas ya, Ningsih.”
“Iya, Bang.”
Hidung Supri mulai menghidu aroma ganjil dan terlihat tak nyaman. Dia meregangkan pelukan Ningsih.
“Abang malu ya, dilihatin banyak orang di bandara seperti ini.”
“Bukan, pelukan kamu biasanya hangat. Sekarang terasa panas membakar kulitku.”
“Iya, bang biar awet selama di jalan.”
“Emang, kamu pake apa, Ningsih?”
“Balsem hot, Bang.”
“Cukup, Ningsih.”
Mereka kemudian berdiri saling berhadapan. Di bandara, ruang tunggu. Mereka seakan ingin membekukan waktu. Detik jam terasa begitu cepat seperti kilatan pesawat jet.
“Semoga pesawatnya delay,” ucap Supri dalam hati.
Ada keheningan tercipta. Ningsih menyentuh pipi Supri dengan lembut. Mata Supri berkaca-kaca. Bening Kristal itu tak sanggup dibendungnya.
“Kamu jangan bersedih meninggalkanku, Supri.”
Supri masih terisak. Bulir bening itu akhirnya menetes. Getir itu tergambar jelas di raut  wajah Supri. Ningsih semakin lembut mengusap pipi Supri.
“Abang harus kuat, ya.”
Supri mengangkat dagu. Disedotnya cairan bening yang mulai menggumpal di lobang hidungnya.
“Panas, Ningsih. Tanganmu bekas balsam panas!”
“oh… oh, maaf, Bang.”
Supri pun mengusap sisa air mata dengan lengannya. Lalu lalang orang di ruang tunggu semakin sepi. Satu per satu masuk ke dalam pesawat. Ini adalah momen mengharukan melapaskan pergi seseorang yang begitu dicintai.
“Abang jangan lupa ngabarin aku, ya.”
Supri hanya menggangguk lemas.
“Ingat, Bang. Chat aku harus dibalas. Sudah cukup cintaku dulu pernah tak kau balas.”
Supri menggangguk cepat. Kemudian hening lagi. Tangan Ningsi menggenggam Supri, menggenapkan sela jemari dengan erat. Seolah jabatan tangan terakhir kalinya.
“Abang, boleh kau memenuhi permintaanku?”
“Apa saja, boleh untukmu Ningsih.”
“Aku mau ngupil, tapi tanganku bekas balsam. Bolehkah aku meminjam jarimu untuk mengupil?”
Supri langsung tari saman. Kemudian dia duduk di antara dua sujud cukup lama. Ningsih pun mengurungkan permintaan itu.
“Aku cuma minta kamu setia, Abang.”
“Baik, aku pegang janji dan amanat untuk setia kepadamu.
“Kita seperti adegan AADC di bandara ya.”
Supri hanya tersenyum simpul. Dia menunduk mengambil tiket dari tas yang diletakkan di lantai. Akan tetapi, seperti geluduk di pematang sawah dan menyambar tiang listrik kemudian roboh menimpa warung di pinggir jalan, ternyata Supri sedang makan mie goreng di warung itu. Dia kaget bukan kepalang matanya tertuju pada jari manis Ningsih. Jari itu sudah tak lagi dilingkari cincin pemberian Supri. Melainkan cincin lain.

Supri sedih berlinang air mata. (lanjutkan ending cerita ini versi kamu dalam kolom komentar)

*kisah Supri dan Ningsih ada di buku #Relationshit Alitt Susanto
Share
Tweet
Pin
Share
15 komentar


Cinta selalu saja menyuguhkan cerita. Seperti dua pasangan yang bersama tapi tak bisa menyatu. Atau dua manusia yang mengikat janji tapi tak ditepati. Masih ingat kan di mana pertemuan pertama berama dia? Hal-hal kecil tentang dia yang selalu terkenang. Menerbitkan benih-benih senyum seorang diri. Membayangkannya saja melegakan hati.
Tapi, siapa menyangka cinta juga memuat prahara. Cinta menjadi rumit, mengartikan rindu yang tak lagi sederhana. Menerjemahkan sikap yang tak lagi terarah. Mengertikan pembicaraan yang berujung pertengkaran. Cinta menyalakan sumbu percikan api, membakar seluruh gelora asmara yang ada. Kini, perasaan itu kian padam.
Meski, jarak bukan halangan. Waktu kembali mengancam. Intensitas terbatas jadi pemicu keharmonisan hubungan. Rentang lama cinta merajut rindu tak menjadi ukuran karena cinta soal perasaan. Cinta soal tanda tanya. Soal bahagia. Jika tak kunjung datang, selalu meneguhkan keresahan batin tak terkira.
Bukan jauhnya bentangan jarak di antara kita yang membuat sulit menggenapkan rindu dalam genggaman tangan. Bukan pula lawa waktu kita habiskan bersama menikmati sisa pelukan yang panjang. Bukan pula pengertian yang berseberangan tentang persepsi mimpi dan bahagia. Tapi, kita sudah tak lagi sejalan. Kita tak lagi jalan bersisian. Kita tak lagi sama.
Seolah, hati kita semakin menjauhkan diri. Berpaling dan memilih pergi.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


“Kamu akhir-akhir ini berubah,”
“Nggak, kok.”
“Sekarang kamu cuek kayak nggak nganggap aku lagi,”
Segelas cokelat hazelnut dibiarkan dingin dibelai udara kosong. Kamu dengan sudut mata yang mulai basah lekat menatapku. Aku terdiam sambil memikirkan bagaimana caranya menjelaskannya kepadamu.
“Aku sudah bilang, sama sekali nggak ada yang berubah.”
“Tapi, kenapa kamu jarang ngabarin aku.”
“Aku, tuh sibuk. Lagi banyak kerjaan.”
“Tapi, emang sesibuk itu sampe nggak sempet ngabarin atau balas chat aku?”
Lagi-lagi aku hanya tertunduk dengan bibir tergigit getir. Sama sekali, tak ada yang berubah dari diriku. Kau, selalu menuntut perhatian. Aku tahu, hal ini tak lagi mudah untukmu. Segelas green tea latte di depanku tak segera kusambut. Kubiarkan batu esnya melebur dengan sisa greentea menawarkan rasa manis yang telah pudar.
“Awal kita pacaran, kamu baik banget sama aku.”
“Ya, kan itu beda.”
“Kenapa harus beda? Katanya kamu sayang?”
“Ini masalah waktu.”
Kamu tak terima jawabanku. Kamu mengungkit masa lalu. Kedai kopi tempat kencan kita menjadi saksi sejarah pertemuan, di mana aku bertemu kamu. Sudut meja yang kuingat, lukisan tanpa pigura yang tergantung di dinding. Kotak dadu yang tersimpan di meja kasir, begitu juga bel berwarna alumunium yang sering kau mainkan. Semua memori tempat ini tersimpan.
“Apa kamu sudah nggak sayang lagi sama aku?”
“Masih, kok.”
“Kenapa lantas kamu jadi berubah, aku nggak ngenalin kamu lagi,”
“Kamu salah menilai aku.”
Pertengkaran demi pertengkaran mewarnai hubungan kita. Untuk hal sederhana menjadi rumit. Satu menit lebih tiga puluh detik aku terlambat membalas chatmu, kamu marah minta turun harga BBM. Jelas, kamu semakin menuntut perhatian. Aku, tak lagi menyediakan perhatian sebanyak dulu.
“Dulu, awal pacaran kamu romantis banget sama aku. Sekarang nggak ada tuh,” katamu sambil melirik pasangan yang duduk tak jauh dari kita saling meniupkan kopi di sendok teh. Kamu melirik iri.
“Ya, kita kan beda.”
“Dulu, kalo greentea latte punyamu kurang manis, kamu minta aku meniupnya sampai dingin. Kamu bilang semua yang manis berasal dariku.”
“Tapi, kalo kemanisan aku takut diabetes.”
Kamu mendengus kesal. Aku berpura-pura sibuk mengaduk segelas green tea yang sudah tak menarik lagi. Seperti percakapan kita, ingin segera berakhir. Malam semakin larut, keramaian kedai kopi berangsur sepi. Kita berdua duduk berhadapan, tak lagi saling mengisi. Meski, kedua tangan saling tergenggam tapi hati tak lagi saling mengingini.
“Kamu bosan ya sama aku? Apa karena aku sering mengajakmu ke sini?”
“Bukan itu.”
“Berarti benar kamu merasa bosan?”
“Nggak, kok.”
Malam minggu mungkin jadi malam yang panjang. Tetapi, bagiku malamini jadi malam terpanjang. Percakapan yang tak menemukan titik temu. Pelayan yang mondar-mandiri melintas tempat duduk kita. Kamu lebih tertarik memandang layar televisi yang terpasang di sudut belakang, menampilkan pertandingan bola dengan keriuhan penonton. Mungkin, inilah rasanya sepi dalam keramaian. Pertandingan sepak bola sama sekali tak menyedot perhatianku.
“Aku capek, Sayang.”
“Istirahatlah.”
“Jadi, kamu mau melepasku pergi?”
“Bukan maksudku begitu.”
Detik berguguran sementara langit berubah pekat beranjak suram. Dalam sekejap, kulihat kilatan cahayamu terpantul dalam keremangan lampu. Matamu, basah. Aku menahan getir karena tak ingin ada tangis yang memecahkan pertemuan kita. Kamu, sama sekali tak memandangku. Pandanganmu kosong menatap layar televisi, seolah pertandingan final yang selama ini dinanti-nanti.
“Apa kamu menemukan seseorang yang lebih baik menurutmu?”
“Tidak, jangan menuduh hal itu.”
“Seseorang yang lebih cantik, lebih menarik perhatianmu!”
“Aku lebih tertarik kepadamu.”
“Bohong!” hardikmu kesal.
Aku terkesiap dan meraih tanganmu. Kuseka lembut perlahan mengusap punggung tanganmu. Menyelipkan jemariku agar mengisi sela jemarimu, yang mungkin membutuhkan sentuhan. Aku menggenggam tanganmu erat seolah malam ini kau tak tergapai lagi. Matamu nanar memandangku dan kilatan basah semakin tak terbendung manakala berkas bening itu semakin membanjiri sudut matamu.
“Kumohon, jangan menangis” ucapku
Tak ada suara. Tak ada gegap gempita malam ini. Segeas coklat dan greente tak tersentuh lagi. Aku dan kamu mengurai cinta yang tak lagi sepaham.
Kata Oka @daraprayoga_ orang yang jatuh cinta itu keinginannya sederhana: berdua dalam cinta. Benar, kan? Berdua dalam cinta memang manis. Tapi ternyata tidak selamanya cinta itu manis. Cinta itu banyak rasa. Mulai dari manis, asam, sampai pahit.
Bagaimana akhir kisah cinta mereka? Sertakan jawabanmu dalam kolom komentar ya


Share
Tweet
Pin
Share
14 komentar
Malam ini gue pilek dan kerjaan nggak berhenti-berhenti. Tiba-tiba hidung gue meler. Sepanjang jalan kaki dari kosan menuju MCD sekitar 800 meter hidung gue disumbat tisu. Pukul 12 malam jalan kaki gontai sepanjang jalan dilihatin sama orang.
“Ini orang gila apa zombie ya.”
Gue jalan kayak zombie, kelakuan kayak orang gila. Wajar sih, daripada gue dibilang mayat hidup kalo dua lubang hidung gue disumbat pake kanebo?
MCD lagi asyik playlistnya buat ngerjain editan. Namanya juga editor, ya tugasnya ngedit. Kalo benerin genteng namanya apa ya? Lo tahu nggak sih kalo hidung lagi meler kena dingin jadi merinding nggak jelas, gue takut pilek tambah parah. Sekarang Jakarta lagi cuaca ekstrem, kalo siang sampe 37 derajat celcius. Panasin dikit mendidih deh tuh.
Di sudut pojok MCD gue lihat ada ibu-ibu yang termenung menatap kosong dengan tangan terlipat di dada.
“Ada apa ya dengan ibu-ibu itu?”
Gue nggak berani negor atau pedekate.  Jelas, hidung gue masih tersumbat tisu. Kedua, gue bisa dipanggil sekuriti karena dugaan perkosaan nenek-nenek di MCD. Kebayang nggak sih, kalo ibu-ibu itu ternyata kehilangan anaknya? Atau berduka karena ditinggal suaminya yang nikah dengan daun pintu, eh daun muda.
Bagi sebagian orang, melihat orang asing tentu nggak kepikiran berbuat apa. Apalagi lihat ibu-ibu duduk pukul 12 malam sendirian di MCD. Ibu-ibu dengan garis kerutan di wajah, kantung mata dan rambut yang memutih. Membuat siapa pun yang melihatnya menerka bahwa ibu tersebut menua. Bahkan, di hari tuanya dia harus kesepian duduk di MCD seorang diri. Merindukan sesuatu.
“Ibu siapa ya?”
Gue mendekat ke kasir sambil memesan segelas es kopi tanpa float. Kesempatan untuk bertanya siapa tahu kasir penjaga MCD itu tahu siapa ibu yang duduk terlihat kedinginan itu.
“Mbak, ibu itu siapa?”
Penjaga kasir yang terlihat mengantuk menjawab, “nggak tahu.”
“Mbak udah lama jaga hari ini?”
“Iya, dari sore.”
“Ibu itu udah berapa lama duduk di sana?”
“Kira-kira tiga jam lebih.”
Gue membayar pesanan es kopi dan menerima struk dengan malas. Percakapan antara gue dan kasir penjaga MCD berakhir. Gue memilih kursi di sudut sebelah jendela kaca. Sekalian mencari posisi yang nyaman untuk mengedit sambil mendengarkan lagu. Dari arah seberang, ibu-ibu itu masih duduk.
Gue mengambil tisu dan menyumbatnya ke hidung. Seandainya tidak disumbat, hidung gue bocor tanpa waterpoof.
Terdengar pelan alunan lagu the script yang gue nggak tahu judulnya, tapi sering diputar di beberapa radio. Gue membuka laptop dan mulai menyiapkan dokumen yang ingin diedit. Sambil melirik ke arah ibu-ibu duduk, gue sesekali minum es kopi melalui sedotan. Rasa kopi dan dingin langsung menjalar ke tenggorok begitu gue telan.
Faktanya, gue pilek dan gue minum es kopi. Gue duduk di bawah ac yang dingin dan melanjutkan pekerjaan sambil sibuk menerka siapakah ibu yang duduk di sudut kursi berwarna hijau tersebut. Di sudut lain televisi 32 inch menyala menampilkan pertandingan bulu tangkis yang tidak begitu menarik. Gue pun hanya sekilas memandang dan tak tertarik menyaksikan. Mata gue kembali mengarah pada ibu-ibu tua yang masih duduk.
“Apa ibu itu nunggu dijemput anaknya?”
Dalam hati, kenapa juga ya gue mikirin ibu-ibu yang nggak gue kenal itu. Ngapain juga harus peduli asal-usul dan cerita hidupnya. Entah, gue merasa dari sorot matanya ibu-ibu itu seperti menyimpan sesuatu. Sorot mata lelah yang menahan kantuk itu hanya ditemani soft drink yang esnya mulai mencair. Bahkan, rasanya mungkin sudah tak manis. Tapi, ibu-ibu tetap duduk setia seperti menanti. Gue tak berani menatapnya lebih lama, karena tentu saja mengundang curiga.
Lalu, gue kembali melanjutkan pekerjaan dan tenggelam dengan deretan aksara yang perlu diperbaiki. Mata gue sibuk mengawasi celah kesalahan yang terselip di antara kalimat dan gagasan yang tak logis. Sesekali, gue meneguk es kopi agar mata tetap terjaga menatap layar. Dalam beberapa menit gue mencoba konsentrasi pada kerjaan.
Tiba-tiba, hidung gue gatal dan tak kuasa menahan diri untuk bersin. Gue menoleh ke samping, dan ternyata ibu-ibu itu sudah nggak ada. Bahkan, dia meninggalkan segelas soft drink yang masih tersisa. Gue nggak ambil pusing dan tetap melanjutkan pekerjaan.
Sejam berlalu, malam beranjak pagi. Petugas MCD sudah merapikan kursi dan membersihkan noda di meja. Gue harus bersiap untuk pulang. Mata gue lelah rasanya seharian duduk dan menatap layar. Sisa tisu yang masih ada gue ambil dan masukkan ke dalam lubang hidung.
Gue kembali kayak zombie berjalan gontai menyusuri trotoar yang sepi. Jarang kendaraan melintas dini hari. Sepanjang jalan pikiran gue dipenuhi oleh pertanyaan, kenapa lagu di MCD enak-enak. Baru berjalan sekitar 100 meter dari depan MCD mata gue menangkap sosok yang tak asing.
“Kayaknya gue tahu deh orang itu.”
Sosok ibu-ibu yang gue lihat di MCD tidur di emperan toko beralaskan koran tepat di sebelah gerobak berisi kardus bekas dan terlihat balita yang tertidur pulas. Seketika, nurani gue terketuk. Giliran mata gue bocor, tak ada tisu yang tersisa. 
“Siapakah ibu-ibu itu?”


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  Maret (2)
      • Surga dari Hongkong!
      • Moammar Emka's Jakarta Undercover: Sex Supermarket?
  • ►  2016 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (45)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (16)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (59)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (9)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (116)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (16)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2010 (39)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (12)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates