Diberdayakan oleh Blogger.

Professional Time Waster



Pernah nggak kamu merasa suntuk dan tidak bergairah menjalani hidup. Rutinitas yang membosankan dan terjebak dengan aktivitas yang itu-itu saja. Terlebih, akhir-akhir ini berbagai hal negatif mendera kehidupan kamu. Ada saja; dari teman yang tiba-tiba menyebalkan, orang tua yang kadang rese, nilai akademik turun, sampai mikirin mantan yang tiba-tiba balik lagi.
Kamu jadi merasa unhappy dengan kehidupan yang kamu jalani. Seolah waktu bergerak tanpa melibatkan dirimu di dalamnya. Well, ini adalah energi negatif. Seperti air, ketika menggenang pasti lama kelamaan kotor. Maka, sebelum menjadi bau dan semakin kotor air itu harus dialirkan! Saatnya kamu membuka mata dan mulai bergerak dari hal kecil yang berdampak dalam kehidupan kamu. Ubahlah kebiasaan ini; agar hidup kamu jadi lebih bahagia.
Harus selalu gatel untuk gerak beresin dan bersihin space pribadi kamu
Kamar berantakan, barang-barang lupa naro di mana, dan koleksi pribadi seperti buku dan majalah mulai berdebu. Artinya, selama ini kamu fokus di luar dan jarang menyentuh hal yang paling dekat dalam hidup kamu, kamar! Mulai sekarang tanamkan kepekaan untuk hidup rapi dan bersih. 
(Source: https://www.pinterest.com/pin/334110866080533261/)
Ciptakan ruang buat kamu, berikan space lebih luas untuk kenyamanan kamu. Terlebih, kamar adalah ruang pribadi tempat di mana semua hal kamu simpan. Maka, buat kamar menjadi ruang yang nyaman untuk kamu tinggal dan berkembang.
Kamar mandi yang mulai licin dan berkerak segera dibersihan. Jangan sampai membiarkan bakteri dan penyakit hidup di dalam. Kamu nggak mau kan saat mandi tiba-tiba ada kecoak terbang ke arahmu.... Hih! Amit-amit cabang-cabang.
Nah, untuk kerapian kamu bisa mendokumentasikan hasil kerja kamu dalam bentuk before dan after seperti di atas. Kamu bisa mendokumentasikan dengan kamera Galaxy SAMSUNG A8 yang dilengkapi 16 MP on a super amoled display.

Pilah dan pilih barang-barang yang nggak penting dan gak kepake
Nah, setelah barang-barang yang dirapiin terkumpul, baru diseleksi. Mulai pindahin barang-barang sesuai tempatnya, bersihin dari debu, dan buang barang yang rusak dan tidak terpakai lagi. Biasanya, banyak tuh barang-barang yang sebenarnya udah nggak dipakai tapi sayang aja dibuang. Padahal, sebenarnya itu hanya menuh-menuhin ruangan kamu aja. Tegalah untuk membuang barang yang sudah tidak dipakai. Apalagi barang-barang dari mantan,... buang aja ke laut!

Pikiran kamu terlalu berharga untuk difokuskan ke hal-hal yang nggak ada manfaatnya
Betul banget! Mulai sekarang bersihkan juga pikiran dan hati kamu dari hal negatif maupun nggak bermanfaat. Fokuskan perhatian pada sesuatu yang bernilai dan penting buat kehidupan kamu. Misalnya, hobi, akademi, berkarya, bersosial, sampai berwirausaha. Pikiran negatif hanya akan menghambat kreativitas kamu. Hati yang negatif juga mengurung diri kamu pada sikap pesimistis dan menyalahkan diri. Pikiran kamu lebih baik diarahkan kepada usaha kamu dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan yang akan datang.
Mulai tentukan berkuliah di mana, mau membuka usaha apa, atau nanti mau jadi apa ya. Karena pikiran itu adalah motor yang membuat kamu mengambil keputusan untuk bertindak apa. Jadi, jangan sampai terjerumus pada pikiran negatif yang membuang waktu dan energi kamu.
(Source: https://www.pinterest.com/pin/327707310364815278/)
Pilih teman yang tepat untuk nongkrong, karena lingkungan adalah pembentuk utama suasana pikiran
Mungkin, kamu suntuk dan tidak bergairah karena lebih banyak mengurung diri di kamar. Atau selama ini kamu salah dalam memilih teman sehingga terlibat konflik dan gesekan terhadap teman sendiri. Nah, memilih teman yang tepat adalah salah satu bentuk usaha untuk membuat hidup kamu lebih bahagia. Cari teman nongkrong yang asik. Teman yang tepat akan mengarahkan kamu pada lingkungan positif dan menularkan energi itu.
Pilih sesuai seleramu baik menyangkut pilihan genre musik, hobi, aktivitas, maupun kecenderungan yang sama. Aktif bersosial dan ikuti komunitas sehingga kamu terwadahi dengan tepat. Suasana kebersamaan dengan teman membuat kamu nyaman dan hidup merasa tidak sendirian. Suasana hati apa pun selama bersama teman akan terasa nyaman dan menyelesaikan masalah. Teman akan membuka ruang buat kamu mencurahkan hati dan perasaan yang mengganjal selama ini. Suasana dan hati kamu akan semakin terbuka memandang hidup dan menjalaninya dengan lebih bahagia.
(Source: https://www.pinterest.com/pin/460000549414607491/)
Makan nikmat, makan sehat dan pikiran jadi ikut sehat
Pasti pernah mendengar istilah mens sana in corpore sano yang berarti jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat. Artinya kamu harus mencari makanan yang nikmat dan sehat untuk mendapatkan jiwa dan tubuh yang sehat. Setelah mendapatkan teman yang tepat, cari makan yang nikmat!
Ya, sekarang lagi ramai tuh wisata kuliner. Coba untuk mulai mengeksplorasi makanan-makanan yang enak untuk dicicipi. Karena dari cita rasa makanan yang enak itu akan mengaktifkan sel endorpin membuat kamu jadi lebih nyaman. Makanan yang enak membuat kamu jadi merasa lebih bahagia, “Happy tummy, happy me”
Ayo mulai makan-makan enak! Jangan khawatir nggak kebagian, kamera smarthphone kamu bisa foto wide selfie atau palm selfie, seru untuk melengkapi kebersamaan bersama teman-teman!
(Source: https://www.pinterest.com/pin/296956169152257329/)
Fokus ke hal yang kamu suka dan sesuai passion kamu
Suntuk, bosan, dan mati gaya adalah kondisi di mana kamu kehabisan cara mengeksplorasi diri dalam mengisi waktu. Maka, kalo kamu sudah merasakan ketiga hal di atas segera sadarkan diri kamu dengan bertanya; apa hobi dan passion kamu?
Setelah kamu tahu apa yang kamu mau dan apa yang kamu suka, otomatis pikiran kamu akan bergerak untuk melakukan kegiatan atau aktivitas yang menyangkut hal itu. Misalnya, kamu hobi menyelam dan passion kamu dalam berkesenian. Kamu akan mulai menyelam ke spot diving yang indah, terbanyak banyak terumbu karang yang cantik dan ikan-ikan yang lucu. Setelah melihat pemandangan yang menakjubkan kemudian kamu melukiskan pengalaman menyelam ke atas kanvas. Jadilah lukisan biota bawah laut yang menakjubkan dari tanganmu!
Nah, mulai sekarang fokus terhadap hal itu. Tanyakan lagi pada dirimu sebenarnya apa sih yang kamu suka? Di mana sih sebenarnya passion kamu?
Source: https://www.pinterest.com/pin/305963368410332343/
Kamu akan merasakan hidup jadi lebih berwarna dan bahagia setelah menjalani apa yang kamu suka dan apa yang kamu mau, itu!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Cinta itu memang nggak adil, buktinya kadang datang sendirian. Loh?

Entah, gue kayak kepikiran aja gitu. Setelah nonton film percintaan biasanya selama beberapa detik gue memejamkan mata, mengurai intisari film. Dari situ, banyak poin yang berseliweran di dalam kepala gue. Begitu juga misalnya ketika gue selesai membaca buku. Setelah menutup halaman terakhir, gue menutup mata dan meresapi kata demi kata. Lalu yang paling gue inget biasanya adegan favorit, dialog paling nempel, dan karakter.

Pernah nggak sih, lo merasa udah berjuang dan berusaha keras untuk mendapatkan hati gebetan. Sementara di sisi yang lain gebetan sama sekali tidak punya rasa yang sama. Semacam cinta bertepuk sebelah tangan. Lo sendiri yakin, gebetan itu bisa lo dapetin.

Pendekatan-pendekatan dilakukan berbagai cara. Dari mengumpulkan informasi gebetan, hobi, kecenderungan, kebiasaan, sampai hal-hal remeh dari gebetan. Bahkan, informasi kapan gebetan tidur tepat pukul berapa lo sampai tahu.

“Pukul 11.09 malam dia nggak ngetwit lagi, artinya dia udah tidur”

Nah, semua data tentang gebetan ketika sudah dikumpulkan lo mulai melakukan serangkaian aksi pedekate. Pokoknya banyak cara; dari naro nasi uduk pake sambel rawit ijo di depan pintu kosan dia, kirim puisi pake huruf braile, sampai aksi heroik memahat I LOVE U di batang pohon kelapa di kampusnya.

Tapi, rupanya gebetan tidak memberikan sinyal positif.

Well, kenapa sih jatuh cinta itu nggak sederhana? Kenapa cinta begitu menuntut balasan?

Makanya, gue sama sekali tidak sepakat dengan jatuh cinta pada pandangan pertama. Jelas-jelas love is blind. Cinta itu buta buat siapa aja. Tapi, jangan sampai dibutakan cinta. Nah, lho.

Seperti blurb dari buku LOVE REBOUND karya Satria Ramadhan ini:

Banyak orang yang pengin jadi anak basket biar dicap keren dan popular. Punya badan sehat, dielu-elukan fans ketika bertanding, memiliki banyak teman sepermainan, dan yang paling penting nih…, digilai cewek-cewek! Buat Satrio—si anak basket rabun ayam—, permainan bola itu sudah jadi prinsip hidup. Passing feeling alias oper baperan sudah biasa, three point untuk urusan hubungan jarak jauh pernah dilakukan, sekadar rebutan rebound hati gebetan sih berani saja, dan kebiasaan di-block saat shooting membuatnya lebih tabah ketika ditolak cewek. Namun, semua itu tidak menyelamatkan derita jomlo; hati Satrio belum mendapat point. Teknik dan taktik apa lagi yang harus dijalaninya untuk mencetak angka? Terus berusaha dan jangan sampai fouled out, ya!

Satria sudah berjuang dan berusaha keras, tapi cinta tak kunjung menyambut dirinya. Jadi, harus sejauh apa sih berjuang agar cinta Satria diterima? Apa saja perjuangan yang kamu lakukan sampai cintamu diterima?

Coba isi di kolom komentar ya, yang paling bagus, unik, dan gokil akan mendapatkan buku LOVE REBOUND terbitan BUKUNE (boleh pengalaman pribadi)
Share
Tweet
Pin
Share
9 komentar
Temen gue, Ariev Rahman akan pulang tur ibadah dari Eropa. Setelah mengunjungi berbagai destinasi wisata bola, traveler satu itu harus pulang ke Indonesia. Tapi, dia pasti tahu atmosfer Jakarta yang padat dan macet membuatnya jetlag setelah naik haji ke Inggris.
“Riev, gimana di Inggris? Jadi nonton Newcastle vs Manchester United?”
“Inggrisnya seru, tapi soal nonton kita bicara nanti ya.”
“Progres menulis buku gimana?”
“Selama di Inggris, gue mencatat sih di notes. Sepulang di Jakarta gue lanjut, deh.”
“Oke, see you di Jakarta.”
Begitulah percakapan melalui sambungan telepon yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Gue nggak sabar mendengar ceritanya. Sebagai editor perhatian, gue selalu bertanya progres menulis Ariev. Gue tahu, dia lebih suka menulis di tempat yang sepi dan tenang. Apalagi tempatnya nyaman dan bersih. Dari situ gue berniat membuka kamar hotel buat Ariev menulis.
Harapannya, Ariev bisa lebih khidmat dan fokus menuliskan cerita perjalanannya di hotel. Tapi, buka kamar hotel di Jakarta apalagi weekend itu ibarat nyetop angkot di jalan tol, susah. Jadi berkali-kali gue cari referensi hotel yang available dan tentu tarifnya bersahabat.
Semua layanan online pencari hotel bermacam-macam. Bahkan penyedia jasa itu sudah ada dalam bentuk aplikasi android. Pilihan gue jatuh pada Travelio, karena saat buka Travelio.com mata gue tertuju pada tagline; Your trip Your price. Gue pun download aplikasinya.   

Ketertarikan gue meningkat melihat tombol TAWAR SEKARANG. 
Booking hotel bisa nawar?

Fitur ini bikin deg-degan kayak nembak cewek. Layanan tawar-menawar itu juga ada meterannya. Warna hijau artinya tawaran dengan rasio besar diterima. Warna merah menunjukkan penawaran kemungkinan besar ditolak. Sebelum menggunakan, ini dia tips memaksimalkan penawaran dengan mengetahui sistemnya dulu. Namanya ‘Auto Approved Rate’
Ada tiga skema jawaban;
1. ‘Instant Approval’, apabila penawaran harganya sama atau lebih dari ‘Auto Approved Rate’. Penawaran jenis ini pasti diterima.

2. ‘Manual Approve Rate’, apabila penawaran lebih rendah dari tariff ‘Auto Approved Rate’. Penawaran jenis ini harus nunggu konfirmasi selama kurang lebih 24 jam. Tunggu jawabannya.

3. ‘Auto Reject’, apabila penawaran sangat rendah di bawah ‘Bottom Rate’. Penawaran jenis ini pasti langsung ditolak.

Naluri gue bergerak untuk mencoba menggunakan aplikasi ini. Gue mencoba menawar berkali-kali. Akhirnya gue dapat harga yang cukup memuaskan. Semoga Ariev suka dengan pilihan gue.

Terus terang, aplikasi ini sangat menguntungkan. Gue bisa hemat. Ternyata Travelio juga sudah bekerja sama dengan sekitar 5.000 hotel di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Selain Indonesia, aplikasi ini sudah menjangkau hotel di Singapura, Malaysia, Thailand, Hong Kong, dan Makau. Jadi ketika gue akan bepergian ke luar negeri bisa langsung booking hotel dari handphone.


Bantu gue mewujudkan niat mulia ini agar Ariev bisa menulis cerita perjalanannya dengan tenang di hotel dan menyelesaikan bukunya. Caranya:

1. Follow 
FB: TravelioID | TW: TravelioID | IG: TravelioID | G+: TravelioID

2. Share link berikut ini agar sampai ke Ariev Rahman
http://bit.ly/1X4nDVv

Untuk pertanyaan lebih lanjut bisa tanya-tanya "HelloLio"
Jadi, kapan bisa menikmati booking hotel bisa nawar kayak di pasar? Cuma Travelio; Your Trip Your Price. 


Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

Once upon a time, di sebuah Kerajaan Nusantara hiduplah seorang raja yang dikenal adil dan bijaksana. Setelah dikaruniai buah hati, Tropica—sang permaisuri bersenang hati menyambut anak kesayangannya bernama Sun. Layaknya bayi pada umumnya terlihat lucu dan menggemaskan. Sejak kecil, Sun menyukai binatang dan tumbuhan. Di pekarangan kerajaan yang luas para prajurit yang sedang berlatih, Sun pun tak takut mendekati pasukan gajah. Lalu, karena tertarik dengan Gajah, raja Nusantara menghadiahi Sun seekor gajah kecil yang dinamakan Gaduk. Sun dan Gaduk bermain bersama mengitari persawahan dan perkebunan raja. Sambil menunggangi Gaduk, Sun terlihat ceria dan bahagia karena memiliki teman yang bisa diajak bermain.
Sun dan Gaduk sudah seperti sahabat. Setiap hari mereka bersama. Di saat pasukan gajah sedang berlatih, Sun dan Gaduknya berpura-pura sebagai kesatria kecil ikut berlatih.
“Kelak, suatu saat ketika kamu dewasa nanti, Aku akan mewarisi kerajaan ini dengan bangga kepadamu, Nak,” ucap sang raja mendekati anaknya.
“Kerajaan itu apa Ayah?” tanya kesatria kecil itu.
“Hahaha, kamu akan jadi penerus Kerajaan Nusantara sepertiku.”
Sun memeluk sang raja lalu berlari bersama Gaduk menaiki bukit. Dengan bersemangat, kedua tangan gajah itu terangkat dan Sun memeluk leher Gaduk erat-erat sambil mengacungkan tombak kecil. Belalai Gaduk pun mengayun ke atas seperti menunjuk cakrawala, seakaan kerajaan ini miliknya. Di ujung sana, di balik kedua bukit terlihat cahaya keemasan memancar dalam bias jingga yang indah. Sun turun dari punggung Gaduk kemudian duduk di atas batu, sementara Gaduk mengikuti gerak sang putra raja. Maka itulah gajah kesayangnnya itu diberi nama Gaduk—gajah duduk.
Sun memandang langit dan terpesona akan keindahan alam sambil tersenyum senang. Gaduk seakan mengerti ikut menggoyangkan belalai. Dari ceruk kubangan Gaduk menyemburkan air ke udara melalui belalainya yang panjang. Percikan air itu menayangkan peristiwa ilusi optik yang mempesona. Sun terperangah karena pertama kalinya melihat pelangi berhambur ke pelukan Gaduk.
“Aku sayang Gaduk,”
Gaduk hanya menggoyang-goyangkan kepalanya. Mereka berdua menghabiskan senja sampai sang raja melambaikan tangan agar keduanya segera pulang.
Kehidupan kerajaan terlihat sibuk karena mempersiapkan serangan dari kerajaan seberang, Kerajaan Filiphinos. Para prajurit dan kesatria terbaik kerajaan berlatih keras. Pasukan panah yang bertugas menjaga menara disiagakan sepanjang malam. Pasukan gajah berlatih mengangkat batu besar untuk mendirikan benteng pertahanan. Sang raja pun antusias menyambut serangan ini karena jika menang dari Filiphinos maka kerajaan Nusantara akan disegani di kawasan Masia Tenggara.
“Sayang, kamu berhati-hati ya jangan berkeliaran di luar karena kerajaan kita akan diserang,” nasihat Ibunda raja, Tropica.
“Iya, Bu. Tapi, aku mengkhawatirkan Gaduk.”
“Tenang saja, Gaduk aman di kandangnya bersama pasukan Gajah yang lain.”
Malam purnama langit gelap menyelimuti kerajaan Nusantara. Sepertiga malam suasana tampak sunyi. Tidak ada tanda-tanda kedatangan kawanan musuh dari balik bukit Way Kombos. Hingga pasukan Filiphinos mengendap-ngendap mendekati kerajaan melalui hutan dataran rendah. Hutan itu dekat sekali dengan kandang para gajah.  Tak disangka, panah api ditempakkan dari atas pepohonan hutan menyerang kandang. Seluruh gajah mengamuk dan berhambur keluar dengan panik dan takut. Sang raja pun bangkit terjaga mendengar gemuruh. Semua pasukan disiapkan berjaga dari serangan. Tapi, seluruh kawanan gajah itu menuju bukit Way Kombos dan menerjang menara. Pasukan panah pun berjatuhan dari atas. Lalu gajah-gajah itu berlari menuju dinding batu dan menabraknya. Sang raja pun memerintahkan permaisuri Tropica untuk membawa Sun ke lembah melalui sungai Way Kombos. Kerajaan diserang.
“Ibu, di mana Gaduk? Aku ingin bersamanya.”
“Tidak bisa anakku, kerajaan kita diserang dan tak mungkin kita ke sana.”
Di atas batang pohon yang mengalir permaisuri dan Sun duduk dengan perasaan cemas dan khawatir melihat kerajaannya berkobar diserang musuh.
Sang raja memerintahkan maha patih dan pasukan panah yang masih tersisa untuk menghujani anak panah ke hutan dataran rendah tempat musuh bersembunyi. Sementara pasukan gajah yang lain diperintahkan mengendalikan gajah yang mengamuk sebelum menimbulkan kerusakan yang lebih parah. Malam itu kerajaan Nusantara berkobar. Beberapa menara yang roboh dan pos penjagaan Nusantara terbakar. Tapi, kerajaan Filiphinos berhasil dipukul mundur setelah pasukan gajah dapat menunggangi gajahnya masing-masing dan menyerang balik musuh.
Sun dan permaisuri menetap sementara malam itu di persembunyian salah satu rumah tabib Labuhan Bato. Sampai kokok ayam pagi menandakan fajar menyingsing dan Sun terbangun dengan cemas.
“Ayo kita kembali ke istana, Bu.”
“Iya, anakku. Kita tunggu pasukan Gajah menjemput kita agar lebih aman.”
Sun tak mau makan sepagian itu karena diliputi perasaan tidak enak. Ketika rombongan pasukan gajah datang dengan gagah dan baju kebanggaan Nusantara, mata Sun sibuk mencari sosok gaduk di antara mereka. Maha patih Widjadja yang memimpin pasukan turun dari gajahnya.
“Paduka raja memerintahkan kami menjemput permaisuri.”
“Tunggu dulu, di mana Gaduk,” sergah Sun tak sabar.
“Gaduk berada di pekarangan istana, Tuan.”
“Benarkah yang dikatakannya, Ibu?” tanya Sun kepada Ibu tak percaya
“Benar anakku, mari kita pulang.”
Sun dan Permaisuri menunggangi salah satu gajah dan berangkat menuju istana. Terlihat dari jauh para pekerja sedang memperbaiki gerbang dan dinding istana yang rusak. Begitu permaisuri datang, sang raja Nusantara, menyambutnya.
“Wahai istriku, semalam kerajaan kita diserang tapi akhirnya berhasil dikalahkan. Meski banyak kerusakan di menara.”
“Aku bangga kepada raja, kepada pasukan, dan kepada rakyat yang ikut membantu kerajaan. Tapi, keselematanmu lah yang paling kukhawatirkan,” kata permaisuri sambil menuruni gajah.
Sun ikut turun dan berhambur ke pelukan ayahnya.
“Lihatlah, Nak. Tak ada kemenangan yang tak diperjuangkan. Inilah hasilnya.”
“Tapi, Ayah. Kenapa aku tidak melihat Gaduk?”
Lalu sang ayah terdiam. Memberikan kode mata kepada maha patih apa yang telah diperintahkannya. Sang maha patih mendekat kepada tuan Sun.
“Anakku, biarlah maha patih mengantarmu ke Gaduk.”
“Sejak semalam perasaanku begitu mencemaskannya.”
Begitu mereka menuntun Sun menuju pekarangan sama sekali tak terlihat Gaduk berada. Tampak di depan mata hanya gundukan tanah merah yang ditancapkan batu. Dengan hati-hati sang raja mengusap kepala Sun, sementara permaisuri menggenggam tangan putranya dengan kuat. Seperti dikomando maha patih dengan nada rendah memberitahukan sesuatu kepada Sun.
“Tuan, kini Gaduk sudah istirahat tenang di sini. Menemani Ibunya yang turut menjadi korban serangan semalam.”
Sang permaisuri dengan jelas mampu membaca kilatan cahaya di mata Sun terpantul saat lelehan air membanjiri kelopaknya. Dalam hitungan detik tangis Sun pecah disusul dadanya yang terguncang. Sang permaisuri memeluk buah hatinya, meski Sun memberontak. Lalu sang raja mengangguk pelan diikuti Ibunya yang melepas tangannya. Sun berlari dan bersimpuh di dekat pusara. Bening kristal berguguran dari matanya. Diikuti isak dan derai tangis yang membahana.        
Kemudian terdengar jeritan histeris kehilangan seorang putra raja Sun ke penjuru kerajaan. Semua penduduk kerajaan berduka. Lebih dari satu jam Sun tak beranjak dari pusara. Sang Ibu terpaksa kemudian menggendongnya menuju singgasana raja. Sun masih berselimut duka.
Sang raja Nusantara mendatangkan sirkus, pentas seni, dan tarian rakyat untuk menghibur sang putra, sama sekali tak membuatnya tersenyum. Apabila derai tangisnya mereda, Sun terlihat menutup diri dan berparas sayu. Tatapan matanya redup dan tak bersemangat.
“Ayah berjanji akan membuatmu bahagia lagi, Nak,” usapnya kepala Sun oleh sang raja.
 Seluruh kerajaan pun berstatus siaga duka darurat. Tidak ada yang boleh terlihat bergembira di mata sang raja. Rakyat pun terjangkit wabah kesedihan. Suasana kerajaan menjadi suram dan tak bergairah sama sekali. Lalu sang permaisuri memiliki ide kepada siapa pun yang membawa ramuan atau jamuan berhasil membuat Sun tersenyum maka dihadiahi jabatan, persawahan, dan perkebunan di bukit Way Kombos.
Kabar sayembara itu terdengar luas sampai ke hutan dataran rendah. Seorang petani yang ikut membantu menyerang musuh di malam itu menemukan sebuah benda berwarna kuning terang terjatuh dari atas pohon. Karena penasaran dibukanya kulit buah itu dan mulai memakannya. Rasanya yang manis, kulitnya yang mulus, membuatnya terpejam karena nikmat.
“Mungkin benda ini bisa membuat putra raja Sun tersenyum,” batinnya seorang petani.
Maka, petani itu melakukan perjalanan jauh menuju Filiphinos untuk mencari buah kuning berbentuk sabit itu. Hanya berbekal jalan kaki yang menempuh lima belas hari melalui lembah, hutan, bukit, serta lautan. Petani sampai ke negeri Filiphinos membawa kulit buah yang sudah layu.
“Permisi, saya mencari buah ini,” tanya seorang petani kepada penduduk Filiphinos
“Ini adalah buah Cavendish letaknya di kebun bukit di atas sana,” tunjuknya.
“Berapa lama buah ini bertahan?”
“Kondisi penyimpanan bertahan sampai 10 hari. Tapi, untuk menuju bukit itu hati-hati karena dijaga pasukan Filiphinos.”
Petani itu pun menyamar dengan pakaian daun. Dia naik ke atas bukit saat malam hari.  Tapi, dia tahu perjalanan darat 15 hari membuat buah itu tak mampu dimakan lagi. Sementara dia butuh banyak buah agar sang putra raja mampu tersenyum. Maka, Petani itu mendatangi rumah di tengah bukit. Sambil mengendap-ngendap petani itu mencuri bibit buah. Usahanya berhasil dan dia membawa bibit Cavendish itu ke tanah hutan daratan rendah. Dari tiga bibit yang dibawanya, dua bibit gagal tumbuh.
Petani itu bingung sambil berpikir semalaman. Akhirnya, proses produksi bibit dilakukan tidak sembarangan tapi menggunakan teknik kultur jaringan. Untuk mendapatkan bibit unggul petani itu pun menggunakan tanah dari dasar sungai Way Kombos yang diyakini memiliki unsur hara yang lebih banyak.

Setelah‎ siap tanam, bibit dipindah ke polybag. Setiap lubang tanah yang siap ditanami satu bibit diberikan pupuk kandang yang berasal dari kotoran gajah dan sapi. Dengan sabar pohon itu dirawat  dan beri air dengan cukup sampai 12 bulan berbuah. Buah Cavendish itu pun siap dipetik dan dibawa ke istana raja untuk dipersembahkan kepada tuan raja Sun.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba, petani dengan harapan besar membawa setandan buah Cavendish untuk diikutsertakan sayembara. Menghadaplah petani itu dengan pakaian terbaik.
“Wahai petani, apa yang kau bawa untuk putraku Sun,”
“Mohon paduka raja, hamba membawa buah 100% buah nusantara yang ditanam di Labuhan Bato,”
Sun tampak melirik buah berbentuk sabit berwarna kuning, tapi dia kemudian tertunduk lesu.
“Apa keistimewaan buah ini, petani?”
“Buah ini mengandung berbagai vitamin dan mineral seperti vitamin A, vitamin E, zat besi, magnesium, fosfor, folat, karoten, dan kolin. Yang paling penting mengandung 2 senyawa serotonim dan dopamin.”
“Selain petani kau pandai seperti tabib?”
“Saya mewarisi ilmu tabib dari generasi ketiga penduduk tepi sungai  Labuhan Bato.”
“Baiklah kalau begitu, saya terima buah kuning ini.”
“Buah itu saya persembahkan untuk putra raja, namanya buah pisang Cavendish Sunpride.”
Petani itu bersila di lantai. Sementara permaisuri mengamati pisang itu dengan penasaran. Kemudian raja menyiapkan pisau kecil untuk memotong dari tandannya. Sun melihat buah sabit itu lalu mengelupasnya. Belum pernah sama sekali dia merasakan buah yang bertekstur lembut itu.
Sang raja sekejap menunggu. Petani cemas memastikan. Sedangkan Ibunda Tropica menanti respons sang putra. Sun terpejam, sambil mulutnya bergoyang mengunyang.
“Mmmm….”
“Bagaimana rasanya, tuan?” tanya petani.
Sun masih melahap buah pisang itu lalu menelannya. Matanya kembali terpejam sampai ujung buah itu ditelan habis. Bahkan, Sun mengecap ujung jari dari sari pisang yang menempel ketika mengelupas kulitnya.
“Rasanya manis… luar biasa.”
Dalam hitungan detik, Sun tersenyum. Tak disangka Raja Nusantara bersorak saking gembiranya memeluk petani. Bunda Tropica bahkan sampai menitikkan air mata haru karena kembali melihat senyum buah hatinya setelah satu tahun lamanya.
“Terima kasih, Petani. Kau membuat matahariku kembali bersinar,”
“Senyawa serotonim lah yang membuat suasana hati Sun menjadi lebih tenang dan menghilangkan emosi negatif. Sedangkan dopamin memunculkan rasa puas,” jelas petani yang juga tabib itu.
“Apakah ini akan berlangsung lama? Kami khawatir esok putra Sun akan kembali bersedih.” tanya permaisuri
“Makanlah buah pisang ini 7 hari berturut-turut, maka bukan saja senyuman, tapi putra raja akan hidup dalam kebahagiaan, keceriaan, dan kesenangan seperti sedia kala.”
“Baiklah, sesuai janji kau diangkat sebagai tabib di istana serta mewarisi ladang kerajaan di Way Kombos untuk menanam buah ini lebih banyak.”
“Terima kasih banyak, Paduka. Buah pisang Sunpride pasti bermanfaat untuk rakyat. Wabah kesedihan akan lenyap dan semua penduduk akan bersuka cita menjalani hidup.”  
 Sejak itu, Sun menjalani kehidupan dengan ceria. Hari demi hari selama seminggu Sun memakan buah pisang dan mulai merasakan khasiatnya. 
Kesehatan dan kebahagiaan. 
7 Hari Diary Sun putra raja Nusantara makan pisang
Hari 1 = Setelah senyum, detak jantung Sun kembali normal. Pisang melancarkan peredaran darah. Pisang memiliki kandungan potasium dan kalium yang baik membantu mengatur tekanan darah. Hal ini dapat menekan risiko stroke yang menyebabkan timbulnya gejala penyakit jantung. Sun menjadi murah senyum dan ramah terhadap semua orang yang ditemuinya
Hari 2 = Sun menjadi rutin BAB karena pisang membantu pencernaan pada usus. Serat pada pisang sangat baik untuk mencegah sembelit. Setelah makan pisang di pagi hari, usai sarapan Sun akan buang air besar dengan lancar
Hari 3 = Mata Sun menjadi tajam dan sehat. Pisang menjaga kesehatan mata karena mengandung sejumlah vitamin A. Kandungan vitamin A yang cukup mencegah risiko kebutaan dan sangat untuk melindungi kesehatan mata
Hari 4 = Sun jadi lebih bergairah dan antusias. Pisang memberikan energi tambahan yang dibutuhkan dalam tubuh secara instan. Sun bisa lebih semangat berlatih dan belajar
Hari 5 =  Sun jadi lebih bugar. Pisang meningkatkan kekebalan tubuh karena banyak mengandung Vit C yang bermanfaat menangkal penyakit dan serangan bakteri jahat. Sun jadi lebih bebas bergerak dan tidak takut terhadap serangan dalam bentuk apa pun
Hari 6 = Sun jadi lebih kuat dan sehat. Pisang mengandung zat mangan yang penting untuk kesehatan tulang dan metabolisme tubuh. Sun tidak gampang sakit dan tubuhnya selalu segar,
Hari 7 = Sun jadi lebih ceria dan bahagia. Pisang mengandung senyawa triptofan yang berperan serotonin. Sun tidak lagi bersedih dan semua masalah dihadapi dengan seyuman
Sun senang dengan jamuan petani sehingga raja membuka ladang pisang seluas 3.500 hektare untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Bahkan, hasil panennya dikirim ke luar kota Jawa, Bali dan Sumatera. Pisang Sunpride dikenal berkhasiat mengobati berbagai penyakit seperti Anemia, Sembelit, Penyakit Jantung, mual pada wanita hamil, dan PMS (nyeri haid).
Produksi pisang Sunpride pun terdengar ke luar negeri hingga dataran Cina. Kini bukan saja buah pisang yang diproduksi tapi bertambah nanas, melon, apel, pepaya, dan buah lainnya. Karena beragam buah inilah Kerajaan Nusantara pun berganti nama menjadi Nusantara Tropical Fruit.
Putra raja, Sun pun diangkat menjadi raja dengan nama kebanggannya, “Sunpride” agar terus bersinar seperti matahari dan membawa banyak manfaat setiap hari.

Seperti apa pisang Cavendish Sunpride? Ini dia!





Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Ternyata Insidious 3 itu nggak serem, sepanjang film gue merem. Itu kalo nggak berani nonton film horor. Nah, selama nonton film ketiga ini gue dapat pengalaman banyak soal bagaimana film horror itu jadi serem di mata penonton.
Beberapa scene berhasil membuat gue teriak histeris, menutup mata sebelah, atau mencengkeram kursi dengan kuat. Bahkan, penonton yang lain ada yang walk out keluar dari bioskop. Entah, antara ketakutan atau kebelet pipis.
Gue mau menceritakan pengalaman nonton film ini, tapi gue nggak mau terjebak spoiler. Maka, bersiaplah untuk mengetahu hal apa saja yang perlu dipersiapkan.
Film ini banyak setting gelap, ini untuk memperkuat ungkapan, “Jangan main magrib-magrib, nanti diculik setan!”. Nah, ungkapan tersebut tepat karena berlaku juga dalam film Insidious 3. Kamu bisa bawa sarung ke bioskop untuk bersembunyi, kalo-kalo adegan mengejutkan datang.
Film ini pemerannya sama dengan film sebelumnya. Jangan marah kalo kamu yang mengikuti film dari Insidious 1 menemukan pemeran yang sama dalam Insidious 3. Bukan karena mereka malas untuk audisi casting tapi mereka dipakai lagi karena karakter mereka cocok dalam film. Maka, bersiaplah kecewa bagi kamu yang nonton film untuk mencari adegan sensual atau pemain yang ganteng.
Film ini hantunya modern. Hantu jenis yang stylis dan tahu berpakaian, tahu aturan berjalan dengan menapaki lantai, dan tahu cara ngagetin orang. Jangan bayangkan tiba-tiba dalam bioskop kamu bakal kerasukan. Tapi, kalo nonton terlalu tegang kamu tiba-tiba ditepuk pundaknya sama petugas biskop karena filmnya udah habis.
Film ini sejak awal bikin galau. Gimana tidak, ada pernyataan. “Semua orang pasti mati.” Film ini bikin kita cepet sadar bahwa hidup ini sementara, cepet insaf dan mendadak inget dosa, dan buat kamu yang punya utang jadi tiba-tiba ngelus dompet bawaanya pengin sedekah aja. Siapkan iman dan takwa, setelah hidup pasti ada kematian. Siapkan bekal untuk akhirat ya.
Intinya, kalaupun kamu nggak ngikutin dari awal jangan khawatir nggak bisa ngikutin film ini. Insidious 3 nggak bikin sampai bulu kuduk sikap lilin atau jantung berdegup dangdut, tapi sukses bikin kamu terkesiap!
(next baca part 2 ya, karena yang ini nggak mau spoiler)
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Kepulan asap putih cappuccino terhidang bersama guratan cemas menunggu. Memang, menanti selalu dekat dengan ketidakpastian. Kedai kopi yang biasa ramai, sore ini tampak lengang. Hanya satu dua orang saja yang terlihat memenuhi kursi. Bahkan, tak ada gelak tawa dari barista yang biasa dia temui kala memesan green tea latte seminggu yang lalu.
“Katanya, akhirnya kamu putus sama Bram. Gimana perasaanmu?” tanya Kinna khawatir.
“Iya, cowok brengsek jangan pernah dikasih hati, pake alasan nggak kuat LDR. Lagian aku mudah melupakannya.”
“Ya sudah kamu nanti ceritakan gebetan baru kamu ya,”
Kinna, menyesap bibir cangkir dengan pelan. Hatinya begitu cemas karena Melani tak kunjung datang. Dari waktu yang dijanjikan, bahkan dia sudah telat sekitar setengah jam. Hari ini adalah keputusan, tapi juga bercampur dengan keraguan. Melani mengabarkan baru pulang dari Australia dan membawa oleh-oleh. Sahabatnya itu bercerita telah menyelesaikan studi.
“Aku akan pulang ke Jakarta, melanjutkan mimpiku yang terunda,” ungkap Melani setibanya di bandara.
“Kamu tidak perlu banyak bicara, kita lanjutkan di kedai kopi langganan,” kataku
“Baiklah, aku pastikan datang di sana tepat waktu.”
Di antara detik yang mulai gugur dan daun-daun di sekitar kedai bahkan tak pernah layu karena terbuat dari plastik. Kinna menatap kosong kaca yang mulai berdebu. Di antara waktu yang terlewati selama ini bersama Melani, malam ini dia akan memutuskan sesuatu.
“Aku kangen kamu, kangen kekonyolan kita bersama,”
“Iya, di Australia nggak seru, temen-temen pada serius semua.”
Kinna kembali teringat perbincangan telepon bersama Melani. Sudut matanya terlihat mengkilat karena berkas bening membasahi. Pramusaji yang mengenakan seragam berwarna abu itu datang menghampiri. Dengan senyum ramahnya pramusaji menuangkan gula cair kemudian berlalu pergi. Secangkir kopi, angin sore, dan kenangan selalu dekat dengan ingatan yang menayangkan kejadian-kejadian di masa lalu.
Lalu pintu kedai terbuka disusul dengan Melani yang datang dengan memakai dress berwarna merah panjang dan belahan di bagian paha. Rambutnya yang terikat cepol membuatnya terlihat manis. Sepatu high heels hitam dan tas kecil itu digenggamnya erat. Tampak rautnya ceria dan menahan kerinduan yang teramat sangat.
Kinna bangkit berdiri. Melani semakin mendekat. Mereka larut dalam pelukan panjang. Kinna mengusap bahu Melani dan dibalas dengan guncangan pelan olehnya. Kini, dua sahabat yang terpisah dua negara akhirnya kembali dipertemukan.
“Akhirnya kita bertemu,”
“Iya, aku kangen sekali.”
Lalu Kinna mengacungkan tangan memanggil pramusaji dan memesan green tea latte kesukaan Melani. Terlihat Kinna menarik napas panjang. Telapak tangan terasa lebih dingin. Guratan cemas kembali tercetak jelas di keningnya. Melani hanya tersenyum puas memandang sahabatnya itu.
“Kamu kelihatan lebih kurus,” ungkap Melani.
“Kamu kelihatan jauh lebih cantik,” balas Kinna
Pramusaji datang dengan nampan dan gelas berisi minuman hijau. Sementara Kinna berusaha sibuk memutar cangkir karena cappuccino tinggal seteguk lagi. Melihat air muka Melani, Kinna jadi menahan diri. Dia membiarkan sahabatnya itu mengambil jeda untuk menuntaskan dahaga dan rasa lelah.
Waktu semakin gugur dan bunga plastik akan selalu terlihat sama. Tak ada yang bisa mengelak dari perubahan, termasuk bergulirnya waktu.
“Aku tidak punya banyak waktu,” Kinna membuka kalimat.
Lalu disingkapnya tangan sebelah kanan untuk memperlihatkan jemari sebelah kiri. Berkilau ujung batu berlian yang memantul oleh sinar lampu tersemat cincin di jari manis Kinna. Tak perlu waktu lama Melani mampu menangkap wujud benda itu. Sangat mencolok dan indah. Tak sadar Melani menyambut tangan kanan Kinna dan mengusapnya lembut. Disentuhnya cincin yang melingkar itu dan ditatapnya dengan nanar.
Kinna semakin cemas, tapi berusaha menyembunyikannya.
“Selamat ya, akhirnya kamu akan menikah,” kata Melani.
“Iya, terima kasih.”
Seolah Melani tak bisa membaca keresahan Kinna malah fokus pada jemarinya. Melani begitu terpesonanya dengan batu berlian di tangan sahabatnya itu. Angin sore semakin senyap. Bunga plastik di tepi meja tak sanggup menandingi indahnya cincin Kinna. Satu tegukan terakhir berharap mampu membasuh kebimbangannya.
Kinna menarik kursi mundur ke belakang. Mata berusaha tajam menatap sahabatnya. Sudut mata Kinna terbit seberkas bulir bening.
“Tapi, aku masih harus meminta restu.”
“Dari siapa?” tiba-tiba Melani tersentak
“Dari kamu,”
Melani masih menggenggam jari manis Kinna. Tangannya memutar cincin dengan hati-hati. Terukir nama, “Bram.” Langit seketika runtuh.




Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Bertahan di bawah terik siang membakar peluhku. Ada hela saat kudorong bongkahan kayu dan piring yang berserak. Toples kaca yang retak dan sendok terpelanting jauh. Di atas aspal, kita beradu. Aku melajukan baja besi sementara kakek tua mendorong gerobak. Hantaman keras awak mobil tak terhindari membentur dagangan es cendol.
Kakek tua tertatih tak sanggup berdiri. Aku mendekatinya. Kalau saja lampu di pertigaan itu tak mati. Mungkin, tragedi ini tak jadi berita. Kakek tua sesenggukan karena plastik hitam berisi lembaran uang pun jatuh. Aku melihatnya iba.
Semua orang berdiri menonton kami. Puluhan pasang mata menyaksikan sambil berdiri. Sementara tak ada satu pun yang membantu kakek tua. Lalu seorang pemuda berkalung kamera mengarahkan lensa kepada kami berkilat lampu menyilaukan.

Aku, terkejut melihat tubuhku masih berada di dalam mobil.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Menahan getir, membuang rasa khawatir memikirkanmu. Meski, hujan belum reda. Aku masih menunggumu di bawah payung merah di sudut kantin sebelah gerobak bakso. Iya, bakso kesukaan kamu. Setiap kali musim hujan, kita akan betah berlama-lama menikmati daging bulat yang empuk itu. Meski dingin, bersebelahan denganmu terasa hangat. Pernah, suatu kali kamu kesal karena semangkok bakso yang telah dipesan tidak ada kucainya. Kamu suka sayuran, aku suka daging. Kita jelas berbeda tapi bersatu dalam mangkuk yang sama.
Tukang bakso itu adalah kenangan. Sesendok teh sambel bisa membuatku kepedesan, berkeringat dingin. Kamu tertawa melihat ekspresi mukaku yang merah padam. Bahkan, cerita romantis kita ada di tukang bakso. Kamu pernah menitipkan surat ketika tukang bakso lagi mencacah sawi sebelum dicampurkan ke dalam kuali yang panas. Surat itu aku ambil sepulang dari sekolah begitu memesan satu porsi dibungkus.
Kamu, lebih menikmati bakso selagi hujan. Kupikir, apa bedanya? Aku lebih menikmati semangkok bakso ketika bersamamu. Meski aku membeli baksonya saja, tanpa kuah dan sayur. Kemudian seperti anak kecil, aku membeli biji baso yang kecil ditusuk ke lidil. Tukang bakso punya resep sendiri ketika memberi bumbu sate bakso milikku. Biar tidak terasa pedas, mang bakso memberikan lada. Lalu dguyur kecap manis dan sedikit air cuka.
Apa yang kamu pikirkan dengan semangkuk bakso. Ketika mang bakso sibuk melayani pembeli lalu aku menunggu giliran sambil menantikan kedatanganmu. Semangkok bakso lebih dari sekadar kenangan untuk memikirkanmu.
Hujan belum reda, tukang bakso pun sibuk mengaduk-aduk kuali. Biasanya, kamu memesan semangkok bakso bening tanpa sayur dan bihun. Kamu menyebutnya bakso polos. Aku lebih suka menyebutnya bakso kesepian. Hanya biji baso berendam di kuah bening tanpa kecap maupun sambel. Hanya sedikit terasa asin dan gurih berkat taburan bawang goreng.
Saat itu, kamu mengomentari gambar ayam di mangkok yang tak pernah berkokok. Padahal, dia sendiri dan selalu kesepian. Kataku, mereka tak pernah kesepian karena selalu ditemani tukang bakso. Bahkan, sampai sekarang kamu tak pernah mau menyebut nama tukang bakso itu. Kita hanya menyebutnya, Mang Bakso. Selain karena tipikal mukanya yang bulat, sikapnya pun sehangat kuahnya. Aku pun kurang lebih banyak memiliki kemiripan dengannya.
Menantikan hujan reda berdiri di sebelah gerobak bakso, jelas membangkitkan kemesraan kita saat berlari menghindari hujan. Berdiam diri menunggu jemputan sambil duduk memesan semangkok bakso. Bahkan, pernah suatu hari kita berbagi bakso dalam satu mangkok. Itu rasanya lebih romantis saat aku menikmati bihun di salah satu ujungnya, dan kamu menyeruput ujung bihun lainnnya. Mata kita bertemu dan berkedip-kedip karena asap bening panas kuah bakso. Lalu, kita tertawa. Tertawa bahagia.
Caramu memakan bakso, kedipan matamu saat menahan panas sebelum sesuap kuah bakso masuk ke dalam mulut. Membuatku merinding mengenangmu. Biasanya, ketika musim hujan kamu lebih rela basah karena tak sempat berteduh untuk mengejar tukang bakso sebelum pergi. Tukang bakso favorit kita akan berkeliling jika jam sekolah habis.
Tapi, perasaanku tak pernah habis. Semangkok bakso bisa jadi cara bagiku untuk mengekalkan bayangmu dalam kerinduanku.
Ada saat merindukanmu begitu menyenangkan sambil menunggu hujan reda di sebelah gerobak tukang bakso, sambil membayangkan kehadiranmu. Lantas aku tersenyum bukan karena mengingat tempat favorit kita, tapi obrolan kita. Tentang filosofi bakso. Bedanya bakso urat dan bakso daging. Bedanya pakai bihun dan mi kuning. Bedanya, bakso berkuah dan bertusuk kayak sate. Kita bicara banyak, bakso bukan sekadar makanan. Bakso adalah kenangan.
Jika hal sederhana mengingatmu menyunggingkan senyum, kamu berhasil membuat garis lurus bibirku melengkung menerbitkan seulas senyum yang menawan. Aku di sini, tepat di sebelah gerobak tukang bakso akan selalu berusaha membuatmu senang. Seandainya, kau di sini masih menyukai semangkok bakso kenangan. Meski kau tak bisa kumiliki. Meski kau hanya berkas asap bening yang mengepul ketika tutup kuali dibuka dan diterbangkan angin, tak mampu kugapai.
Aku akan selalu di sini, membantu mang bakso mencacah sayur kucai dan menaburkan serpihan perasaanku untuk semangkok bakso yang kamu pesan. Persembahan dariku, ketulusan hati untuk terus membuatmu tersenyum menikmati hidangan bakso. Bakso jualan aku dan ayahku.


Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Bagaimana rasanya ketika hati tak lagi menemukan ruang untuk singgah, bahkan untuk ditempati. Jika pada akhirnya hati tak lagi memilih melainkan pergi. Aku bisa membaca jelas sorot matamu yang begitu dingin memandangku. Padahal, kemarin kau masih ceritakan kisah roman picisan yang berakhir bahagia. Lalu kenapa itu tidak terjadi pada kisah cinta kita?
Aku menggenggam tanganmu melingkarkan jemari untuk merasakan hangat telapakmu. Seandainya kamu tahu, debar dada yang membuncah selama ini sama sekali tak berkurang. Kau memandangku tapi kosong. Aku tak menemukan lagi rinai hujan membias di matamu.
Mengingat, saat-saat kau berlari menghindari gerimis hujan dengan tumpukan buku di atas kepala. Aku rela menunggumu lebih dari sejam. Hanya untuk memastikan kau datang di halte yang dijanjikan.  Bisa dipastikan langit masih mengabu karena mendung menyelimuti. Aku ingin melihatmu untuk terakhir kali.
“Sampai kapan hujan ini mereda?” tanyamu dengan paras begitu cemas.
“Mungkin, sebentar lagi. Biarkan kita menikmati sisa hujan,”  kataku.
Aku ingin membekukan waktu dan berharap pertemuan ini terulang kembali. Meski akhirnya aku tahu tak ada lagi pelukan. Tak ada lagi senyuman. Taka da lagi sebentuk kecil perhatian. Kau seutuhnya kukenang dalam ingatan. Jejak dirimu tergambar dalam tayangan panjang film dalam imajinasiku. Kau sama sekali tak akan hilang.
Kita berdiri bersisian sementara hati tak lagi beriringan. Meski, dulu kita terjalin rasa tapi hal ini tak berlangsung lama. Kau memandang jalanan yang basah. Aku berdiri di antara tepian hati yang sebentar lagi terpisah.
“Mengapa kau tega melakukan ini?” tanyaku lagi.
“Bukankah pada akhirnya, kita juga akan berpisah. Meski dengan cara yang lain.” tambahnya.
Aku masih sempat melihat parasnya yang lembut dari ekor mataku sambil mencuri pandang. Kau sama sekali tak membalas. Genggaman tangaku tak juga kau jabat. Aku membayangkan bagaimana rasanya menari di bawah hujan bersamamu. Sementara, hal itu tak mungkin terjadi.
“Apakah kamu masih mencintaiku?” tanyaku lagi dengan getir.
“Masih.”
“Lalu, kenapa kau memutuskan untuk berpisah?”
Kau terpaku, tak lantas langsung menjawab. Sambil menarik helaan napas dan udara dingin kau berusaha membaca pikiranku. Aku menggigit bibir bawah menahan gemas menantikan jawabmu. Jika saja hujan akan berakhir. Harusnya perasaanku ikut berakhir sementara rasa sayang itu masih ada.
“Cinta datang dan pergi, seperti hujan. Barangkali begitulah perasaanku.”
Rintik hujan masih terdengar mengalun di atas atap halte tempat kita berteduh. Menepikan hati yang sebentar lagi jatuh. Sementara cinta harus berakhir. Perasaan pun semestinya disudahi. Adakah hati yang bisa memaksakan diri jika nyatanya masih memiliki cinta.
Hal itu masih jadi tanda tanya. Kita bergenggaman tangan. Hati kita sudah berseberangan jalan. Pandangan mata pun berbeda ke depan. Meski kita berdiri di bawah langit yang sama, tapi sudah berbeda arah dan tujuan.
“Tak semestinya cinta kita berakhir seperti ini,” kataku.
“Saat hujan berhenti, tak ada lagi kita.”
Haruskah kucari alasan untuk berhenti mencintai, sementara mencintaimu tak butuh alasan, melainkan ketulusan. Garis tipis antara gulita dan cahaya melukiskan langit mendung tak disinari pancaran mahatari. Semoga ada pelangi setelah hujan.


Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Malam kian ranum tatkala ibu masih rebah di atas kasur. Sudah tiga malam, ibu tak angkat bicara. Parasnya pias nan muram. Aku cemas dan khawatir. Duka lara apa yang Ibu simpan seorang diri. Beliau tak juga membagi kisahnya kepadaku. Di antara malam-malam yang lain biasanya ibu selalu mendendangkan cerita untuk mengantarkanku tidur. Tapi, kini sudah tak ada lagi. Ibu hanya mengurung diri diam di kamar.
Setiap malam, ibu akan beringsut di balik selimut dan bersembunyi dari terangnya lampu. Beliau selalu menyuruhku membuka jendela agar cahaya bulan bisa masuk. Aku pun termangu menatap langit yang bertabur bintang mempertanyakan Ibu. Sejak tak ada kabar dari Ayah, ibu jadi pendiam seribu bahasa. Sepertinya, beliau berhenti untuk bicara.
Lalu, ketika malam beranjak larut. Samar-samar aku mendengar sesenggukan dan isak tangis tertahan dari dalam kamar Ibu. Kamar yang seharusnya juga diisi oleh Ayah itu kian sepi. Aku merapatkan telinga ke dinding berharap mendengar curahan hati ibu rerdengar di antara derai tangis yang pilu. Sebaliknya, tanpa pengantar dongeng dari Ibu, mataku jadi tak bisa terpejam. Aku selalu terjaga meskipun telah larut malam.
Malam itu, tak ada suara isakan tangis. Purnama kian ranum. Semilir angin berembus masuk melewati celah ventilasi di atas jendela. Derap langkahku terdengar. Dari balik pintu dengan debar dan ragu, aku putar tuas pintu. Hanya terdapat selimut yang menutupi seluruh badan Ibu. Aku bahkan, tidak bisa melihat parasnya. Dengan bersijingkat, aku terpana melihat butiran-butiran Kristal berserakan di lantai kayu rumah.
Dari manakah semua Kristal itu berasal, apakah perhiasan ibu?
Lalu, kubuka jendela agar sinar purnama bebas menyelinap masuk. Aku pun dapat mengintip bintang dari kamar Ibu. Kupungut satu per satu Kristal yang berserakan di lantai. Kumasukkan ke dalam kain kecil tempa biasa kusimpan kacamata dulu. Ibu masih tergolek di atas kasur berselimutkan kain perdu. Aku mendekatinya penuh hati-hati tanpa bersuara.
Aku tak mau mengusik tidurnya barangkali terganggu. Namun, mataku terperanjat begitu kusibakkan selimut dari tubuh ibu. Ibu meringkuk lemas memeluk lututnya sendiri, sambil merintih. Lirih isakan itu tak terdengar tapi matanya begitu terpejam. Lalu, dari matanya keluar butiran kristal-kristal berkilauan yang berserakan itu. Sedu-sedannya memang tak terdengar. Tapi, air matanya berganti dengan kristal-kristal yang kukumpulkan. Beliau tak bersuara, tapi kuyakin kesedihannya tak terkira
Aku duduk di tepi ranjangnya sambil menyeka pipinya perlahan. Mengusap punggungnya. Kesedihan membuat air mata jatuh tak berkesudahan.
Sudahlah, Bu. Meski ayah tak pernah pulang lagi sejak peristiwa pesawat itu. Cinta Ibu begitu besar untuknya. Berhentilah menangis, Bu.
Aku memeluk Ibu dalam dekapan yang begitu erat. Ibu menggenggam secarik foto Ayah. Aku pun mendendangkan kisah kepada Ibu tentang arti cinta yang begitu besar, penantian seorang Ibu yang ditinggal ayah pergi tak kembali. Lamat-lamat dalam hati aku berdoa. Semoga masih ada kesempatan untuk bertemu ayah, meski tak mungkin.
Lalu, aku menutup jendela. Menyalakan lampu kamar. Merias wajah ibu dengan bedak. Memulas lipstick merah di bibir ibu yang pucat. Meski, aku tak yakin. Masih adakah harapan untuk kita.


Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Udara ibu kota tercemar polusi ketika pedagang gemblong mangkal di tempat biasa. Karbon monoksida bercampur di udara. Bising deru kendaraan yang bergegas saling menyalakan klakson. Di tengah hiruk pikuk klakson dan padatnya jalanan protocol Jakarta, terjadi sebuah kecelakaan. Seorang bapak yang pulang dari rutinitas bekerja, mobilnya tak sengaja menyenggol motor yang melaju kencang. Begitu mobil bapak itu menyenggol, motor langsung tak terkendali dan jatuh. Seorang anak yang kebetulan tak memakai helm itu tersungkur dan kepalanya menghantam bahu jalan. Darah merah langsung tercecer di tepi jalan.
Sore hari yang macet itu, seorang anak terkapar di tengah jalan. Pelipis kanannya berdarah. Tak ada yang mengenali anak kecil itu. Pakaian lusuh dan celana pendek yang dikenakannya tampak kumal. Dilihat lebih dekat, celana itu adalah seragam sekolah. Tak jauh dari anak kecil terkapar, teronggok sepeda motor. Sebelahnya mobil mewah terparkir begitu saja. Kemudian tergesa-gesa bapak-bapak berpakaian kemeja rapi dan berdasi keluar dari mobil mewah itu. Tangan kanannya masih menggenggam gemblong. Dengan raut pucat pasi dan keringat dingin bapak itu mendekati anak yang terkapar. Anak itu lemah tak berdaya. Dia tak sadarkan diri. Motor yang berada tak jauh darinya terlihat rusak parah. Bahkan stang kemudinya bengkok. Bapak itu langsung terduduk dengan perasaan kacau.
Dia tak mengira anak itu sudah tak sadarkan diri. Suara klakson mobil di sekitarnya semakin membuatnya cemas. Dalam perjalanan pulang seperti ini kemacetan memang tak terhindari. Tapi, siapa sangka melaju sepeda motor yang menerobos dan menyalip di antara sela-sela padatnya mobil. Menyedihkan, bapak itu masih ingat detik-detik sebelum bumper depan mobilnya menyenggol motor yang membuat oleng dan jatuh. Dengan panik, dia mengeluarkan handphone untuk melakukan panggilan darurat panggilan ambulance. Tetapi, di tengah kemacetan seperti ini tak mungkin bantuan segera datang.
Siapa sangka, anak kecil yang terkapar dan berdarah di pelipis kanannya adalah seseorang yang sangat ia cintai. Padahal, baru kemarin rasanya bapak itu menghabiskan waktu bersama anaknya sendiri. Baru kemarin, tepat di akhir pekan bapak itu menghadiahinya sepeda motor. Bahkan, dia rela membatalkan janji meeting besar perusahaanya demi bertemu anaknya yang baru naik kelas. Tak ada yang tahu, gemblong di tanganya masih tergenggam. Tak jauh dari kemacetan itu, tukang gemblong masih berjualan seperti biasa. Tak ada yang tahu gemblong yang dimakan bapak itu, tercemar polusi. Gemblong yang dimakan mengakibatkan daya konsentrasi bapak menurun dan memicu kecelakaan tunggal sore ini.
Ternyata, tak ada yang tahu gula yang dipakai untuk membuat gemblong adalah gula kimia yang berbahaya. Tak ada yang tahu cinta yang begitu besar tak mampu mencegah datangnya kematian dan celaka.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Terakhir yang kuingat adalah genggaman tanganmu, kilatan basah di matamu. Saat, aku tahu kau akan pergi tanpa meninggalkan pelukan.  Kau begitu ketakutan, menaiki wahana ini. Aku menggenggam tanganmu erat. Kau bilang akan pergi jauh, sehingga aku ingin hari pertemuan terakhir kita begitu berkesan.
“Aku takut ketinggian.”
“Aku jauh lebih takut kehilanganmu.”
“Kenapa kau mengajakku ke sini?”
“Agar kamu tahu seberapa besar ketakutanku kehilanganmu.”
Kau bilang, akan kuliah di luar negeri. Dari puncak bianglala aku bisa melihat pemandangan kota. Aku bisa melihat resah yang menggelayut di parasmu. Dan seolah luka menanti di depan mata. Aku mendekatkan diri dan merapatkan bibir untuk mengecup keningmu. Aku tak ingin dilupakan.
Begitu berada di puncak, kau terkejut setangah mati. Debar itu terasa begitu tanganku menyentuh lehermu.
“Kelak, kamu akan tahu begitu beratnya merindukanmu.”
Mungkin aku tidak akan mendapat pelukan, tapi aku akan mengecupmu lebih lama, sampai wahana ini berhenti. Atau detak jantungku berhenti.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Sebut saja Supri, dia sangat mencintai Ningsih. Setelah dua tahun berpacaran rupanya kantor menugaskan dinas keluar negeri ke Jepang. Ningsih mendengar kabar itu dengan senang bercampur sedih. Senang, karena akhirnya Supri mendapat promosi jabatan dan naik secara finansial. Tapi, dia juga sedih karena harus berpisah jauh dengan Supri.
Supri akan menjalani long distance relationship dengan Ningsih. Hal itu berarti Supri harus mempersiapkan hati sekuat baja dan kesabaran setebal tembok Cina.
“Ningsih, aku akan pergi jauh.”
“Iya, Bang. Aku juga tak sanggup melepasmu pergi.”
Kemudian mereka berpelukan sangat erat di bandara, kayak biskuit oreo. Ningsih yang ke mana-mana selalu diantar dan dijemput oleh Supri merasa kehilangan tukang ojek langganan. Supri dengan jaket kulit hitam yang sudah mengelupas, pun harus menghadapi kenyataan ini.
“Ningsih, ini jaket abang satu-satunya. Simpan ya layaknya hati abang.”
“Berarti hati abang udah jelek, dong.”
“Nggak apa-apa, jelek-jelek sayangnya sepenuh hati.”
Ningsih tersipu malu sambil menggerak-gerakkan ekornya. Ekor matanya. Ningsih yang suka menghangatkan Supri selama ini pun tak mau kalah memberikan cinderamata. Belum sempat Supri menarik napas, Ningsih mendekapnya. Kemudian kedua tanganya menyusup ke balik bajunya. Menyentuh punggungnya.
“Ini akan menghangatkanmu di perjalanan.”
“Terima kasih, Ningsih.”
Ningsih masih mengusap-usap punggung Supri untuk kali terakhir. Semakin lama dekapan pun semakin erat.
“Rasanya, kini jadi panas ya, Ningsih.”
“Iya, Bang.”
Hidung Supri mulai menghidu aroma ganjil dan terlihat tak nyaman. Dia meregangkan pelukan Ningsih.
“Abang malu ya, dilihatin banyak orang di bandara seperti ini.”
“Bukan, pelukan kamu biasanya hangat. Sekarang terasa panas membakar kulitku.”
“Iya, bang biar awet selama di jalan.”
“Emang, kamu pake apa, Ningsih?”
“Balsem hot, Bang.”
“Cukup, Ningsih.”
Mereka kemudian berdiri saling berhadapan. Di bandara, ruang tunggu. Mereka seakan ingin membekukan waktu. Detik jam terasa begitu cepat seperti kilatan pesawat jet.
“Semoga pesawatnya delay,” ucap Supri dalam hati.
Ada keheningan tercipta. Ningsih menyentuh pipi Supri dengan lembut. Mata Supri berkaca-kaca. Bening Kristal itu tak sanggup dibendungnya.
“Kamu jangan bersedih meninggalkanku, Supri.”
Supri masih terisak. Bulir bening itu akhirnya menetes. Getir itu tergambar jelas di raut  wajah Supri. Ningsih semakin lembut mengusap pipi Supri.
“Abang harus kuat, ya.”
Supri mengangkat dagu. Disedotnya cairan bening yang mulai menggumpal di lobang hidungnya.
“Panas, Ningsih. Tanganmu bekas balsam panas!”
“oh… oh, maaf, Bang.”
Supri pun mengusap sisa air mata dengan lengannya. Lalu lalang orang di ruang tunggu semakin sepi. Satu per satu masuk ke dalam pesawat. Ini adalah momen mengharukan melapaskan pergi seseorang yang begitu dicintai.
“Abang jangan lupa ngabarin aku, ya.”
Supri hanya menggangguk lemas.
“Ingat, Bang. Chat aku harus dibalas. Sudah cukup cintaku dulu pernah tak kau balas.”
Supri menggangguk cepat. Kemudian hening lagi. Tangan Ningsi menggenggam Supri, menggenapkan sela jemari dengan erat. Seolah jabatan tangan terakhir kalinya.
“Abang, boleh kau memenuhi permintaanku?”
“Apa saja, boleh untukmu Ningsih.”
“Aku mau ngupil, tapi tanganku bekas balsam. Bolehkah aku meminjam jarimu untuk mengupil?”
Supri langsung tari saman. Kemudian dia duduk di antara dua sujud cukup lama. Ningsih pun mengurungkan permintaan itu.
“Aku cuma minta kamu setia, Abang.”
“Baik, aku pegang janji dan amanat untuk setia kepadamu.
“Kita seperti adegan AADC di bandara ya.”
Supri hanya tersenyum simpul. Dia menunduk mengambil tiket dari tas yang diletakkan di lantai. Akan tetapi, seperti geluduk di pematang sawah dan menyambar tiang listrik kemudian roboh menimpa warung di pinggir jalan, ternyata Supri sedang makan mie goreng di warung itu. Dia kaget bukan kepalang matanya tertuju pada jari manis Ningsih. Jari itu sudah tak lagi dilingkari cincin pemberian Supri. Melainkan cincin lain.

Supri sedih berlinang air mata. (lanjutkan ending cerita ini versi kamu dalam kolom komentar)

*kisah Supri dan Ningsih ada di buku #Relationshit Alitt Susanto
Share
Tweet
Pin
Share
15 komentar


Cinta selalu saja menyuguhkan cerita. Seperti dua pasangan yang bersama tapi tak bisa menyatu. Atau dua manusia yang mengikat janji tapi tak ditepati. Masih ingat kan di mana pertemuan pertama berama dia? Hal-hal kecil tentang dia yang selalu terkenang. Menerbitkan benih-benih senyum seorang diri. Membayangkannya saja melegakan hati.
Tapi, siapa menyangka cinta juga memuat prahara. Cinta menjadi rumit, mengartikan rindu yang tak lagi sederhana. Menerjemahkan sikap yang tak lagi terarah. Mengertikan pembicaraan yang berujung pertengkaran. Cinta menyalakan sumbu percikan api, membakar seluruh gelora asmara yang ada. Kini, perasaan itu kian padam.
Meski, jarak bukan halangan. Waktu kembali mengancam. Intensitas terbatas jadi pemicu keharmonisan hubungan. Rentang lama cinta merajut rindu tak menjadi ukuran karena cinta soal perasaan. Cinta soal tanda tanya. Soal bahagia. Jika tak kunjung datang, selalu meneguhkan keresahan batin tak terkira.
Bukan jauhnya bentangan jarak di antara kita yang membuat sulit menggenapkan rindu dalam genggaman tangan. Bukan pula lawa waktu kita habiskan bersama menikmati sisa pelukan yang panjang. Bukan pula pengertian yang berseberangan tentang persepsi mimpi dan bahagia. Tapi, kita sudah tak lagi sejalan. Kita tak lagi jalan bersisian. Kita tak lagi sama.
Seolah, hati kita semakin menjauhkan diri. Berpaling dan memilih pergi.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  Maret (2)
      • Surga dari Hongkong!
      • Moammar Emka's Jakarta Undercover: Sex Supermarket?
  • ►  2016 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (45)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (16)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (59)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (9)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (116)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (16)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2010 (39)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (12)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates