Diberdayakan oleh Blogger.

Professional Time Waster

Aku melihatmu dari balik kaca bening. Menatapmu, penuh keraguan. Kau masih tergeletak lemas di atas ranjang. Aku tak mampu menggenggam tanganmu. Dari balik pintu mataku mencarimu, kau disana masih saja terpejam. Sudah beberapa jam yang lalu. Aku hanya duduk menunggu dan termangu. Aku tak tahu apakah cinta masih bisa dilanjutkan. Sementara detik-detik lebih berharga bagimu untuk bisa merampas waktu. Mengembalikan masa dan senyum bahagia di hari yang terlewati. Aku masih disini, menantimu. Di saat kau masih terlelap kulihat ada sendu di mataku. Tak mampu kubendung, seketika air mataku meleleh. Aku baru mendengarnya dan jantungku seakan berhenti berdetak. Apa yang bisa kulakukan selain memanjatkan doa dan merapalkan ayat-ayat untukmu. Ketika aku tak bisa menghentikan waktu. Ketika itu pula aku merasa kau akan pergi. Semakin sesaklah dadaku karena aku tak bisa lagi melihatmu, tersenyum. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Dan kau pun tak meninggalkan sedikit pesan maupun kata terakhir untukku. Selamat jalan, sayang. Takdir memisahkan kita.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Tanganku selalu berusaha meraih ketinggian. Selalu tak sampai. Menggapai pun tak sampai. Ketika hatiku seakan terhimpit oleh dinding dan aku tak melihat cahaya. Aku terjebak pada perasaanku sendiri. Cinta tapi dipendam. Suka tapi Cuma disimpan saja. Saat aku tahu, aku tak bisa berterus terang. Bahkan, kepada langit pun aku tak berani menunjuk. Kepada siapa aku harus ungkapkan. Selain dinding-dinding kamarku yang mendengarkan rintihan bisikan hatiku lirih. Kadang merintih. Sendiri membuatku merasa tak berarti. Bukan karena aku tak punya rasa. Tapi rasa selalu menuntut balas. Maka, selama ini aku hanya tangan yang menggapai pun tak sampai. Menggapai hatimu. Apalagi menyentuhmu, lebih dari sekadar angan. menjemputmu dalam mimpi dan kubawa pergi habis semalam meneguk secawan anggur cinta. Dan aku bisa mabuk karena begitu menikmatinya. Sesaat, sadarku akan rasa. Dadaku mendadak tergagap. Akalku mendadak membekap. Arti hadirku tak selalu berikan warna dalam hidup. Di kejauhan aku melambai, tak juga sampai. Kau, hanya jendela untuk membuka mataku. Hidup, tak lebih dari jarak tak bersudut. Lelahku, menggapaimu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kau pikir, aku adalah persinggahan dimana kau berlabuh tanpa jejak. Sementara kau lemparkan jangkar dan tepat mengenai jantungku. Cincin yang kulihat melingkar di jari manismu, membuatku terhunus pedang dan meremukkan seluruh harapanku. Kau datang, seperti mentari tampak bercahaya. Memberikan harapan dan kehangatan yang menyinari jiwaku. Lalu kau pergi, tanpa tanda bahwa kau telah melempar janji. Di sini, aku terhenyak dengan hatiku yang terkoyak. Sementara kau tak tahu, jangkar yang kau lempar tepat di dada. Kita pernah sama menggenggam tangan saling menyapa. Bersentuhan dan bibirku melumat segala kenangan. Kau telah mempermainkan perasaanku. Kau datang di saat kau ingin jiwaku yang malang, kau pergi di saat hatiku tak lagi bisa berdiri. Lemas rasanya persendianku tanpa tulang. Seketika tubuhku lumpuh karena cinta telah mencabut jiwaku. Kosong. Kabar yang kuterima seperti tersambar angin manakala kutunggu dirimu di dermaga, membisu dengan hatiku yang kering. Aku tak tahu, kau berlabuh di hatiku karena ingin, atau sekadar menyapa. Sementara senja kian melepaskan bias jingganya. Kemudian lebur berserta permukaan laut yang berwarna keemasan memantulkan cahaya. Saat itulah, aku tahu tidak ada harapan lagi. Tidak perlu ada persinggahan lagi. Kau telah cukup membuatku jatuh, bahkan tenggelam. Di dasar hatiku, bahkan aku mati. Tak ada api kecil yang bergoyang seperti pertama kali kukenal dirimu. Kecuali, kau lemparkan cincin itu untuk melingkar di hatiku. Tapi aku tak ingin. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kau tahu, ketika rasa nyeri dalam dadaku begitu menyesakkan dada sementara aku ingin menangis. Aku tak bisa menangis. Kepalaku kemudian serasa terbentur tanah karena pening merajaiku. Aku percaya cintaku sama. Kututup pintu, bersembunyi di bawah selimut. Sementara hatiku tak pernah bisa sembunyi. Cinta tak pernah kusesali, entah mengapa rasa sakit seperti bagian dari cerita cinta yang tak terpisahkan. Maka ketika jantungku kau hujamkan belati, aku rela. Bukan karena sakit, tapi cinta telah mencuri sadarku. Bahkan, tak pernah kutahu. Cinta akan selalu jatuh pada awalnya, kau jatuh cinta. Lantas, aku tak pernah tahu cinta akan berakhir dengan rasa sakit. Aku jatuh untuk kedua kalinya. Menahan segala kegetiran dan luka, untuk menyembuhkan diri. Bersembunyi, menutup hati. Bahkan seperti tak mengenali. Kau pun membuang muka, tidak bertegur sapa. Bahkan tak ada kabar lagi. Cinta seakan hilang bersama arti kedekatan. Siapakah yang bisa menjelaskan arti takdir bahwa kita bisa bersama. Sementara kenyataan tak pernah membuatku yakin apakah jalan kita akan tetap sama. garis orbit beredar dan mengelilingi putaran yang sama, bertemu dalam titik kordinat dan terjadi pertemuan. Maka, tak ada yang bisa mengelak dari kata berpisah selama apa pun kau berusaha menjaga diri untuk bersama. Karena cinta sebentuk rasa bukan cerita.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Harusnya aku sadar, selama ini aku hanya berlindung pada kesendirianku. Meratapi dedaunan kecil yang gugur dan jatuh. Entah mengapa, aku ragu untuk menyadari. Apakah aku diciptakan untuk berpasangan. Sementara aku sendiri. Ketika malam semakin gelap, aku tak menemukan bayangan lain selain diriku. Tersimpuh dan duduk memandang jendela. Ada bulan di sana. Seakan melambai dengan kedipan mata manja. Kapankah kutemui sang pangeran seperti dalam cerita. Ketika sebenarnya hidup tidak lagi berjalan seperti dalam cerita. Realita membuatku menatap hidup tanpa sekejap mata. Memandang, betapa aku sangat ingin dicintai. Bukan hanya setiap malam, seperti bulan. Aku ingin hatiku yang tandus kembali hijau karena embun pagi telah menitikan basah dari ujung daun setiap hari. Tapi siapa tahu, ketika pasanganku sebenarnya tak ada. Atau mungkinkah, aku sengaja diciptakan sendiri. Mati pun terkubur sendiri. Pasangan hanya ada dalam cerita kehidupan. Maka kupendam saja cinta ini menjadi kepingan cerita kosong. Ketika semua yang kuketahui tentang cinta adalah semu. Ketika rasa yang begitu menyesakkan dada pun akhirnya kusimpan sendiri. Luka dalam hati. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Terakhir kali kutatap matamu, ada bias yang tergambarkan seperti langit berubah mendung. Kemudian mataku sendu. Setelah pandanganku berbalik arah, maka kita berpisah. Seperti inikah rasanya ketika rasaku terhalang oleh alasan. Ketika cintaku harus menyerah bukan pada pilihan, tapi karena kenyataan. Aku harus terima, kau lebih memilihnya. Sungguh, rasa cintaku tak berubah benci. Akan tetapi, entah mengapa yang kurasakan adalah luka. Bukan tergores, tapi tercabik-cabik perasaanku semakin remuk dan mataku sedu sedan karena menahan tangis. Tidak ada keniscayaan selama aku tahu alasan bisa mengubah segalanya. Aku hanya menatapmu berpaling. Maka, rasa sakit adalah ketika kau menggenggam tanganya, bukan tanganku. Kau pun menyimpan hatinya, bukan hatiku. Kita masih bisa dekat, tapi hanya sedekat ini. Tak sampai masuk ke dalam hati, barangkali tempatku hanyalah beranda. Seperti aku merenda cintaku untuk membingkai permukaan hatimu. Lalu, aku hanya ranting basah setelah hujan. Aku rapuh lantaran cinta membuatku jatuh. Tak ada lagi bunga, ketika daun-daun yang kumiliki berguguran. Terhempas, jatuh ke tanah. Kau pergi. Bukan lagi kekasih. Kau begitu dekat tapi tak mampu kuraih. Bulan, seperti hujan bulan ini. Jatuh, hatiku luruh bersama musim kemarau yang berganti hujan. Mataku basah. Apakah harus kukatakan selamat tinggal kekasihku? Kau selalu kutemui, bukan menjadi belahan jiwaku lagi. Apalah arti kita begitu dekat.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Menatapmu, tersenyum. Bagiku cukup melukiskan selaksa bahagia yang menitikan haru. Ketika cinta seperti derap langkah yang membisu, sementara hatiku menjejak pada pasir gurun. Aku tak sanggup, sementara kuingin. Tanganku tak pernah singgah menyalam rindu, tapi hatiku telah jauh memasuki halaman hatimu. Mengetuk perlahan, adakah suara memanggil. Kini, dalam dekapku terdiam. Tulus cinta tak selalu memiliki. Berada di dekatmu saja, layaknya hatiku terguyur telaga. Aku mencintaimu dalam diam. Sementara hatiku selalu berbisik untuk mengungkapkan. Namun telingamu seakan jauh memisahkan resonansi bunyi menjadi bahasa kalbu yang tak terjamah makna. Kata-kata, menjadi usang. Cinta terlalu resmi diungkap dalam tiga kata. Terlalu singkat untuk diraba. Menjadi titian hati yang mengendap-endap perih dalam sukma. Aku cukup bahagia, bukan mengenangmu. Ketika dalam dekat menatapmu lekat. Mataku tenggelam. Kau tak harus tahu, pada suatu hari aku pernah sampaikan rindu. Kutitipkan seberkas cintaku, pada pintu yang terkunci rapat untuk kau buka. Menanti, bukan lantas menunggu. Berharap, tidak selamanya bertahan pada satu hati. Cinta, kau menjadi arti karena bagiku kau adalah kunci. Membuka kebahagiaanku.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Pagi yang dingin. Rintik hujan masih mengeja pagi yang basah. Sementara dalam gelap ruangan itu kudengar desah. Sebagian pikiranku masih terbungkus resah. Matamu terpejam. Kupeluk dirimu dan membenamkan kehangatan. Cinta menjadi bahasa tubuh yang menyatu dalam diam. Tak perlu ada kata-kata. Kita saling menikmati kesunyian dan bahasa resah. Jauh di dalam hatimu, kutahu ada seberkas perasaan yang menggelora. Aku sungguh merindukan, kemesraan ini. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku tidak mengerti, memandang kosong mata menatap jauh pandangan. Tak ada senyum, parasku datar tak membentuk cuaca. Perlahan, permukaan mata menjadi basah. Cairan bening pun terasa hangat mengalir di pipiku. Sungguh, aku masih cinta. Perasaanku tak terlukiskan tinta. Mataku seperti langit berubah merah. Dadaku terguncang karena deburan ombak terlalu kuat menabrak tepi mataku. Kau tahu, begitu sakit. Seperti sia-sia. Karena tiba-tiba saja seseorang bisa melupakan cinta. Seperti hujan, mataku menurunkan gerimis. Apakah aku bisa percaya, suatu saat cinta menjadi luka. Dan aku menangis karenanya. Apa yang salah, ketika akhirnya kau pun menyerah. Tak perlu lagi alasan jika kau akhirnya merasa bosan. Apakah masih ada harapan, aku tak tahu. Karena rasa sakit itu seperti bertepuk tanpa tangan. Menjadikan kekecewaan sebagai akhir dari cerita yang tak pernah usai. Semalam, kau pun selalu diam. Aku bertanya baru kau bersuara. Kau tampak dingin, atau mungkin tak ingin. Setelah percakapan itu berakhir yang tersisa hanya senyap karena tak ada lagi suara di seberang sana, hening. Kepalaku pening, aku berusaha menyapamu. Mengungkapkan rasa rindu yang terjebak pada jarak. Tapi kau seakan ingin segera mengakhirinya. Aku tak mengerti, bagaimana cinta menjadi solusi.  
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Malam ini terasa perlahan gerimis turun membasahi bumi. Tetesan hujan itu kemudian menerpa hatiku. Dingin. Sesaat, pikiranku tersesat pada labirin tak menentu. Meresapi kegelisahan yang selalu datang menyapa. Lalu kunikmati kerinduan itu menjadi bayangan yang tampak nyata di dalam mimpi. Sungguh, saat terbangun memimpikanmu. Aku tak berdaya, kau begitu dekat seperti sangat menginginkanku. Lagi-lagi aku harus kecewa, Cuma sekadar mimpi. Apakah cinta adalah ilusi. Seperti bentuk imajinasi. Menghabiskan malam menantikan detik-detik berguguran hingga waktu cepat berlalu. Sehingga tak perlu ada tangis memecah kesunyian. Aku akan selalu memelukmu di kala rindu. Tak perlu ada orang lain. Menantikanmu datang merapat dan menatapmu lekat. Bulan seperti berkisah tentang cinta yang terbingkai indah saat temaram. Menyalakan kehangatan di antara api lilin yang bergoyang. Cinta adalah perasaan hati. Tak sekadar bertemu dalam wujud nyata. Cinta bahkan tumbuh di dalam hati, di dalam pikiranku. Mencintaimu tak sekadar bertemu raga. Tapi hatimu membuatku percaya bahwa kau akan selalu hadir di saat mataku terpejam, selalu. Hatiku terpaut olehmu. Aku hanya ingin mencintaimu seorang, untuk terakhir kalinya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku selalu suka hujan dan mendung, seperti duka yang berkabung. Abu-abu hati seperti tersiram warna tanah. Kesedihan menjadi gerimis yang tak terdengar bisikan petir. Ada getir. Tapi hujan tak datang lagi. Kulihat hanya mendung menggantung di langit. Maka kulihat air mata pun menggantung di sana. Seketika gemuruh awan menjadi terdengar mengerikan. Aku ingin kau datang tak sekadar mimpi. Jika pun hatimu telah jauh pergi, aku tak bisa mengelak masih mengharapkanmu datang. Memelukku dalam dekapan kehangatan. Sehingga aku tak perlu cemburu, pada udara yang bisa masuk dalam dirimu. Merasuk ke dalam jiwamu. Entah, apakah namaku masih terukir di sana. Aku tak pernah tahu, karena cinta semakin tak nyata.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Apalah arti cinta jika berakhir tak bersama. Ketika kau hanya mampu menatapnya bersanding dengan orang lain. Melihatnya tersenyum bukan kepadamu melainkan kepadanya sambil merajuk manja. Kau hanya bisa tulus, bukan karena tak percaya. Tapi takdir terkadang tak berpihak padamu. Mungkin, tidak ada lagi yang tersisa. Kau hanya mampu mengusap pipimu karena basah saat terbangun memimpikannya. Sungguh, rasa sakit itu bukan karena dia tak lagi cinta padamu. Tetapi ketika cinta seperti tak ada artinya lagi. Dan kau sama sekali tak bisa membayangkan cinta yang lain. Cintamu yang hilang takkan terganti cinta yang sama. Bertemu orang lain, tak mampu sembuhkan luka. Barangkali hanya menutupi kenangan atau sekedar mengalihkan rasa sakit yang suatu saat akan terbuka kembali. Bahkan, di saat-saat mimpi yang tak pernah bisa kau kendalikan. Dia hadir, bahkan masih seperti cinta. Maka saat itu yang ada hanya duka yang mengalir seperti hujan di tengah terik mentari. Aku selalu memimpikanmu.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

Akhirnya, aku mengerti. Apa yang ada di pikiranmu saat ini. Aku tahu, ketika raga tak lagi bersama. Hati saling bertaut tapi jarak begitu terbentang memisahkan kita. Ketika yang kau inginkan adalah ragaku, sementara aku hanya bisa menatap bulan. Entah, sampai kapan aku bisa sampai ke bulan. Apakah aku telah merasa lelah karena kerinduan yang menyiksa. Ketika kau mungkin punya rasa terhadap orang lain. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kupasrahkan saja semua pada waktu. Bagaimana cinta menguatkanku. Aku percaya sepenuhnya, padamu. Aku selalu memikirkanmu, di antara mimpi-mimpi yang terlelap ketika malam. Berharap hatimu tak berubah. Untukku.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kapan terakhir kali kau merasa bahagia karena cinta. Bahagia dengan luapan perasaan tak tertuliskan. Bahkan tak mampu terjamah kata-kata. Saat itulah kau merasa, betapa berharganya dicintai. Menjadikan gelap malam penuh bintang. Sekelumit masalah menerpa kemudian lenyap dari pandangan mata. Hidup terasa ringan. Tapi seketika kau rasakan jatuh. Bahkan saat perasaanmu masih penuh dengan bunga. Seketika bunga-bunga kering lantas mati. Bukan saja layu tapi juga sendu. Bahkan bunga pun butuh cinta. Maka apakah hatimu kering karena cinta telah hilang. Sementara kemudian hatimu terkunci karena tak kau temukan cinta yang sama.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hatiku berbunga. Ketika kusapa dirimu dan kau sambut tawa lepas dan berhasil merampas keresahanku. Kutahu, dengan suaramu saja. Bahkan seketika langit pun menyala. Aku senang sekali. Karena bukan saja harapan yang membuatku tegak berdiri. Senyummu, dalam mimpiku. Bukan sekadar maya, mimpi bukan sekadar janji. Mungkin sekeping cerita menjadi sajian hangat di pagi hari melepas rindu dan sendu. Aku suka walaupun hanya sekejap  masa. Berbagi kisah saat mentari sedang tersenyum menari-nari. Aku suka, ketika dirimu bahagia. Selalu berharap begitu. Bahkan jika saat terpisah nanti, kudengar kau bahagia. Bisa-bisa aku menitikan mata haru. Arti dari cinta tak harus memiliki. Ternyata, aku masih memilikimu. Di hatiku, kau selalu ada. Merasakan betapa kebahagiaan terlepas dari arti bersama, di antara air mataku yang jatuh. Bersembunyi dari kesedihan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Secepat itukah rasa cinta itu pergi, ketika aku masih berdiri menanti. Sedangkan semalam aku masih memimpikanmu. Secepat itukah rasa sayang itu hilang, ketika sampai detik ini pun wajahmu masih terbayang. Aku pun tak mengerti. Ketika garis lurus bertemu pada satu titik dan aku berusaha untuk menjauh, pada titik lain aku pasti bertemu denganmu. Bagaimana kalau kau tak ingin. Rasa galau kembali menghampiri. Sesaat, cinta pun berjarak. Memandang jauh bintang bekerlipan indah, tapi selamanya tak kan pernah kuraih. Kau indah disana, sedangkan hatiku di sini. Bahkan, kenangan pun tak sanggup mengembalikannya. Cinta kemudian perlahan pergi. Tapi bintang tetap indah disana. Biarlah, ketika cinta pergi sekalipun. Masih ada cerita bintang jatuh. Aku mencintaimu, entah sampai kapan. Atau haruskah kukubur untuk selamanya. Bersama jasadku dan perasaanku. Kau menjadi begitu diam, bukan lagi tak mesra. Kau pun tak bertanya. Ternyata, apa yang selama ini kutakuti benar. Cinta akan berakhir dengan kehilangan yang tak terelakkan. Meski, perasaanku masih sangat mencintainya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Barangkali cinta tak seharusnya ada. Ketika rasaku tak menemukan tepian lagi karena hatiku jatuh berserakan pecah hingga berkeping. Mencintaimu tak terukur masa dan waktu. Kurindu, memandang bingkai parasmu yang lucu sambil tersenyum menatap manja padaku. Malam itu, aku benar-benar tak bisa menahan bendungan air di mataku. Karena tiba-tiba mataku meleleh. Air pun menerjang dan dadaku terguncang. Hatiku sakit karena kelemahanku. Tak pernah bisa lepas darimu. Apakah kenangan menjadi tak berarti lagi di kemudian hari. Sementara selalu ada perasaanmu di setiap benda-benda. Di setiap mimpi-mimpi. Maka di setiap gambar dirimu, aku selalu ingin. Memelukmu dari belakang. Sesaat hembusan nafasmu tertahan karena kudengar isak tangis. Dan pelukanmu merenggang karena tak rela. Matamu basah. Aku tahu bukan saja matamu, hatimu pun menangis. Karena kita tak pernah rela cinta menyakiti. Sedang aku masih cinta.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Mengapa, kau tak semesra dahulu memelukku karena ingin. Ketika kau berbisik karena cinta. Dan hembusan nafasmu terasa mengalir di dada. Aku ragu, ketika kebisuan ini menjelma resah dan gelisah. Tak ada yang bisa mengobati selain kerinduan yang bertemu karena harap. Lalu aku memelukmu karena dingin. mencumbumu karena bunga telah merekah merebakkan wangi nan candu. Alunan rindu menjadi syahdu. Aku ingin. Karena semalam mendung kembali datang karena kau tak juga membalas kerinduanku. Sementara buah ranum di pucuk randu. Aku bisa sangat menangis karena pesanku tak terbalas. Ketika hasratku tak bertemu puas. Ketika sebagian ragaku terlepas. Dan perasaanku diliputi kegalauan yang terlalu. Bahwa sampai detik ini aku masih berusaha. Untuk bisa berdiri pada satu keyakinan. Cinta selalu mengobati. Meski rindu semacam pisau belati yang mampu menusukku. Hingga berdarah.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Saat kau tahu bahwa hidupmu tinggal sejengkal tangan, menyadari bahwa hidup tak lepas dari kesalahan. Ketika kau rasa rindu juga berlaku sama seperti luka. Ketika daun diterbangkan angin pun terhempas jatuh, begitu juga perasaanku. Ketika hatiku ini kuserahkan padamu. Segala yang kuketahui adalah tentangmu. Kebahagianku adalah senyum terindahmu. Aku seperti tak punya waktu lagi. Sikapmu berubah, aku pun bersedih. Entah, kenapa cinta tak membawaku pada ketenangan. Sementara resah dan gelisah selalu mengganggu. Kupikir cinta tak akan pernah luluh. Tapi rasanya hatiku mencair manakala kau pun menemukan tautan yang lain. Tak kuasa kubendung rasa sedih ini menjadi luapan sungai yang membanjir diantara sisinya, aku masih sayang.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Getir hati yang teriris karena pedih sementara turun perlahan gerimis, malamku kini kembali ranum bersama segelas resahku yang mengepulkan kerinduan. Di antara purnama dan selimut hitam di angkasa, aku bisa melihat binar matamu yang memudar. Kemudian perlahan-lahan lenyap. Meresap ke dalam ronngga-rongga perih hati yang terbalut luka. Cintamu adalah pujaan, seperti perhiasan. Kau begitu berharga, melebihi kata berarti. Kemudian mengalun nada-nada sendu dari bias permukaan mataku. Mengalir lagu kesedihan. Rintik-rintik hujan seakan bercengkerama sangat akrab melewati percakapan mesra, berbincang mengenai romantika cinta. Menangis, memiliki sejuta arti. Sedih, melewati jutaan rasa pelik yang menguras hati. Kini, dalam sendiri kuharap. Dalam sepi kudekap. Sisa cinta yang masih tersisa di antara puing-puing runtuhnya keyakinanku, di antara kepingan-kepingan rindu yang pecah. Aku memintal sebagian benang asmara untuk selalu terkait denganmu, membentuk lembaran kisah cinta selembut sutra. Kemudian kuselimuti dirimu penuh kehangatan. Kepada segelas resah yang basah karena tercampur gerimis. Aku ingin dicinta. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  Maret (2)
      • Surga dari Hongkong!
      • Moammar Emka's Jakarta Undercover: Sex Supermarket?
  • ►  2016 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (45)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (16)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (59)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (9)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (116)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (16)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2010 (39)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (12)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates