Diberdayakan oleh Blogger.

Professional Time Waster

Aku coba menenangkan Mama, sapu tanganya basah penuh air  mata. Mama hanya terduduk di ranjang tempat mereka berdua memadu cinta. Akan tetapi tak ada cinta lagi di sini, sorot pandangan mama pun kosong. Matanya sembab, aku hanya bisa memeluk Mama. Mama tak berbicara sepatah kata pun, memandangi foto pernikahan itu dengan sesunggukan. Aku pun larut dalam kesedihan, Mama aku akan selalu bersamamu. Aku sadar bahwa perceraian tidak membawa kebahagiaan bagiku. Mungkin bagi Ayah, aku tidak tahu. Aku mulai membencinya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Mungkin kau akan setuju dengan pendapatku. Sejak Ayah pergi, mama pun meraung-raung di kamarnya. Aku bingung, apa yang tengah terjadi. Kau tahu, Ayah menceraikan mama. Aku lemas dan tak kuasa berdiri. Malam itu, yang terdengar di telingaku hanya pertengkaran, ditutup dengan pintu yang terbanting dan mama sesunggukan di dalam kamarnya. Aku hanya terdiam. Tiba-tiba mataku pun terluka. Aku ketuk pintu kamar mama, tak ada jawaban. Aku benci perceraian. Apakah kau pikir perceraian tidak berpengaruh apa-apa terhadapaku. Kau sama sekali tidak memikirkannya.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Semua hal akan tampak terlihat lebih indah pada waktunya. Pada waktu yang telah ditetapkan dan kenyataan pun berjalan sebagaimana mestinya. Ada waktu untuk menunggu dan menanti penuh harapan. Ada waktu untuk menangis karena kesedihan dan penyesalan yang begitu dalam. Ada waktu untuk tertawa pada hal yang lucu. Ada waktu untuk diam dan menatap kosong tentang jalan hidup yang tak pasti. Ada waktu untuk berserah diri dan merelakan semuanya dengan penuh keikhlasan membiarkan segalanya terjadi. Ada waktu untuk melepaskan diri dan menyadari sepenuhnya kehidupan harus terus berjalan. Masih ada waktu untuk membuatmu bertahan, tentang cinta, masa depan dan kehidupan yang sebenarnya. Kau hanya perlu waktu untuk membuktikannya terjadi. Atau tidak sama sekali.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Apakah selama ini kita hanya bersandiwara, dan berpura-pura tampak lebih nyata. Bertemu denganmu, kemudian tersenyum. Menyapa, kemudian saling bicara. Bercerita kemudian saling bertegur sapa. Aku dan kamu, kita. Menggenggam tangan dan saling menatap dalam. Kemudian mengedip dan senyum kembali merekah. Aku menyentuhmu, membelaimu. Kau pun menatapku, kemudian menyentuhku. Lalu aku hanya mempunyai bahasa tubuh yang tak perlu dikisahkan. Karena kita sama-sama tahu. Waktu berjalan begitu cepat, sehingga aku tak bisa menghentikannya barang sejenak. Bahkan untuk menghela nafas. Karena kau seperti terburu-buru. Dan aku tidak memberikan kesempatan padamu untuk jeda. Aku lebih suka waktu berjalan lebih lambat, atau terhenti saja. Tapi kau seperti tak mempedulikannya, kau hanya lebih memerhatikanku. Aku suka, barangkali ini lebih dari sandiwara. Karena dengan atau tidak sekalipun, kau bersamaku. Mendekapku sedekat ini. Tak berjarak dan kutahu, kau sangat menyukainya. Saat kisah ini tampak lebih nyata, untuk kau rasakan. Kau sentuh, membekas. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sebentar lagi pernikahanku. Apakah kau tahu, aku masih memikirkannya. Maafkan aku, aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku masih mencintainya, bisakah kau mengerti posisiku. Kau melamarku tiba-tiba di saat aku bimbang. Dan kuterima saja niat baikmu lantaran hatiku hampa. Akan tetapi, detik-detik menjelang pernikahan begitu menyiksa. Dia pun mendadak datang dan mengiba, mengumbar janji dan bersumpah cinta. Apa yang harus kulakukan, antara tetap menikahimu dan meninggalkanmu untuknya. Sungguh, bukan maksudku mempermainkanmu. Aku tahu, cinta kadang datang pada saat yang tidak tepat. Sementara ini, apakah masih perlu membahas cinta. Membahas perasaan dan kisah klasik untuk masa depan. Ini pilihan sulit bagiku. Aku terus memikirkannya, karena sesungguhnya aku lebih mencintainya. Aku mulai putus asa, antara keduanya untuk tidak memilih sama sekali. Aku tidak ingin menyakitimu, apakah ini masalah waktu. Aku harap kau mengerti. Semoga pernikahan ini akan tetap terjadi. Entah antara kau atau dia yang akhirnya menjadi pasanganku pada hari pernikahan, berikan aku waktu. Untuk sejenak berpikir. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Tanpa kau tahu, hari-hari telah tertutup usang dan selalu terganti. Tapi hatiku selalu terlihat baru dan menarik untukmu. Takkan terganti. Aku tidak membual. Apa yang sebenarnya dinyanyikan para penyair untuk merayu kekasihnya. Apakah semacam puisi dan sajak-sajak penuh cinta. Puisi akan tampak tidak berharga karena selalu penuh dengan kiasan. Ada hal yang lebih sederhana untuk diungkapkan. Ketika kau mungkin merasa harus membacanya, kau takkan perlu berpikir. Hanya terlintas dan setiap deret huruf mudah terbaca, juga mudah untuk kau pahami. Kau bayangkan saja, seperti selembar kertas, aku adalah kertas. Itu tampak terdengar jelas. Tidak rumit seperti warna senja keemasan yang berubah jingga ketika matahari mulai karam dan hatimu temaram manakala nyanyian di ujung musim tak lagi terdengar. Daun pun mulai berguguran, seperti pahlawan. Aku pun bisa gugur, menjadi satu dari jutaan daun yang jatuh. Terhempas, kemudian terinjak. Lalu usang, ada yang mudah diterbangkan angin. Mungkin, aku adalah bagian yang mudah terbakar oleh api. Tiba-tiba aku berada di tumpukan sampah, aku terbuang. Aku tahu, kau tidak akan membuangku, membuang setiap kesempatanku untuk percaya. Bahwa kau satu-satunya yang kucintai. Aku sedang tidak merayu. Percayalah.  
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ini kisah sedihku. Aku pecundang. Mungkin aku lebih pantas disebut bodoh. Benar saja, aku meninggalkannya. Aku sudah tak sanggup lagi, menjalani cinta ini. Dia pun tersiksa, karena begitu mencintaiku. Apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak punya pilihan, daripada menyesal nanti. Aku ingin kau tahu bahwa aku tidak pantas untukmu, apa yang bisa kuberikan. Semua ini bukan tentang cinta. Semua ini tentang kenyataan. Aku tahu bahwa aku sangat mencintaimu, dan kau juga merasakan hal yang sama. Tapi aku tak tahu, bahwa cinta bukan kisah antara aku dan kamu semata. Cinta lebih pada kisah antara keluargaku dan keluargamu. Sungguh, aku tak bisa. Aku tidak bisa memaksa. Karena aku tak ingin merusak keluargamu. Aku  lebih baik mengalah, atau lebih tepat menyerah. Maafkan aku, kau begitu bersedih dan sungguh menyayangkan hal ini terjadi. Tapi aku juga sangat kehilangan. Apakah ini demi kebaikan. Salahkan saja aku, aku memang pecundang.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Aku tahu, dia memang sengaja menyembunyikannya dariku. Saat kutanya, dia selalu berkilah dan menutup mulut. Matanya yang sendu terbingkai kaca mata sehingga tak mudah ketemukan kebohongan dalam setiap mimiknya. Dia hanya tersenyum, atau mungkin lebih tepat menyeringai. Setelah lama kucari, dia memang selalu bungkam. Sesekali hanya memandang dan tak banyak bicara. Ketika kutemui pun dia hanya bisa menggelengkan kepala dan terdiam kembali. Aku menunggu reaksinya, tapi dia tetap bergeming. Apa yang dia khawatirkan, aku hanya ingin mengetahui, itu saja. Ketika kutahu namanya, aku tidak akan memaksamu untuk bicara. Aku akan sangat berterima kasih padamu. Namun, lagi-lagi kau hanya mengulas senyum di bibirmu, dan tak kudapatkan sepatah kata pun yang keluar dari lidahmu yang kelu. Apakah ini tentang nistamu. Aku tidak menuntut apa pun sekiranya kutahu dia bersalah atas itu. Aku hanya ingin kau mengatakannya sekali saja, sebutkan namanya. Aku tidak ingin memaksa, mungkin harus lebih bersabar menunggu dan menantikan saat yang tepat bagimu untuk bercerita. Kenapa kau lebih memilih diam, di antara jutaan nama yang terlintas di kepalamu. Sebutkan satu saja untuk mengakhiri segala penderitaanku ini. Aku sangat menyayangimu, tapi aku mohon bicaralah padaku. Siapakah dia, aku bisa lebih dewasa untuk menyikapinya, walaupun kutahu perbuatannya sangat menyakitkanmu. Aku punya cara tersendiri untuk menuntaskan dendammu. Aku tahu, ketika kebencian yang kulihat di matamu terhalang kaca, akan tetapi senyum yang terkembang di bibirmu kurasa palsu. Kesakitan yang kau dera selama ini terasa di ujung mataku, kau hanya diam. Sesekali menggeleng, lalu tersenyum. Jika kutanya kau hanya mematung tak berkata apa-apa. Aku tak lelah menunggumu bicara, sampai kapan pun aku akan menantikan jawaban darimu. Ketika kutahu yang sebenarnya terjadi aku pun tak percaya dan sungguh tak menyangka. Kau begitu baik di mataku, dia telah membuatmu menderita. Aku akan menjagamu. Ketika kau butuh, aku selalu siap dan bersedia melayanimu. Tapi aku mohon kau harus bicara, agar segala tanda tanya di benaku tak lagi menghantuiku, dan rasa bersalah ini akan terobati. Kemudian aku akan membawamu dari sini. Berharap aku bisa memulihkanmu. Kurasa, kau pun merasakan itu, dimana rasa diam adalah kunci untuk menyembunyikannya. Aku akan gali sedalam apa pun tanah yang kau timbun dalam benakmu, kutahu kau hanya tak siap untuk bercerita. Perlu kau tahu, aku siap mendengarkan curahan hatimu kapan pun kau mau. Aku selalu di sini menantikanmu, berkisah tentang siapa penyebab dari semua masalah ini. Bebaskanlah hatimu, buka matamu. Aku begitu menyayangimu dan aku rela berkorban apa pun untukmu. Untuk kali ini saja, biarkanlah luka itu kubuka sejenak untuk kutemukan jejak pelaku yang menorehkannya padamu. Bukankah telah kukatakan bahwa tak baik untuk memendam sekam yang kemudian bisa membara dan membakar perasaanmu sendiri. Ceritakanlah padaku sayang, aku akan berusaha untuk mengakhiri penderitaanmu. Aku tahu, kau hanya perlu waktu untuk membuka kembali luka lama di masa lalu untuk kututup kembali selamanya. Aku perlu namanya, bisakah kau sebutkan saja. Aku ingin membebaskanmu dari belengggu ini, ketika kenistaan yang kau alami akan segera kusembuhkan. Tak perlu menyesal, semua telah terjadi. Di sini, aku menerimamu dengan pendirianku, bahwa kata pun lebih mudah dimengerti dalam bahasa yang sederhana. Perasaanku pun sebenarnya adalah sebuah kata yang tidak membuat dadamu berdegup kencang ketika memikirkannya. Aku menerimamu dengan segala kesungguhanku apa adanya. Tapi aku ingin kau menyebutkan namanya. Berjanjilah padaku, akan kusimpan baik-baik. Seperti aku menjaga perasaan ini agar tak mudah tergoyahkan badai. Dimana celah yang membuatmu ragu, bahwa aku sangat peduli padamu. Aku ingin kau berjanji padaku untuk mengungkapkan namanya padaku, sekali saja.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Gerimis kembali menghujani tanah, kemudian basah. Aroma tanah selepas hujan selalu memberikan kenyamanan, mengingatkanku padamu. Pada kisah malam yang kian temaram berganti menjadi tetesan hujan. Lalu kau menarikku untuk bernaung di beranda, tanpa kusadari deru nafasmu terdengar dekat. Lalu rasa dingin yang menjalar membuatku semakin merapat. Kau hanya tersenyum, di bawah rintik hujan yang terdengar merdu. Kita bercumbu pada desah yang berubah menjadi basah. Gerimis menjadi bahasa hujan yang membisikkan kata rindu lebih dekat ke telinga terasa meniupkan udara dingin. Lalu kau  bersembunyi di balik jaketku, dan badanmu terasa hangat, bahkan saat aku masih memelukmu erat, tak ingin kulepaskan sampai gerimis reda. Kau pun tersenyum tanpa jeda. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku merintih, tetap kupaksa. Keringat pun mengucur, dadaku terguncang. Aku takut ini adalah akhir dari segalanya. Setelah kutelan beberapa pil semalam, aku harap ini akan bekerja. Ketakutanku menghantui pikiranku untuk tenang. Tak perlu risau, kau juga tidak peduli. Awalnya memang cinta, selepas benci dan aku mulai mengutukmu. Kau telah menanam benih di rahimku. Padahal aku tahu ini belum saatnya. Aku memang menyukaimu dan sangat mencintaimu. Tapi bisakah kau lebih bertanggung jawab dan menyadari perbuatanmu. Aku tak bisa berbuat apa-apa manakala kutahu bulan tak datang lagi padaku. Ini adalah hari ujian, aku tak bisa fokus mengerjakan karena perutku mual sekali. Setelah meminta izin aku pun masuk ke dalam toilet, tempat dimana aku besembunyi dari rasa malu. Tiba-tiba darah menetes dari balik celanaku, kemudian mengucur. Obatnya mulai bereaksi, apa yang harus kulakukan. Desahan dan rintihan tak lagi bisa kutahan, karena sesuatu yang mendorong alat vitalku begitu memaksa keluar. Kepalaku mulai limbung dan terasa pusing. Mataku berkunang-kunang. Kudengar seseorang mengetuk pintu kamar mandi, aku hanya merintih. Dan aku lupa lagi apa yang terjadi selanjutnya, tentang berita kehamilanku.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Mungkin, ini adalah lagu terakhir yang kusenandungkan, seperti lagu gerimis pada bau tanah selepas hujan. Aku ingin kau tidak sekadar mengenangnya seperti bulan yang terkenang pagi. Kau disini, mendekapku seperti kita ingin menyatu, baumu begitu kukenal. Cinta selalu berpihak pada kenyataan, bukan pada perasaan yang selama ini kita nyanyikan. Kau pun mengerti, seberapa kuat kau mempertahankan cinta, maka akan selalu berakhir dengan kehilangan yang menyedihkan. Kau tidak saja menangisinya, kau bahkan menyesalinya. Pernah jatuh cinta. Kau dekap aku seperti dahulu, dan aku bercerita tentang bulan purnama yang ranum di musim kemarau, dan langit tampak temaram sedang kita bercengkrama di kursi taman di bawah sinar lampu kota yang menerpa. Adakah nyanyian ini akan selalu terngiang di telingaku, manakala kutahu pada akhirnya bahwa cinta pun bisa menjadi tuli. Bahkan, tidak bisa mendengarkan isi hatinya sendiri. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Cinta pada akhirnya membuat keputusan menjadi sebuah pilihan sulit untuk dikorbankan, ada sekeping hati yang patah dan setiap orang harus siap mengambil risiko. Realita kehidupan tak memberikan penawaran, karena semua hal selalu terkait dengan kondisinya. Itu tidak seperti cerita keramik yang saling berciuman. Kehidupan nyata tidak mudah untuk membuat hubungan itu tersambung begitu saja, ketika tali itu terputus suatu ketika maka kau akan dapati ukurannya menjadi lebih pendek, dan sayatan yang kau buat tentu menorehkan luka. Maka perpisahan menjadi adegan paling mengharukan di setiap drama. Kemudian dialog cinta menjadi begitu sendu dan ungkapan-ungkapan curahan hati seperti air yang mengalir di tengah kolam. Maka air mata tak sanggup mengembalikan semuanya. Mungkin, akhirnya tidak begitu. Jika kau mampu membuat cerita cinta menjadi kisah yang tak cukup sekadar untuk dikenang. Akan tetapi, membuat segalanya berakhir bahagia bahkan ketika harus terpisah.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku belum tersadar. Pikiranku masih tersesat menuju bianglala dan rimba penuh bidadari. Ketika bintang dapat dipetik dan aku bisa berputar mengelilingi bulan. Tiba-tiba kudengar suara pintu digedor paksa. Lalu terjadi kerusakan. Aku terperanjat, mataku pun terjaga. Sepasang pemuda berpakaian biasa mendekatiku. Dia berusaha menyentuhku, aku menolak. Aku menggeleng-geleng, mereka pun memaksa. Aku pun di seret. Hari ini harusnya aku ke sekolah. Masih ada ujian nasional. Tapi kulihat butiran-butiran pil itu berserakan di atas meja. Dua pemuda itu pun mengambil dan mengantonginya ke dalam plastik bening. Aku mengucek-ngucek mata. Apakah kedua orang ini malaikat yang akan mengantarku ke syurga. Kemudian sebuah pukulan mendarat di dahiku, dan aku tidak sadarkan diri.
Sekarang aku baru sadar, semalam aku menelan 2 butir pil berwarna pink, karena kepalaku terasa pening dan berdenyut-denyut sementara besok masih ujian nasional. Seperti yang diceritakan temanku pil itu dapat menghilangkan pusing. Aku pun percaya. Kini dua pemuda itu menginterogasiku, siapakah teman yang memberikan pil itu. Ternyata pil berwarna pink itu adalah sejenis narkotika. Aku pun harus mengerjakan ujian nasional di balik jeruji besi, tentu sambil mengunyah pil berwarna pink, doakan aku semoga bisa menjawabnya dengan baik.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku bingung, selepas bangun. Menggerakkan badan dan menggeliat. Kemudian keluar kamar dan mendapati orang-orang menangis. Padahal aku mau berangkat ke sekolah. Ada ujian nasional. Setelah menguap dan merapikan rambut sebentar, aku kemudian ke ruang makan. Tidak ada makanan yang dihidangkan. Mamaku tidak terlihat di dapur. Aku hanya melihat kerumunan orang di depan rumah dengan pakaian serba hitam. Apa yang terjadi. Kemanakah papaku yang berniat mengantarkanku pagi ini ke sekolah, dengan sepeda motor barunya itu. Mungkin mamaku ke pasar, tapi siapakah orang-orang depan rumahku itu. Aku tidak tahu.
Kuberanikan diri menuju depan rumah, ada banyak orang. Puluhan orang itu tengah terharu dan tersedu sambil menahan tangis, diantaranya kukenal. Sangat kukenal. Dia adalah kekasihku, yang berjanji akan mengajakku makan di kantin seusai ujian. Kenapa dia disini, lantas menangis. Lalu sebagian orang-orang itu adalah guru-guru di sekolah. Bukanya hari ini ujian. Aku masih tidak mengerti. Dan mataku terbelalak manakala kulihat keranda yang ada tertutup kain hijau. Lalu orang-orang mulai merapalkan kalimat suci dan terlihat poto berbingkai yang sangat mirip denganku. Aku mulai panik. Aku tidak percaya nama yang tertulis di sana. Chintya. Itu adalah namaku.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pagi yang indah, kutarik selimut. Aku masih merasakanya. Hari ini ujian nasional yang kedua. Semalam aku belajar bersama denganya. Aku jadi lebih mengerti matematika. Tapi aku tak tahu gerimis semalam berubah menjadi tangisan langit yang deras. Dan aku bertahan di rumahnya hingga hujan reda. Tapi dia tidak hanya menawarkan kopi panas, dia juga menawarkan pelukan. Sampai kulihat telepon genggam miliknya berdering. Dia berbicara dengan rona cemas dan khawatir, lalu mendadak berubah menjadi sentakan ditutup dengan kata-kata kotor. Saat itu dia hanya terdiam, aku merapat dan membelai wajahnya yang sayu, sepertinya nada sendu terlihat dari matanya yang basah. Aku haru menjadi pohon yang rindang baginya malam ini agar matanya tak turun hujan. Hujan berhenti dan aku pamit pulang. Saat aku berjalan beberapa langkah keluar dari pintu rumahnya. Aku tak tahu ada sepasang mata yang melihatku dari rimbunan pohon yang tampak gelap. Aku tak peduli, aku bahagia malam itu.
Aku pun bergegas mandi, kupersiapkan buku dan catatan seperlunya. Aku ingin melihat dia dan mengucapkan terima kasih. Selang bel berbunyi dan seluruh peserta ujian masuk ruangan. Aku mulai cemas. Aku tak melihatnya. Lalu aku meminjam koran yang ada di meja pengawas. Untuk sekadar mengusir bosan dan menunggunya datang. Mataku terpana dan panas. Aku tak bisa berkata apa-apa. Mendadak dadaku tergagap dan gemuruh di jantungku berderap. Aku masih tak percaya. Tertulis jelas di sana.
Berita.com – sesosok mayat berseragam SMA ditemukan di sebuah kali yang melintas di perumahan Melati, Jakarta Selatan, Selasa (19/4/11) pagi ini. Sampai pukul 07.45, jenazah tak dikenal itu belum diangkat dari sungai. Polisi juga belum datang ke lokasi kejadian.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Rasa nyeri tak pernah sanggup kulepas. Apalagi luka pedih yang kau torehkan merobek hatiku. Aku tak mengerti. Setelah sekian janji dan ucapan manismu, aku begitu terlena. Hatiku hancur, berserakan. Entah tercecer dimana, barangkali sebagian terkoyak dan termakan anjing. Aku limbung, setelah perceraian kedua orang tuaku. Aku lebih mengenal murka dan teriakan. Ketika mereka berdua beradu mulut dan bertengkar dengan kasar, aku melihat Ibuku terpelanting ke lantai bersimbah air mata lalu kepalanya terbentur tembok dan cairan kental itu menghiasi dinding. Aku hanya bisa menatap dari kejauhan dengan nanar dan berurai air mata. Bahasa kesedihan ini tak mampu meredam emosi Ayah. Aku menangis. Tapi kau datang dengan penuh cinta, belaian manismu dan sentuhan manjamu. Membuat aku nyaman. Sampai suatu ketika aku lari dari rumah, karena tak tahan dengan pertengkaran. Lebih baik aku menemuimu, bersembunyi di balik selimutmu. Tapi aku lupa bahwa malam itu aku kira tidak akan bertemu purnama, ketika bulan begitu ranum dan kita bercinta layaknya sepasang serigala yang mengaum di ujung bukit. Aku lupa mematikan lampu karena begitu bergairah. Aku lupa bagian akibat dari perbuatanmu, kau tidak hanya membuatku bergelora, kau juga seperti secawan anggur yang tak habis sekali teguk. Kau membuatku begitu menginginkan hal itu. Tapi aku lupa bahwa kau tidak hanya memberikan cinta, kau juga memberikan sperma. Aku lupa pelajaran biologi. Akhirnya rasa pedih itu bercampur darah. Ketika beberapa bulan berikutnya badanku semakin membesar. Aku lupa kalau aku perempuan, dan berpotensi hamil. Tingga beberapa hari lagi aku harus mengikuti ujian nasional. Dan tiba-tiba aku tidak hanya lupa pelajaran biologi, tetapi aku juga lupa pelajaran kimia. Kubeli beberapa macam zat kimia di toko seberang jalan rumahmu, tempat kita memadu asmara, dan kau tinggalkan selimutku karena bercak darahku dan kucuci sendiri tengah malam. Esok menjadi tak penting lagi. Kau menghilang dan ditelan angin. Kau seperti manusia bertopeng yang dicari polisi. Sedangkan aku hanya bisa menyimpan murkaku disini, di dalam rahimku. Semoga aku tak ditemukan kedua orang tuaku.
Pagi hari pelaksanaan ujian, aku datang. Penuh percaya diri, membawa majalah mode dan koran, untuk pengawas ujian, tidak lupa kubawa roti untukku sendiri. Untuk sarapan pagi. Semuanya begitu tenang mengerjakan. Tak kulihat dirimu di bangku yang seharusnya kau tempati, nomer dua dari depan sebelah jendela, biasa kau lirikan matamu padaku dengan tatapan sendu. Kemudian kubuka tas dan mengambilnya. Aku lupa sarapan, roti yang kubawa pun ingin segera kutelan. Dan aku ingat semalam aku tidak belajar lantaran sibuk mencampurkan zat kimia ke dalam roti. Berharap aku cepat mati. Tentu saja, pengawas tak melihatku terkapar karena sibuk membaca koran, terlebih teman-temanku. Mereka tidak ada yang curiga busa yang keluar dari mulutku, dan darah yang menetes dari balik celana dalamku.    
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Suatu malam yang dingin dan udara masih berhembus sama, aku mulai berpikir tentang kesejatian dan makna. Selama ini tak dapat kutemukan arti dan makna yang selama ini kucari; puisi.
Untuk apa menulis puisi, ketika tidak ada secercah cahaya makna yang mudah untuk dimengerti. Ketika harus meraba untuk memahami, puisi tak sekadar kata. Bahkan puisi tak sekadar ungkapan. Banyak pujangga dan penyair melahirkan puisi. Bahkan dari rahimnya. Aku tak mengerti ketika puisi dianggap sebagai ekspresi jiwa, pengalaman bathin, kegelisahan dan pergolakan jiwa, pertanyaan dan tanda tanya, cerminan dari akar masalah, realita. Puisi tidak lebih dari kata-kata. Kata-kata yang tidak mudah untuk diterjemahkan.
Untuk apa menulis puisi jika tidak mengubah apa pun. Ribuan puisi lahir setiap hari, tumbuh berkembang dan beranak. Bermunculan dan berkeliaran. Puisi menjelma seperti deretan huruf kaku yang mati karena tidak lagi disenandungkan di atas panggung. Puisi hanya teronggok busuk di atas koran, di kumpulan lembar antologi. Sebenarnya untuk apa puisi lahir.
Terkadang aku juga membuat puisi, ketika kubaca terkadang aku juga sama tidak mengerti. Apakah dengan begitu adanya puisi lahir untuk tidak diketahui. Ketika puisi menjadi asing bagi penulis sendiri, bahkan untuk pembacanya. Puisi seperti narasi yang habis dibaca satu tarikan nafas, kemudian diulang, dicermati, bahkan dibedah. Banyak metode dan teori analisis puisi. Untuk mengupas dan menemukan kandungan makna puisi. Mengapa hal yang tampak sederhana menjadi rumit untuk dimengerti. kemanakah puisi bermuara, berteman, dan mencari pijakan. Seperti perasaan yang tak mudah untuk dijamah dan diterjemahkan dalam bahasa. Puisi terkadang tidak menemukan teman, kosa kata, bahasa yang mampu mewakili luapan perasaan sang penyair.
Apakah puisi itu? Sejenis ungkapan-ungkapan asing yang jarang dituturkan. Kembali kubertanya, aku mencari kesejatian dan kebermaknaan dalam setiap catatan dan episode kehidupan. Aku hanya mengajakmu berpikir dan bercanda. Disini, kita bisa duduk dan bersantai sambil berbincang mengenai puisi. Terkadang datang dari kekalutan dan badai dalam diri. Dada bergemuruh dan pikiran koyak lantaran hati terhempas oleh kebencian. Ada bulan dan purnama yang selalu kau puja lirih seperti semilir angin di tepi pantai yang menerpamu. Kedamaian hati yang kau temukan saat arus sungai kembali tenang dan binar matamu terpancar pelangi.
Puisi begitu memabukkan dengan kata-kata. Kata-kata berduyun-duyun dan berlarian di kepalamu. Satu persatu kau pilih manakah kata yang sesuai dan kau rasa perlu. Mempertimbangakn urutan dan rima sehingga terdengar merdu. Puisi terlihat mudah tapi tak mudah untuk kau nikmati, banyak kata yang menegaskan arti kata yang lain. Semiotik, simbol, gaya bahasa, konotasi, bahkan termasuk dalam makna-makna tertentu. Maka perlukan untuk mengutarakannya dalam bentuk yang lebih sederhana.
Jika dimungkinkan, aku malah berpikir kenapa harus menyulitkan diri. Puisi terasa ekslusif dan istimewa terselimuti oleh hijab dan kerudung. Tak mudah tersentuh bahkan kau raba. Puisi punya cita rasa dan gaya yang berbeda. Sedikit nakal, manja. Bahkan ada yang cenderung verbal dan vulgar. Puisi menentukan identitasnya sendiri oleh penulis. Maka dimanakah kutemukan makna dalam puisi yang mampu mengubah hidupku. Bahkan menginspirasiku. Bukan sekadar menuntaskan dahaga bathin dan kekosongan jiwa. Puisi tak lagi seperti bayang-bayang asing yang menggelayut di pikiranku.
Siapa yang bisa menjelaskan kepadaku tentang puisi. Tentang senandung lirih para penyair, tentang gejolak perlawanan, tentang eksistensi diri. Tentang arti yang mencari definisinya sendiri. Ketika kata mencari makna di balik setiap hubungan antarunsur, leksikal, gramatikal, derivasi. Kata-kata berdiri sendiri mengungkap arti yang tersembunyi. Kau mampu menjelajah makna dalam samudera luas pikiranmu. Aku tak mampu kembali dan tak kutemukan jalan pulang. Aku tersesat. Adakah yang seseorang yang mampu mengantarku pulang.
Puisi, bait dan bait, kemudian larik dan baris. Bersama-sama tersusun. Aku tak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh puisi. Apakah letupan, ketika ujaran yang dihasilkan oleh daerah artikulasi yang sama melahirkan fonem-fonem yang berbeda dan secara fonetis menentukan hubunganya dengan unsur yang sejenis. Aku berkenalan dengan konsonan dan vokal. Grup vokal ini terpecah dan berteman dengan huruf-huruf konsonan, bahkan tidak sedikit diantara mereka yang berhubungan intim.
Aku masih tak menemukan inti dari persoalan ini, ketika puisi kuanggap menjadi hal yang tak perlu kupersoalkan lagi. Aku perlu jawaban. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ketika juragan turun dari mobil dan memasuki gedung pengadilan, sang supir tersenyum. Kemudian dia menelpon seseorang, tampak begitu mesra. Beberapa menit kemudian mobil yang ia kendarai telah meninggalkan gedung dan lenyap di balik keramaian jalan. Dia tahu, daripada menunggu juragan pulang, lebih baik dia memenuhi janji. Tentu dia tahu janji adalah hutang, dan harus dibayar. Karena dia tidak ingin seperti anggota dewan yang hanya pandai merangkai janji. Tidak begitu lama untuk sampai ke hotel mewah yang dijanjikan. Dia ingat betul kamar yang dipesan, karena seseorang telah menunggu.
Lalu kubuka pintu perlahan, tampak terlihat ruang kamar begitu megah. Dinding dilapisi cat yang berwarna elegan, hiasan dinding dan lukisan yang begitu memesona. Tidak kulihat seorang pun di sana, meja masih tertata rapi dengan bunga dan vas di atasnya. Aku tahu, vas itu dibeli bulan lalu dengan pesan singkat di dalamnya. Khusus untukku.
Dari balik pintu kamar mandi, kudengar gemericik air yang menitik terdengar begitu jelas di telingaku. Kurasa ada seseorang. Tapi aku tidak berani mendekat, aku takut seseorang di dalamnya sedang tidak memakai baju. Kemudian aku duduk di atas ranjang kesukaanmu. Aku lebih baik menunggu, siapa tahu kau adalah hawa yang kucari.
Edisi catatan helda dan ardi
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Seutas mimpi dan aku terjaga merindukanmu. Sungguh, tak ada lagi harapan. Kau merajuk dan aku mengiba. Tapi tak ada pertemuan abadi dan selalu terpisah lagi. Mendambakan kemesraan dan menjalin mimpi bersama sambil terus tergenggam penuh cinta. Saat mentari pagi bersinar maka kau pun berbinar-binar mengharapkanku. Aku pun tersenyum manja menatapmu, sekian lama. Akankah cerita kita yang terus terangkai menjadi nyata. Dan kerinduan ini menemukan telaga menemukan muara tempat kita menyuarakan janji suci di altar bahtera. Kau akan menantikan itu sayang.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kepada angin yang berhembus, kusampaikan salam dan kutitipkan rindu karena tak lagi mampu kutahan. Kau yang merasuk ke dalam jiwaku dan bersemayam di hatiku. Aku tak bisa menyentuhnya. Daun-daun yang melambaikan tangan itu pertanda. Aku hanya bisa menyaksikan tiupan angin di ujung senja, seperti yang kau ceritakan. Kau berdiri di dermaga menantiku. Merapatkan tangan dan kita menggengam jemari, di pelabuhan yang ingin segera kau temui. Tapi apakah angin telah sampai padamu. Saat kulihat badai telah memporak-porandakannya sepanjang jalan dan tepian. Akankah rinduku tercecer di tengah jalan dan terinjak-injak oleh kendaraan. Aku takut kerinduanku tak sampai padamu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  Maret (2)
      • Surga dari Hongkong!
      • Moammar Emka's Jakarta Undercover: Sex Supermarket?
  • ►  2016 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (45)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (16)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (59)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (9)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (116)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (16)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2010 (39)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (12)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates