Sedekat ini hatiku tak berdetak karena aku tak sanggup mengelak. Ketika kau mulai ragu dan aku tak bisa meyakinkanmu lagi. Cinta adalah secawan anggur yang memabukkan, kemudian kau bagi seteguk denganku. Kita dimabuk asmara. Aku pun menggenggam tanganmu erat, seperti hatiku yang berhasil kau jerat. Aku yang termangu telah terjebak candu sementara hatiku terselimuti samudera rindu. Cinta membiarkanku tenggelam, tak pernah ada kesempatan untuk terpejam. Mimpi hanya sekadar ilusi. Hidup tak lebih dari rangkaian cerita tentang cinta. Bahkan bisa berakhir tragis tanpa henti untuk menumpahkan tangis. Rela ketika sang kekasih harus pergi sementara hatimu hancur karena pikirnmu kehilangan kendali. Romantika hidup. Ada kisah, seperti ciuman panjang tanpa jeda sambil matamu terpejam. Ada gelora dan hasrat untuk hidup bersama tak pernah sama dengan jalan realita. Biarkan ini semua terjadi, memandang sekelilingmu bahkan pernah kau salahkan pencipta. Dimanakah diantara cinta yang ada mampu bertahan abadi. Ketika perasaanmu membutuhkan sandaran bahwa hati tak pernah percaya pada jarak, tapi lebih percaya pada kedekatan. Pada cinta. Ada hati yang patah, ketika kau tak mampu lagi mengarungi samudera. Aku tak berani bersumpah. Cinta bukanlah segalanya. Karena hidup bukan saja tentang cinta, tapi tentangmu sayang.
Aku disini, dia disana. Sebelumnya dia bilang padaku, ingin datang padaku. Aku yang memintanya datang. Karena aku ingin memberikan sesuatu padanya. Sebenarnya aku pun tahu, dia berhalangan. Ada acara yang tak bisa ditinggalkan. Dari situ, menyulut kekesalanku. Aku biarkan dia bertanya-tanya. Aku biarkan dia cemas. Aku biarkan dia khawatir. Awalnya kukira dia batalkan pergi. Karena aku tahu acara itu penting baginya. Tapi selain itu aku tak tahu apakah dia benar-benar membatalkan datang acara karenaku. Karena kesalahanku. Dan semua itu terjadi begitu cepat. Aku tak menyangka. Dia pun pergi, membatalkan janji dan hendak menemuiku. Lantas, di perjalanan. Ketika hujan lebat mengguyur dan jalan basah. Terjadilah kecelakaan. Saat kudengar kabar, hatiku runtuh. Tubuhku jatuh. Aku tak berdaya, dan aku benar-benar tak sanggup. Aku harusnya tak memaksakannya datang. Berita itu baru kudengar sedikit terlambat, dari seorang yang berusaha menyelamatkanya di jalan. Dan aku tak memiliki kesempatan lagi melihatnya untuk terakhir kalinya. Karena dia telah meninggal. Aku tak sanggup berbicara. Aku tak sanggup. Selama berhari-hari aku tak sadarkan diri. Selama berhari-hari hidupku tak normal kembali. Aku kehilangan kesadaranku. Aku kehilangan separuh jiwaku. Tidak ada yang lebih sakit dari penyesalan ini karena telah membuatmu pergi. Aku tak pernah bisa berhenti menangis, karena rasa bersalah. Betapa tidak, ketika itu aku memang kesal padanya, namun tak sepantasnya aku begitu. Aku tahu, aku terlambat untuk menyadarinya dan menyesal sejadi-jadinya setelah semuanya terjadi. Orang yang kusayang, akhirnya pergi. Tanpa pamit. Untuk selamanya. Butiran bening itu menjadi banjir yang melanda dan membasahi pipi. Aku tidak bisa menebusnya dengan apa pun. Aku Cuma bisa berdoa sambil berlinang air mata, orang yang kucintai telah pergi sebelum benar-benar datang. Aku telah membuatnya pergi di saat aku benar-benar menginginkannya datang. Maafkan aku sayang. Aku selalu mencintaimu.
Bunyi denting terasa di telingaku, kau pun berbisik. Semalam, kau begitu mesra. Aku pun suka. Tawa yang terlepas dari jeruji beban dan nestapa, menggelegak canda. Kau pun mengelus-elus penuh kelembutan. Cinta, bisa berbagi. Ada kehangatan. Kau pun semakin ranum. Aku ingin sekali menggigitmu lalu menikmatinya. Senyawa yang basah, kemudian melekat karena tubuh kita merapat menyatukan gemuruh yang tak tertahan. Kau terpejam karena pulas sementara matamu tertutup karena aku tak lepas memandangimu, terpesona. Ada bias tak terurai, semacam rasa bahagia. Rona yang tak pudar di atas selilokui. Pelangi karena jingga. Bahagia karena cinta. Setiap sudut tak menyisakan celah. Jika ini adalah bagian cerita. Aku ingin menjadi bagian akhir yang bahagia. Siapa tak menyangka, semua jalan cerita tak pernah pasti berhenti di titik mana. Sementara kau belum siap menerima kenyatan berbeda. Aku hanya bisa memandang sambil menyunggingkan senyum, diantara kekecewan masih ada harapan. Penantian tak pernah tiba pada kata terserah. Aku adalah milikmu.
Kau tahu, aku tak pernah meminta untuk dilahirkan. Aku tak pernah diberi kesempatan untuk memilih. Dimana aku dilahirkan. Maka, setelah sekian lama hidup. Tentu aku ingin segera mati. Berapa banyak orang sakit hati, merasa terbuang dan percuma. Sekian banyak perasaan terhempaskan takdir. Begitu banyak pasangan pecah dan bercerai. Tak ada yang bisa menyatukan kedua insan kecuali pertemuan. Pun berakhir dengan perpisahan yang tak terelakkan. Dimana cinta, adakah bisa membuat semuanya menjadi bersatu kembali. Ketika dunia menjadi arena sandiwara dan perasaan dengan mudah dipermainkan, diperankan. Hatiku jatuh, kutemukan seonggok kesedihan menggantung di suatu malam, tetesan air mata yang tak terdengar jatuh. Kau pun tahu, berapa banyak kesedihan dan tangis menggema tak pernah terdengar kecuali sayup-sayup angin yang mulai merenda tabir kerinduan menjadi peredam rasa sakit dan kecewa. Disini, aku tak tahu. Bagaimana menghentikan pergantian waktu, semua bergilir dan berputar. Kau campakan aku. Tega. Aku hanya bisa berbincang dengan hatiku, semacam berbisik. Lalu terdengar lirih dan menyentuh. Air mata pun mengalir karena kesendirian. Kenangan menjadi duri yang merobek hati. Ingatan akan kisah yang indah menjadi perih untuk dinikmati, terlalu terluka. Untuk apa, lebih baik dilupakan. Akan tetapi semakin kau paksa diriku lenyap dari ingatanmu, hatiku telah bersemayam lama. Kau tak pernah menemukan tempat, kecuali mati. Ragaku terpasung luka akan cinta yang telah membunuhku, perlahan.
Kalau suatu saat aku merasa lelah. Merasa semuanya tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Tak ada jalan dan kulihat hanya kegelapan di sepanjang jalan. Aku pun merasa lelah membahas cinta. Ketika cinta tak mampu berjalan searah dengan takdirku. Aku tak tahu harus berkata apa. Apa aku bisa mengucapkan sepatah kata lagi tentang cinta. Bahkan hanya sekadar mengeja. Aku tak yakin bisa meraba ataupun menyentuhnya. Apa aku akan melupakanmu, atau bisa mengusirnya dari ingatanku. Aku tak begitu yakin. Ketika aku menyerah dan kau menjadi orang lain. Mungkin semua tampak tidak menarik lagi bagiku. Tidak ada aroma yang membangkitkan gairahku, seperti peluh yang menempel tubuh. Aku kehilangan energiku. Seperti kehilangan daya untuk menyalakan lampu, atau listik untuk membangkitkan kota. Mendadak langit padam dan kota menjadi mati. Gelap. Mungkin pikiranku kalut dan tampak suram. Mukaku berubah muram dan aku semakin tenggelam. Entah, tidak ada kerinduan dan kehangatan pagi. Atau seperti kehabisan mimpi dan setiap malam hanya terlihat gelap. Tak ada riak tawa dan senyum mengembang yang terbentuk karena bibirku menjadi datar seperti garis lurus horisontal. Mataku pun sendu seperti sembab karena terlalu banyak membendung air. Bahkan, air mataku menyurut dan dangkal seperti air laut tertelan bumi. Kemudian tidak ada jabat tangan ombak kepada pasir memberi salam. Tak kecupan hangat dan lambaian tangan. Kehidupan seperti daun yang tertiup angin, bergoyang dan jatuh. Terbuang, kemudian terhempas. Entah, siapa yang akan memungut dan menyimpannya. Atau sekedar jatuh dan terlupakan. Seperti sebuah surat yang diantarkan ke tengah lautan tanpa alamat. Sisa hidup mudah terombang-ambing, timbul lalu tenggelam. Aku tak mau itu terjadi.
Tiba-tiba, aku ingin sekali mati. Lelah, untuk bertahan pada suatu arti yang tak bisa kuyakini. Semua cerita indah hanya bisa kusaksikan dalam cerita film, atau cerita indah romantika dalam novel. Atau bahkan bualan-bualan penyair yang merayu hingga mendayu-dayu. Hidup tak seperti itu. Kenyataan membuatku berdiri pada satu titik dalam waktu yang sama. tidak ada yang menarik. Selebihnya konflik. Atau Cuma intrik. Hidup penuh kepalsuan. Fana. Tak ada keabadian. Petunjuk selalu mengarah pada benar dan salah. Kemudian berkilah. Setiap orang percaya pada kebohongan, pada cerita. Tidak ada yang percaya. Semuanya tenggelam pada dunia maya. Dunia nyata tampak semu dan membosankan. Aku tak bisa mengisi kepalaku lagi dengan hal-hal lain. Penuh sandiwara. Kepribadian pun kini menjadi ganda. Terkadang seseorang bisa menyulap dirinya menjadi sangat baik dan memesona. Terlihat cantik dan menawan. Tidak ada ketulusan dan kemurnian. Semuanya mencari nilai. Ada materi. Bahkan berlomba-lomba meraih kesempurnaan. Setelah semua yang kau peroleh dalam pencapaian hidupmu, lantas apa lagi. Kemudian kau bangga-banggakan. Mendadak kau bisa menertawakanku karena mengganggap tidak sepadan. Lemah. Tidakkah kau ingat perbincangan kita tentang kematian, kelamu. Keranda dan kain putih yang mengantarkan kita pada keabadian. Ketika kehidupan hanya sebentuk perwujudan. Sebenaranya tidak ada kematian. Mati untuk hidup. Siklus reinkarnasi. Ketika manusia hidup setelah dibangkitkan. Dan bersama-sama satu sama lain tidak perlu saling mengenal. Tidak ada kekecewaan. Tidak ada dendam. Tidak ada permusukan. Damai. Kenapa pada akahirnya manusia saling mengenal kemudian bermusuhan. Kenapa pada akhirnya semua ajaran baik malah membuat manusia saling menyalahkan. Kenapa pada akhirnya semua kekayaan membuat manusia saling menjatuhkan. Aku jadi lupa. Bahwa sebenarnya aku hanya ingin mati. Tidak perlu membahas cinta. Kerena sebenarnya tidak ada cinta sejati. Cinta ada sebentuk tumbuhan. Bisa kau tanam dimana saja, asal bisa tumbuh. Maka cinta tumbuh layaknya benih yang menemukan unsur hara dalam tanah. Bahkan bisa mendua. Bercabang. Selingkuh. Kehidupan manusia tanpa cinta seperti kehidupan tanpa tumbuhan. Kering. Tak ada makanan. Mati. Kau menikah, lalu bercerai. Jodoh, siapa tahu. Aku dan kau sering mempertanyakannya. Tak cukup dalil menguaknya menjadi jawaban. Tak cukup bukti. Jodoh bisa bertemu di syurga. Setelah aku mati. Kau pun tak perlu tahu. Dimana aku dikuburkan. Tak perlu kau datangi makamku. Kau boleh mendoakanku, tidak juga tidak apa-apa. Biarkan aku istirahat dengan tenang. Aku bisa melihatmu dari jauh. Kau mungkin tak percaya. Sejauh apa pun kau mengenalku, kau tak lebih mengenaliku daripada mengenali dirimu sendiri. Kau bisa melanjutkan hidupmu. Aku juga.
Saat mataku terpejam. Lalu kubuka dan kulihat seluruhnya adalah hitam. Saat itu aku sadar. Aku buta. Aku buta karena aku tak melihat kebaikanmu. Aku buta karena aku tak memandang sosok indahmu. Aku buta karena aku terlalu mencintaimu. Aku buta karena aku tak berhenti merindukanmu. Aku buta karena aku bertahan dengan cinta. Aku buta karena aku tak lagi bisa membedakan realita. Aku buta karena bukan saja mataku, tapi juga hatiku. Aku tak bisa berdiri dan menuntun jalanku sendiri. Akalku hilang dan kesadaranku tak kembali. Kau telah merebut segalanya. Bukan saja mataku, hatiku dan pikiranku. Kau mencuri hidupku. Dawai-dawai nada terputus karena gerimis perlahan berhenti dan ritme hujan tak terdengar lagi. Di sudut kursi aku terduduk sendiri. Memikirkanmu. Kau tak pernah ada. Kau bagiku cahaya. Tanpamu tak ada yang lebih berarti. Cahaya menemukan segala keindahan karena pertemuan berbagai warna. Ketika cahaya padam, aku lebih dari sekadar buta. Aku tak menemukan terang. Aku tak menemukan surya. Aku bisa terjatuh dan menabrak apa saja. Bisakah kau kembalikan semuanya padaku. Aku mohon. Karena tidak mungkin kutemukan cinta yang lain. Kau telah merampasnya dariku. Kau berjanji untuk menyimpannya sementara di belakangku kau berdusta. Karena cintaku yang kupunya hanya satu. Tak pernah terbagi.
Ada surat undangan yang kuterima, kertasnya indah berukir dan bertuliskan tinta emas. Ada kau disana, tertulis. Aku tahu, itu kau. Aku pun tak bisa berbuat apa-apa selain tersenyum getir menahan dada. Kemudian kubaca perlahan penuh seksama, bukan saja namamu. Tapi kulihat ada nama lain. Nama yang tidak begitu kukenal. Dia adalah orang lain. Aku hanya bisa menghitung hari, aku juga hanya menghitung jari. Memandang kosong hamparan rumput dan pemandang alam. Aku baru tahu, sebentar lagi. Tapi aku harus sanggup menerima kenyataan ini. Kau akan menikah, sementara aku mencintaimu. Ada perasaan yang tak mudah kuredam. Mungkin harusnya aku lebih menerima. Sebentar lagi juga waktunya aku pergi. Aku tak perlu memberitahunya. Bahwa hidupku tinggal sebentar lagi. Tapi apakah aku akan bisa menerima, ketika dia menikahi orang lain. Apakah aku bisa menerima, ketika dia hidup bersama yang lain. Biarkan saja, karena hidupku tidak lama lagi. Biarkan dia bahagia. Seuntai harapan yang tergantung di langit kemudian padam dan awan bergemuruh karena hujan akan membasahi tanah. Diam-diam, aku menangis. Kemudian meraung dan berteriak histeris. Tidak menyebut namamu. Tapi nama Tuhan. Segeralah bawa aku pergi. Menjemputku.
Kau perlu tahu, ini untuk terakhir kalinya kusampaikan kepadamu. Aku mencintaimu. Terserah apakah ungkapan cinta ini seperti angin melintas saja bagimu. Cukup, lebih dari cukup untuk mencintaimu. Setelah kau biarkan aku dalam kesengsaraan ini. Mudah saja bagiku untuk menyudahinya. Jangan kau pikir aku tidak berani melakukannya. Kau tidak akan pernah melihatku lagi. Aku bisa pastikan itu dan hidupmu tidak akan terganggu olehku. Tidak perlu mengiba, tatapan matamu terlalu memesona. Aku tak sanggup untuk menolak segala ketertarikan padamu. Tapi kau tak mudah terkalahkan. Aku menyerah, bukan karena mengalah. Tapi aku tahu bahwa aku harus sadar. Cinta tak pernah pantas untukku. Rumput tak pernah memeluk bulan. Begitu pun daun tak pernah memeluk bunga. Kau terlalu indah. Lebih dariku untuk memilikimu. Aku ucapkan salam, jangan kau menangis. Sebentar lagi aku akan pergi. Menutup lembaran hidupku yang kelam. Di hatiku yang terdalam, aku pernah mencintaimu. Tapi cinta tak berarti lagi. Cinta tak mengubah apa pun. Sementara kau punya jalan hidup sendiri. Aku tak punya kesempatan untuk mendapatkanmu. Dan aku tak punya takdir untuk bersamamu. Aku hanya punya satu mimpi, kelak menemanimu di syurga. Selamat tinggal. Darah mulai mengalir perlahan dari pergelangan tanganku. Rasa sakit tak pernah lagi terasa karena senyumku tak pudar mengembang membayangkanmu di syurga. Sementara belati itu masih bersimbah darah. Selamat tinggal
Aku termenung beberapa saat, tanpa ditemani kata dan nada. Sendiri, mendekap sunyi dan mencoba bercengkrama dengan kesendirian. Baru saja, tidak lebih dari sejam, kuterima kirimanmu. Kugenggam sepucuk surat, ada semerbak aroma bunga. Diantara gulunganya terdapat pita berwarna merah muda merona yang kusuka. Kutahu, ada untaian rindu. Bisa kubayangkan, kalimat indah mengalun seperti nada dan puisi cinta sang pujangga yang dimabuk asmara di dalam surat itu. Terukir indah huruf yang tertulis disana. Aku masih terdiam. Belum sempat kubaca. Tapi aku tahu sebagian besar isinya. Ungkapan rasa cinta yang begitu menyentuh kalbu dan merangsang hati. Pernyataan cinta. Bukan sekali ini saja. Dia mengirimiku surat seperti ini. Telah kusimpan puluhan isi hatinya di laciku. Sementara, aku harus bisa menjaga hati. Aku telah melabuhkan hatiku di dermaga lain. Ada seseorang yang kusukai. Memang berat ketika cinta bertepuk tanpa tangan. Tak pernah tergapai selalu menggantung di angan. aku tak bisa mencintaimu, karena aku mencintainya. Apa yang harus kupilih. Dirimu, atau dirinya. Akhirnya, kulipat surat itu. Kumasukkan ke dalam amlop. Kutuliskan namanya. Cintamu kepadaku adalah cintaku kepadanya. Cinta bukan menjadi pilihan. Cinta adalah perhentian. Seperti surat, kadang cinta tak berbalas. Begitu pun cinta terkadang datang salah alamat. Kepada siapakah kukirim cinta, kepadamu atau kepadanya. Kukirim sejuta cinta, barangkali hanya satu yang kau dapat. Berharap merpati datang dengan seuntai tali terikat di kakinya membawa bingkisan kertas berisi ungkapan cinta. Cinta membuatku tak perlu malu untuk bertanya. Dimanakah alamatnya, sehingga bisa kukirimkan cinta kepadanya. Atau kepadamu.
Bulan tinggal sepotong, aku tak bisa membagimu. Di kamar ini cinta tinggal sepotong, aku pun tak bisa membagimu. Ketika jiwamu terlepas, selaksa butir kristal putih menggenang di permukaan mataku. Aku tak memaksa. Ragamu dekat lebih dekat dari pandangan mataku, tapi jiwamu terbang melintasi jutaan kota yang mati. Aku tak bisa mengembalikanmu. Selepas senja kau rebahkan dirimu di dadaku. Melabuhkan rindu dan penat yang menyatu. Pikiran kita berkelana pada rimba imaji dan persenggamaan yang bergelora. Berurai resah dan desah. Benih-benih cinta melebur diantara kecupan hangat dan pelukan. Lalu mendadak dadamu tertegap. Air mata luruh bersama isak tangis dan kebisuan tanpa kata. Aku benci saat ini. Ketika cinta tak lagi bisa mengobati. Derai air mata seperti hujan di malam hari. Dingin. kau pun termenung seperti termangu. Aku tak bisa mereka pikiranmu, sementara hatiku koyak lantaran kau hempaskan aku seperti ini. Menyiksaku tanpa menyentuh. Kau duduk tertunduk lesu. Bagaimana kubagi perasaan seperti sepotong roti tanpa selai. Bahkan saat kau berada sedekat ini, aku tak bisa mengenalimu. Kau tidak lagi senikmat anggur dalam cawan. Semakin banyak kuminum, aku semakin kehilangan kesadaranku. Mencintaimu, lebih dari cukup menyakitkan. Untuk berpisah. Dan api mulai bergoyang di ujung lilin yang mulai habis. Aku segera meniupnya. Selamat tinggal.
Sehangat mentari pagi. Kau pun tersenyum manis membingkai seulas pesona di antara sudut parasmu yang kukagumi. Ada getir. Kau pun menggenggam erat jemariku. Senyummu tak mampu membungkus resahmu. Tatapan matamu sendu. Aku mencoba gentar. Kau pun tak bicara, aku pun hanya terdiam berharap bisa membunuh waktu. Menikmati kebisuan yang terjebak karena perpisahan. Tak ada lagi yang bisa mengembalikannya. Ketika kau berdiri di hadapanku untuk terakhir kalinya. Kutatap matamu yang indah. Ada bias bening yang memenuhi kelopak matamu. Aku tak ingin ada tangis memecah sunyi. Aku pun menyambut tanganmu dan menggenggamnya penuh kelembutan. Jari-jari kita saling berpelukan bukan karena dingin, tapi karena ingin. Seperti tak mau dilepas, begitu erat dan keras. Dirimu, di hatiku sudah terlalu lama. Kau tak bisa meninggalkanku begitu saja. Aku tak butuh ucapan terakhir. Karena semuanya seperti sia-sia. Biarlah kunikmati akhir dari cerita ini tanpa tahu kisah apa selanjutnya yang bisa kuhadirkan untuk menemaniku, sendiri. Ada luapan yang tertawan di dadaku. Seperti gejolak untuk lebih cepat mengakhirinya. Kau lebih sekadar kenangan untuk kuingat. Kau lebih dari sekadar foto untuk kubingkai. Kau lebih sekadar detak untuk menghidupkan jantungku. Kau lebih dari sekadar darah untuk mengalir di seluruh tubuhku. Aku tak bisa melepasmu. Sungguh, aku tak sanggup. Kau membuat derai hujan kembali menerpaku. Tak sehangat pagi.
Terkadang, kau tak pernah tahu bagaimana semuanya begitu saja terlewati. Sementara kau tak punya waktu untuk memastikannya dan membiarkannya pergi. Tapi sungguh. Aku telah mengenalimu. Aku juga telah menyadari perasaanku sepenuhnya kepadamu. Ketika setiap penantian dan iringan waktu berhenti tepat di hadapanku. Aku tak bisa membiarkanmu. Mendapati ribuan cahaya seperti kunang bekerlipan setiap malam. Aku pun ragu, untuk tetap menjagamu. Di antara deru ombak dan hempasan karang, kau selalu tak terlihat seperti tenggelam. Di balik cemara kau pun memanggil sambil berlari dan melambaikan tangan padaku. Maka, aku tak bisa berkedip. Karena air mataku akan berjatuhan. Aku tak ingin semuanya lenyap sampai tak tersisa. Seperti belaian ombak kepada pasir hanya berjabat tangan dan terpisah tak berbekas karena buih pun hanyut bersama kilau pasir yang mulai mengering diterpa surya. Aku tak mau mataku kering karena kehilanganmu. Ketika pusara air di hatiku selalu bermuara pada hatimu. Aku ingin dirimu.
Sadarkah, ketika hamparan langit yang membentang dan awan berarak beriringan. Perlahan sang surya perlahan kembali ke peraduan. Aku masih menunggumu. Untuk kesekian kalinya secangkir gelas tak mampu meredam kegelisahanku. Bahkan ketika segalanya berhasil kuabaikan. Aku tak bisa menghapus jejakmu. Di balik gerimis aku bersembunyi. Di balik hujan aku mencari. Kau selalu pergi. Aku masih saja menunggu senja yang telah habis. Kau, telah mencuri hatiku. Membawaku pergi jauh. Menitipkan sejuta rindu yang kau tanam jauh di dasar hatiku. Kemudian tumbuh bunga-bunga mawar putih yang indah. Menyapa langit dan membawa kehangatan cinta yang terselip di antara celah celah ventilasi. Aku bisa melihatmu, disana. Duduk menggenggam jari dan sabar menanti. Di antara kerinduan butir butir pasir pada lautan, ombak telah menghapus jejakmu. Tapi di hatiku, kau selalu ada.
Mungkin, kau tidak punya cukup waktu untuk memperbaikinya. Kau pun tak berdaya untuk mengikat kenangan itu terus dalam mimpi dan bayanganmu menjadi nyata. Terakhir kali kau ingat, kau menggenggam tanganku. Tapi kini semua telah berubah. Bahkan dari hal terburuk, kau telah terpisah. Tak ada lagi kesempatan. Hati yang terkoyak berkeping-keping. Sakit hati yang penuh kepiluan. Aku lebih dari sekadar mencintaimu. Namun apa daya. Kau tak bisa mengubah waktu menjadi kutukan untuk memperolehnya kembali. Cinta begitu kuat. Kau pun tak sanggup kehilangan. Beberapa hari matamu berderai air mata. Kau melupakan senyuman. Kau bahkan lupa bagaimana caranya tertawa. Hatimu telah tertutup kabut kesedihan dan matamu buta karena duka. Aku mencintaimu tidak sedikit. Bagaimana caranya agar kau kembali. Aku lemah tanpamu. Ini bukan tentang kesendirian. Aku tahu, ini lebih dari sekadar angan. Tapi aku mohon, jangan kau pergi dari ingatanku. Apa yang kuingat adalah harta terakhir yang bisa kusimpan mengenaimu. Tentangmu, wajahmu, senyummu bahkan kedipan matamu. Aku hanya ingin kau selalu berada di sini, di dasar hatiku. Selalu kuingat.
Ditemani sebotol teh manis. Aku pun menuangkan kegelisahanku. Bosan aku dengan penat. Aku pun lelah hingga menyerah. Pasrah. Tak ada lagi niat kecuali berserah. Dirimu sangat berarti bagiku. Tak ada jalan bagiku untuk berlari. Tak ada lagi tempat untukku bersembunyi. Hatiku telah penuh. Tak ada lagi celah. Kenapa harus berpisah. Seperti cinta yang telah mendesah. Aku pun mengalah. Kau biarkan diriku hanyut dalam kesedihan yang basah. Mata yang dibanjiri oleh duka tak pernah memberiku kesempatan mengecup manisnya cinta. Manisnya rindu. Sebutir gula yang hanyut di tengah samudera. Tak berbekas. Aku lemas. Dimana cinta menjadi dilema. Dimana kenyatan berakhir tanda tanya. Dimana kepastian adalah ujung belati yang kau tusukkan padaku. Aku lebih baik mati. Aku menghargaimu. Tapi rasa ini begitu kuat. Aku tak sanggup mengangkatnya karena berat. Berat bagiku meninggalkanmu. Berat bagiku melupakanmu. Berat bagiku menyadari kau bukanlah kekasihku lagi. Aku hanya duduk terdiam memaku di ujung sudut ruangan melipat kaki dan menundukkan muka. Mata luruh bersama air mata yang mulai menderas seperi hujan. Hujan bulan juni. Hujan di akhir kerinduan. Ketika dinding hatiku mulai runtuh karena keputusanmul. Kita tak bersama lagi. Aku tak percaya.
Malam terbungkus dingin. hatiku terjerat di dua hati. Seandainya malam menjadi sekeping sendu yang menawan. Aku rela kau menahanku. Agar aku tak perlu memilih. Tapi matamu semakin senja dan tepian sungai selalu mengalir seperti mengiba. Aku tak sanggup. Ini tentang aku, kau dan dia. Seperti segitiga yang sama setiap sudutnya. Aku tak pernah tahu kalau perasaanku bisa hanyut diantara dua samudera. Kemanakah pusara ini akan menemukan titiknya sehingga tak perlu lagi ada yang terluka. Seandainya kau tahu bahwa tatapanmu membuatku ragu. Aku tak pernah memilih jatuh cinta untuk kedua kalinya. Tapi kau hadir di setiap sudut pikiranku, di saat keraguan masih mengambang tentang satu cinta. Aku tak menemukan pengertian tentang arti kata setia. Hatiku tak pernah menjawab, sebenarnya cinta tak pernah ada. Kau hanya membuat perasaanku hanyut dalam kesedihan yang sama. Aku harus memilih.
Apakah kau masih percaya cinta itu seputih salju. Tapi aku lebih percaya cinta itu seputih awan. Seperti gumpalan yang terbang di awang lantas tak pernah turun. Cinta bagimu salju yang dingin, kuat dan mampu bertahan. Kini salju tak pernah datang, apakah juga dengan cintamu. Ketika kau lihat awan di atas sana, berarti kau masih melihat cintaku. Salju dan awan sama putihnya. Begitu juga dengan cintaku padamu yang tak pernah ternodai. Putih bersih. Dimanakah hujan dan rinai gerimis yang mampu menjadikannya pelangi di antara tepian awan. Dan kau masih menunggu turunnya salju, mungkin awan bisa membantu. Sehingga cinta kita saling membantu. Ini bukan kiasan. Tapi aku tahu cinta yang bersih tak pernah lelah untuk bertahan. Bahkan ketika kau tak lagi percaya tentang cinta itu sendiri. Cinta mampu membuatmu bertahan meski kau sadar salju tak pernah turun di sini. Perlu kau tahu, aku pernah melihat salju bukan turun dari awan. Tapi turun dari matamu yang bening itu. Sehingga kau tak perlu percaya. Diantara awan dan salju aku masih mencintaimu.
Izinkan aku sejenak memandangmu, sayang. Sebelum kau pejamkan mata dan meninggalkanku. Aku ingin memandangmu barang sebentar, bukan untuk kulihat. Aku akan menyimpan seluruh tentangmu pada pandanganku. Ketika kau terlelap, maka aku bisa menyaksikanmu lebih lama. Tapi aku ingin melihat bola matamu yang indah. Mata teduh yang basah karena sendu. Mata seperti bola kristal yang mengkilat diterpa cahaya. Mata yang ingin kusimpan. Mata yang tak pernah padam karena dendam. Sejak kutemukan, matamu lebih indah dari batu mulia intan. Tapi perlahan matamu mulai mengatup kemudian tertutup. Tak ada lagi celah untuk kulihat, mata yang berkisah tentang cinta. Mata yang utuh karena kesetiaan. Mata yang penuh ketegaran untuk sabar menanti. Aku pun mulai cemas. Apakah kau akan membuka matamu lagi. Sehingga bisa kusaksikan bola matamu yang indah itu, sementara aku tak sanggup untuk memastikan. Matamu tak pernah terbuka lagi. Bahkan dari sudutnya mengalir perlahan. Tetesan air yang berubah menjadi telaga. Berjelaga.
Entahlah, ini mungkin hanya lambaian tangan. Ketika kau mulai melaut dan aku masih terdampar. Separuh jiwaku lepas dan membuatku terkapar. Aku akan menantikanmu kembalil. Ketika hari yang kuhabiskan hanya menunggumu menepi. Malam ini akan kuhabiskan sendiri. Biarkan bulan menjadi hiasan yang kupajang di dinding kamar. Setelah kutuangkan kegelisahanku bersama secangkir coklat. Aku tak bisa menahan perasaanku untuk segera menuntaskannya. Menelannya sehabis tegukan sekali. Mungkin kita punya bulan yang sama sepanjang malam. Tapi bulan malam ini tampak dingin dan pucat pasi. Aku takut bulan sedang sakit dan kau tidak bisa menemukannya lagi di sepertiga malam. Aku akan duduk di tepian dermaga dan menarikan jari. Ketika kulitku bersentuhan tanah dan kuterbangkan pasir di permukaan tanganku. Menyampaikan salam rindu yang terbawa angin. Di sudut kota, aku menantimu pulang.


















