Sebelum kau pergi, aku masih bisa
melihat punggungmu. Tapi seketika itu juga kesedihan muncul di pelupuk mata. Kau
tak berpaling muka, seperti terakhir kulihat. Kau pun tak memelukku, karena
kulihat kau jatuh dalam pelukan yang lain. Pelukan yang kubenci. Jika kau
ingin, aku akan sepenuh hati untuk memelukmu. Tapi, aku tahu. Kau lebih memilih
yang lain. Saat itu, aku tahu kepergianmu adalah keinginanmu sendiri. Merelakanmu
pergi dari sisa kebisuan yang tersimpan. Waktu tak akan pernah memintaku berhenti,
termasuk untuk kembali. Saat dimana aku berdiri menyaksikanmu dalam hening,
dalam pelukan yang lain. Barangkali, ini adalah perpisahan tanpa pelukan
seperti yang kubaca dalam kisahmu. Semoga tak pernah kulihat lagi punggungmu,
karena aku tak ingin.
Aku mengerti, kenapa cinta tak
mengenal durasi. Dan perasaan membawaku kembali pada jalan dimana harusnya aku
pergi. Nyatanya kau telah mengabaikanku. Kau masih sempat mengunjungi rumahku,
hatiku. Mungkin, jika waktu dapat kubeli untuk menghapus beberapa tahun. Maka aku
akan menawar dengan harga tertinggi, tapi perasaan tak dapat saling menawar. Ketika
kutepikan perasaan rindu nyatanya seperti mengirim surat tanpa alamat. Entah kepada
angin, entah kepada laut. Jika elemen masih bersatu dan garis orbit selalu
membawaku pada masa lalu. Tentang kita, tentang cerita yang tak pernah
berakhir. Seperti kehilangan yang terjadi, aku berlari untuk menghindari
bayanganmu. Aku sempat meminta hujan, agar jejakmu terhapus. Tapi hujan tidak
lantas turun setiap hari dan terik mentari masih menerpa bayangmu. Aku tahu
arah dimana angin menuju. Aku tahu, kau tak memberiku pilihan selain pergi. aku
akan menghilang.
tak kudengar rinai dendang rindu yang biasa kau senandungkan, saat
matamu menyusuri setiap jengkal diriku. menatapku mesra dalam lelap.
ketika kau menyerah pada arti kesendirian dan kau beradu rasa tentang
cinta. dan aku hanya berdiri di ambang pintu tak lantas mengetuk,
apalagi menyapa. kecuali, malam semakin temaram dan aku terjebak karena
hujan. menyisir helai rambut yang kukenal. menikmati aroma tubuhmu dalam
hening. tak perlu berucap kata karena kedipan matamu seakan
memanggil-manggil, untuk kupeluk dalam hangat. jika hujan tak mampu
menghapus bayangmu, maka kuizinkan kau menetap barang sebentar.
merapikan serpihan rindu yang berserakan. menata kembali bening kristal
yang jatuh dari mata, menjadi butiran-butiran berlian. maka aku tak
dapat pergi, lantas menutup pintu. karena hatiku terkunci, oleh getir
dan benci yang tak kupahami. sejak, aku tahu gelas itu tak berbentuk
lagi, setelah kau jatuhkan.
Aku tahu arti hadirku tak berarti lagi, ketika langit padam dan kerlip bintang semakin redup menyambutku datang, malam menjadi saksi berat hembusan nafasku meninggalkanmu pergi, melepas hatimu, seraya menepikan hati yang terluka. Aku bersembunyi dan berkaca di balik mataku yang basah, melihatmu melangkah. Melihatmu dalam jarak pandang terdekat untuk terakhir kali, masih kuingat nafasmu. Masih kurasakan denyutmu saat tangan kita berjumpa dan saling bersentuhan. Untuk detik yang berharga kubingkai senyum indahmu dalam sekejap mata, untuk kuingat. Jika suatu hari nanti tak kutemukan lagi bintang bersinar sama maka akan kutebus senyumu dengan lentera hati yang tak pernah padam, saat semunya telah berakhir. Hatiku lelah untuk menanti, dan mimpi akan hilang setelah pagi datang menjelang. Aku masih ingat, rasanya ketika degup jantungku berbeda, bukan saat pertama memandangmu, tapi saat setiap namamu kusebutkan. Terdengar lirih memanggil-manggil, kesunyian menjadi bahasa yg lebih akrab menemaniku, tanpa secangkir kopi. Ketika dirimu benar-benar hilang. Aku tak mampu bertahan dengan langkah kaki yg rapuh, menapaki sisa-sisa waktu, apa aku terkubur ketika jiwaku mati, menjadi bunga yang kering. Mengingatmu, akan kisah yang kupercaya. Ingatan-ingatan tentang rasa yang terselip masih saja mengusik batinku, mungkin tak mampu membuatku mati. Tapi perlahan-lahan kau telah merampas jiwaku. Dan tak pernah kau kembalikan
Ada getir yg tersisa ketika jarum jam terhenti tepat saat jantungku tak berdetak dalam sesaat, hitungan jam tak berarti jika luka hati masih terasa nyeri karena menghitung hari saja tak cukup. bahkan, batas senja terhalang waktu untuk berjumpa denganmu. tentang cinta yg padam karena benci terkubur dendam. seiring perjalanan waktu mengiringi jejak bayangmu yang terhapus angin, aku disini masih mengeja cinta. belajar tentang kata yang kurangkai dengan hati, tentang makna yg kutulis dengan ketulusan. Sebab hujan tak pernah memintamu menangis, setelah kau pergi. Tetes-tetes kerinduan yg meretas di ujung daun memintal rindu, mengabadikan kenangan indah bersamamu. Tak akan lama lagi hilang
Menanti gerimis yang tak kunjung datang, kepulan keresahan masih tergambar di parasku. Semalam, aku masih memimpikanmu. Aku lelah untuk bertahan jika bayangmu masih menghantuiku. Suatu malam yang sama ketika pelukmu masih tergambar jelas di mataku hingga aroma tubuhmu menyelinap ke rongga hidungku, membangkitkan kenangan yang terkubur lama, tentang kamu. Tentang cinta yang terjalin indah di antara dua hati. Mendekapmu dalam sunyi, membelaimu mesra. Dalam keremangan kugenggam tanganmu, terasa nyata. Tak perlu kuraba ketika bibirku merapat menemukan bibirmu dan kita saling berpegangan. Tak perlu kata-kata, aku tahu kamu masih cinta. Tapi aku tak tahu bagaimana kutemukan cahayamu lagi di kegelapan malam
Tak ada yang bisa menjelaskan
arti rasanya dalam sebuah titik dimana aku tak pernah tahu bayangan selalu
mengikutiku kemana pun aku pergi. Jejak-jejak yang tercetak di bawah sinar lampu
mengikuti seluruh gerakanku. Begitu juga bayanganmu yang selalu mengikutiku,
saat jalanku maupun diamku. Adakah aku dan bayanganku akan terpisah.seperti
jejak yang terhapus hujan. Aku ingin bayanganmu hilang, pun aku tak perlu
memadamkan lampu. Kau tak lebih dari rasa yang tertinggal, ketika semuanya
menjadi sia-sia dan kau tak pernah menganggap itu berarti. Aku telah
menjadikanmu ingatan yang panjang tertanam dalam benakku, juga hatiku. Sementara
kau tak pernah tahu rasa sakit itu tak pernah tersembuhkan, bahkan oleh
bayanganmu.
Tak kulihat lagi cinta di matamu.
Tak ada lagi bening sendu yang lembut dan teduh menghiasi rona parasmu. Matamu terlihat
sayu dan bibir pun menukik kaku menyimpulkan garis datar yang tipis. Aku tahu,
di sana tak ada lagi sayang. Hatimu telah terbalut oleh rasa jenuh. Aku tak
bisa memaksamu lagi, bahkan tak sempat kupaksa. Jika akhirnya aku harus memilih
dan kau pergi penuh dengan ambigu. Aku ragu untuk menyimpan hatiku. Kotak besi
yang kujaga rapi tempat biasa hatiku tersimpan, kini sudah berkarat dan tak
bisa dikunci. Maka, aku tak perlu cinta. Mungkin untuk saat ini, jika harus
terbebani oleh segenap perasaan rindu yang belum terbayar, masih dihinggapi
rasa benci yang menyelinap di celah hatiku. Aku ingin terlepas dari belenggu kemudian
berusaha menghapus cuplikan-cuplikan drama cinta di otakku. Bahkan, mungkin
kenangan yang tak pernah bisa menyelamatkan cinta. Kecuali arti kesia-siaan
yang kudapatkan. Waktu tak pernah mau menunggu.Cintaku tersapu ombak
Lama aku berpikir untuk tersadar,
selama ini aku terjebak pada perasaanku sendiri. Cinta itu bukan ujung panah
yang menancap dalam dada. Ketika mata panah menusuk jantungmu lalu energi yang
ditimbulkan pun habis karena berhenti. Maka energiku pun akan habis untuk
mencintaimu. Lalu sebenarnya kau tak membalas cintaku. Kau malah melepaskan
anak panah kemudian menusuk hatiku. kehilanganmu, untuk belajar menemukan
jutaan harapan. Cinta adalah arah dimana kamu menuju, bukan arah dimana kamu
berhenti lalu berpaling dan menjauh pergi. Kau akan selalu ada, bahkan saat aku
pergi dengan langkah gontai di malam hari. Untuk menemukan pagi aku harus
berjuang menghabiskan malam seorang diri. Mungkin, kau punya satu alasan untuk
meninggalkanku. Tapi aku masih memiliki jutaan harapan yang lain bahwa bintang
di sana akan selalu tampak bersinar.
Inilah akhir dari setiap bagian
cerita. Aku harus memaksa diriku untuk berhenti mencintaimu. Menutup luka yang
belum sempat mongering, mengunci hati dan menitipkan perasaanku yang remuk. Aku
sudah berusaha untuk bertahan, tapi luka semakin menjalar dan rasa sakit itu
menyebar ke setiap aliran darahku. Bahkan, kau tak pernah berpikir itu
menyakitkanku. Bertahun-tahun seperti merajut mimpi dan harapan, namun terbakar
dalam sekejap. Betapa pilunya hatiku saat bayangmu tengah hadir dalam setiap tidurku.
Seolah cinta masih semanis dulu, kenyataan membuka mataku saat terjaga dan kau tak pernah di sini, lagi. Kesalahan terindah
yang kubuat untuk mencintaimu sampai kini harus kuhentikan. Dimana akhir kisah
tidak selalu terdengar bahagia. Dan aku tidak bisa mengelak dari perpisahan ini
karena keinginanmu. Aku masih mengakui, kamu adalah bagian cerita hidupku
yang indah. Sampai waktu akan membawaku pergi untuk melupakanmu dan menganggap
cinta itu tak ada.
Aku ingat, butiran kapas itu
terbang. Seperti butiran debu yang terhapus angin. Kini, kenangan menjadi
kepingan masa lalu. Terbang, terhapus masa. Aku tak mengerti kenapa aku begitu
lelah untuk mengingatmu. Ketika kenangan, rasa cinta menjadi ilusi. Kenyataan membuatku
bangun dari mimpi sekian lama. Hidup selalu membawaku pergi, cinta selalu
menjebakku. Aku tak ingin, jatuh terlalu dalam. Kau telah membuat segala
keyakinanku selama ini sia-sia. Bahkan, tulisan ini. Tak ada artinya lagi. Selama,
waktu-waktu terbuang percuma. Cinta menjadi bayangan semu. Keterikatan hati
hanya sebuah kata yang terucap. Tapi janji tertinggal cerita. Siapa sangka, air
tenang selalu menghanyutkan. Kau bukan saja telah menghanyutkan hatiku, tapi
menenggelamkannya jauh ke dasar lautan.
Aku terjatuh dan tak bisa bangun
lagi. Ketika air mata mulai mengering di dasar hatiku. Tak ada yang tersisa
kecuali dahaga dan rindu yang tak menentu. Tak ada arah jalan pulang. Tersesat dalam
ruang hampa tak bersudut. Jika nanti, ada kesempatan membawaku kembali pada
cinta yang sama. aku ingin kembali pada keyakinanku. Karena cinta telah
menghabiskan percayaku tentang kesetiaan. Tentang waktu yang membuatku
bertahan. Suatu ketika terkenang kembali aroma tubuhmu yang tercium samar-samar
tak bisa kucegah dan berlari menutup mata, hatiku masih mengejarmu. Ada bayangmu
yang tertinggal membekas jejak kebisuan hatiku yang bungkam karena kesepian. Menatap
langit-langit kosong serta merta cahaya lampu begitu menyilaukan. Malam itu,
aku memelukmu dalam dingin. mengunci rapat pintu, agar kau tak pergi. Tapi kau
tetap pergi, meninggalkanku.
Aku tahu, di sudut kecil hatimu masih
kulihat pelita kecil yang menyala bergoyang. Aku tahu, diam-diam kutitipkan
salam rindu yang kuhembuskan bersama angin setiap hela nafasku. Menyebut bilangan
angka yang tak terhitung sejak pertemuan denganmu. Seketika perpisahan menjadi
jawaban setiap keraguanku. Mataku menghangat dan bulir bening melelehi pipi. Dari
bibir kering yang kemudian basah saat kukecup mengalirkan hangatnya debur dada
dan jantung yang menyatu dengan perasaan cinta yang meletup. Letupan itu kini
tak terasa lagi sejak lava hangat menyembur dari mataku. Setiap malam kulirik
bintang yang enggan menatap lampu. Kamarku sekejap menjadi gulita dan hatiku
mulai meremang. Merindukanmu, sendiri. Apakah aku bisa menawar luka dengan
cinta yang mulai hilang sementara rindu telah menjebakku pada perasaan
bersalah. Menyalahkan waktu dan pertemuan yang tak pernah abadi.
Tak kutunggu senja kembali,
secercah harapan kosong mulai sirna. Lampu kota mulai temaram dan petang kini
semakin muram. Jika aku menjadi orang lain untuk belajar mencari cara bagaimana
menjadi diri sendiri. Seringkali aku tersesat di antara pertanyaan yang tak
kutemui jawabnya. Setelah sekian lama meniti lembar bersama, aku masih ingat
untuk pertama kalinya jantungku berdetak lebih cepat. Saat aku berniat untuk
memanggilmu, dari seberang gagang telpon. Bertanya padamu, tentang kabar,
tentang kamu. Kini, aku harus bertanya pada siapa. Ketika rindu tak bertemu
alamatnya. Ketika dahaga tak bertemu telaga. Sendiri, mencari celah di
sudut-sudut kota. Untuk sekadar membunuh waktu dan melewatkan masa. Membuang segala
keresahan di antara bibir cangkir yang mulai dingin. aku ingin sekali, menghilang.
Tak terhitung berapa kali
terbersit bayang wajahmu melintas di benakku, tak terukur jauh jarak untuk
menggapaimu lagi. Aku kehilanganmu, itu cukup membuatku sedih menumpahkan air
mata. Bukan saja semalam, waktu-waktu berganti dalam sekejap mata dan aku tidak
bisa lari dari kesedihan. Selalu saja, kenangan seperti memutar waktu dan
menampilkan seluruh adegan bersamamu. Saat itu, aku hanya bisa tersenyum. Kemudian
waktu kembali merampas menjadi kepedihan hati yang tak terelakkan. Kau pergi,
tak mampu membuat mataku melihat. Tidur tak mampu lagi kumendekap bayang dalam
pelukmu selain mimpi buruk yang menghantuiku. Adakah cinta membawamu kembali,
seketika jantungku berhenti saat nafasku mulai tertahan. Seperti isak tangis
yang tertawan saat aku mulai merindukanmu. Dari balik tirai keresahan yang
selalu menyelimuti, aku selalu bertanya. Adakah kau kan kembali dengan
senyuman.
Semalam, aku jatuh terkulai
bersimbah air mata. Memimpikanmu bersama orang lain dan aku tak bisa berbuat
apa-apa selain merasakan mimpi seperti nyata. Waktu berjalan lambat dan aku tak
bisa mempercepatnya seperti tiupan angin. Sementara, tetes embun dimataku basah
mengalir cepat tak terhadang. Aku tak bisa membedakannya lagi. Bagiku mimpi dan
nyata sama terasa menyakitkan. Kau pun pergi, bukan saja dalam hidupku. Kau juga
pergi bahkan dari mimpiku, menghapus segala kenangan yang tersisa. Aku tak tahu
lagi cara mengumpulkan waktu bersamamu, aku tak tahu lagi cara menghabiskan
kenangan bersamamu. Ketika kau pun pergi dari sisa waktu hidupku, aku tak
menemukanmu lagi bahkan dalam tidurku. Aku ingin kamu. Kembali mengisi sudut
ruang hatiku yang kosong, dan menguncinya.
Menunggu pagi. Akankah hujan
masih terasa sama, miris diantara gerimis. Aku tak bisa mengabaikan keresahanku
karena terbangun memimpikanmu. Sesaat, masa dapat terhapus. Akan tetapi
kenangan begitu kuat tergambar di setiap malamku. Kemana harus kupergi jauh
melangkahkan kaki, sedang jejak bayangmu masih tercetak jelas di sepanjang
jalan. Menantikan pagi, yang habis perlahan bersama sisa keresahan. Aku hanya
bisa bercumbu dengan bibir cangkir segelas kopi. Membayangkanmu, menikmati
kehangatan yang tak bisa terulang. Seteguk, lalu habis. Tak ada malam-malam
bersamamu merindukan pagi yang datang terlambat sebelum kau terlelap. Aku ingin
bukan sekadar kenangan, aku ingin bersamamu menunggu pagi, terulang.
Kita tak lagi bersama, bukan
karena jarak yang memisahkan kita. Bukan pula rentang waktu yang membedakan
kita. Entah, semacam batas bening tak berbayang jelas menjauhkan kita. Aku tak
mengerti saat alasan bisa sangat memukul perasaanku. Ketika kau ungkapkan pada
pagi hari itu saja, aku tak mampu berdiri untuk melihat bayanganku sendiri. Kupikir,
jarak bukan lagi masalah karena kau akan segera pindah. Aku bisa bertemu
denganmu kapan saja, seketika itu menjadi sia-sia karena kau menyerah pada
perasaanmu sendiri. Aku pun tak sanggup menyelamatkan bulir bening yang jatuh
saat namaku disebutkan. Sampai setiap malam aku takut lagi untuk menatapmu. Waktu
tak lagi berharga ketika bertahun-tahun menjadi sia-sia karena kau hancurkan
dalam sehari. Dimanakah kucari hati yang hilang. Menjelang pagi kutemukan
diriku terbangun bersimbah air mata, memimpikanmu. Bayang-bayangmu memudar,
tapi perasaan itu masih kuat. Justru bertambah sakit.
Menjelang pagi, aku tak sanggup
membangun mimpi. Kenyataan yang memaksaku pergi karena malam adalah mimpi buruk
yang selalu menghantui. Ketika mentari bersembunyi di balik selimut. Aku tak
pernah menemukan cahaya di wajahku. Tidak seberkas senyum, tidak juga pandangan
mata yang berbinar. Melainkan garis hitam melingkar di bawah mata, karena
semalam tak mampu terpejam. Aku takut untuk membuka mata, terlebih hati. Setelah
kutahu kau hujamkan belati tepat menusuk jantungku. Apa salahku, tak pernah kau
tawarkan pilihan. Hingga remuk sedu sedan yang tertahan di dalam dada. Kau tak
pernah tahu masih ada bayangmu dalam mimpiku, setelah kupadamkan lampu
sekalipun. Aku tak bisa membalut luka yang kutahan meski perih terasa. Jika nanti,
kucoba berlari untuk menemukan cahaya. Lebih baik aku terbakar daripada
tertusuk tanpa alasan.
Aku tak menyangka, sekiranya
matahari tak pernah bersinar lagi. Tiba-tiba saja suatu hari laksana bencana,
datang tanpa tiupan sangkakala. Kini, daun mengering selama mentari tak terbit
lagi di ufuk sana. Rerumputan kian merindukaan terpaan cahaya. Sejak, langit
berubah pekat dan mendung sepanjang musim. Bukan saja angin tak punya alamat
untuk berteduh, nyanyian sepi kian menyapa di bawah rindang pohon cemara. Saat itu,
aku terbangun menahan getir yang timbul di sudut mata. Memimpikan layarmu terkembang
dan menjauh pergi menghapuskan namaku yang tertulis di pasir pantai. Nada sendu
mengalun mengiringi pejaman mataku, berharap menjadi akhir dari segala cerita. Tak
ada lagi lambaian tangan di ujung dermaga. Selain luka yang kubalut dengan
senyum paksa. Mengeja gerimis yang jatuh menerpa wajahku. Hatiku tenggelam jauh
ke dasar lautan.
Suatu pagi yang biasa, hadir semacam cahaya kembali menyapa. Tak ada yang berubah manakala rindu pun tak kunjung pulang. Seketika bagian dirimu larut dan hilang. Senyawa cinta yang kini lenyap dalam sekejap lantaran benci yang perlahan tumbuh. Tanpa kutahu ada benih-benih lain yang mengakar perih. Luka masih saja meneteskan darah sejak kau lupa akan janji manismu yang tak terucap kata. Lebih dari sekadar ungkapan bahwa janjimu telah terukir di dalam dada. Entah, apakah benci dapat tersapu angin. Seperti kenangan yang dapat terlupakan begitu saja, ingatan juga album manusia. Suatu waktu dan lupa datang silih berganti. Aku tak menemukan cinta itu kembali. Telah kurantau bilangan kota, kudaki pencakar langit gedung tinggi, kulewati lembah dalam keresahan. Di sudut hatiku masih saja kutemukan namamu, tak pernah hilang.
Di lorong sepi hati aku mulai
menemukan titik-titik nyala lilin yang bergoyang, ketika bisikan hatiku lirih
terdengar. Aku mulai menguping dinding menyimak kata-kata yang tersapu angin. Bahkan,
ada senyum di balik kepiluan hati yang tak terselimuti. Jejak-jejakmu masih
membekas di pikiranku, aku harap akan tersapu masa. Kau telah merampas hatiku,
maka kucari kembali di setiap sudut. Aku tak akan menyerah untuk tetap bertahan
melangkah pergi, menjauh. Ketika kau telah menghancurkan menara di hatiku. Maka,
aku tak berusaha kembali membangunya. Aku akan berusaha pergi untuk menemukan
kembali nyala api yang padam. Entah, di sudut kota, bibir pantai, dermaga
sunyi, kaki langit, celah angin, dedaunan kering. Akan kucari rindu yang tak
kembali pulang. Untuk kudendangkan bersama nyanyian bisu dan keremangan lampu
kamar. Mengisahkan arti kepedihan hati yang terluka karena cinta telah mati.
aku tak berucap kata, ketika ungkapan menari-nari dalam bayangmu. sejak kau diam membisu, di sudut dermaga. aku tak mampu menahan gejolak rindu kala mata pun hujan. gerimis kian menderas kepiluan hati. bibirku menyungging senyum, namun hatiku menangis tanpa suara. selembar ikatan janji yang terbang tersapu angin. membiarkan ombak menggulung kenangan ini. saat hatiku runtuh bersama kepingan luka yang kau beri. aku tak bermaksud memutuskan tali janji suci kita. namun, hadirmu tak pernah wujud nyata. selain, mimpi-mimpi yang terbagi oleh api cemburu, kadang, jauh membutakan mata karena langit tak pernah terlihat sama. terlebih, ketika hatiku terendam benci manakala kau bersama cinta yang lain. apakah harus kuhapus jejak langkah yang tercetak di atas pasir bibir pantai. tempat kita mengadu hati lantas bibir menari memeluk dingin. di sudut gelap hatiku masih membisikan kerinduan yang lirih terdengar samar menggema dalam dada. jika, mungkin akhir menjadi perpisahan yang tak terelakan. lebih baik aku tak menemukanmu, dimana pun. terutama sudut hatiku.
malam ini, kau pun terdiam dengen bibir mengatup. sedang bibirku menahan getir dan getar-getar dalam rongga yang tertutup. keheningan ini tak pula diselimuti kesenyapan. sebab, angin tak mau kembali jika purnama tak menampakkan muka. haruskah kucari bibir yang lain. karena tanpamu aku tak mampu berdenting untuk bersulang dengan teriakan di tengah petang. janji, selalu kau ingkari. cinta, selalu kau dustai. manakah diantara hatiku yang tak tulus menjulurkan kasih sayang. jika, kesetiaanku selama ini masih kau ragukan. mataku tak pernah mampu terpejam jika perih hati ini kau balaskan. dimana rindu adalah anggur yang nikmat memabukkan. kapan kau membelai angin selembut kau membelai dedaunan. semilir angin yang tertiup tak tertangkap telingaku tentang suara-suara bisikan serupa desahan. aku ingin mengecup bibirmu dan kita berciuman untuk mengalirkan cairan dalam tubuh kita. gelas, kukecup dalam keheningan.
suatu malam, kulihat dirimu dalam sekejap mata dalam mimpiku. rupanya, kau bersama seseorang yang baru kutahu adalah impianmu. meneteslah salju dari kelopak mataku. senarai rindu berubah remuk tanpa redam. bahkan tanpa kutahu, kau terlibat dalam ciuman penuh gairah dalam pikiranmu. aku tahu, aku tak bisa mencegah gumpalan awan yang kini menjadi hujan yang deras. kau hanya terdiam, aku telah bicara tapi entah tak ada suara. kau pun bergeming tanpa berucap kata. sejak, hatimu selayang pandang ujung daun di musim gugur yang jatuh terkulai di antara tumpukan daun kering cemara. maka, aku menjadi sehelei tisu yang mulai basah oleh gerimis. aku tak mengerti arti pengkhianatan, ketika permukaanya saja terasa menyakitkan. ujung mata pisau itu seakan mengintai dadaku. hujamkanlah, jika itu akan membuatku mati. siapa yang tahu ketika hati terikat rasa sementara pikiranmu berfantasi dengan orang lain. bahkan, diam-diam dalam tidurmu kulihat kau berpelukan. bukan padaku, miris. maka biarkan lah hati ini berdarah karena aku tak mampu berpikir dan mewujudkan orang lain dalam kepalaku. kau, telah menyalakan api kebencian.
malam ini hatiku tergantung, di langit tak ada awan pun berkabung. sejenak, cinta menjadi kebisuan yang menenangkan. ketika suatu waktu aku masih ingat rasanya kecupan pertama. aku tak mampu menepiskan kegugupan dan getir saat lidahku nyaris terkilir. bukan saja malu, tapi matamu terpejam dan aku kehilangan kendali karena bibirku terkatup. detik-detik yang berguguran seperti menyaksikan dua cangkir saling beradu. kemudian, kau berbisik jauh dari telingaku. mengatakan rindu. maka kukatakan saja sayang. kau pun tersipu, kulihat pipimu merona. aku tahu, saat itu cinta adalah kedipan yang tertahan untuk terus memandang. bahkan tatapan berlangsung lama. kini, hanya kusaksikan sunyi dan gelap menggelayut manja di atas sana. kusaksikan riak di dalam dadaku mulai berombak dan bergulung-gulung. rasanya, aku seperti merasakan kesepian telah memenjarakanku. entah, jika kukecup dirimu akankah masih terasa sama. karena diam-diam bukan saja cinta tapi juga terbit benci dalam hatiku, melihat kau bersamanya.
Aku tak peduli kemana bunyi denting ini terdengar, bahkan suara riuh dan gemuruh dada tak sanggup kuredam. Ada sepercik kerinduan yang tak bertemu tuan, seperti ranting patah yang enggan jatuh. Cinta menjadi debu yang menempel di daun pintu. Ketika ombak mengecup bibir pantai, sajak-sajak cinta menjadi tak penting. Kemana semua tulisan penyair kembali, seperti kerinduan bulan yang tak kunjung bertemu. Barangkali, puisi hanya lahir untuk kembali mengisi keranjang sampah. Seperti makian dan sumpah serapah, mengikuti jejak-jejak kaki yang terhapus angin. Sampai kapan aku menjadi binatang jalang. Sampai kapan rindu ini tak bertemu bayang. Sampai suatu ketika cinta menjelma bahasa yang tak dimengerti, kemudian saling membenci. Adakah seseorang yang bisa menjelaskan arti puisi. Arti kiasan dan ungkapan yang selalu kau dengungkan lalu terdengar berkumandang. Bahkan, aku tak mengerti. Apa sebenarnya hubungan ini.
Aku takkan pernah lupa bahwa hatiku tergores luka. Di antara dendam dan benci yang menyatu, aku tertatih untuk berjalan dan menatap ke depan. Melawan angin dalam kesendirian, membunuh waktu demi merampas rindu. Demi keyakinan yang kurasa bahwa kau terlahir dari tulang rusukku. Aku rela bahkan untuk berdarah, ketika sakit terasa abadi saat kau pergi meninggalkanku. Tak kan kusia-siakan lagi kepedihan dan kesunyian yang membisu. Tak ada dialog malam ini, pun bulan masih sama. aku pun masih cinta, walaupun sakit di dadaku tak tertahankan lagi. Demi seluruh nafasku, aku membungkam jiwa yang hampa karena sakit hati yang terbalut hangatnya pelukmu. Melewati rasa yang pernah mati, takkan kucari jalan untuk kembali. Tanpa kau di sini, kunikmati rindu yang datang memaksaku, meneguk sisa kepiluan hati yang kembali mengepulkan asap di tengah malam di antara denting jam yang mulai berguguran. aku takkan pernah lupa, cinta telah membawaku sejauh ini untuk bertahan, berjalan walaupun kakiku tertancap duri. Untukmu, seluruh nafas ini tak tersisa lagi.
Hari telah kembali kelabu, seperti usang dan lapuk karena waktu. Hati pun menepi enggan untuk berbagi bersembunyi di antara mimpi-mimpi. Sejuta angan tergantung di langit, sejuta rindu terbang tak tergapai. Hidup menjadi lebih kosong karena cinta hanya senyawa kimia. Di antara kepingan rasa benci yang mulai tumbuh menjadi duri. Aku tak berani untuk melangkah bersama sisa luka yang tertinggal. Sisa cinta yang masih tersimpan, menyuburkan rindu yang kembali tumbuh dalam setiap waktu. Kenangan, tak memberiku pilihan untuk berjanji menghapusnya dari memori. Kini, cinta yang telah membeku tak pernah mencair. Selepas angin yang mulai menerpa badai di akhir senja. Berharap, aku bisa menatapmu sesekali dalam mimpi. Memelukmu dalam bayangan.
Seperti yang kau janjikan, aku datang malam ini. Di tempat yang kau suka dan kurasa tampak lebih sepi dari biasanya. Hatiku begitu ramai karena jantungku sedari tadi berdugem kencang. Aku tak tahu, apa yang akan terjadi. Perasaanku mengatakan kau akan datang sembari menyembunyikan setangkai bunga di balik punggung, kau tersipu malu memberikannya padaku. Di tempat ini, tempat aku jatuh hati padamu, lirih musik terdengar pelan ketika petikan gitar itu mengiringi anganku lebih jauh. Sementara hatiku kemudian jatuh di pelukanmu. Detik demi detik saling menyusul pergi. Malam semakin tenggelam. Aku pun masih menatap secangkir resah yang mengepulkan frustasi karena mataku sibuk mengedarkan pandangan. Malam terasa dingin ketika kecemasan menguasaiku. Aku harap kamu datang. Semua kegetiran ini bercampur sendu karena rindu telah menyatu di dalam secangkir kopi yang kusesap perlahan-lahan agar tak segera pergi. Begitu lama kedipan mata melambat menunggumu datang. Pesan singkat kukirimkan. Kau pun tak membalas. Aku cemas, berharap penantian ini berakhir bahagia, kulihat rupa rembulan menyeringai padaku. Aku tak suka, berada dalam titik ragu dan tak pasti setelah kutahu cinta semakin rumit untuk kupahami. Sejak, aku tahu cinta tidak selalu indah. Kau pun tak datang, setelah tegukan akhir kopiku menandai padamnya lampu cafe. Jam satu pagi.
Kuingin lebih dari sekadar rasa, tapi kau tak mengerti. Bagaimana keinginanku untuk bisa kau pahami. Perasaan ini bukan maksud menuntut hanya saja tak pernah aku berhenti untuk berharap. Agar kau lebih memahami perasaanku. Ketika kepastian seperti angin sore dalam musim hujan. Entah, gerimis akan mengiringi nyanyian kepiluan hati menerpa rindu ketika rintik menjadi jejak dan hati seperti tak mengakui. Bahwa aku masih mencintaimu dalam diam. Dalam bisik masih kutiupkan rindu yang kini mulai membisu. Di antara rerumputan yang kini mulai layu, aku terkulai bukan lantaran luka. Tapi cinta telah melemahkanku. Untuk tetap berdiri dan bertahan seperti dulu, menjadikanku selayaknya rintik hujan yang mengalun merdu. Sejak, hari yang kuanggap kelabu. Sementara langit pun berubah mengabu, ketika dinding-dinding senja kini berwarna abu. Hati pun seakan terselimuti kelambu. Coba sedikit saja berikanku pengertian, mencintaimu tanpa syarat.
Aku tak pernah menyangka, cerita ini akan berakhir tanpa kutahu dimana titik aku harus menghentikan perasaanku. Menjalani sisa kepiluan hati yang terkoyak lantaran kau pergi. Setelah semua yang kau coba untuk membangun rasa cinta. Lalu badai dengan mudah meruntuhkan segalanya, termasuk perasaanku. Kau, menyalakan api dan memadamkanya dalam satu tiupan sementara hatiku tak lantas padam dengan seketika. Kecuali derai air mata yang deras turun seperti hujan. Dulu, kau semanis madu di sarang lebah. Dalam waktu yang sama kau menyengat rasa sakit yang tak terperikan. Rindu menerpa tapi sakit begitu menyiksa. Awal selalu indah tapi perpisahan selalu menyisakan drama kesedihan. Tak cukup kutebus ribuan tetes bening kristal yang lahir dari mataku. Ini tak semudah mengarang cerita, alur cinta yang kurangkai tak berakhir dengan luka. Tapi kau begitu mudah membuatnya menjadi nyata. Kisah yang bermula tentu akan menemukan titik. Di mana aku akan menyadari, api cinta akan padam dalam hatiku entah sampai kapan.
Kamu tahu, aku seperti berdiri di ambang pintu sementara kakiku terpaku untuk bergerak atau diam. Tak ada lagi jejak bisu semacam kerinduan. Aku tak tahu kemana hati ini mengarah. Sedangkan aku tak tahu apakah seseorang di sana memendam rasa yang sama. menyembunyikan perih dan kesendirian mengulas senyum yang kuanggap palsu. Jika, hati ini harus bertahan di antara kesepian. Padahal, setiap malam kusapa rembulan yang selalu hadir tengah petang. Seakan janji tak pernah ada. Apa yang terjadi manakala hatiku membisu, karena hati nurani tak lagi bicara. Ketika perasaan seperti tak pernah berkata, menepikan rasa cinta yang selama ini selalu tumbuh tanpa bunga. Mengakar tapi tumbang karena cuaca. Kutepikan rasa rindu di ujung dermaga seperti batu yang terdampar di pantai. Aku tak bisa mengharapkan apa-apa darimu, sang surya. Jika malam ini terasa sama, aku asing tanpamu karena kegelapan tak pernah seterang jika rembulan tak muncul. Menghangatkan hati yang telah membeku.
Suatu waktu, aku ingin melintasi pikiranmu. Kemudian singgah dan menetap entah sampai kapan di hatimu. Membuka jendela dan sekadar menghirup udara dari rongga dadamu. Mengekalkan kerinduan ini yang terus bermuara pada pertemuan yang singkat. Menyusuri setiap celah tubuhmu untuk kuingat. Apakah, ini menjadi hal yang ditakutkan. Perlahan, kau akan terlepas dari ingatanku. Kemudian pergi entah kemana tak kutahu. Sementara hatiku menangis seperti tak ada kesempatan kedua. Tak ada pertemuan lagi, orbit yang melintasi garis edarku begitu berbeda. Melihatmu dalam sekejap menimbulkan semacam rasa yang tak kumengerti. Senyum pun tiba-tiba mengembang di depan cermin. Lalu berubah menjadi raut duka yang tertutup luka. Cinta menjadi tak penting setelah kisah ini berakhir. Manakah di antara detik yang berhenti untuk mengabadikan kenangan. Selain luka yang terus membekas selama waktuku berjalan. Aku ingin menjadi seperti yang kau kenal, seperti yang kau tinggalkan.
Barangkali, kau telah berhasil mencuri perhatianku. Bahkan, kau berhasil merampas hatiku. Setelah kita menjalani cinta yang terikat dalam hati. Kau, mampu membuatku memahami arti saling berbagi. Menjalani kisah dan jalinan cerita yang hangat. Menapaki jejak-jejak rindu yang mulai tertiup angin. Di manakah kelak jalan ini menemukan ujung sementara hatiku meraba karena tak kutemukan cahaya. Secercah harapan seakan menjadi jalan untukku kembali. Berdiri, seolah tak pernah tahu untuk apa cerita ini dimulai. Sebelum akhirnya terpaksa harus usai tanpa seberkas alasan yang menutupi. Malam semakin mesra. Sampai, aku tak menemukan dirimu lagi. Kau pergi jauh, tanpa meninggalkan sepucuk surat maupun kabar. Entah itu pesan atau sekadar catatan kau lenyap seperti debu ketika diterbangkan badai. Kini kusadari bahwa selama ini kau telah mengajariku banyak hal, mencintaimu. Tapi kau melewatkan satu hal untuk mengajariku bagaimana cara melupakanmu.
Lama sekali aku memandangmu, ketika serpihan rindu akan kembali terbit laksana mentari di ufuk sana. Aku ingin menyimpanmu dalam setiap detik mataku berkedip. Menyusuri setiap sudut hati yang akan kembali sepi karena kau pergi. Senyap kembali merayap saat malam kembali tergenang sepi, manakala bahasa kesunyian tak mampu terdefiniskan arti. Bahasa hati tak pernah mampu mengungkap luapan rindu yang menggebu. Hanya, keping-keping cerita di malam itu menjadi bagian yang tersisa. Di depanku, kau tersenyum manis tanpa gula. Begitu menarik dan cantik. Aku suka, ketika harum bunga menyeruak begitu aku mencium aroma tubuhmu. Memanjakan setiap hembusan nafasku yang terhenti tepat sebelum jantuk berdetak. Menjadikan arti hadirmu begitu teringat dalam, mimpi pun tak sanggup mengabadikan cerita selain sesuatu yang terus tumbuh dalam hatiku. Semacam perasaan yang kuat dan tegar untuk tetap berdiri. Melihat, namamu tak pernah hilang barang sedetik masa. Memelukmu erat malam itu seakan hari ini tak pernah usai.



































