Kau tahu, ketika rasa nyeri dalam dadaku begitu menyesakkan dada sementara aku ingin menangis. Aku tak bisa menangis. Kepalaku kemudian serasa terbentur tanah karena pening merajaiku. Aku percaya cintaku sama. Kututup pintu, bersembunyi di bawah selimut. Sementara hatiku tak pernah bisa sembunyi. Cinta tak pernah kusesali, entah mengapa rasa sakit seperti bagian dari cerita cinta yang tak terpisahkan. Maka ketika jantungku kau hujamkan belati, aku rela. Bukan karena sakit, tapi cinta telah mencuri sadarku. Bahkan, tak pernah kutahu. Cinta akan selalu jatuh pada awalnya, kau jatuh cinta. Lantas, aku tak pernah tahu cinta akan berakhir dengan rasa sakit. Aku jatuh untuk kedua kalinya. Menahan segala kegetiran dan luka, untuk menyembuhkan diri. Bersembunyi, menutup hati. Bahkan seperti tak mengenali. Kau pun membuang muka, tidak bertegur sapa. Bahkan tak ada kabar lagi. Cinta seakan hilang bersama arti kedekatan. Siapakah yang bisa menjelaskan arti takdir bahwa kita bisa bersama. Sementara kenyataan tak pernah membuatku yakin apakah jalan kita akan tetap sama. garis orbit beredar dan mengelilingi putaran yang sama, bertemu dalam titik kordinat dan terjadi pertemuan. Maka, tak ada yang bisa mengelak dari kata berpisah selama apa pun kau berusaha menjaga diri untuk bersama. Karena cinta sebentuk rasa bukan cerita.
Harusnya aku sadar, selama ini aku hanya berlindung pada kesendirianku. Meratapi dedaunan kecil yang gugur dan jatuh. Entah mengapa, aku ragu untuk menyadari. Apakah aku diciptakan untuk berpasangan. Sementara aku sendiri. Ketika malam semakin gelap, aku tak menemukan bayangan lain selain diriku. Tersimpuh dan duduk memandang jendela. Ada bulan di sana. Seakan melambai dengan kedipan mata manja. Kapankah kutemui sang pangeran seperti dalam cerita. Ketika sebenarnya hidup tidak lagi berjalan seperti dalam cerita. Realita membuatku menatap hidup tanpa sekejap mata. Memandang, betapa aku sangat ingin dicintai. Bukan hanya setiap malam, seperti bulan. Aku ingin hatiku yang tandus kembali hijau karena embun pagi telah menitikan basah dari ujung daun setiap hari. Tapi siapa tahu, ketika pasanganku sebenarnya tak ada. Atau mungkinkah, aku sengaja diciptakan sendiri. Mati pun terkubur sendiri. Pasangan hanya ada dalam cerita kehidupan. Maka kupendam saja cinta ini menjadi kepingan cerita kosong. Ketika semua yang kuketahui tentang cinta adalah semu. Ketika rasa yang begitu menyesakkan dada pun akhirnya kusimpan sendiri. Luka dalam hati.
Terakhir kali kutatap matamu, ada bias yang tergambarkan seperti langit berubah mendung. Kemudian mataku sendu. Setelah pandanganku berbalik arah, maka kita berpisah. Seperti inikah rasanya ketika rasaku terhalang oleh alasan. Ketika cintaku harus menyerah bukan pada pilihan, tapi karena kenyataan. Aku harus terima, kau lebih memilihnya. Sungguh, rasa cintaku tak berubah benci. Akan tetapi, entah mengapa yang kurasakan adalah luka. Bukan tergores, tapi tercabik-cabik perasaanku semakin remuk dan mataku sedu sedan karena menahan tangis. Tidak ada keniscayaan selama aku tahu alasan bisa mengubah segalanya. Aku hanya menatapmu berpaling. Maka, rasa sakit adalah ketika kau menggenggam tanganya, bukan tanganku. Kau pun menyimpan hatinya, bukan hatiku. Kita masih bisa dekat, tapi hanya sedekat ini. Tak sampai masuk ke dalam hati, barangkali tempatku hanyalah beranda. Seperti aku merenda cintaku untuk membingkai permukaan hatimu. Lalu, aku hanya ranting basah setelah hujan. Aku rapuh lantaran cinta membuatku jatuh. Tak ada lagi bunga, ketika daun-daun yang kumiliki berguguran. Terhempas, jatuh ke tanah. Kau pergi. Bukan lagi kekasih. Kau begitu dekat tapi tak mampu kuraih. Bulan, seperti hujan bulan ini. Jatuh, hatiku luruh bersama musim kemarau yang berganti hujan. Mataku basah. Apakah harus kukatakan selamat tinggal kekasihku? Kau selalu kutemui, bukan menjadi belahan jiwaku lagi. Apalah arti kita begitu dekat.
Menatapmu, tersenyum. Bagiku cukup melukiskan selaksa bahagia yang menitikan haru. Ketika cinta seperti derap langkah yang membisu, sementara hatiku menjejak pada pasir gurun. Aku tak sanggup, sementara kuingin. Tanganku tak pernah singgah menyalam rindu, tapi hatiku telah jauh memasuki halaman hatimu. Mengetuk perlahan, adakah suara memanggil. Kini, dalam dekapku terdiam. Tulus cinta tak selalu memiliki. Berada di dekatmu saja, layaknya hatiku terguyur telaga. Aku mencintaimu dalam diam. Sementara hatiku selalu berbisik untuk mengungkapkan. Namun telingamu seakan jauh memisahkan resonansi bunyi menjadi bahasa kalbu yang tak terjamah makna. Kata-kata, menjadi usang. Cinta terlalu resmi diungkap dalam tiga kata. Terlalu singkat untuk diraba. Menjadi titian hati yang mengendap-endap perih dalam sukma. Aku cukup bahagia, bukan mengenangmu. Ketika dalam dekat menatapmu lekat. Mataku tenggelam. Kau tak harus tahu, pada suatu hari aku pernah sampaikan rindu. Kutitipkan seberkas cintaku, pada pintu yang terkunci rapat untuk kau buka. Menanti, bukan lantas menunggu. Berharap, tidak selamanya bertahan pada satu hati. Cinta, kau menjadi arti karena bagiku kau adalah kunci. Membuka kebahagiaanku.
Pagi yang dingin. Rintik hujan masih mengeja pagi yang basah. Sementara dalam gelap ruangan itu kudengar desah. Sebagian pikiranku masih terbungkus resah. Matamu terpejam. Kupeluk dirimu dan membenamkan kehangatan. Cinta menjadi bahasa tubuh yang menyatu dalam diam. Tak perlu ada kata-kata. Kita saling menikmati kesunyian dan bahasa resah. Jauh di dalam hatimu, kutahu ada seberkas perasaan yang menggelora. Aku sungguh merindukan, kemesraan ini.
Aku tidak mengerti, memandang kosong mata menatap jauh pandangan. Tak ada senyum, parasku datar tak membentuk cuaca. Perlahan, permukaan mata menjadi basah. Cairan bening pun terasa hangat mengalir di pipiku. Sungguh, aku masih cinta. Perasaanku tak terlukiskan tinta. Mataku seperti langit berubah merah. Dadaku terguncang karena deburan ombak terlalu kuat menabrak tepi mataku. Kau tahu, begitu sakit. Seperti sia-sia. Karena tiba-tiba saja seseorang bisa melupakan cinta. Seperti hujan, mataku menurunkan gerimis. Apakah aku bisa percaya, suatu saat cinta menjadi luka. Dan aku menangis karenanya. Apa yang salah, ketika akhirnya kau pun menyerah. Tak perlu lagi alasan jika kau akhirnya merasa bosan. Apakah masih ada harapan, aku tak tahu. Karena rasa sakit itu seperti bertepuk tanpa tangan. Menjadikan kekecewaan sebagai akhir dari cerita yang tak pernah usai. Semalam, kau pun selalu diam. Aku bertanya baru kau bersuara. Kau tampak dingin, atau mungkin tak ingin. Setelah percakapan itu berakhir yang tersisa hanya senyap karena tak ada lagi suara di seberang sana, hening. Kepalaku pening, aku berusaha menyapamu. Mengungkapkan rasa rindu yang terjebak pada jarak. Tapi kau seakan ingin segera mengakhirinya. Aku tak mengerti, bagaimana cinta menjadi solusi.
Malam ini terasa perlahan gerimis turun membasahi bumi. Tetesan hujan itu kemudian menerpa hatiku. Dingin. Sesaat, pikiranku tersesat pada labirin tak menentu. Meresapi kegelisahan yang selalu datang menyapa. Lalu kunikmati kerinduan itu menjadi bayangan yang tampak nyata di dalam mimpi. Sungguh, saat terbangun memimpikanmu. Aku tak berdaya, kau begitu dekat seperti sangat menginginkanku. Lagi-lagi aku harus kecewa, Cuma sekadar mimpi. Apakah cinta adalah ilusi. Seperti bentuk imajinasi. Menghabiskan malam menantikan detik-detik berguguran hingga waktu cepat berlalu. Sehingga tak perlu ada tangis memecah kesunyian. Aku akan selalu memelukmu di kala rindu. Tak perlu ada orang lain. Menantikanmu datang merapat dan menatapmu lekat. Bulan seperti berkisah tentang cinta yang terbingkai indah saat temaram. Menyalakan kehangatan di antara api lilin yang bergoyang. Cinta adalah perasaan hati. Tak sekadar bertemu dalam wujud nyata. Cinta bahkan tumbuh di dalam hati, di dalam pikiranku. Mencintaimu tak sekadar bertemu raga. Tapi hatimu membuatku percaya bahwa kau akan selalu hadir di saat mataku terpejam, selalu. Hatiku terpaut olehmu. Aku hanya ingin mencintaimu seorang, untuk terakhir kalinya.
Aku selalu suka hujan dan mendung, seperti duka yang berkabung. Abu-abu hati seperti tersiram warna tanah. Kesedihan menjadi gerimis yang tak terdengar bisikan petir. Ada getir. Tapi hujan tak datang lagi. Kulihat hanya mendung menggantung di langit. Maka kulihat air mata pun menggantung di sana. Seketika gemuruh awan menjadi terdengar mengerikan. Aku ingin kau datang tak sekadar mimpi. Jika pun hatimu telah jauh pergi, aku tak bisa mengelak masih mengharapkanmu datang. Memelukku dalam dekapan kehangatan. Sehingga aku tak perlu cemburu, pada udara yang bisa masuk dalam dirimu. Merasuk ke dalam jiwamu. Entah, apakah namaku masih terukir di sana. Aku tak pernah tahu, karena cinta semakin tak nyata.
Apalah arti cinta jika berakhir tak bersama. Ketika kau hanya mampu menatapnya bersanding dengan orang lain. Melihatnya tersenyum bukan kepadamu melainkan kepadanya sambil merajuk manja. Kau hanya bisa tulus, bukan karena tak percaya. Tapi takdir terkadang tak berpihak padamu. Mungkin, tidak ada lagi yang tersisa. Kau hanya mampu mengusap pipimu karena basah saat terbangun memimpikannya. Sungguh, rasa sakit itu bukan karena dia tak lagi cinta padamu. Tetapi ketika cinta seperti tak ada artinya lagi. Dan kau sama sekali tak bisa membayangkan cinta yang lain. Cintamu yang hilang takkan terganti cinta yang sama. Bertemu orang lain, tak mampu sembuhkan luka. Barangkali hanya menutupi kenangan atau sekedar mengalihkan rasa sakit yang suatu saat akan terbuka kembali. Bahkan, di saat-saat mimpi yang tak pernah bisa kau kendalikan. Dia hadir, bahkan masih seperti cinta. Maka saat itu yang ada hanya duka yang mengalir seperti hujan di tengah terik mentari. Aku selalu memimpikanmu.
Akhirnya, aku mengerti. Apa yang ada di pikiranmu saat ini. Aku tahu, ketika raga tak lagi bersama. Hati saling bertaut tapi jarak begitu terbentang memisahkan kita. Ketika yang kau inginkan adalah ragaku, sementara aku hanya bisa menatap bulan. Entah, sampai kapan aku bisa sampai ke bulan. Apakah aku telah merasa lelah karena kerinduan yang menyiksa. Ketika kau mungkin punya rasa terhadap orang lain. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kupasrahkan saja semua pada waktu. Bagaimana cinta menguatkanku. Aku percaya sepenuhnya, padamu. Aku selalu memikirkanmu, di antara mimpi-mimpi yang terlelap ketika malam. Berharap hatimu tak berubah. Untukku.
Kapan terakhir kali kau merasa bahagia karena cinta. Bahagia dengan luapan perasaan tak tertuliskan. Bahkan tak mampu terjamah kata-kata. Saat itulah kau merasa, betapa berharganya dicintai. Menjadikan gelap malam penuh bintang. Sekelumit masalah menerpa kemudian lenyap dari pandangan mata. Hidup terasa ringan. Tapi seketika kau rasakan jatuh. Bahkan saat perasaanmu masih penuh dengan bunga. Seketika bunga-bunga kering lantas mati. Bukan saja layu tapi juga sendu. Bahkan bunga pun butuh cinta. Maka apakah hatimu kering karena cinta telah hilang. Sementara kemudian hatimu terkunci karena tak kau temukan cinta yang sama.
Hatiku berbunga. Ketika kusapa dirimu dan kau sambut tawa lepas dan berhasil merampas keresahanku. Kutahu, dengan suaramu saja. Bahkan seketika langit pun menyala. Aku senang sekali. Karena bukan saja harapan yang membuatku tegak berdiri. Senyummu, dalam mimpiku. Bukan sekadar maya, mimpi bukan sekadar janji. Mungkin sekeping cerita menjadi sajian hangat di pagi hari melepas rindu dan sendu. Aku suka walaupun hanya sekejap masa. Berbagi kisah saat mentari sedang tersenyum menari-nari. Aku suka, ketika dirimu bahagia. Selalu berharap begitu. Bahkan jika saat terpisah nanti, kudengar kau bahagia. Bisa-bisa aku menitikan mata haru. Arti dari cinta tak harus memiliki. Ternyata, aku masih memilikimu. Di hatiku, kau selalu ada. Merasakan betapa kebahagiaan terlepas dari arti bersama, di antara air mataku yang jatuh. Bersembunyi dari kesedihan.
Secepat itukah rasa cinta itu pergi, ketika aku masih berdiri menanti. Sedangkan semalam aku masih memimpikanmu. Secepat itukah rasa sayang itu hilang, ketika sampai detik ini pun wajahmu masih terbayang. Aku pun tak mengerti. Ketika garis lurus bertemu pada satu titik dan aku berusaha untuk menjauh, pada titik lain aku pasti bertemu denganmu. Bagaimana kalau kau tak ingin. Rasa galau kembali menghampiri. Sesaat, cinta pun berjarak. Memandang jauh bintang bekerlipan indah, tapi selamanya tak kan pernah kuraih. Kau indah disana, sedangkan hatiku di sini. Bahkan, kenangan pun tak sanggup mengembalikannya. Cinta kemudian perlahan pergi. Tapi bintang tetap indah disana. Biarlah, ketika cinta pergi sekalipun. Masih ada cerita bintang jatuh. Aku mencintaimu, entah sampai kapan. Atau haruskah kukubur untuk selamanya. Bersama jasadku dan perasaanku. Kau menjadi begitu diam, bukan lagi tak mesra. Kau pun tak bertanya. Ternyata, apa yang selama ini kutakuti benar. Cinta akan berakhir dengan kehilangan yang tak terelakkan. Meski, perasaanku masih sangat mencintainya.
Barangkali cinta tak seharusnya ada. Ketika rasaku tak menemukan tepian lagi karena hatiku jatuh berserakan pecah hingga berkeping. Mencintaimu tak terukur masa dan waktu. Kurindu, memandang bingkai parasmu yang lucu sambil tersenyum menatap manja padaku. Malam itu, aku benar-benar tak bisa menahan bendungan air di mataku. Karena tiba-tiba mataku meleleh. Air pun menerjang dan dadaku terguncang. Hatiku sakit karena kelemahanku. Tak pernah bisa lepas darimu. Apakah kenangan menjadi tak berarti lagi di kemudian hari. Sementara selalu ada perasaanmu di setiap benda-benda. Di setiap mimpi-mimpi. Maka di setiap gambar dirimu, aku selalu ingin. Memelukmu dari belakang. Sesaat hembusan nafasmu tertahan karena kudengar isak tangis. Dan pelukanmu merenggang karena tak rela. Matamu basah. Aku tahu bukan saja matamu, hatimu pun menangis. Karena kita tak pernah rela cinta menyakiti. Sedang aku masih cinta.
Mengapa, kau tak semesra dahulu memelukku karena ingin. Ketika kau berbisik karena cinta. Dan hembusan nafasmu terasa mengalir di dada. Aku ragu, ketika kebisuan ini menjelma resah dan gelisah. Tak ada yang bisa mengobati selain kerinduan yang bertemu karena harap. Lalu aku memelukmu karena dingin. mencumbumu karena bunga telah merekah merebakkan wangi nan candu. Alunan rindu menjadi syahdu. Aku ingin. Karena semalam mendung kembali datang karena kau tak juga membalas kerinduanku. Sementara buah ranum di pucuk randu. Aku bisa sangat menangis karena pesanku tak terbalas. Ketika hasratku tak bertemu puas. Ketika sebagian ragaku terlepas. Dan perasaanku diliputi kegalauan yang terlalu. Bahwa sampai detik ini aku masih berusaha. Untuk bisa berdiri pada satu keyakinan. Cinta selalu mengobati. Meski rindu semacam pisau belati yang mampu menusukku. Hingga berdarah.
Saat kau tahu bahwa hidupmu tinggal sejengkal tangan, menyadari bahwa hidup tak lepas dari kesalahan. Ketika kau rasa rindu juga berlaku sama seperti luka. Ketika daun diterbangkan angin pun terhempas jatuh, begitu juga perasaanku. Ketika hatiku ini kuserahkan padamu. Segala yang kuketahui adalah tentangmu. Kebahagianku adalah senyum terindahmu. Aku seperti tak punya waktu lagi. Sikapmu berubah, aku pun bersedih. Entah, kenapa cinta tak membawaku pada ketenangan. Sementara resah dan gelisah selalu mengganggu. Kupikir cinta tak akan pernah luluh. Tapi rasanya hatiku mencair manakala kau pun menemukan tautan yang lain. Tak kuasa kubendung rasa sedih ini menjadi luapan sungai yang membanjir diantara sisinya, aku masih sayang.
Getir hati yang teriris karena pedih sementara turun perlahan gerimis, malamku kini kembali ranum bersama segelas resahku yang mengepulkan kerinduan. Di antara purnama dan selimut hitam di angkasa, aku bisa melihat binar matamu yang memudar. Kemudian perlahan-lahan lenyap. Meresap ke dalam ronngga-rongga perih hati yang terbalut luka. Cintamu adalah pujaan, seperti perhiasan. Kau begitu berharga, melebihi kata berarti. Kemudian mengalun nada-nada sendu dari bias permukaan mataku. Mengalir lagu kesedihan. Rintik-rintik hujan seakan bercengkerama sangat akrab melewati percakapan mesra, berbincang mengenai romantika cinta. Menangis, memiliki sejuta arti. Sedih, melewati jutaan rasa pelik yang menguras hati. Kini, dalam sendiri kuharap. Dalam sepi kudekap. Sisa cinta yang masih tersisa di antara puing-puing runtuhnya keyakinanku, di antara kepingan-kepingan rindu yang pecah. Aku memintal sebagian benang asmara untuk selalu terkait denganmu, membentuk lembaran kisah cinta selembut sutra. Kemudian kuselimuti dirimu penuh kehangatan. Kepada segelas resah yang basah karena tercampur gerimis. Aku ingin dicinta.
Kau tahu, sebentar lagi aku mati. Itulah kata yang seringkali kudengar. Kematian adalah cerita yang menarik ketika hidup hanya menyisakan kepedihan. Sandiwara dan penuh kepalsuan. Di atas ranjangku, bisikan itu masih terdengar. Mengalun diantara helai rambutku yang terurai. Aku akan mati, ucapku. Aku telah siap. Bahkan sebelum jauh niatku muncul. Aku seperti merindukan kematian. Ketika darah yang mengalir dan mataku tak lagi menangis. Sesaat itu aku tersenyum, menyampaikan salam terakhir. Mendendangkan nyanyian cinta yang lirih terdengar mengalun. Disini, kukatakan dalam hati. Seperti yang kau inginkan. Aku akan pergi darimu, untuk selamanya. Setelah itu, aku tak akan pernah menampakkan diri dalam bentuk apa pun. Aku benar-benar akan lenyap dari hidupmu. Meninggalkan kenangan yang akan segera terlupakan. Cinta, tak perlu dipersoalkan. Cukup sederhana ketika hidup akan berakhir mati. Maka cinta pun akan berakhir sakit hati. Maka untuk menutup segala kesalahanku, aku perlu mati. Inilah akhir kisah hidupku yang tak begitu indah. Senyumku selalu untukmu.
Taburan bunga duka mengiringi kepergianmu, taburan kristal air mata melayat kepedihanmu. Kita sama-sama menggali kubur kita sendiri. Terjerembab ke dalam lorong gelap dan bersandar pada tanah. Napasku tak berhembus lagi. Tanah perlahan merasuki seluruh lubang hidungku. Lebih baik aku pergi. Daripada harus menjelma sebatang bunga akasia di tanah gersang. Sia-sia. Kau menggelayut mimpi di setiap lelap tidurku. Namun, apalah arti sebuah mimpi. Selalu berakhir dengan ketiadaan. Terlupa. Lebih baik aku tumbuh di atas pusara tanah merah yang masih basah. Karena doa-doa tergantung diantara reranting dan sepucuk surat kepada tuhan. Aku tak bisa melayarkan cinta karena perasaanku jauh dalam terkubur. Bahkan hatiku terkunci rapat karena rantai telah membelenggu oleh dengki dan kebencian, kekecewaan dan harapan kosong yang tersisa. Ke manakah tempat yang bisa membuat mataku kembali bercahaya. Aku tak menemukannya selain dekapanmu. Selain kehangatan cintamu. Di antara jurang yang memisahkan jarak, aku selalu menantikan jauh di dasar jurang. Bahkan jika aku harus jatuh ke dalam. Terbentur keras, lalu berdarah-darah. Demi cinta.
Kini lautan semakin terhisap habis lantaran mataku dangkal. Ketika kesedihan menjadi terlalu dan dasar mataku tak berair lagi. Ketika tangis pun menjalar seperti lahar dingin dan turun melewati pipi, bukan air tetapi larva pijar panas yang berasap menganak kali. Aku tak bisa mengungkap bentuk kepedihanku. Ketika rasa sayangku habis karena gelas pun pecah. Bukan separuhnya, melainkan tumpah ruah habis menyeluruh. Hatiku, sesaat kering. Jiwaku sesaat gersang. Dan mataku kembali kemarau bukan lantaran kehabisan air. Tapi karena cuaca tak lagi berpacaran denganku. Aku butuh surgamu. Ketika dahaga karena hasrat luapan kerinduan yang membuncah di tengah padang. Membentuk semacam oase yang terbayang hamparan danau. Bahkan sebenarnya sama sekali hatiku telah meradang. Kini, hanya butiran pasir yang jatuh dari mataku ketika menangis. Dan aku pun mengais butir-butir pasir itu untuk kembali kusimpan, agar aku masih bisa menangis, di kemudian hari.
Di atas pusara itu mataku hanyut dalam luruh derai tangis yang berurai gerimis. Senja telah berkabung sedang hatiku dirundung pilu. Maka tatkala kesepian dan kesenyapan hati telah menepikan rasa benci. Aku tak bisa dalam sedetik untuk berdiri di atas kaki sendiri. Menatap langit kosong dan seluruh semesta padam serta bungkam. Tak ada cinta yang benar-benar bertahan dalam tahta. Jika hati ini kemudian terpasung oleh luka. Kekecewaan mendalam serta merta merajaiku. Kau, telah membuat segala awal menjadi akhir. Ketika api pun padam pada binar-binar kerinduan. Aku hanya tak bisa, menjadikanmu semacam kisah cerita. Ketika harapan semestinya berpisah dengan realita. Maka tak ada lagi cerita tentangmu. Tak ada lagi rindu. Rindu akan purnama yang bersahaja di singgasana. Hatiku melayat. Ketika separuh jiwaku telah mati. Karena cintamu.
Kapan terakhir kali kau nyatakan cinta. Merasakan kerinduan dan lubuk hati terpenjara oleh perasaan yang tak terdefinisikan. Ketika kamus tak mampu membendung perasaanmu untuk diungkapkan. Saat itulah cinta seperti syair yang dikumandangkan. Kemudian awal selalu saja bertemu akhir dan kisah cinta teramat tragis menjadi kehilangan yang tak terelakkan. Bagi kau yang baru terjatuh karena cinta, nikmatilah. Karena kau bisa jatuh. Maka kau pun bisa bangkit. Saat dirimu terhempas dan dadamu berdarah-darah karena hatimu telah terlalu terluka. Obat yang membuatmu tenang adalah keyakinanmu. Ketika kau percaya bisa untuk bertahan karena cinta, maka kau bisa berusaha untuk melepas cinta. Tinggal kesedihan dan berurai air mata meninggalkan jejak kebisuan yang beku. Hatimu rapuh karena hatimu telah jatuh. Bukan karena cinta, tapi karena dirimu. Ketika cinta memisahkan harapan dan kenyataan. Aku berharap tak bertemu di persimpangan jalan. menantimu untuk kembali dalam dekapan, cinta. Aku yakin, kenangan akan menjadi lembaran album yang bisa tersimpan, untuk kembali menikmati cinta yang tertinggal, terlalu indah untuk dilupakan. Bukan saja dalam album dan bingkai foto tapi jauh di dasar hatimu, pernah ada cinta.
Awan mulai terselimut kabut tipis keabuan. Perlahan berarak dan mulai merapat menutup kapas putih. Terdengar gemuruh tertahan hendak melawan. Ada kekhawatiran dan rasa kalut yang menyatu menyerbu dada. Perasaanku, mendung. Aku tak tahu apakah malam ini turun badai beserta angin bertiup kencang kemudian hujan menderas, atau sekadar gerimis kecil yang menggelitik karena gemerciknya menyentuh daun satu-satu. Mungkin, barangkalai hanya mendung seperti kaca tipis yang menyelimuti mata. Tak juga hendak meledakkan isak tangis atau menumpahkan kesedihan. Hati manusia siapa tahu. Begitu pun hujan datang siapa tahu. Aku tak bisa menebak. Mengetahui segalanya saat terjadi badai, mengetahuinya sesaat hujan mereda, mengetahuinya seusai tanah mulai basah. Ketika harapan itu harus terpaksa ditutup karena realita. Seketika langit padam. Tak bercahaya. Seketika air muka berubah sendu. Seketika mata hendak turun salju. Hidup telah memberikan pelajaran apa yang tak pernah tertangkap waktu. Aku mulai termenung dan hanya terduduk menopang dagu. Apakah aku bisa, siapa tahu. Cinta tak lagi soal waktu. Aku ingin segera tahu.
Mungkin, tak mudah bagimu memaafkanku. Karena sakit yang menorehkan luka bahkan merobek kalbu. Tak sekadar luka tapi juga kepiluan hati yang mendera. Lantaran kau merasakan pedih yang melanda tersiram air cuka. Hatimu gelap. Maaf pun tak tersedia. Bahkan penuh syarat. Atau bisa jadi ditunda. Tak mudah karena ketulusan tak lagi singgah dihatimu. Kebencian adalah jeruji yang mengekangmu dari ikhlas mengampuni. Butuh lebih dari sekadar permohonan maaf sepenuh hati. Ada harga yang harus dibayar. Ada dendam yang harus terbalas. Manakah diantara kebencian yang mampu hilang selama emosi menguasaimu. Hanya nuranimu barangkali bisa membebaskan, dari belenggu rasa enggan untuk memberi. Rasa legawa dan lapang dada. Menyerahkan rasa sakit pada keikhlasan. Berhenti mengedapankan emosi dan membiarkan jiwa bebas pada kesucian. Bahkan kau menumpahkan segala tangis untuk membayar kesedihan. Untuk meredam kekecewaan. Tapi maaf tak pernah bisa ditawar untuk bisa terbayar. Hanya cinta dan ketulusan hati yang mampu berikan rasa ikhlas tanpa berharap untuk terbalas. Rasa sakit, masa lalu. Kebencian tak akan mendatangkan jiwa dan mengekalkan hati pada kedamaian. Berilah aku cinta. Maafkan aku. Maka kucintaimu dengan ikhlas.
Daun cemara tua kecoklatan akan tertiup angin lalu jatuh terkulai dan luruh ke tanah. Hati siapa pun akan terhempas dan menahan perih. Ada kebencian dan dendam. Tapi ada cinta yang sejuk dan sebening embun pagi. Aku tahu, nuranimu masih luas sejauh langit terbentang. Aku menggenggam erat tanganmu, dengan harap dan getir. Ada lega dan bias haru menitik air mata yang menggantung di ujung. Memelukmu. Meminta dekap yang hangat. Matamu pun berkedip karena aku segera mengecupmu. Mengetuk hatimu. Rasa sayang begitu indah. Aku pun tak kuasa, dengan penuh rasa syukur. Bersamamu, meniti hari dengan penuh asmara. Lembaran hari berganti dan waktu terlambat untuk berhenti. Di antara masa yang terlewati, tak perlu ada penyesalan. Mohon maaf lahir dan bathin. kembali hati menjadi suci menjelang masa depan yang dinanti.
Kau telah permainkan resah dan gelisahku. Ketika rasa harap tak lagi berpangkal pada kenyataan. Menunggu detik-detik yang terasa kabur, jembatan kita telah roboh. Kita masih melihat langit yang sama, sekalipun semalam sempat padam. Masih kulihat bintang menebarkan cinta dan kemilaunya. Seperti pasir putih yang kau simpan dalam botol, maka terpaan cahaya memantulkan bias dan terbitlah pelangi. Dimanakah senja kini, jika yang ada hanya kesendirian. Deru nafas bisa kudengar sendiri. Tak ada lagi riak tawa seperti deru ombak yang menyusul. Hatiku membisu lantaran perasaanku telah membeku. Menatap kosong sejauh mata memandang, tak ada lagi kedamaian. Hatiku selaksa air yang berjelaga kemudian turun menderas, bermuara pada hulu mendambakan ketenangan. Jika kau mampu meredam ombak maka peluklah diriku sesejuk angin sore. Lalu kau boleh tumbuh dimana pun, karena hatiku siap untuk kau tanam, lalu kujadikan taman seperti syurga. Aku menginginkanmu, sayang
Kita masih bisa mengerti ketika bahasa hati kita berbicara. Ketika aku masih bisa mengungkapkan isi hatiku dalam bentuk bahasa. Kau pun bisa menerjemahkan perasaanmu dengan bingkai kata-kata. Sebenarnya hati kita masih sama. perasaanku masih ingin bersama tak sekadar ingin. Kau lebih sekadar cantik untuk kucintai karena kau adalah sesuatu yang sangat berarti bagiku lebih dari sekadar kumiliki untuk selamanya. Bayang wajahmu tak hanya menghiasi ruang kamarku, lebih dari itu bayang-bayang parasmu memenuhi ruang hatiku. Kau jaga selalu hatiku, menuntun jalan ketika terjal dan berliku karena jurang. Kuserahkan semuanya pada waktu apakah cinta bisa kadaluarsa. Apakah semua tentang cinta adalah cerita tanpa sebentuk realita. Garis tangan telah menunjukan bahwa di matamu bisa kulihat permukaan air yang tenang.
Aku baru tahu, semua kenangan itu tak berarti apa-apa. Semakin kusimpan semakin kugenggam duri. Sakit. Cinta tak bisa menyelamatkanku. Ketika cerita indah itu terhapus begitu saja karena hubungan kita terputus. Aku hanya memandang kosong, mungkin kebahagiaan itu ada saat kita benar-benar merasakan cinta. Ketika cinta itu hilang, kenangan, cerita indah tak lebih dari sekadar bara api yang tak bisa lama disimpan. Kau dengan mudahnya menghapus semuanya. Sementara aku dilanda kegelisahan karena masih terlalu mencintaimu. Semakin kucoba untuk melepasmu semakin aku tahu lebih dekat dengan rasa sakit. Rasa kecewa, lalu dilema. Apa arti kesetiaan jika tak mampu membuatku bertahan, cinta pun hilang karena yang kumiliki hanya sekali. Kau hempaskan aku seperti itu, pecah berkeping-keping. Butuh waktu untuk menata ulang kembali serpihan pecahan-pecahan untuk membentuk bingkai hati yang utuh, siapa tahu ada bagian kecil yang hilang. Aku tak bisa berbuat apa-apa.
Sedekat ini hatiku tak berdetak karena aku tak sanggup mengelak. Ketika kau mulai ragu dan aku tak bisa meyakinkanmu lagi. Cinta adalah secawan anggur yang memabukkan, kemudian kau bagi seteguk denganku. Kita dimabuk asmara. Aku pun menggenggam tanganmu erat, seperti hatiku yang berhasil kau jerat. Aku yang termangu telah terjebak candu sementara hatiku terselimuti samudera rindu. Cinta membiarkanku tenggelam, tak pernah ada kesempatan untuk terpejam. Mimpi hanya sekadar ilusi. Hidup tak lebih dari rangkaian cerita tentang cinta. Bahkan bisa berakhir tragis tanpa henti untuk menumpahkan tangis. Rela ketika sang kekasih harus pergi sementara hatimu hancur karena pikirnmu kehilangan kendali. Romantika hidup. Ada kisah, seperti ciuman panjang tanpa jeda sambil matamu terpejam. Ada gelora dan hasrat untuk hidup bersama tak pernah sama dengan jalan realita. Biarkan ini semua terjadi, memandang sekelilingmu bahkan pernah kau salahkan pencipta. Dimanakah diantara cinta yang ada mampu bertahan abadi. Ketika perasaanmu membutuhkan sandaran bahwa hati tak pernah percaya pada jarak, tapi lebih percaya pada kedekatan. Pada cinta. Ada hati yang patah, ketika kau tak mampu lagi mengarungi samudera. Aku tak berani bersumpah. Cinta bukanlah segalanya. Karena hidup bukan saja tentang cinta, tapi tentangmu sayang.
Aku disini, dia disana. Sebelumnya dia bilang padaku, ingin datang padaku. Aku yang memintanya datang. Karena aku ingin memberikan sesuatu padanya. Sebenarnya aku pun tahu, dia berhalangan. Ada acara yang tak bisa ditinggalkan. Dari situ, menyulut kekesalanku. Aku biarkan dia bertanya-tanya. Aku biarkan dia cemas. Aku biarkan dia khawatir. Awalnya kukira dia batalkan pergi. Karena aku tahu acara itu penting baginya. Tapi selain itu aku tak tahu apakah dia benar-benar membatalkan datang acara karenaku. Karena kesalahanku. Dan semua itu terjadi begitu cepat. Aku tak menyangka. Dia pun pergi, membatalkan janji dan hendak menemuiku. Lantas, di perjalanan. Ketika hujan lebat mengguyur dan jalan basah. Terjadilah kecelakaan. Saat kudengar kabar, hatiku runtuh. Tubuhku jatuh. Aku tak berdaya, dan aku benar-benar tak sanggup. Aku harusnya tak memaksakannya datang. Berita itu baru kudengar sedikit terlambat, dari seorang yang berusaha menyelamatkanya di jalan. Dan aku tak memiliki kesempatan lagi melihatnya untuk terakhir kalinya. Karena dia telah meninggal. Aku tak sanggup berbicara. Aku tak sanggup. Selama berhari-hari aku tak sadarkan diri. Selama berhari-hari hidupku tak normal kembali. Aku kehilangan kesadaranku. Aku kehilangan separuh jiwaku. Tidak ada yang lebih sakit dari penyesalan ini karena telah membuatmu pergi. Aku tak pernah bisa berhenti menangis, karena rasa bersalah. Betapa tidak, ketika itu aku memang kesal padanya, namun tak sepantasnya aku begitu. Aku tahu, aku terlambat untuk menyadarinya dan menyesal sejadi-jadinya setelah semuanya terjadi. Orang yang kusayang, akhirnya pergi. Tanpa pamit. Untuk selamanya. Butiran bening itu menjadi banjir yang melanda dan membasahi pipi. Aku tidak bisa menebusnya dengan apa pun. Aku Cuma bisa berdoa sambil berlinang air mata, orang yang kucintai telah pergi sebelum benar-benar datang. Aku telah membuatnya pergi di saat aku benar-benar menginginkannya datang. Maafkan aku sayang. Aku selalu mencintaimu.
Bunyi denting terasa di telingaku, kau pun berbisik. Semalam, kau begitu mesra. Aku pun suka. Tawa yang terlepas dari jeruji beban dan nestapa, menggelegak canda. Kau pun mengelus-elus penuh kelembutan. Cinta, bisa berbagi. Ada kehangatan. Kau pun semakin ranum. Aku ingin sekali menggigitmu lalu menikmatinya. Senyawa yang basah, kemudian melekat karena tubuh kita merapat menyatukan gemuruh yang tak tertahan. Kau terpejam karena pulas sementara matamu tertutup karena aku tak lepas memandangimu, terpesona. Ada bias tak terurai, semacam rasa bahagia. Rona yang tak pudar di atas selilokui. Pelangi karena jingga. Bahagia karena cinta. Setiap sudut tak menyisakan celah. Jika ini adalah bagian cerita. Aku ingin menjadi bagian akhir yang bahagia. Siapa tak menyangka, semua jalan cerita tak pernah pasti berhenti di titik mana. Sementara kau belum siap menerima kenyatan berbeda. Aku hanya bisa memandang sambil menyunggingkan senyum, diantara kekecewan masih ada harapan. Penantian tak pernah tiba pada kata terserah. Aku adalah milikmu.
Kau tahu, aku tak pernah meminta untuk dilahirkan. Aku tak pernah diberi kesempatan untuk memilih. Dimana aku dilahirkan. Maka, setelah sekian lama hidup. Tentu aku ingin segera mati. Berapa banyak orang sakit hati, merasa terbuang dan percuma. Sekian banyak perasaan terhempaskan takdir. Begitu banyak pasangan pecah dan bercerai. Tak ada yang bisa menyatukan kedua insan kecuali pertemuan. Pun berakhir dengan perpisahan yang tak terelakkan. Dimana cinta, adakah bisa membuat semuanya menjadi bersatu kembali. Ketika dunia menjadi arena sandiwara dan perasaan dengan mudah dipermainkan, diperankan. Hatiku jatuh, kutemukan seonggok kesedihan menggantung di suatu malam, tetesan air mata yang tak terdengar jatuh. Kau pun tahu, berapa banyak kesedihan dan tangis menggema tak pernah terdengar kecuali sayup-sayup angin yang mulai merenda tabir kerinduan menjadi peredam rasa sakit dan kecewa. Disini, aku tak tahu. Bagaimana menghentikan pergantian waktu, semua bergilir dan berputar. Kau campakan aku. Tega. Aku hanya bisa berbincang dengan hatiku, semacam berbisik. Lalu terdengar lirih dan menyentuh. Air mata pun mengalir karena kesendirian. Kenangan menjadi duri yang merobek hati. Ingatan akan kisah yang indah menjadi perih untuk dinikmati, terlalu terluka. Untuk apa, lebih baik dilupakan. Akan tetapi semakin kau paksa diriku lenyap dari ingatanmu, hatiku telah bersemayam lama. Kau tak pernah menemukan tempat, kecuali mati. Ragaku terpasung luka akan cinta yang telah membunuhku, perlahan.
Kalau suatu saat aku merasa lelah. Merasa semuanya tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Tak ada jalan dan kulihat hanya kegelapan di sepanjang jalan. Aku pun merasa lelah membahas cinta. Ketika cinta tak mampu berjalan searah dengan takdirku. Aku tak tahu harus berkata apa. Apa aku bisa mengucapkan sepatah kata lagi tentang cinta. Bahkan hanya sekadar mengeja. Aku tak yakin bisa meraba ataupun menyentuhnya. Apa aku akan melupakanmu, atau bisa mengusirnya dari ingatanku. Aku tak begitu yakin. Ketika aku menyerah dan kau menjadi orang lain. Mungkin semua tampak tidak menarik lagi bagiku. Tidak ada aroma yang membangkitkan gairahku, seperti peluh yang menempel tubuh. Aku kehilangan energiku. Seperti kehilangan daya untuk menyalakan lampu, atau listik untuk membangkitkan kota. Mendadak langit padam dan kota menjadi mati. Gelap. Mungkin pikiranku kalut dan tampak suram. Mukaku berubah muram dan aku semakin tenggelam. Entah, tidak ada kerinduan dan kehangatan pagi. Atau seperti kehabisan mimpi dan setiap malam hanya terlihat gelap. Tak ada riak tawa dan senyum mengembang yang terbentuk karena bibirku menjadi datar seperti garis lurus horisontal. Mataku pun sendu seperti sembab karena terlalu banyak membendung air. Bahkan, air mataku menyurut dan dangkal seperti air laut tertelan bumi. Kemudian tidak ada jabat tangan ombak kepada pasir memberi salam. Tak kecupan hangat dan lambaian tangan. Kehidupan seperti daun yang tertiup angin, bergoyang dan jatuh. Terbuang, kemudian terhempas. Entah, siapa yang akan memungut dan menyimpannya. Atau sekedar jatuh dan terlupakan. Seperti sebuah surat yang diantarkan ke tengah lautan tanpa alamat. Sisa hidup mudah terombang-ambing, timbul lalu tenggelam. Aku tak mau itu terjadi.
Tiba-tiba, aku ingin sekali mati. Lelah, untuk bertahan pada suatu arti yang tak bisa kuyakini. Semua cerita indah hanya bisa kusaksikan dalam cerita film, atau cerita indah romantika dalam novel. Atau bahkan bualan-bualan penyair yang merayu hingga mendayu-dayu. Hidup tak seperti itu. Kenyataan membuatku berdiri pada satu titik dalam waktu yang sama. tidak ada yang menarik. Selebihnya konflik. Atau Cuma intrik. Hidup penuh kepalsuan. Fana. Tak ada keabadian. Petunjuk selalu mengarah pada benar dan salah. Kemudian berkilah. Setiap orang percaya pada kebohongan, pada cerita. Tidak ada yang percaya. Semuanya tenggelam pada dunia maya. Dunia nyata tampak semu dan membosankan. Aku tak bisa mengisi kepalaku lagi dengan hal-hal lain. Penuh sandiwara. Kepribadian pun kini menjadi ganda. Terkadang seseorang bisa menyulap dirinya menjadi sangat baik dan memesona. Terlihat cantik dan menawan. Tidak ada ketulusan dan kemurnian. Semuanya mencari nilai. Ada materi. Bahkan berlomba-lomba meraih kesempurnaan. Setelah semua yang kau peroleh dalam pencapaian hidupmu, lantas apa lagi. Kemudian kau bangga-banggakan. Mendadak kau bisa menertawakanku karena mengganggap tidak sepadan. Lemah. Tidakkah kau ingat perbincangan kita tentang kematian, kelamu. Keranda dan kain putih yang mengantarkan kita pada keabadian. Ketika kehidupan hanya sebentuk perwujudan. Sebenaranya tidak ada kematian. Mati untuk hidup. Siklus reinkarnasi. Ketika manusia hidup setelah dibangkitkan. Dan bersama-sama satu sama lain tidak perlu saling mengenal. Tidak ada kekecewaan. Tidak ada dendam. Tidak ada permusukan. Damai. Kenapa pada akahirnya manusia saling mengenal kemudian bermusuhan. Kenapa pada akhirnya semua ajaran baik malah membuat manusia saling menyalahkan. Kenapa pada akhirnya semua kekayaan membuat manusia saling menjatuhkan. Aku jadi lupa. Bahwa sebenarnya aku hanya ingin mati. Tidak perlu membahas cinta. Kerena sebenarnya tidak ada cinta sejati. Cinta ada sebentuk tumbuhan. Bisa kau tanam dimana saja, asal bisa tumbuh. Maka cinta tumbuh layaknya benih yang menemukan unsur hara dalam tanah. Bahkan bisa mendua. Bercabang. Selingkuh. Kehidupan manusia tanpa cinta seperti kehidupan tanpa tumbuhan. Kering. Tak ada makanan. Mati. Kau menikah, lalu bercerai. Jodoh, siapa tahu. Aku dan kau sering mempertanyakannya. Tak cukup dalil menguaknya menjadi jawaban. Tak cukup bukti. Jodoh bisa bertemu di syurga. Setelah aku mati. Kau pun tak perlu tahu. Dimana aku dikuburkan. Tak perlu kau datangi makamku. Kau boleh mendoakanku, tidak juga tidak apa-apa. Biarkan aku istirahat dengan tenang. Aku bisa melihatmu dari jauh. Kau mungkin tak percaya. Sejauh apa pun kau mengenalku, kau tak lebih mengenaliku daripada mengenali dirimu sendiri. Kau bisa melanjutkan hidupmu. Aku juga.
Saat mataku terpejam. Lalu kubuka dan kulihat seluruhnya adalah hitam. Saat itu aku sadar. Aku buta. Aku buta karena aku tak melihat kebaikanmu. Aku buta karena aku tak memandang sosok indahmu. Aku buta karena aku terlalu mencintaimu. Aku buta karena aku tak berhenti merindukanmu. Aku buta karena aku bertahan dengan cinta. Aku buta karena aku tak lagi bisa membedakan realita. Aku buta karena bukan saja mataku, tapi juga hatiku. Aku tak bisa berdiri dan menuntun jalanku sendiri. Akalku hilang dan kesadaranku tak kembali. Kau telah merebut segalanya. Bukan saja mataku, hatiku dan pikiranku. Kau mencuri hidupku. Dawai-dawai nada terputus karena gerimis perlahan berhenti dan ritme hujan tak terdengar lagi. Di sudut kursi aku terduduk sendiri. Memikirkanmu. Kau tak pernah ada. Kau bagiku cahaya. Tanpamu tak ada yang lebih berarti. Cahaya menemukan segala keindahan karena pertemuan berbagai warna. Ketika cahaya padam, aku lebih dari sekadar buta. Aku tak menemukan terang. Aku tak menemukan surya. Aku bisa terjatuh dan menabrak apa saja. Bisakah kau kembalikan semuanya padaku. Aku mohon. Karena tidak mungkin kutemukan cinta yang lain. Kau telah merampasnya dariku. Kau berjanji untuk menyimpannya sementara di belakangku kau berdusta. Karena cintaku yang kupunya hanya satu. Tak pernah terbagi.


































