Mama masih berkabung, matanya tampak masuk ke dalam. Mungkin, semalam mama tak bisa memejamkan mata lantaran terus memikirkannya. Aku tahu ma, kau masih mencintai ayah. Tapi apakah kau tak cukup sadar akan luka yang telah merobekkan hatimu. Dan dia pergi begitu saja tanpa memalingkan muka. Dia tak lebih dari sekedar belati bagimu. Semakin kau memikirkannya maka luka yang kau rasakan semakin dalam. Aku ingin mama tahu, aku lebih mendukungmu. Ayah memang tidak berperasaan.
Aku coba menenangkan Mama, sapu tanganya basah penuh air mata. Mama hanya terduduk di ranjang tempat mereka berdua memadu cinta. Akan tetapi tak ada cinta lagi di sini, sorot pandangan mama pun kosong. Matanya sembab, aku hanya bisa memeluk Mama. Mama tak berbicara sepatah kata pun, memandangi foto pernikahan itu dengan sesunggukan. Aku pun larut dalam kesedihan, Mama aku akan selalu bersamamu. Aku sadar bahwa perceraian tidak membawa kebahagiaan bagiku. Mungkin bagi Ayah, aku tidak tahu. Aku mulai membencinya.
Mungkin kau akan setuju dengan pendapatku. Sejak Ayah pergi, mama pun meraung-raung di kamarnya. Aku bingung, apa yang tengah terjadi. Kau tahu, Ayah menceraikan mama. Aku lemas dan tak kuasa berdiri. Malam itu, yang terdengar di telingaku hanya pertengkaran, ditutup dengan pintu yang terbanting dan mama sesunggukan di dalam kamarnya. Aku hanya terdiam. Tiba-tiba mataku pun terluka. Aku ketuk pintu kamar mama, tak ada jawaban. Aku benci perceraian. Apakah kau pikir perceraian tidak berpengaruh apa-apa terhadapaku. Kau sama sekali tidak memikirkannya.
Semua hal akan tampak terlihat lebih indah pada waktunya. Pada waktu yang telah ditetapkan dan kenyataan pun berjalan sebagaimana mestinya. Ada waktu untuk menunggu dan menanti penuh harapan. Ada waktu untuk menangis karena kesedihan dan penyesalan yang begitu dalam. Ada waktu untuk tertawa pada hal yang lucu. Ada waktu untuk diam dan menatap kosong tentang jalan hidup yang tak pasti. Ada waktu untuk berserah diri dan merelakan semuanya dengan penuh keikhlasan membiarkan segalanya terjadi. Ada waktu untuk melepaskan diri dan menyadari sepenuhnya kehidupan harus terus berjalan. Masih ada waktu untuk membuatmu bertahan, tentang cinta, masa depan dan kehidupan yang sebenarnya. Kau hanya perlu waktu untuk membuktikannya terjadi. Atau tidak sama sekali.
Apakah selama ini kita hanya bersandiwara, dan berpura-pura tampak lebih nyata. Bertemu denganmu, kemudian tersenyum. Menyapa, kemudian saling bicara. Bercerita kemudian saling bertegur sapa. Aku dan kamu, kita. Menggenggam tangan dan saling menatap dalam. Kemudian mengedip dan senyum kembali merekah. Aku menyentuhmu, membelaimu. Kau pun menatapku, kemudian menyentuhku. Lalu aku hanya mempunyai bahasa tubuh yang tak perlu dikisahkan. Karena kita sama-sama tahu. Waktu berjalan begitu cepat, sehingga aku tak bisa menghentikannya barang sejenak. Bahkan untuk menghela nafas. Karena kau seperti terburu-buru. Dan aku tidak memberikan kesempatan padamu untuk jeda. Aku lebih suka waktu berjalan lebih lambat, atau terhenti saja. Tapi kau seperti tak mempedulikannya, kau hanya lebih memerhatikanku. Aku suka, barangkali ini lebih dari sandiwara. Karena dengan atau tidak sekalipun, kau bersamaku. Mendekapku sedekat ini. Tak berjarak dan kutahu, kau sangat menyukainya. Saat kisah ini tampak lebih nyata, untuk kau rasakan. Kau sentuh, membekas.
Sebentar lagi pernikahanku. Apakah kau tahu, aku masih memikirkannya. Maafkan aku, aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku masih mencintainya, bisakah kau mengerti posisiku. Kau melamarku tiba-tiba di saat aku bimbang. Dan kuterima saja niat baikmu lantaran hatiku hampa. Akan tetapi, detik-detik menjelang pernikahan begitu menyiksa. Dia pun mendadak datang dan mengiba, mengumbar janji dan bersumpah cinta. Apa yang harus kulakukan, antara tetap menikahimu dan meninggalkanmu untuknya. Sungguh, bukan maksudku mempermainkanmu. Aku tahu, cinta kadang datang pada saat yang tidak tepat. Sementara ini, apakah masih perlu membahas cinta. Membahas perasaan dan kisah klasik untuk masa depan. Ini pilihan sulit bagiku. Aku terus memikirkannya, karena sesungguhnya aku lebih mencintainya. Aku mulai putus asa, antara keduanya untuk tidak memilih sama sekali. Aku tidak ingin menyakitimu, apakah ini masalah waktu. Aku harap kau mengerti. Semoga pernikahan ini akan tetap terjadi. Entah antara kau atau dia yang akhirnya menjadi pasanganku pada hari pernikahan, berikan aku waktu. Untuk sejenak berpikir.
Tanpa kau tahu, hari-hari telah tertutup usang dan selalu terganti. Tapi hatiku selalu terlihat baru dan menarik untukmu. Takkan terganti. Aku tidak membual. Apa yang sebenarnya dinyanyikan para penyair untuk merayu kekasihnya. Apakah semacam puisi dan sajak-sajak penuh cinta. Puisi akan tampak tidak berharga karena selalu penuh dengan kiasan. Ada hal yang lebih sederhana untuk diungkapkan. Ketika kau mungkin merasa harus membacanya, kau takkan perlu berpikir. Hanya terlintas dan setiap deret huruf mudah terbaca, juga mudah untuk kau pahami. Kau bayangkan saja, seperti selembar kertas, aku adalah kertas. Itu tampak terdengar jelas. Tidak rumit seperti warna senja keemasan yang berubah jingga ketika matahari mulai karam dan hatimu temaram manakala nyanyian di ujung musim tak lagi terdengar. Daun pun mulai berguguran, seperti pahlawan. Aku pun bisa gugur, menjadi satu dari jutaan daun yang jatuh. Terhempas, kemudian terinjak. Lalu usang, ada yang mudah diterbangkan angin. Mungkin, aku adalah bagian yang mudah terbakar oleh api. Tiba-tiba aku berada di tumpukan sampah, aku terbuang. Aku tahu, kau tidak akan membuangku, membuang setiap kesempatanku untuk percaya. Bahwa kau satu-satunya yang kucintai. Aku sedang tidak merayu. Percayalah.
Ini kisah sedihku. Aku pecundang. Mungkin aku lebih pantas disebut bodoh. Benar saja, aku meninggalkannya. Aku sudah tak sanggup lagi, menjalani cinta ini. Dia pun tersiksa, karena begitu mencintaiku. Apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak punya pilihan, daripada menyesal nanti. Aku ingin kau tahu bahwa aku tidak pantas untukmu, apa yang bisa kuberikan. Semua ini bukan tentang cinta. Semua ini tentang kenyataan. Aku tahu bahwa aku sangat mencintaimu, dan kau juga merasakan hal yang sama. Tapi aku tak tahu, bahwa cinta bukan kisah antara aku dan kamu semata. Cinta lebih pada kisah antara keluargaku dan keluargamu. Sungguh, aku tak bisa. Aku tidak bisa memaksa. Karena aku tak ingin merusak keluargamu. Aku lebih baik mengalah, atau lebih tepat menyerah. Maafkan aku, kau begitu bersedih dan sungguh menyayangkan hal ini terjadi. Tapi aku juga sangat kehilangan. Apakah ini demi kebaikan. Salahkan saja aku, aku memang pecundang.
Aku tahu, dia memang sengaja menyembunyikannya dariku. Saat kutanya, dia selalu berkilah dan menutup mulut. Matanya yang sendu terbingkai kaca mata sehingga tak mudah ketemukan kebohongan dalam setiap mimiknya. Dia hanya tersenyum, atau mungkin lebih tepat menyeringai. Setelah lama kucari, dia memang selalu bungkam. Sesekali hanya memandang dan tak banyak bicara. Ketika kutemui pun dia hanya bisa menggelengkan kepala dan terdiam kembali. Aku menunggu reaksinya, tapi dia tetap bergeming. Apa yang dia khawatirkan, aku hanya ingin mengetahui, itu saja. Ketika kutahu namanya, aku tidak akan memaksamu untuk bicara. Aku akan sangat berterima kasih padamu. Namun, lagi-lagi kau hanya mengulas senyum di bibirmu, dan tak kudapatkan sepatah kata pun yang keluar dari lidahmu yang kelu. Apakah ini tentang nistamu. Aku tidak menuntut apa pun sekiranya kutahu dia bersalah atas itu. Aku hanya ingin kau mengatakannya sekali saja, sebutkan namanya. Aku tidak ingin memaksa, mungkin harus lebih bersabar menunggu dan menantikan saat yang tepat bagimu untuk bercerita. Kenapa kau lebih memilih diam, di antara jutaan nama yang terlintas di kepalamu. Sebutkan satu saja untuk mengakhiri segala penderitaanku ini. Aku sangat menyayangimu, tapi aku mohon bicaralah padaku. Siapakah dia, aku bisa lebih dewasa untuk menyikapinya, walaupun kutahu perbuatannya sangat menyakitkanmu. Aku punya cara tersendiri untuk menuntaskan dendammu. Aku tahu, ketika kebencian yang kulihat di matamu terhalang kaca, akan tetapi senyum yang terkembang di bibirmu kurasa palsu. Kesakitan yang kau dera selama ini terasa di ujung mataku, kau hanya diam. Sesekali menggeleng, lalu tersenyum. Jika kutanya kau hanya mematung tak berkata apa-apa. Aku tak lelah menunggumu bicara, sampai kapan pun aku akan menantikan jawaban darimu. Ketika kutahu yang sebenarnya terjadi aku pun tak percaya dan sungguh tak menyangka. Kau begitu baik di mataku, dia telah membuatmu menderita. Aku akan menjagamu. Ketika kau butuh, aku selalu siap dan bersedia melayanimu. Tapi aku mohon kau harus bicara, agar segala tanda tanya di benaku tak lagi menghantuiku, dan rasa bersalah ini akan terobati. Kemudian aku akan membawamu dari sini. Berharap aku bisa memulihkanmu. Kurasa, kau pun merasakan itu, dimana rasa diam adalah kunci untuk menyembunyikannya. Aku akan gali sedalam apa pun tanah yang kau timbun dalam benakmu, kutahu kau hanya tak siap untuk bercerita. Perlu kau tahu, aku siap mendengarkan curahan hatimu kapan pun kau mau. Aku selalu di sini menantikanmu, berkisah tentang siapa penyebab dari semua masalah ini. Bebaskanlah hatimu, buka matamu. Aku begitu menyayangimu dan aku rela berkorban apa pun untukmu. Untuk kali ini saja, biarkanlah luka itu kubuka sejenak untuk kutemukan jejak pelaku yang menorehkannya padamu. Bukankah telah kukatakan bahwa tak baik untuk memendam sekam yang kemudian bisa membara dan membakar perasaanmu sendiri. Ceritakanlah padaku sayang, aku akan berusaha untuk mengakhiri penderitaanmu. Aku tahu, kau hanya perlu waktu untuk membuka kembali luka lama di masa lalu untuk kututup kembali selamanya. Aku perlu namanya, bisakah kau sebutkan saja. Aku ingin membebaskanmu dari belengggu ini, ketika kenistaan yang kau alami akan segera kusembuhkan. Tak perlu menyesal, semua telah terjadi. Di sini, aku menerimamu dengan pendirianku, bahwa kata pun lebih mudah dimengerti dalam bahasa yang sederhana. Perasaanku pun sebenarnya adalah sebuah kata yang tidak membuat dadamu berdegup kencang ketika memikirkannya. Aku menerimamu dengan segala kesungguhanku apa adanya. Tapi aku ingin kau menyebutkan namanya. Berjanjilah padaku, akan kusimpan baik-baik. Seperti aku menjaga perasaan ini agar tak mudah tergoyahkan badai. Dimana celah yang membuatmu ragu, bahwa aku sangat peduli padamu. Aku ingin kau berjanji padaku untuk mengungkapkan namanya padaku, sekali saja.
Gerimis kembali menghujani tanah, kemudian basah. Aroma tanah selepas hujan selalu memberikan kenyamanan, mengingatkanku padamu. Pada kisah malam yang kian temaram berganti menjadi tetesan hujan. Lalu kau menarikku untuk bernaung di beranda, tanpa kusadari deru nafasmu terdengar dekat. Lalu rasa dingin yang menjalar membuatku semakin merapat. Kau hanya tersenyum, di bawah rintik hujan yang terdengar merdu. Kita bercumbu pada desah yang berubah menjadi basah. Gerimis menjadi bahasa hujan yang membisikkan kata rindu lebih dekat ke telinga terasa meniupkan udara dingin. Lalu kau bersembunyi di balik jaketku, dan badanmu terasa hangat, bahkan saat aku masih memelukmu erat, tak ingin kulepaskan sampai gerimis reda. Kau pun tersenyum tanpa jeda.
Aku merintih, tetap kupaksa. Keringat pun mengucur, dadaku terguncang. Aku takut ini adalah akhir dari segalanya. Setelah kutelan beberapa pil semalam, aku harap ini akan bekerja. Ketakutanku menghantui pikiranku untuk tenang. Tak perlu risau, kau juga tidak peduli. Awalnya memang cinta, selepas benci dan aku mulai mengutukmu. Kau telah menanam benih di rahimku. Padahal aku tahu ini belum saatnya. Aku memang menyukaimu dan sangat mencintaimu. Tapi bisakah kau lebih bertanggung jawab dan menyadari perbuatanmu. Aku tak bisa berbuat apa-apa manakala kutahu bulan tak datang lagi padaku. Ini adalah hari ujian, aku tak bisa fokus mengerjakan karena perutku mual sekali. Setelah meminta izin aku pun masuk ke dalam toilet, tempat dimana aku besembunyi dari rasa malu. Tiba-tiba darah menetes dari balik celanaku, kemudian mengucur. Obatnya mulai bereaksi, apa yang harus kulakukan. Desahan dan rintihan tak lagi bisa kutahan, karena sesuatu yang mendorong alat vitalku begitu memaksa keluar. Kepalaku mulai limbung dan terasa pusing. Mataku berkunang-kunang. Kudengar seseorang mengetuk pintu kamar mandi, aku hanya merintih. Dan aku lupa lagi apa yang terjadi selanjutnya, tentang berita kehamilanku.
Mungkin, ini adalah lagu terakhir yang kusenandungkan, seperti lagu gerimis pada bau tanah selepas hujan. Aku ingin kau tidak sekadar mengenangnya seperti bulan yang terkenang pagi. Kau disini, mendekapku seperti kita ingin menyatu, baumu begitu kukenal. Cinta selalu berpihak pada kenyataan, bukan pada perasaan yang selama ini kita nyanyikan. Kau pun mengerti, seberapa kuat kau mempertahankan cinta, maka akan selalu berakhir dengan kehilangan yang menyedihkan. Kau tidak saja menangisinya, kau bahkan menyesalinya. Pernah jatuh cinta. Kau dekap aku seperti dahulu, dan aku bercerita tentang bulan purnama yang ranum di musim kemarau, dan langit tampak temaram sedang kita bercengkrama di kursi taman di bawah sinar lampu kota yang menerpa. Adakah nyanyian ini akan selalu terngiang di telingaku, manakala kutahu pada akhirnya bahwa cinta pun bisa menjadi tuli. Bahkan, tidak bisa mendengarkan isi hatinya sendiri.
Cinta pada akhirnya membuat keputusan menjadi sebuah pilihan sulit untuk dikorbankan, ada sekeping hati yang patah dan setiap orang harus siap mengambil risiko. Realita kehidupan tak memberikan penawaran, karena semua hal selalu terkait dengan kondisinya. Itu tidak seperti cerita keramik yang saling berciuman. Kehidupan nyata tidak mudah untuk membuat hubungan itu tersambung begitu saja, ketika tali itu terputus suatu ketika maka kau akan dapati ukurannya menjadi lebih pendek, dan sayatan yang kau buat tentu menorehkan luka. Maka perpisahan menjadi adegan paling mengharukan di setiap drama. Kemudian dialog cinta menjadi begitu sendu dan ungkapan-ungkapan curahan hati seperti air yang mengalir di tengah kolam. Maka air mata tak sanggup mengembalikan semuanya. Mungkin, akhirnya tidak begitu. Jika kau mampu membuat cerita cinta menjadi kisah yang tak cukup sekadar untuk dikenang. Akan tetapi, membuat segalanya berakhir bahagia bahkan ketika harus terpisah.
Aku belum tersadar. Pikiranku masih tersesat menuju bianglala dan rimba penuh bidadari. Ketika bintang dapat dipetik dan aku bisa berputar mengelilingi bulan. Tiba-tiba kudengar suara pintu digedor paksa. Lalu terjadi kerusakan. Aku terperanjat, mataku pun terjaga. Sepasang pemuda berpakaian biasa mendekatiku. Dia berusaha menyentuhku, aku menolak. Aku menggeleng-geleng, mereka pun memaksa. Aku pun di seret. Hari ini harusnya aku ke sekolah. Masih ada ujian nasional. Tapi kulihat butiran-butiran pil itu berserakan di atas meja. Dua pemuda itu pun mengambil dan mengantonginya ke dalam plastik bening. Aku mengucek-ngucek mata. Apakah kedua orang ini malaikat yang akan mengantarku ke syurga. Kemudian sebuah pukulan mendarat di dahiku, dan aku tidak sadarkan diri.
Sekarang aku baru sadar, semalam aku menelan 2 butir pil berwarna pink, karena kepalaku terasa pening dan berdenyut-denyut sementara besok masih ujian nasional. Seperti yang diceritakan temanku pil itu dapat menghilangkan pusing. Aku pun percaya. Kini dua pemuda itu menginterogasiku, siapakah teman yang memberikan pil itu. Ternyata pil berwarna pink itu adalah sejenis narkotika. Aku pun harus mengerjakan ujian nasional di balik jeruji besi, tentu sambil mengunyah pil berwarna pink, doakan aku semoga bisa menjawabnya dengan baik.
Aku bingung, selepas bangun. Menggerakkan badan dan menggeliat. Kemudian keluar kamar dan mendapati orang-orang menangis. Padahal aku mau berangkat ke sekolah. Ada ujian nasional. Setelah menguap dan merapikan rambut sebentar, aku kemudian ke ruang makan. Tidak ada makanan yang dihidangkan. Mamaku tidak terlihat di dapur. Aku hanya melihat kerumunan orang di depan rumah dengan pakaian serba hitam. Apa yang terjadi. Kemanakah papaku yang berniat mengantarkanku pagi ini ke sekolah, dengan sepeda motor barunya itu. Mungkin mamaku ke pasar, tapi siapakah orang-orang depan rumahku itu. Aku tidak tahu.
Kuberanikan diri menuju depan rumah, ada banyak orang. Puluhan orang itu tengah terharu dan tersedu sambil menahan tangis, diantaranya kukenal. Sangat kukenal. Dia adalah kekasihku, yang berjanji akan mengajakku makan di kantin seusai ujian. Kenapa dia disini, lantas menangis. Lalu sebagian orang-orang itu adalah guru-guru di sekolah. Bukanya hari ini ujian. Aku masih tidak mengerti. Dan mataku terbelalak manakala kulihat keranda yang ada tertutup kain hijau. Lalu orang-orang mulai merapalkan kalimat suci dan terlihat poto berbingkai yang sangat mirip denganku. Aku mulai panik. Aku tidak percaya nama yang tertulis di sana. Chintya. Itu adalah namaku.
Pagi yang indah, kutarik selimut. Aku masih merasakanya. Hari ini ujian nasional yang kedua. Semalam aku belajar bersama denganya. Aku jadi lebih mengerti matematika. Tapi aku tak tahu gerimis semalam berubah menjadi tangisan langit yang deras. Dan aku bertahan di rumahnya hingga hujan reda. Tapi dia tidak hanya menawarkan kopi panas, dia juga menawarkan pelukan. Sampai kulihat telepon genggam miliknya berdering. Dia berbicara dengan rona cemas dan khawatir, lalu mendadak berubah menjadi sentakan ditutup dengan kata-kata kotor. Saat itu dia hanya terdiam, aku merapat dan membelai wajahnya yang sayu, sepertinya nada sendu terlihat dari matanya yang basah. Aku haru menjadi pohon yang rindang baginya malam ini agar matanya tak turun hujan. Hujan berhenti dan aku pamit pulang. Saat aku berjalan beberapa langkah keluar dari pintu rumahnya. Aku tak tahu ada sepasang mata yang melihatku dari rimbunan pohon yang tampak gelap. Aku tak peduli, aku bahagia malam itu.
Aku pun bergegas mandi, kupersiapkan buku dan catatan seperlunya. Aku ingin melihat dia dan mengucapkan terima kasih. Selang bel berbunyi dan seluruh peserta ujian masuk ruangan. Aku mulai cemas. Aku tak melihatnya. Lalu aku meminjam koran yang ada di meja pengawas. Untuk sekadar mengusir bosan dan menunggunya datang. Mataku terpana dan panas. Aku tak bisa berkata apa-apa. Mendadak dadaku tergagap dan gemuruh di jantungku berderap. Aku masih tak percaya. Tertulis jelas di sana.
Berita.com – sesosok mayat berseragam SMA ditemukan di sebuah kali yang melintas di perumahan Melati, Jakarta Selatan, Selasa (19/4/11) pagi ini. Sampai pukul 07.45, jenazah tak dikenal itu belum diangkat dari sungai. Polisi juga belum datang ke lokasi kejadian.
Rasa nyeri tak pernah sanggup kulepas. Apalagi luka pedih yang kau torehkan merobek hatiku. Aku tak mengerti. Setelah sekian janji dan ucapan manismu, aku begitu terlena. Hatiku hancur, berserakan. Entah tercecer dimana, barangkali sebagian terkoyak dan termakan anjing. Aku limbung, setelah perceraian kedua orang tuaku. Aku lebih mengenal murka dan teriakan. Ketika mereka berdua beradu mulut dan bertengkar dengan kasar, aku melihat Ibuku terpelanting ke lantai bersimbah air mata lalu kepalanya terbentur tembok dan cairan kental itu menghiasi dinding. Aku hanya bisa menatap dari kejauhan dengan nanar dan berurai air mata. Bahasa kesedihan ini tak mampu meredam emosi Ayah. Aku menangis. Tapi kau datang dengan penuh cinta, belaian manismu dan sentuhan manjamu. Membuat aku nyaman. Sampai suatu ketika aku lari dari rumah, karena tak tahan dengan pertengkaran. Lebih baik aku menemuimu, bersembunyi di balik selimutmu. Tapi aku lupa bahwa malam itu aku kira tidak akan bertemu purnama, ketika bulan begitu ranum dan kita bercinta layaknya sepasang serigala yang mengaum di ujung bukit. Aku lupa mematikan lampu karena begitu bergairah. Aku lupa bagian akibat dari perbuatanmu, kau tidak hanya membuatku bergelora, kau juga seperti secawan anggur yang tak habis sekali teguk. Kau membuatku begitu menginginkan hal itu. Tapi aku lupa bahwa kau tidak hanya memberikan cinta, kau juga memberikan sperma. Aku lupa pelajaran biologi. Akhirnya rasa pedih itu bercampur darah. Ketika beberapa bulan berikutnya badanku semakin membesar. Aku lupa kalau aku perempuan, dan berpotensi hamil. Tingga beberapa hari lagi aku harus mengikuti ujian nasional. Dan tiba-tiba aku tidak hanya lupa pelajaran biologi, tetapi aku juga lupa pelajaran kimia. Kubeli beberapa macam zat kimia di toko seberang jalan rumahmu, tempat kita memadu asmara, dan kau tinggalkan selimutku karena bercak darahku dan kucuci sendiri tengah malam. Esok menjadi tak penting lagi. Kau menghilang dan ditelan angin. Kau seperti manusia bertopeng yang dicari polisi. Sedangkan aku hanya bisa menyimpan murkaku disini, di dalam rahimku. Semoga aku tak ditemukan kedua orang tuaku.
Pagi hari pelaksanaan ujian, aku datang. Penuh percaya diri, membawa majalah mode dan koran, untuk pengawas ujian, tidak lupa kubawa roti untukku sendiri. Untuk sarapan pagi. Semuanya begitu tenang mengerjakan. Tak kulihat dirimu di bangku yang seharusnya kau tempati, nomer dua dari depan sebelah jendela, biasa kau lirikan matamu padaku dengan tatapan sendu. Kemudian kubuka tas dan mengambilnya. Aku lupa sarapan, roti yang kubawa pun ingin segera kutelan. Dan aku ingat semalam aku tidak belajar lantaran sibuk mencampurkan zat kimia ke dalam roti. Berharap aku cepat mati. Tentu saja, pengawas tak melihatku terkapar karena sibuk membaca koran, terlebih teman-temanku. Mereka tidak ada yang curiga busa yang keluar dari mulutku, dan darah yang menetes dari balik celana dalamku.
Suatu malam yang dingin dan udara masih berhembus sama, aku mulai berpikir tentang kesejatian dan makna. Selama ini tak dapat kutemukan arti dan makna yang selama ini kucari; puisi.
Untuk apa menulis puisi, ketika tidak ada secercah cahaya makna yang mudah untuk dimengerti. Ketika harus meraba untuk memahami, puisi tak sekadar kata. Bahkan puisi tak sekadar ungkapan. Banyak pujangga dan penyair melahirkan puisi. Bahkan dari rahimnya. Aku tak mengerti ketika puisi dianggap sebagai ekspresi jiwa, pengalaman bathin, kegelisahan dan pergolakan jiwa, pertanyaan dan tanda tanya, cerminan dari akar masalah, realita. Puisi tidak lebih dari kata-kata. Kata-kata yang tidak mudah untuk diterjemahkan.
Untuk apa menulis puisi jika tidak mengubah apa pun. Ribuan puisi lahir setiap hari, tumbuh berkembang dan beranak. Bermunculan dan berkeliaran. Puisi menjelma seperti deretan huruf kaku yang mati karena tidak lagi disenandungkan di atas panggung. Puisi hanya teronggok busuk di atas koran, di kumpulan lembar antologi. Sebenarnya untuk apa puisi lahir.
Terkadang aku juga membuat puisi, ketika kubaca terkadang aku juga sama tidak mengerti. Apakah dengan begitu adanya puisi lahir untuk tidak diketahui. Ketika puisi menjadi asing bagi penulis sendiri, bahkan untuk pembacanya. Puisi seperti narasi yang habis dibaca satu tarikan nafas, kemudian diulang, dicermati, bahkan dibedah. Banyak metode dan teori analisis puisi. Untuk mengupas dan menemukan kandungan makna puisi. Mengapa hal yang tampak sederhana menjadi rumit untuk dimengerti. kemanakah puisi bermuara, berteman, dan mencari pijakan. Seperti perasaan yang tak mudah untuk dijamah dan diterjemahkan dalam bahasa. Puisi terkadang tidak menemukan teman, kosa kata, bahasa yang mampu mewakili luapan perasaan sang penyair.
Apakah puisi itu? Sejenis ungkapan-ungkapan asing yang jarang dituturkan. Kembali kubertanya, aku mencari kesejatian dan kebermaknaan dalam setiap catatan dan episode kehidupan. Aku hanya mengajakmu berpikir dan bercanda. Disini, kita bisa duduk dan bersantai sambil berbincang mengenai puisi. Terkadang datang dari kekalutan dan badai dalam diri. Dada bergemuruh dan pikiran koyak lantaran hati terhempas oleh kebencian. Ada bulan dan purnama yang selalu kau puja lirih seperti semilir angin di tepi pantai yang menerpamu. Kedamaian hati yang kau temukan saat arus sungai kembali tenang dan binar matamu terpancar pelangi.
Puisi begitu memabukkan dengan kata-kata. Kata-kata berduyun-duyun dan berlarian di kepalamu. Satu persatu kau pilih manakah kata yang sesuai dan kau rasa perlu. Mempertimbangakn urutan dan rima sehingga terdengar merdu. Puisi terlihat mudah tapi tak mudah untuk kau nikmati, banyak kata yang menegaskan arti kata yang lain. Semiotik, simbol, gaya bahasa, konotasi, bahkan termasuk dalam makna-makna tertentu. Maka perlukan untuk mengutarakannya dalam bentuk yang lebih sederhana.
Jika dimungkinkan, aku malah berpikir kenapa harus menyulitkan diri. Puisi terasa ekslusif dan istimewa terselimuti oleh hijab dan kerudung. Tak mudah tersentuh bahkan kau raba. Puisi punya cita rasa dan gaya yang berbeda. Sedikit nakal, manja. Bahkan ada yang cenderung verbal dan vulgar. Puisi menentukan identitasnya sendiri oleh penulis. Maka dimanakah kutemukan makna dalam puisi yang mampu mengubah hidupku. Bahkan menginspirasiku. Bukan sekadar menuntaskan dahaga bathin dan kekosongan jiwa. Puisi tak lagi seperti bayang-bayang asing yang menggelayut di pikiranku.
Siapa yang bisa menjelaskan kepadaku tentang puisi. Tentang senandung lirih para penyair, tentang gejolak perlawanan, tentang eksistensi diri. Tentang arti yang mencari definisinya sendiri. Ketika kata mencari makna di balik setiap hubungan antarunsur, leksikal, gramatikal, derivasi. Kata-kata berdiri sendiri mengungkap arti yang tersembunyi. Kau mampu menjelajah makna dalam samudera luas pikiranmu. Aku tak mampu kembali dan tak kutemukan jalan pulang. Aku tersesat. Adakah yang seseorang yang mampu mengantarku pulang.
Puisi, bait dan bait, kemudian larik dan baris. Bersama-sama tersusun. Aku tak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh puisi. Apakah letupan, ketika ujaran yang dihasilkan oleh daerah artikulasi yang sama melahirkan fonem-fonem yang berbeda dan secara fonetis menentukan hubunganya dengan unsur yang sejenis. Aku berkenalan dengan konsonan dan vokal. Grup vokal ini terpecah dan berteman dengan huruf-huruf konsonan, bahkan tidak sedikit diantara mereka yang berhubungan intim.
Aku masih tak menemukan inti dari persoalan ini, ketika puisi kuanggap menjadi hal yang tak perlu kupersoalkan lagi. Aku perlu jawaban.
Ketika juragan turun dari mobil dan memasuki gedung pengadilan, sang supir tersenyum. Kemudian dia menelpon seseorang, tampak begitu mesra. Beberapa menit kemudian mobil yang ia kendarai telah meninggalkan gedung dan lenyap di balik keramaian jalan. Dia tahu, daripada menunggu juragan pulang, lebih baik dia memenuhi janji. Tentu dia tahu janji adalah hutang, dan harus dibayar. Karena dia tidak ingin seperti anggota dewan yang hanya pandai merangkai janji. Tidak begitu lama untuk sampai ke hotel mewah yang dijanjikan. Dia ingat betul kamar yang dipesan, karena seseorang telah menunggu.
Lalu kubuka pintu perlahan, tampak terlihat ruang kamar begitu megah. Dinding dilapisi cat yang berwarna elegan, hiasan dinding dan lukisan yang begitu memesona. Tidak kulihat seorang pun di sana, meja masih tertata rapi dengan bunga dan vas di atasnya. Aku tahu, vas itu dibeli bulan lalu dengan pesan singkat di dalamnya. Khusus untukku.
Dari balik pintu kamar mandi, kudengar gemericik air yang menitik terdengar begitu jelas di telingaku. Kurasa ada seseorang. Tapi aku tidak berani mendekat, aku takut seseorang di dalamnya sedang tidak memakai baju. Kemudian aku duduk di atas ranjang kesukaanmu. Aku lebih baik menunggu, siapa tahu kau adalah hawa yang kucari.
Edisi catatan helda dan ardi
Seutas mimpi dan aku terjaga merindukanmu. Sungguh, tak ada lagi harapan. Kau merajuk dan aku mengiba. Tapi tak ada pertemuan abadi dan selalu terpisah lagi. Mendambakan kemesraan dan menjalin mimpi bersama sambil terus tergenggam penuh cinta. Saat mentari pagi bersinar maka kau pun berbinar-binar mengharapkanku. Aku pun tersenyum manja menatapmu, sekian lama. Akankah cerita kita yang terus terangkai menjadi nyata. Dan kerinduan ini menemukan telaga menemukan muara tempat kita menyuarakan janji suci di altar bahtera. Kau akan menantikan itu sayang.
Kepada angin yang berhembus, kusampaikan salam dan kutitipkan rindu karena tak lagi mampu kutahan. Kau yang merasuk ke dalam jiwaku dan bersemayam di hatiku. Aku tak bisa menyentuhnya. Daun-daun yang melambaikan tangan itu pertanda. Aku hanya bisa menyaksikan tiupan angin di ujung senja, seperti yang kau ceritakan. Kau berdiri di dermaga menantiku. Merapatkan tangan dan kita menggengam jemari, di pelabuhan yang ingin segera kau temui. Tapi apakah angin telah sampai padamu. Saat kulihat badai telah memporak-porandakannya sepanjang jalan dan tepian. Akankah rinduku tercecer di tengah jalan dan terinjak-injak oleh kendaraan. Aku takut kerinduanku tak sampai padamu.
Segelas kegelisahan telah dihidangkan mengepulkan resah dan kecemasan yang membubung hingga ke langit hitam. Aku tak tahu, dengan bahasa apa aku harus meminta, secangkir petaka ini telah ada di depan mata. Kucoba untuk melawan hati atas getir dan sedih yang menuai perih, ketika dawai-dawai rindu telah karam pada ujung kelopak mata membanjiri kepiluan hati yang teriris. Hati terburai menjadi semburat titik titik bekerlipan di angkasa menemanimu. Aku ingin mengecup bibirmu dan membiarkan segala isinya tertelan bersama kepedihan
Mama, aku akan berusaha semampuku membuatmu bangga. Melihatku berkaca-kaca dan ingin segera berhambur memelukku penuh roha haru dan bahagia. Aku akan memberikan yang terbaik sebaik yang aku bisa, dan kau akan mengecup pipiku beberapa kali. Berikanlah doa dan restumu, aku tidak bisa bertahan tanpa itu, kasih dan cinta mama begitu besar sehingga aku terkadang tak mampu menampungnya dalam pengertianku. Aku selalu ingin berjumpa dan mencium tanganmu, membuatmu tertawa dan kita berdua saling berbagi cerita. Sepanjang malam, kau akan terus memanjakanku dengan cerita-cerita yang berbeda. Setiap kali aku melihatmu, aku khawatir bahwa kau akan berhenti mencintaiku dan aku membuatmu kecewa. Mama, aku sangat mencintaimu. Aku akan berusaha sekuat tenaga dan mengerahkan segalanya. Hanya untuk membuatmu bangga, Mama. Do'aku mengalir untukmu sepanjang tarikan nafasku, agar kau tetap menjadi sumber kekuatanku.
Aku tidak tahu, bagaimana membuat terkadang itu menjadi tidak selalu. Karena kupikir bahwa aku tidak menghindari itu untuk melarikan diri. Aku hanya ingin bersamamu. Kenapa hal sederhana ini bisa menjadi teramat sulit untuk dihubungkan. Dan banyak keterkaitan yang membuatku semakin jauh darimu. Ketika sejauh ini aku berlari hanya untuk bisa membuat jarak menjadi lebih singkat. Aku tidak bisa membawamu ke sini. Aku tidak mengerti apa yang salah tentang keinginanku. Ketika orang harus memandang sesuatu di luar diriku. Sehingga aku tidak berdaya. Apa setiap orang punya hubungan dari jalan masing-masing. Sementara jalan yang kupilih begitu berbeda. Padahal, aku mengharapkan akhir dari perjalanan ini hanya untuk bertemu denganmu, melepas seluruh kekhawatiran ini bersamamu. Tapi kenapa kau tak menatapku lagi. Bahkan kau membuang muka, dan aku tidak bisa melihat matamu yang indah. Setelah sekian lama aku membangun perasaan ini untuk percaya pada satu hal. Kau meruntuhkanya dalam sekejap pandangan mata. Aku tidak bisa bertahan lagi karena aku membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu untuk mengalahkan ketakutan ini, please!.
Kau tidak perlu bicara, aku memahami isi hatimu dan mengerti kerinduanmu selama ini. Cinta tak perlu dirumuskan dengan kata-kata. Cinta adalah bahasa yang mampu dituangkan dalam bentuk sentuhan dan bahasa kalbu. Ketika aku tak bisa melihatmu karena jarakmu terlalu dekat. Kemudian kelopak matamu mengatup dan bibirmu merekah seperti bunga. Aku menyambutnya dengan bibirku yang basah. Dan aku menyentuhmu dengan lidah. Membasahi kekeringanmu selama ini. Cinta tak terkatakan telah teruntai indah bersama kecupan dan bibir yang menyatu mesra. Aku tahu bahwa sepanjang apa pun kata yang ingin kau ungkapkan, tak perlu lagi. Aku telah memahaminya sepenuh hati, ketika tanpa sengaja lidahmu menyentuh lidahku seperti berpelukan. Aku tahu bahwa kau sangat mencintaiku, tanpa perlu bicara.
Kata-kata itu tak cukup sekadar membuatmu jatuh ke pelukanku. Kau tahu, aku lebih suka berbisik di dekat telingamu karena aroma tubuhmu lebih mudah tercium dan aku bisa merasakan nafasmu lebih terburu-terburu. Dan kau menatapku penuh rayu, ketika belaianmu lebih mesra dan aku tak mampu menahan diriku. Aku selalu ingat dirimu saat mataku terbuka. Di saat semua tampak begitu nyata, aku mulai ragu apakah aku bisa mencapai keinginanku. Ada detak ketika denyut menjadi terhenti bukan karena jantung tak berdetak. Tapi karena dada pun tersentak saat aku merasa bahwa diriku tak mampu meraihmu. Untuk Jatuh mencintaiku.
Malam hanya menyisakan aroma hujan yang mulai hilang. Kau bersembunyi dalam keremangan sementara bibirmu masih mengatup, aku mencoba mencarimu, walaupun sebenarnya samar-samar kulihat matamu terpejam, tapi kau mencoba mencuri pandang, sementara aku sibuk meraba. Kini kau merajuk dan memintaku menemanimu sepanjang malam. Dan aku sangat menyukai setiap malam bersamamu. Bahkan kau memelukku sedemikian kuat sampai aku tak bisa terlepas. Kau menyukai keremangan itu karena kau pikir mata hatiku lebih terbuka. Melihat setiap jengkal dirimu yang gelap. Kau mulai merapat dan aku sangat mengetahui hal itu, kemudian kau menyentuh pipi lebih mesra dan aku dengan mudah menemukan wajahmu dalam gelap. Aku ingin sekali menciummu saat itu. Bahkan lebih baik jika kau lengah, dan aku dengan mudah mendapatkan bibirmu saat kau terkejut menerimanya. Tapi aku mengerti, ada saat dimana hati ini gelap karena cahaya kini mulai redup. Dan kau mampu membuat kegelapan ini tampak jauh lebih terang terlihat.
Terkadang, bening kristal di matamu berubah menjadi getaran yang perlahan melahirkan rintik-rintik air dari ujung bulu mata. Padahal malam itu tidak pula terjadi pertengkaran, aku hanya merasa tidak perlu mengungkapkanya. Hanya terlintas begitu saja dan aku tidak tahu kalau mengundang reaksi negatif bagimu. Aku tidak tahu perasaan begitu sangat menyentuh pada hal-hal yang sebenarnya sederhana. Dan aku tidak melihat kemesraan itu, seperti kemarau panjang yang begitu panas dan kering, maka aku menjadi tanah yang gersang karena tak lagi tersiram air. Sisa dari yang kumiliki hanya air mata, malam itu tak sanggup kutahan sisa itu jatuh dari ujung daun mataku. Kenapa aku begitu lemah dengan perasaan ini. Bahkan ketika kesadaranku masih ada, aku tak mampu lagi membangun seulas senyum yang indah seperti kemarin. Saat kita bertali kasih di balik suara yang tersembunyi kemudian saling menyahut dengan rasa sayang sampai kau membelaiku hingga terpejam. Ternyata tidak mudah membangun keterikatan batin itu, sampai kau terbawa perasaan dan aku tidak bisa berbuat apa selain menyadari kesalahan. Aku semalam tak bisa berpikir selain tentangmu karena menyesal.
Seandainya aku dapat mengungkapkan perasaanku, aku ingin kau di sini semesra dahulu dan kita bersama menyatukan peluh yang sempat berteduh di liang mata, membuat purnama melirik kita dengan hati iri. Biarkan awan pun bersembunyi dan bulan pun kesepian. Di kala hati resah, aku selalu mencari cara untuk menutupi keraguanku, namun ketika rindu semakin menyerang, aku hanya mampu bersembunyi di balik jendela. Kalaulah kudapat menghapus jarak membawaku terbang. Aku akan membiarkan udara pun terhenti di saat daun-daun beterbangan, karena aku hanya membutuhkanmu. Akan kuberikan seutuhnya cintaku, seperti hujan yang selalu membagi rintiknya pada setiap ujung daun. Dimana tak kutemukan lagi celah di hatimu, untuk orang lain. Ketika seribu ragu datang, aku tak mampu mengendalikan pikiranku, tapi aku masih bisa bertahan pada hatimu. Saat pagi menjelang dan ragaku terbangun, aku selalu mengingatmu. Aku tak bisa membuat mimpi menjadi panjang seperti tahun-tahun yang tak habis dibagi waktu. Aku hanya bisa melihatmu, seperti melihat bintang yang menerangi jiwaku.
Dalam sekejap, mataku terendam banjir. Bukan karena hujan, bukan juga karena mendung. Aku tak tahu di kemudian hari saat aku melintasi jalan dan melihat langit, apakah aku masih menemukan cahaya terangmu. Pada hari yang lain, di mana kehidupan telah begitu berbeda, aku terdiam. Menatap kosong, dan aku teringat padamu, seketika aku tak bisa menahan perasaan yang bergejolak di dalam dada seperti ingin menembus dinding. Lalu lamat-lamat aku akan terisak, karena kau tidak ada di sini. Apa yang bisa kuperbuat. Sementara bening kristal di mataku mulai tak terbendung lagi. dan aku hanya bisa memeluk dada bukan lantas karena kedinginan, tetapi kesepian. Udara dingin dan kehangatanmu tak terbayang lagi. aku benar-benar tak bisa lepas darimu. Apakah ini ilusi. Dan aku benar-benar merasa nyata, saat kehilanganmu. Saat dimana aku tak mampu berdiri dengan akalku. Namamu selalu terlintas di setiap ujung mimpiku, membangunkanku. Bahkan lebih dari beberapa hari. Dimana aku harus bersembunyi, jika sekelebat bayangmu memenuhi ruang hatiku. Kau selalu menemukanku, dan aku tidak berdaya karena teringat olehmu. Terduduk diam menepi memeluk sendiri sambil menangis, menyebut namamu dalam di hatiku, aku mencintaimu.
Aku tak pernah bisa membayangkan sampai kapan hal ini bertahan, aku menjaga cinta yang sebenarnya tak boleh kusimpan. Kenapa teori cinta tidak cukup dengan dua orang yang saling mencintai. Aku berhubungan denganmu selama bertahun-tahun atas nama cinta. Aku dan kamu merasakan hal yang sama. Akan tetapi hal ini tidak berjalan seperti cerita. Ada hal yang melarang aku untuk berhubungan denganmu, aku tidak mengerti. Apa yang harus aku lakukan untuk tetap mempertahankan perasaan ini, aku tidak ingin ada luka dan air mata. Aku tahu, suatu saat diantara kita ada yang merasa sakit hati dan kau menatapku benci. Tetapi takdir bukan milikku dan kebahagiaan itu tak bisa kukarang sendiri. Aku harus mendapatkan restu. Cinta yang tulus dan janji suci seperti setia tak akan berlaku di sini, cinta adalah dongeng dimana sang putri hidup bersama sang raja. Aku hanya bisa berjalan lewat belakang, diam-diam. Aku memendam perasaanku diam-diam. Dan aku menyembunyikan sebagian tangisku di ujung malam. Kau tidak pernah tahu dari mana datangnya cinta, tapi aku lebih memilih melewatinya dari belakang, untuk bertemu denganmu. Semoga jalan ini tak berakhir buntu dan kau bisa membuka pintu masuk lewat depan dan menatapku dengan cinta, tanpa diam-diam.
Ini tentang percakapan kita semalam. Tentang kita berbisik dan saling mengundang tawa. Malam semakin bergulir menjadi pagi. Tapi kita tak pernah memikirkan waktu, aku hanya merasakan luapan rindu. Kau berbincang seakan di depan mata, aku pun tersipu malu, ketika kau mulai merayu. Aku bisa mendengar suara manjamu di atas bantal. Merasakan keremangan yang terlihat terang bagiku, di hatiku. Kau adalah kisah yang akan kututup dengan ciuman. Saat terbangun aku akan selalu mengenangmu seperti semalam. Aku bercerita tentang api yang mengobarkan semangatmu, seperti lentera yang menerangi hatiku, kau lebih terang dari sinar rembulan sekalipun. Tidak akan padam.
Sayang, aku masih ingat saat kau menatapku lekat-lekat. Dimana kau masih termangu dan terpaku melihatku, seakan tak percaya. Kau tak sekadar memandang, bola matamu yang teduh menelusuri setiap jengkalku mencari penawar rindu. Kau tersenyum simpul manis dengan garis tipis dan mata berbinar, menyaksikanku. Perlahan langkahmu berat mendekat, merapat. Aku duduk di tepi kursi dan menantimu ke sisi. Kau berlabuh di sebelahku, dan menyandar kepala di dadaku, kudekap. Kubelai angin yang semilir di ujung musim membawa aroma cinta menyemai rindu di bibir manismu. Kurasa, ini adalah saat di mana kunantikan. Derai tangis dan gerimis telah usai. Aku memelukmu, lebih dekat.
Inikah akhir cerita cinta. Namun aku tak mampu memastikan. Bahwa hatiku masih memilihmu dan tak ingin jauh pergi meninggalkanku. Aku tidak tahu bagaimana harus meyakinkanmu, saat ini dan esok sudah tidak berarti lagi. Kau akan pergi jauh dan aku tidak akan menemukanmu lagi, di sini. Ketika ragaku terpaut oleh bayangmu, namun aku tak mampu melepas bahkan untuk sejenak. Mengingatmu, adalah kebahagian yang tak terperikan. Aku tak bisa mengikat hatimu untukku, tapi aku tak rela untuk kehilanganmu. Karena aku begitu menyayangimu. Apakah jarak menjadi kendala, jika cinta yang kau ucap adalah bukti dan janji tulusmu. Aku ingin kau mengingatnya, demi cinta. Apakah keyakinan ini cukup untuk membuatmu bertahan pada satu cinta. (for some one)Aku masih menunggu dengan cemas. Berharap aku bisa menemukannya dibawah cahaya lampu kota. Bibirku yang basah terlihat bergetar karena dingin. Hujan tiba-tiba datang dan mengguyur tanah. Aku tak sempat berteduh. Detik-detik kembali tumbang karena hari akan segera berganti. Di sini aku masih menantimu sayang. Selamat tahun baru!
Gerimis perlahan turun membasahi hatiku, dingin. Malam semakin kelam dan temaram di pelupuk mataku. Aku tak bisa terpejam, melihatmu menyanyikan senandung rindu di penghujung malam. Aku menemukan cinta di balik sendu. Cinta yang membekas setelah kau melenguh panjang, disini kita merapat dan menyatu bersama deru nafas yang terburu-buru. Kemudian gejolak ini seperti ombak yang bergulung-gulung memintal hasrat menjadi dorongan nafsu. Aku tak ingin cinta habis semalam. Di mataku kau begitu menggairahkan bahkan di saat aku tak lagi memandang.
Aku tidak menghiraukan keramaian di sini, ekor mata yang menangkap dan mencuri perhatianku. Aku hanya peduli padamu. Di sini, kutemukan banyak angin yang berhembus, ada banyak pasang mata yang saling bertemu, akan tetapi nafasku hanya bertemu denganmu. Aku hanya ingin menciummu lebih dalam. kau masih menggelayut manja, sementara aku sibuk menopang kepalamu di dadaku. tahukah kau, seseorang di seberang sana sedari tadi melirik dengan pandangan tak suka. kemudian temannya yang berada di sampingnya tampak gelisah tak percaya melihatku, di sini kita berciuman.
Mungkin tulisan seperti ini jarang sekali kubuat, tapi aku buat karena aku menyadari sebelum terlambat. Maafkan aku. Terkadang aku begitu egois dan mementingkan diriku sendiri, aku seringkali menyalahkanmu dan tidak melihat permasalahan sebenarnya. Aku tahu, aku tidak bisa menuntut banyak. Aku harus cukup mengerti keadaan ini. Mungkin aku belum melakukan sesuatu yang terbaik untukmu, bahkan belum sama sekali. Aku kira kesalahan selalu terjadi, dan aku tahu aku salah. Aku ingin sedikit berbakti padamu, aku tahu kau punya sebentuk kasih yang berbeda yang kau berikan untukku, kau begitu mengerti dan memahamiku. Sedangkan aku hanya bisa menuntut dan menyalahkan, maafkan aku. Aku akan mencoba memperbaikinya dan bersikap lebih dewasa. Aku ingin mengucapkan ini, bahwa aku juga menyayangimu. Sangat mencintaimu.
Aku ingin berkisah malam ini, dengan secangkir teh hangat dan gerimis hujan membasahi. Saat kau pikir seseorang dengan sangat mencintaimu. Itu adalah saat kau merasa dicintai. Ada orang yang dengan harapan menantimu. Berbagi kisah dan rindu bercengkrama menghabiskan waktu bersama cinta, rintik hujan, sentuhan bibir dan desahan. Itulah saat kebersamaan. Akan tetapi tak ada yang bisa mengabadikan kebahagiaan itu selain bingkai kenangan, ketika cerita berakhir menyedihkan. Dan kau tidak bisa berpikir lagi karena kau merasa tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi yang perlu dikenang. maka itulah titik dimana harus ada kerelaan dan tidak perlu isak tangis tertahan, tetapi aku tidak bisa menjamin. karena rasa sakit bisa sangat menyiksa dan cinta adalah cerita indah namun tak selalu berakhir indah, maka genggamlah cintamu. jangan kau biarkan dia pergi, bahkan hanya untuk sesaat.
Aku tidak bisa lagi membedakan kenyataan dan mimpi. Karena saat aku terbangun dan seketika apa yang kurasakan dalam mimpi tidak berarti apa-apa. Begitu juga dengan kenyataan, apa yang kurasakan pada masa lalu hanya tersisa sekeping kenangan yang tak begitu nyata. Sehingga apa bedanya mimpi dan kenyataan. Jika keduanya akan terlewati dan tak akan bisa kembali. Begitu juga dengan mimpi, kau tidak akan mendapati mimpi yang sama, atau kembali pada mimpi semalam yang tampak begitu nyata. Kau hanya bisa memandang kosong tanpa tahu membedakan mimpi dan nyata. Semua tampak seperti angin dan berhembus begitu saja. Aku sangat merasakan kenyataan ini saat peristiwa mimpi berlangsung, dan aku tidak mengingat apa-apa lagi saat kubuka mata dalam kehidupan nyata, atau aku tak bisa lagi mengingat kenangan indah itu karena telah terjadi di masa lalu dan mataku hanya berkedip di masa kini tanpa bisa mengingatnya kembali. Ketika aku berpikir saat ini maka aku merasakan hal ini begitu nyata walaupun sebenarnya dalam kehidupan mimpi atau kehidupan sebenarnya. Sehingga aku akan merekam semua peristiwa ini sebagai bentuk kenyataan, yang akan hilang. Kenangan, memori, ingatan, pikiran, semua akan menjadi unsur-unsur yang semakin sulit dibedakan. Saat aku tak mampu untuk memegang tanganmu, aku selalu bisa bertemu denganmu dalam mimpi. Atau saat aku benar-benar memegang tanganmu, aku selalu berharap ini akan selalu terjadi dan akan terjadi lagi di kemudian hari. Karena mimpi dan kenyataan yang kau rasakan akan berakhir dengan kehilangan yang menyedihkan. Tidak tersisa apa pun selain kesedihan dan penyesalan yang kemudian berubah menjadi semacam bentuk kebencian. Jika kehidupanmu bisa terbagi menjadi dua, maka 12 jam yang tersisa dalam hidupmu adalah mimpi. Dan mimpi itu akan menjadi mimpi yang terpanjang sampai kau menginginkan tertidur lebih lama. Mengapa aku begitu suka memandangimu, karena sebenarnya aku tak begitu kuat menyimpan keseluruhan detil mengenaimu, parasmu, sudut bibrimu, lekuk alismu, kedipan matamu. Aku tak mampu terlepas dari pandanganmu agar kutangkap dalam otakku dengan bentuk yang sama, dirimu. Saat aku berpikir hidup bersamamu adalah mimpi, aku ingin tertidur lebih lama agar mimpi itu benar-benar terjadi. Tapi aku tidak sanggup dengan kenyataan yang membuatku terpisah, antara mimpi dan nyata. Antara harapan dan kenyataan. Antara cinta dan realita. Aku tak sanggup membuka mata jika kuingat bahwa kau tidak bersamaku lagi. aku ingin kau membantuku membangun mimpi ini menjadi nyata, agar saat kau terbangun, aku bisa melihat kedipan matamu yang sama di hadapanku, masih dalam keadaan tertutup selimut. Tiba-tiba kau tersenyum dan mengajakku tidur dengan senyum manja, kembali pada mimpi kita bersama.
Sebenarnya apa sih yang kemudian kau cari, selama bertahun-tahun dan kau berusaha menemukan kebahagiaan, kebenaran. Sementara banyak jalan dan kau hampir kehilangan jalan untuk pulang kembali. Seperti yang diharapkan semua orang, cinta. Mencintai dengan penuh kasih sayang. Ada satu perasaan yang kemudian menyelimuti dan terasa sangat menyejukkan, kerinduan yang kemudian meluap seperti gejolak asmara yang tertahan.
Selama ini, selama aku bernafas dan tak mampu kuhitung detik dan jarum jam yang bergerak. Selama aku mencari kemungkinan untuk menemukan keajaiban, dan arti kebahagiaan itu sendiri. Adakah kau puas dan menikmati jalan yang kau pilih sementara kebenaran itu baru terlihat di masa depan. Sementara tak kutemukan cahaya yang menerangi jalanku. Aku diliputi rasa bimbang dan ragu tentang jalan yang kupilih.
Aku harap, selama aku masih bisa melihat jalan, melihat kemungkinan, melihat berbagai titik-titik terang. Aku masih bisa menggenggam tanganmu, merasakan sentuhan kasih dan belaian tanganmu yang menempel di pipiku, merasakan kerinduanmu. Karena aku takut semuanya kemudian hilang dan jalan itu tak nampak lagi terlihat dan gelap seperti bayang-bayang. Dan akhirnya aku tidak percaya lagi pada harapan dan mimpi.
Kebahagian, barangkali datang jika waktunya tiba. Cinta seperti anugerah akan memberi ketentraman dan kedamaian, lalu waktu berubah kemudian cinta menjadi rasa sakit yang tak terperikan tanpa penawar. Aku percaya pada keyakinan hati yang membangun dan menuntunku berjalan, melewati garis dan terjal yang membuatku ragu, kemudian merindukanmu seperti api lilin yang ingin menyambar angin. Aku ingin kau selalu bersamaku menemukan garis akhir dari perjalanan ini. Cinta.







































