Diberdayakan oleh Blogger.

Professional Time Waster

Kepada hati yang tak pernah lelah merindukan. Aku menitipkan surat tentang kehangatan pagi yang menyelipkan rindu di antara pejaman mata. Saat aku masih mengingat setiap peristiwa manis bersamamu. Mengingat perhatian-perhatian kecil yang ditujukan kepadaku. Ada waktu yang bergulir dan cinta tak semestinya berakhir. Aku ingin surat itu tak pernah salah, karena hati ini tak kehilangan arah. Sejak, aku mencintaimu bukan saja ketulusan. Aku mencintaimu karena kesempatan hati memilih cinta kepadamu. Di antara puing-puing harapan dan luka yang kulupakan. Kau datang, seperti oasis tengah gurun, sementara kemarau berkepanjangan melanda hatiku. Lebih dari sekadar tetes hujan dan tanah beraroma basah karena ketulusanmu menguarkan manisnya cinta. Cinta yang semestinya. Di antara pagi yang selalu kunanti, aku selalu ingin senyummu. Selalu ingin mengingat perhatianmu. Selalu ingin menghabiskan waktu bersamamu. Selalu ingin mengingat waktu yang tersisa akan terasa manis untuk dikenang. Kepada hati yang tak pernah lelah mencintai, aku menitipkan surat ketulusan daun yang tak pernah bertanya pada embun kapan semestinya jatuh. Karena aku jatuh mencintaimu, tanpa pernah bertanya mengapa.  
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Aku merindukan pejaman matamu terbuka dan menatapmu dengan senyum menyambut pagi, membelaimu. Menyusuri lekuk parasmu dengan ujung jari menyelipkan helai rambut yang terurai. Hangat mentari menelusup lewat ventilasi dan kau malas bergerak. Aku masih menyisir rambutmu dengan jemari dan menatapmu mesra. Tak pernah aku merasa bosan, melihat dirimu terbaring dan bebas kulihat setiap jengkal wajahmu. Mennyentuh pipimu yang lembut, mengecup malu-malu. Matamu masih malas untuk terbuka dan aku mengusap-usap dahi dan ujung rambut yang tergerai. Matamu yang lentik dan kusuka, sorot mata teduh yang kucintai. Setiap pagi, aku tak pernah merasa bosan mencintaimu. Menyambutmu dengan senyum saat matamu terbuka, menjelang hari penuh cinta dan kehangatan hatimu yang selalu terasa jauh di dasar lubuk dadaku. Tempat di mana detak jantungku selalu bergetar, setiap menyebut namamu
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Menutup hari yang lelah. Aku tersenyum dalam hatiku pun. Saat ini tak ada yang lebih indah selain aku dan kau saling memahami, jauh lebih sederhana dari arti kata cinta. Tak perlu puisi, ungkapan. Aku tahu, kau cukup mengerti. Sekalipun kukatakan sekali, kau akan lebih mengerti. Aku merindukanmu, sayang. meski pertemuan singkat tak mampu menebus kerinduanku, serupa hujan di tanah gersang, mampu menyiram dahagaku akan senyuman. akankah langit masih sama, akankah hujan turun lagi, tak perlu kau risaukan. cintaku tak pernah berkurang, meski sulit dipahami. aku ingin menggenggam tanganmu lebih lama, aku ingin selalu menjadi pagi yang menyambutmu kala membuka mata, aku ingin lebih dari sekadar pelukan, kasih yang hangat darimu terus mengisi hatiku.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kau tahu, saat terlintas banyak gambaran tentang berbagai kondisi di pikiranku. Kurasa, aku menjadi bingung. Semua orang berada di sekitar, aku tidak mengenalnya. Semua orang sibuk dengan rutinitas kerja, aku tidak begitu mengenalnya. Semua orang bergerak mengikuti ambisi dan naluri, sementara aku terjebak pada kebingunganku sendiri. Kelak, semua hal tak bisa dijelaskan bagaimana seseorang bisa terhubung satu sama lain. Suatu malam, di sela waktu aku menghubungimu dan bercerita banyak tentang hal. Sementara tak ada yang tersisa, selain waktu semakin habis. Begitu banyak orang lalu-lalang, lewat, melintas, tapi tahukah pada akhirnya kita tak saling terhubung karena waktu kita terbatas. Relasi yang terbangun hanya terdiri beberapa orang saja dengan waktu yang tersisa. Aku senang, bisa menghabiskan waktu denganmu. Aku senang merasa dicintai. Aku senang punya waktu untuk berbagi banyak hal denganmu. Aku senang mendapat berbagai perhatian kecil darimu, kecemasanmu, keraguanmu, kekhawatiranmu. Entah mengapa, saat aku merasa kesepian bahkan di tempat yang sangat ramai, aku hanya ingin berada di sisimu dan memelukmu. Menikmati setiap momen, detik demi detik yang tidak akan pernah terulang. Selama, aku tahu banyak hal dan kemungkinan yang terjadi di masa depan. Aku tahu, cintamu begitu besar. Aku takut, suatu saat, cintamu malah membawamu pergi dariku. Aku takut tidak ada yang tersisa di ingatanmu, tentangku. Memikirkan, waktu demi waktu berganti dan banyak hal mulai mengisi pikiranmu. Aku takut, merasakan diriku dilupakan. Aku takut, bagaimana akhirnya tidak dipedulikan. Aku bersyukur, kamu mau menjadi seseorang yang mengisi celah hatiku dan menyayangiku dengan tulus.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku tahu, rasanya terbelenggu keniscayaan hati terperangkap oleh kerinduan tak bisa mewujud lalu pada pertemuan. Memimpikan perjumpaan, selalu saja berakhir menjadi nanti dan kapan-kapan. Jangan pernah lelah meretas rindu meski terlalu sering kau tabung dalam kotak masa depan. Ingatlah, jarak hanya ruang sela di antara dua kaki kita, berpijak pada tanah yang berbeda. Selama, hati kita terucap janji mengikat rasa tentang cinta yang hangat dan manis. Selama, rindu tak pernah usang sementara hati membaja karena penantian panjang. Aku tersiksa, Sayang. Ingatanku tentangmu, begitu juga kecupan panjang terakhir yang selalu kukenang. Menayangkan pelukan di petang malam saat mataku lelap terpejam, tetapi itu hanya mimpi. Aku ingin menemuimu, bercerita tentang rindu dan harapan, tentang kisah yang selalu kuulang. Masa depan yang tak pernah bisa kita jaga, ruang rindu yang selalu sesak oleh namamu. Aku lelah sayang, ingin bersandar pada bahumu dan tanganmu memelukku dari belakang, meleburkan rindu dalam titik temu.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Kapan terakhir kali kau nyatakan cinta. Merasakan kerinduan dan lubuk hati terpenjara oleh perasaan yang tak terdefinisikan. Ketika kamus tak mampu membendung perasaanmu untuk diungkapkan. Saat itulah cinta seperti syair yang dikumandangkan. Kemudian awal selalu saja bertemu akhir dan kisah cinta teramat tragis menjadi kehilangan yang tak terelakkan. Bagi kau yang baru terjatuh karena cinta, nikmatilah. Karena kau bisa jatuh. Maka kau pun bisa bangkit. Saat dirimu terhempas dan dadamu berdarah-darah karena hatimu telah terlalu terluka. Obat yang membuatmu tenang adalah keyakinanmu. Ketika kau percaya bisa untuk bertahan karena cinta, maka kau bisa berusaha untuk melepas cinta. Aku yakin, kenangan tertinggal kenangan, selebihnya arah laju rindu bermuara pada cinta yang baru. Untuk kembali menikmati cinta yang tertinggal, maka pergilah ke mana hati membawamu pergi.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Gue menganggap mengenal seseorang seperti membaca buku, ada beberapa lembar yang mudah dilewati, ada beberapa lembar yang berjalan perlahan satu per satu lembar, bahkan ada yang merasa harus tutup buku di lembar pertama. Mengenal seseorang berarti mencoba memahami, berpikir dari berbagai sudut pandang. Tidak boleh benar-benar langsung menge-judge atau mengambil kesimpulan dari beberapa potongan informasi mengenai dia. Saat ini, gue juga masih membaca tentang diri sendiri, agar gue tidak salah.
Pernah nggak sih, kamu merasa benar-benar seperti mengenal seseorang padahal baru kali pertama bertemu?
Tentunya, mengenal seseorang itu tidak mudah, ada berbagai upaya. Ada adaptasi, toleransi, pengertian. Seperti kita banyak menemukan seseorang fake, berkepribadian ganda. Seperti berapa banyak seseorang yang hanya memanfaatkan atau tidak tulus, oportunis. Banyak macamnya, seperti banyak macamnya kepribadian. Banyak hal relasi dibangun didasarkan atas kepentingan, kesenangan, keinginan.
Memang tidak mudah untuk mengenal seseorang, ada mood, kecenderungan sikap dan perilaku. Bahkan, ada watak karakter dan kebiasaan. Jadi, harus pandai-pandai menentukan posisi. Posisi pun ada struktural, fungsional. Banyak orang juga banyak cara mengenal seseorang.
Berapa banyak sih, kamu merasa benar-benar mengenali seseorang?
Teman-teman, saudara, sanak famili. Kerabat dekat, teman jauh, teman dekat. Berbagai jenis relasi, hubungan antarmanusia membentuk keterikatan dan keterkaitan peran yang berhubungan sehingga membentuk interaksi. Bahasanya formal beud.
Kadang, gue ngerasa harus mengalah. Gue juga ngerasa kadang berada di bawah. Di lain waktu gue tahu seseorang menertawakan bahkan merendahkan. Tapi, gue pikir sedang mengenal seseorang. Jadi, sebenarnya gue punya beberapa catatan tentang seseorang berdasarkan penilaian gue selama berinteraksi dengannya. Namanya, manusia kan nggak sempurna. Gue berusaha untuk tidak seolah-olah menjadi seseorang yang merasa paling benar atau paling baik. Dengan adanya catatan itu, gue punya semacam database sehingga gue punya porsi tertentu untuk berhubungan.
Balik lagi, waktu gue terbatas dan semua hal tentang relasi di atas menghabiskan waktu. Balik lagi dengan masalah prioritas. Terkadang, gue jadi mikir menghabiskan waktu dengan siapa nih seharusnya? Paling banyak waktu yang gue habisin dengan siapa?
Jika mengenal seseorang seperti membaca buku, dan teman yang paling the best adalah buku. Artinya buku sama dengan teman. Berapa buku yang dibaca berulang-ulang, berapa buku yang paling disayang dirawat dengan baik. Berapa buku yang terpaksa harus disumbangkan, berapa buku yang hanya ditumpuk tidak dibaca.
So many books, so little time. So many people, so little time. My time is my life.
Gue membuat korelasi yang berhubungan. Selama ini gue banyak menghabiskan waktu dengan buku, membaca dan berinteraksi dengan orang. Gue punya waktu untuk menghabiskan bersama orang-orang untuk berkumpul, bercanda, bercakap-cakap, tertawa.

Lantas, berapa banyak buku yang cuma kamu pinjam lantas tidak kamu baca? Berapa banyak yang tulus kamu beli dan kamu baca berulang-ulang?
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Kita mirip ya, berarti jodoh dong. Hahaha. Rasanya pengin ketawa aja kalo gue denger kalimat itu. Jodoh, ada di tangan Tuhan. Misteri banget ya, kalo mau nemu jodoh, sih, jangan duduk di pintu. Semakin misteri.
Pedekate lama eh cuma dianggap teman, kasian. Udah pedekate cepat jadian, eh cuma dianggap pelarian. Gue masih nggak ngerti konsep jodoh. Kalo keburu lewat sebelum ketemu jodoh, gimana? Apes dong hidup nggak nemu jodoh?
Istilah kerennya, sih, tulang rusuk? Jadi emangnya kalo jodoh dari tulang rusuk, apa kabar yang poligami, tulang rusuk siapa yang dipake banyak banget?
Pacaran lama, putus-putus juga. Udah nikah, cerai juga. Jodohnya ke mana?
Kalo nyapu yang bersih biar dapet istri cakep, nyapu nggak bersih dapat suami brewok? Bener nggak tuh?
Sampai harus kawin karena deadline, sampai terpaksa mencintai daripada menanggung beban tak laku, sampai harus jadi simpanan, sampai rela dimadu, sampai cinta dipermainkan.
Katanya, sih. kalo jodoh nggak bakal ke mana? Emang mau ke mana, sih?
Biasanya jodoh dikaitkan dengan bertemunya pasangan atau belahan jiwa, ahzeg. Berarti seseorang yang memilih sendiri artinya tak bertemu dengan jodohnya.
Menurut gue jodoh itu seperti sepatu, karena diciptakan sepasang. Kalau kita diciptakan sepasang, berarti matinya pun sepasang, dikubur nggak sendirian. Nggak mungkin juga dong sampai cerai atau ketuker sama yang lain. Karena ukuran sepatu sama.
Adam diciptain sendirian, terus kesepian maka diciptain hawa. Untung Adam nggak berpikir poligami, bisa diciptain hawa sampai tiga, tulang rusuknya tinggal dikit.
Jadi sebenarnya jodoh itu sebentuk apa? Mitos!

Punya pandangan lain? Share komen yuk...
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Perjalanan pulang, di antara lalu-lalang mobil yang melintasi jalan. Gue bertanya, “ke mana sih semua ini?”
Bahkan, mobil satu sama lain tak saling mengenal. Gue duduk di kursi membayangkan, takdir berjalan mengikuti ceritanya. Adakah pertemuan itu satu bentuk takdir, juga perpisahan? Di antara banyak pilihan, konsekuensi dan kesempatan, gue bertanya lalu jika kau pergi itu satu bentuk takdir? Awalnya suka jadi benci, dari temu jadi rindu, dari sayang lalu menghilang.
Gue merasa waktu nggak banyak buat gue menemukan semua jawaban dari pertanyaan yang muncul.
Kenapa gue dilahirkan di sini? Dan banyak pertanyaan yang muncul kemudian.
Sampai pembaca terjebak pada halaman ini dan membaca tulisan gue.
Waktu sangat terbatas, bahkan sampai tak sempat. Gue hanya bertemu beberapa orang saja hari ini, di antara juga seperti yang biasa gue temui. Terkadang gue juga bertemu orang baru, dan orang lama kemudian pergi. Satu per satu, waktu seolah merampas beberapa hal dalam hidup. Waktu buat gue menimbulkan kecemasan, karena kalo nggak sekarang kapan lagi?
Banyak hal yang belum diselesaikan, banyak tenggat waktu yang terpaksa mundur kembali, banyak maaf yang menjadi wajar, banyak kesalahan yang dimaklumi.
Sebenarnya, apakah gue bisa mencurangi waktu ketika gue merasa belum puas. Sampai setiap doa ulang tahun selalu panjang umur. Berapa banyak kebaikan yang gue perbuat untuk orang lain dan membahagiakan orang-orang di sekeliling. Dan berapa banyak justru gue mengecewakan dan melakukan kesalahan?
Sepertinya, akhirnya gue dikalahkan waktu. Terlelap tidur karena lelah, terpaksa memejamkan mata karena perih. Tak ada lagi yang bisa dilakukan ketika tubuh tak kuat lagi berdiri. Akhirnya raga menjadi lemah dan jatuh sakit, dan jantung pun berhenti berdenyut karena kesempatan hidup telah berakhir.
Semua orang pasti takut mati, dan semua orang berusaha hidup dengan mengabaikan datangnya kematian. Ketika waktu tiba takdir pun bicara mencabut nyawa.

Sudahkah merasa benar-benar hidup?
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku takut bukan berarti lemah, tapi jatuh dan mencintaimu semakin mendekatkanku pada masalah. Jika rencana tentang kita mewujud nyata dan harap ini menanti takdir. Lantas kepada siapa kita menabur doa, sementara kuil-kuil telah sepi karena lantunan peri tak terdengar lagi. Bahkan, gemuruh dada pun berdusta. Lalu kepada siapa aku harus percaya. Sementara cinta menyisakan ketakutan akan kehilanganmu. Mendekap dalam sepi dan tak habis merindukanmu. Menghitung pertemuan dan mengekalkan cinta pada ingatanku. Pada setiap mimpi yang berusaha kurangkai, membayangkanmu hadir. Jika, semua akan indah pada waktunya. Lantas, kapan? Ketika waktu-waktu indah bersamamu semakin menipis. Jika keyakinanku dapat diperbarui, apakah waktu dapat diperbarui dan cinta yang indah akan menemukan waktunya?
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ada satu hal sulit kutepis meski pahit dalam nyata, mencintai seseorang yang tidak memiliki rasa yang sama. kau tak menunjukkan rasa benci, juga perasaan sayang. Kau selalu hadir jelas di depan mata, tapi tak pernah tertembus sayangku ke dalam hatimu. Melihat, jernih permukaan air tak bisa kulihat dalamnya perasaanmu. Saat-saat gundah menyergap dan ingatanku tentang perjanjian kita terngiang, kita akan berpisah. Bukan saja karena waktu, tapi cerita kita berakhir bersama. Bahkan tak ada pelukan akhir sebelum kita benar-benar saling menjauh. Mungkin, detik ini juga sebenarnya hatimu telah menjauh, sejak kulihat binar matamu bukan untukku, tetapi untuknya. 
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Seandainya satu malam yang tersisa, aku tak ingin datang pagi. Mengekalkan ingatanku tentangmu sebelum semuanya hilang terbilas waktu. Begitu pun perasaanku yang tegar berdiri tanpa sambutan tanganmu. Aku harus sadar tepian hati ini tak berlabuh menuju dermaga. Jika nanti ada akhir di mana kata tak sanggup menguraikan kesedihanku, aku ingin pelukan panjang sebelum terlambat. Sebelum kata sayangku terucap lamat-lamat. Membisikkan kata rindu yang tak mungkin kudengungkan di telingamu. Kita begitu dekat seolah bersama, tapi hatimu tak bisa kumiliki. Ada cinta yang tumbuh perlahan di dadaku, tapi tak kutemukan pagar tuk kujadikan tempat kuberpijak. Terlebih ada nama lain di hatimu, dan mataku terendam air begitu saja. Lirih bersenandung rindu entah kepada siapa. Mengalamatkan cinta pada surat kaleng suatu malam. Ternyata hatiku tak bisa berbohong lirih terus menyebutkan namamu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Batas bening yang tersaput mata kasat tak terpandang, jika hati berbekas mengikut jejak kenangan tentang luka dan hujan. Aku ingin mengakhirinya sampai di sini, meski air mata menetes tak terbendung. Tapi, masih adakah luka yang berhasil sembuh jika jatuh cinta rasanya sama juga menyakitkan ketika harus melepas pergi. Sementara kau membangun dinding di antara kita. Jarak kita tak sejauh masa lalu, tapi hati kita tak saling berdekatan. Kita itu sama seperti sepasang merpati yang masih ingin terbang, meski pertemuan di taman kota sangat membekas ingatan. Lama-lama aku hanya diam terpaku menatap senja, meski bias bayangmu tak sanggup kulupakan. Adakah jeruji  yang menghalangi kita tak menumbuhkan benci, karena kita saling menyayangi, tapi tanpa kau sadari kita telah saling menyakiti. Kita mungkin terlalu dekat tapi tak menyatu ketika hatimu mulai membatu.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Seandainya aku dapat membekukan waktu dan menahan jarum jam untuk bergerak. Lama-lamat matamu berkilat basah, sebelum terpejam. Aku tahu, sebentar lagi terbitlah rindu. Setelah pelukan terakhir malam itu dan ciuman panjang yang tertinggal. Kau mulai menghitung hari, bahkan setelah pertemuan kita. Aku pun tak bisa tinggal, sementara esok masih harus kujelang. Merindukanmu tak pernah habis semalam. Begitu pun kau merasa tak pernah cukup menuntaskan rindu bersamaku. Aku bahagia, asal bersamamu. Menerbitkan rindu-rindu yang panjang tentang hari-hari dan penantian. Akan kusimpan sisa senyummu untuk kuingat, begitu pun setiap jengkal sela parasmu. Seperti sapuan kuas dalam kanvas, aku pun melukis wajahmu dalam benakku. Agar, aku bisa menghadirkanmu tepat saat mataku terpejam.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kamu tahu, terkadang ingatan begitu kuat membekas mengikat kenangan dan sesekali menayangkan beberapa  kilas peristiwa memori silam. Tetapi ingatan bisa juga dengan mudahnya kabur terlupakan begitu saja meski beberapa kali usaha dilakukan untuk membangkitkan ingatan. Mengenangmu, bisa saja muda bagiku menguarkan aroma rindu hujan dan gerimis ketika kita terjebak di sudut halte menunggu bus datang. Bahkan, untuk kesekian kalinya. Aku hanya bisa menatap kotak kecil itu dengan mata sendu. Terkenang sebuah peristiwa pahit yang ingin kukubur dalam. 
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Semburat senja membias memantulkan terpaan cahaya yang menembus kaca jendela tempat aku sedari tadi melabuhkan lamunanku padamu. Di gerbong ini, letupan rindu masih membekas saat kereta perlahan meninggalkan stasiun. Adakah kamu tetap menanti meski tak ada kepastian? Aku memandang keluar jendela dan membayangkan memori beberapa tahun silam. Cahaya senja akan selalu sama di sudut sore. Akankah getaran di dadaku masih sama kala namamu disebutkan dan perasaan luapan rindu hadir mendekap rasa. Aku masih menatap langit, menyaksikan awan yang berwarna keemasan membentuk siluet yang indah. Merindukanmu. Selalu saja menimbulkan getar di dadaku. Menerbitkan resah-resah tak kumengerti dan perasaanku meluap seperti tak terbendung lagi. Setiap ingatan tentangmu yang kusimpan, selalu saja menerbitkan kerinduan yang tak bisa kuhindari. Sesekali muncul dan membuatku tersenyum lama.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Aku akan selalu mengingat hari ini, ketika kata menjadi tak ada artinya. Maaf menjadi sesal akhir yang tertahan di ujung lidah, bahkan pelukan tak membawamu kembali. Sesaat, mengiri lembah pipiku yang basah karena bulir bening tak sanggup kubendung. Kenapa akhirnya kau menyerah dan memutuskan pergi. Meski, kau tahu aku sangat terluka. Bahkan, kau tak mau menemuiku untuk memberikan penjelasan. Akankah hari yang telah kita lalui bersama hanya menjadi ingatan yang kemudian terlupakan. Haruskah kuabadikan air mata ini agar tak lagi jatuh. Kepergianmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Seringkali, kita mudah untuk bersembunyi dan berpura-pura. Seperti hati yang percaya bahwa segalanya akan indah pada waktunya. Tapi tahukah kisah tentang waktu yang bergegas mengejar rindu. Belakangan, bahkan aku tak bisa mengelabuinya. Waktu semakin berlalu dan tak pernah tergapai lagi. Masa-masa penantian panjang tentang luka hati yang belum sempat terhapus, tentang kenangan yang belum sempat terkubur, begitu juga tentang benci yang tak sempat terbuang. Aku berjalan seolah menghentikan waktu. Bahkan usia semakin berjarak, dan aku akan kembali berakhir pada kehilangan, kesempatan. Jika nanti tak punya rentang waktu. Jika esok tak pernah menitipkan janji. Aku kembali bertanya pada detik yang berguguran begitu terabaikan. Bahkan kamu tak peduli banyak waktu yang kuhabiskan bersamamu. Begitu juga hari-hari bahagia bersamamu. Mengekalkan rindu dan mengabadikan momen indah. Meski, terlambat.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Jika ada satu hari di mana kesempatan itu ada untukku. Maukah kau kembali, mengenang satu hari kita bersama. Meski, tak terlibat perasaan. Aku bahagia saat tawaku mekar seperti bunga akasia. Ditemani rintik hujan kau melindungiku dari gerimis di bawah payung biru. Menyusuri jalan kemarin sore sebelum kamu pergi. Membawa janji untuk datang dan bertemu kembali. Entah, apakah kau sungguh-sungguh atau cuma untuk membuatku tenang. Menunggu, senja yang tak pernah kembali jingga terbit untuk kau tunjuk, menggenggam jemariku erat. Di sanalah, katamu. Matahari akan kembali.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kamu tahu, tak pernah kurasakan getar di dadaku seperti ini. Sesak yang tak bisa kuterjemahkan, namun meluapkan rindu yang tak bisa kulepas. Memandangmu, tak pernah bisa kulihat lebih dekat. Aku mengenalmu, tapi tak lebih kumiliki. Bayangmu, cinta semu yang tak bisa kuungkap. Meresahkan hatiku sendiri bila senyummu tak lagi untukku. Jika, tatapan sendu matamu yang teduh tak pernah mengarah kepadaku. bila, cinta membawakan pesannya sendiri. Menjadikan degup jantung di dadaku, mampu kuredam. Semoga, kamu tahu perasaanku butuh kau balaskan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  Maret (2)
      • Surga dari Hongkong!
      • Moammar Emka's Jakarta Undercover: Sex Supermarket?
  • ►  2016 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (45)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (16)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (59)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (9)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (116)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (16)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2010 (39)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (12)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates