Diberdayakan oleh Blogger.

Professional Time Waster


Secepat itukah rasa cinta itu pergi, ketika aku masih berdiri menanti. Sedangkan semalam aku masih memimpikanmu. Secepat itukah rasa sayang itu hilang, ketika sampai detik ini pun wajahmu masih terbayang. Aku pun tak mengerti. Ketika garis lurus bertemu pada satu titik dan aku berusaha untuk menjauh, pada titik lain aku pasti bertemu denganmu. Bagaimana kalau kau tak ingin. Rasa galau kembali menghampiri. Sesaat, cinta pun berjarak. Memandang jauh bintang bekerlipan indah, tapi selamanya tak kan pernah kuraih. Kau indah disana, sedangkan hatiku di sini. Bahkan, kenangan pun tak sanggup mengembalikannya. Cinta kemudian perlahan pergi. Tapi bintang tetap indah disana. Biarlah, ketika cinta pergi sekalipun. Masih ada cerita bintang jatuh. Aku mencintaimu, entah sampai kapan. Atau haruskah kukubur untuk selamanya. Bersama jasadku dan perasaanku. Kau menjadi begitu diam, bukan lagi tak mesra. Kau pun tak bertanya. Ternyata, apa yang selama ini kutakuti benar. Cinta akan berakhir dengan kehilangan yang tak terelakkan. Meski, perasaanku masih sangat mencintainya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Barangkali cinta tak seharusnya ada. Ketika rasaku tak menemukan tepian lagi karena hatiku jatuh berserakan pecah hingga berkeping. Mencintaimu tak terukur masa dan waktu. Kurindu, memandang bingkai parasmu yang lucu sambil tersenyum menatap manja padaku. Malam itu, aku benar-benar tak bisa menahan bendungan air di mataku. Karena tiba-tiba mataku meleleh. Air pun menerjang dan dadaku terguncang. Hatiku sakit karena kelemahanku. Tak pernah bisa lepas darimu. Apakah kenangan menjadi tak berarti lagi di kemudian hari. Sementara selalu ada perasaanmu di setiap benda-benda. Di setiap mimpi-mimpi. Maka di setiap gambar dirimu, aku selalu ingin. Memelukmu dari belakang. Sesaat hembusan nafasmu tertahan karena kudengar isak tangis. Dan pelukanmu merenggang karena tak rela. Matamu basah. Aku tahu bukan saja matamu, hatimu pun menangis. Karena kita tak pernah rela cinta menyakiti. Sedang aku masih cinta.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Mengapa, kau tak semesra dahulu memelukku karena ingin. Ketika kau berbisik karena cinta. Dan hembusan nafasmu terasa mengalir di dada. Aku ragu, ketika kebisuan ini menjelma resah dan gelisah. Tak ada yang bisa mengobati selain kerinduan yang bertemu karena harap. Lalu aku memelukmu karena dingin. mencumbumu karena bunga telah merekah merebakkan wangi nan candu. Alunan rindu menjadi syahdu. Aku ingin. Karena semalam mendung kembali datang karena kau tak juga membalas kerinduanku. Sementara buah ranum di pucuk randu. Aku bisa sangat menangis karena pesanku tak terbalas. Ketika hasratku tak bertemu puas. Ketika sebagian ragaku terlepas. Dan perasaanku diliputi kegalauan yang terlalu. Bahwa sampai detik ini aku masih berusaha. Untuk bisa berdiri pada satu keyakinan. Cinta selalu mengobati. Meski rindu semacam pisau belati yang mampu menusukku. Hingga berdarah.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Saat kau tahu bahwa hidupmu tinggal sejengkal tangan, menyadari bahwa hidup tak lepas dari kesalahan. Ketika kau rasa rindu juga berlaku sama seperti luka. Ketika daun diterbangkan angin pun terhempas jatuh, begitu juga perasaanku. Ketika hatiku ini kuserahkan padamu. Segala yang kuketahui adalah tentangmu. Kebahagianku adalah senyum terindahmu. Aku seperti tak punya waktu lagi. Sikapmu berubah, aku pun bersedih. Entah, kenapa cinta tak membawaku pada ketenangan. Sementara resah dan gelisah selalu mengganggu. Kupikir cinta tak akan pernah luluh. Tapi rasanya hatiku mencair manakala kau pun menemukan tautan yang lain. Tak kuasa kubendung rasa sedih ini menjadi luapan sungai yang membanjir diantara sisinya, aku masih sayang.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Getir hati yang teriris karena pedih sementara turun perlahan gerimis, malamku kini kembali ranum bersama segelas resahku yang mengepulkan kerinduan. Di antara purnama dan selimut hitam di angkasa, aku bisa melihat binar matamu yang memudar. Kemudian perlahan-lahan lenyap. Meresap ke dalam ronngga-rongga perih hati yang terbalut luka. Cintamu adalah pujaan, seperti perhiasan. Kau begitu berharga, melebihi kata berarti. Kemudian mengalun nada-nada sendu dari bias permukaan mataku. Mengalir lagu kesedihan. Rintik-rintik hujan seakan bercengkerama sangat akrab melewati percakapan mesra, berbincang mengenai romantika cinta. Menangis, memiliki sejuta arti. Sedih, melewati jutaan rasa pelik yang menguras hati. Kini, dalam sendiri kuharap. Dalam sepi kudekap. Sisa cinta yang masih tersisa di antara puing-puing runtuhnya keyakinanku, di antara kepingan-kepingan rindu yang pecah. Aku memintal sebagian benang asmara untuk selalu terkait denganmu, membentuk lembaran kisah cinta selembut sutra. Kemudian kuselimuti dirimu penuh kehangatan. Kepada segelas resah yang basah karena tercampur gerimis. Aku ingin dicinta. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kau tahu, sebentar lagi aku mati. Itulah kata yang seringkali kudengar. Kematian adalah cerita yang menarik ketika hidup hanya menyisakan kepedihan. Sandiwara dan penuh kepalsuan. Di atas ranjangku, bisikan itu masih terdengar. Mengalun diantara helai rambutku yang terurai. Aku akan mati, ucapku. Aku telah siap. Bahkan sebelum jauh niatku muncul. Aku seperti merindukan kematian. Ketika darah yang mengalir dan mataku tak lagi menangis. Sesaat itu aku tersenyum, menyampaikan salam terakhir. Mendendangkan nyanyian cinta yang lirih terdengar mengalun. Disini, kukatakan dalam hati. Seperti yang kau inginkan. Aku akan pergi darimu, untuk selamanya. Setelah itu, aku tak akan pernah menampakkan diri dalam bentuk apa pun. Aku benar-benar akan lenyap dari hidupmu. Meninggalkan kenangan yang akan segera terlupakan. Cinta, tak perlu dipersoalkan. Cukup sederhana ketika hidup akan berakhir mati. Maka cinta pun akan berakhir sakit hati. Maka untuk menutup segala kesalahanku, aku perlu mati. Inilah akhir kisah hidupku yang tak begitu indah. Senyumku selalu untukmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Taburan bunga duka mengiringi kepergianmu, taburan kristal air mata melayat kepedihanmu. Kita sama-sama menggali kubur kita sendiri. Terjerembab ke dalam lorong gelap dan bersandar pada tanah. Napasku tak berhembus lagi. Tanah perlahan merasuki seluruh lubang hidungku. Lebih baik aku pergi. Daripada harus menjelma sebatang bunga akasia di tanah gersang. Sia-sia. Kau menggelayut mimpi di setiap lelap tidurku. Namun, apalah arti sebuah mimpi. Selalu berakhir dengan ketiadaan. Terlupa. Lebih baik aku tumbuh di atas pusara tanah merah yang masih basah. Karena doa-doa tergantung diantara reranting dan sepucuk surat kepada tuhan. Aku tak bisa melayarkan cinta karena perasaanku jauh dalam terkubur. Bahkan hatiku terkunci rapat karena rantai telah membelenggu oleh dengki dan kebencian, kekecewaan dan harapan kosong yang tersisa. Ke manakah tempat yang bisa membuat mataku kembali bercahaya. Aku tak menemukannya selain dekapanmu. Selain kehangatan cintamu. Di antara jurang yang memisahkan jarak, aku selalu menantikan jauh di dasar jurang. Bahkan jika aku harus jatuh ke dalam. Terbentur keras, lalu berdarah-darah. Demi cinta.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kini lautan semakin terhisap habis lantaran mataku dangkal. Ketika kesedihan menjadi terlalu dan dasar mataku tak berair lagi. Ketika tangis pun menjalar seperti lahar dingin dan turun melewati pipi, bukan air tetapi larva pijar panas yang berasap menganak kali. Aku tak bisa mengungkap bentuk kepedihanku. Ketika rasa sayangku habis karena gelas pun pecah. Bukan separuhnya, melainkan tumpah ruah habis menyeluruh. Hatiku, sesaat kering. Jiwaku sesaat gersang. Dan mataku kembali kemarau bukan lantaran kehabisan air. Tapi karena cuaca tak lagi berpacaran denganku. Aku butuh surgamu. Ketika dahaga karena hasrat luapan kerinduan yang membuncah di tengah padang. Membentuk semacam oase yang terbayang hamparan danau. Bahkan sebenarnya sama sekali hatiku telah meradang. Kini, hanya butiran pasir yang jatuh dari mataku ketika menangis. Dan aku pun mengais butir-butir pasir itu untuk kembali kusimpan, agar aku masih bisa menangis, di kemudian hari.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Di atas pusara itu mataku hanyut dalam luruh derai tangis yang berurai gerimis. Senja telah berkabung sedang hatiku dirundung pilu. Maka tatkala kesepian dan kesenyapan hati telah menepikan rasa benci. Aku tak bisa dalam sedetik untuk berdiri di atas kaki sendiri. Menatap langit kosong dan seluruh semesta padam serta bungkam. Tak ada cinta yang benar-benar bertahan dalam tahta. Jika hati ini kemudian terpasung oleh luka. Kekecewaan mendalam serta merta merajaiku. Kau, telah membuat segala awal menjadi akhir. Ketika api pun padam pada binar-binar kerinduan. Aku hanya tak bisa, menjadikanmu semacam kisah cerita. Ketika harapan semestinya berpisah dengan realita. Maka tak ada lagi cerita tentangmu. Tak ada lagi rindu. Rindu akan purnama yang bersahaja di singgasana. Hatiku melayat. Ketika separuh jiwaku telah mati. Karena cintamu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kapan terakhir kali kau nyatakan cinta. Merasakan kerinduan dan lubuk hati terpenjara oleh perasaan yang tak terdefinisikan. Ketika kamus tak mampu membendung perasaanmu untuk diungkapkan. Saat itulah cinta seperti syair yang dikumandangkan. Kemudian awal selalu saja bertemu akhir dan kisah cinta teramat tragis menjadi kehilangan yang tak terelakkan. Bagi kau yang baru terjatuh karena cinta, nikmatilah. Karena kau bisa jatuh. Maka kau pun bisa bangkit. Saat dirimu terhempas dan dadamu berdarah-darah karena hatimu telah terlalu terluka. Obat yang membuatmu tenang adalah keyakinanmu. Ketika kau percaya bisa untuk bertahan karena cinta, maka kau bisa berusaha untuk melepas cinta. Tinggal kesedihan dan berurai air mata meninggalkan jejak kebisuan yang beku. Hatimu rapuh karena hatimu telah jatuh. Bukan karena cinta, tapi karena dirimu. Ketika cinta memisahkan harapan dan kenyataan. Aku berharap tak bertemu di persimpangan jalan. menantimu untuk kembali dalam dekapan, cinta. Aku yakin, kenangan akan menjadi lembaran album yang bisa tersimpan, untuk kembali menikmati cinta yang tertinggal, terlalu indah untuk dilupakan. Bukan saja dalam album dan bingkai foto tapi jauh di dasar hatimu, pernah ada cinta.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Awan mulai terselimut kabut tipis keabuan. Perlahan berarak dan mulai merapat menutup kapas putih. Terdengar gemuruh tertahan hendak melawan. Ada kekhawatiran dan rasa kalut yang menyatu menyerbu dada. Perasaanku, mendung. Aku tak tahu apakah malam ini turun badai beserta angin bertiup kencang kemudian hujan menderas, atau sekadar gerimis kecil yang menggelitik karena gemerciknya menyentuh daun satu-satu. Mungkin, barangkalai hanya mendung seperti kaca tipis yang menyelimuti mata. Tak juga hendak meledakkan isak tangis atau menumpahkan kesedihan. Hati manusia siapa tahu. Begitu pun hujan datang siapa tahu. Aku tak bisa menebak. Mengetahui segalanya saat terjadi badai, mengetahuinya sesaat hujan mereda, mengetahuinya seusai tanah mulai basah. Ketika harapan itu harus terpaksa ditutup karena realita. Seketika langit padam. Tak bercahaya. Seketika air muka berubah sendu. Seketika mata hendak turun salju. Hidup telah memberikan pelajaran apa yang tak pernah tertangkap waktu. Aku mulai termenung dan hanya terduduk menopang dagu. Apakah aku bisa, siapa tahu. Cinta tak lagi soal waktu. Aku ingin segera tahu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Mungkin, tak mudah bagimu memaafkanku. Karena sakit yang menorehkan luka bahkan merobek kalbu. Tak sekadar luka tapi juga kepiluan hati yang mendera. Lantaran kau merasakan pedih yang melanda tersiram air cuka. Hatimu gelap. Maaf pun tak tersedia. Bahkan penuh syarat. Atau bisa jadi ditunda. Tak mudah karena ketulusan tak lagi singgah dihatimu. Kebencian adalah jeruji yang mengekangmu dari ikhlas mengampuni. Butuh lebih dari sekadar permohonan maaf sepenuh hati. Ada harga yang harus dibayar. Ada dendam yang harus terbalas. Manakah diantara kebencian yang mampu hilang selama emosi menguasaimu. Hanya nuranimu barangkali bisa membebaskan, dari belenggu rasa enggan untuk memberi. Rasa legawa dan lapang dada. Menyerahkan rasa sakit pada keikhlasan. Berhenti mengedapankan emosi dan membiarkan jiwa bebas pada kesucian. Bahkan kau menumpahkan segala tangis untuk membayar kesedihan. Untuk meredam kekecewaan. Tapi maaf tak pernah bisa ditawar untuk bisa terbayar. Hanya cinta dan ketulusan hati yang mampu berikan rasa ikhlas tanpa berharap untuk terbalas. Rasa sakit, masa lalu. Kebencian tak akan mendatangkan jiwa dan mengekalkan hati pada kedamaian. Berilah aku cinta. Maafkan aku. Maka kucintaimu dengan ikhlas.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Daun cemara tua kecoklatan akan tertiup angin lalu jatuh terkulai dan luruh ke tanah. Hati siapa pun akan terhempas dan menahan perih. Ada kebencian dan dendam. Tapi ada cinta yang sejuk dan sebening embun pagi. Aku tahu, nuranimu masih luas sejauh langit terbentang. Aku menggenggam erat tanganmu, dengan harap dan getir. Ada lega dan bias haru menitik air mata yang menggantung di ujung. Memelukmu. Meminta dekap yang hangat. Matamu pun berkedip karena aku segera mengecupmu. Mengetuk hatimu. Rasa sayang begitu indah. Aku pun tak kuasa, dengan penuh rasa syukur. Bersamamu, meniti hari dengan penuh asmara. Lembaran hari berganti dan waktu terlambat untuk berhenti. Di antara masa yang terlewati, tak perlu ada penyesalan.  Mohon maaf lahir dan bathin. kembali hati menjadi suci menjelang masa depan yang dinanti.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kau telah permainkan resah dan gelisahku. Ketika rasa harap tak lagi berpangkal pada kenyataan. Menunggu detik-detik yang terasa kabur, jembatan kita telah roboh. Kita masih melihat langit yang sama, sekalipun semalam sempat padam. Masih kulihat bintang menebarkan cinta dan kemilaunya. Seperti pasir putih yang kau simpan dalam botol, maka terpaan cahaya memantulkan bias dan terbitlah pelangi. Dimanakah senja kini, jika yang ada hanya kesendirian. Deru nafas bisa kudengar sendiri. Tak ada lagi riak tawa seperti deru ombak yang menyusul. Hatiku membisu lantaran perasaanku telah membeku. Menatap kosong sejauh mata memandang, tak ada lagi kedamaian. Hatiku selaksa air yang berjelaga kemudian turun menderas, bermuara pada hulu mendambakan ketenangan. Jika kau mampu meredam ombak maka peluklah diriku sesejuk angin sore. Lalu kau boleh tumbuh dimana pun, karena hatiku siap untuk kau tanam, lalu kujadikan taman seperti syurga. Aku menginginkanmu, sayang
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Kita masih bisa mengerti ketika bahasa hati kita berbicara. Ketika aku masih bisa mengungkapkan isi hatiku dalam bentuk bahasa. Kau pun bisa menerjemahkan perasaanmu dengan bingkai kata-kata. Sebenarnya hati kita masih sama. perasaanku masih ingin bersama tak sekadar ingin. Kau lebih sekadar cantik untuk kucintai karena kau adalah sesuatu yang sangat berarti bagiku lebih dari sekadar kumiliki untuk selamanya. Bayang wajahmu tak hanya menghiasi ruang kamarku, lebih dari itu bayang-bayang parasmu memenuhi ruang hatiku. Kau jaga selalu hatiku, menuntun jalan ketika terjal dan berliku karena jurang. Kuserahkan semuanya pada waktu apakah cinta bisa kadaluarsa. Apakah semua tentang cinta adalah cerita tanpa sebentuk realita. Garis tangan telah menunjukan bahwa di matamu bisa kulihat permukaan air yang tenang.  
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Aku baru tahu, semua kenangan itu tak berarti apa-apa. Semakin kusimpan semakin kugenggam duri. Sakit. Cinta tak bisa menyelamatkanku. Ketika cerita indah itu terhapus begitu saja karena hubungan kita terputus. Aku hanya memandang kosong, mungkin kebahagiaan itu ada saat kita benar-benar merasakan cinta. Ketika cinta itu hilang, kenangan, cerita indah tak lebih dari sekadar bara api yang tak bisa lama disimpan. Kau dengan mudahnya menghapus semuanya. Sementara aku dilanda kegelisahan karena masih terlalu mencintaimu. Semakin kucoba untuk melepasmu semakin aku tahu lebih dekat dengan rasa sakit. Rasa kecewa, lalu dilema. Apa arti kesetiaan jika tak mampu membuatku bertahan, cinta pun hilang karena yang kumiliki hanya sekali. Kau hempaskan aku seperti itu, pecah berkeping-keping. Butuh waktu untuk menata ulang kembali serpihan pecahan-pecahan untuk membentuk bingkai hati yang utuh, siapa tahu ada bagian kecil yang hilang. Aku tak bisa berbuat apa-apa. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sedekat ini hatiku tak berdetak karena aku tak sanggup mengelak. Ketika kau mulai ragu dan aku tak bisa meyakinkanmu lagi. Cinta adalah secawan anggur yang memabukkan, kemudian kau bagi seteguk denganku. Kita dimabuk asmara. Aku pun menggenggam tanganmu erat, seperti hatiku yang berhasil kau jerat. Aku yang termangu telah terjebak candu sementara hatiku terselimuti samudera rindu. Cinta membiarkanku tenggelam, tak pernah ada kesempatan untuk terpejam. Mimpi hanya sekadar ilusi. Hidup tak lebih dari rangkaian cerita tentang cinta. Bahkan bisa berakhir tragis tanpa henti untuk menumpahkan tangis. Rela ketika sang kekasih harus pergi sementara hatimu hancur karena pikirnmu kehilangan kendali. Romantika hidup. Ada kisah, seperti ciuman panjang tanpa jeda sambil matamu terpejam. Ada gelora dan hasrat untuk hidup bersama tak pernah sama dengan jalan realita. Biarkan ini semua terjadi, memandang sekelilingmu bahkan pernah kau salahkan pencipta. Dimanakah diantara cinta yang ada mampu bertahan abadi. Ketika perasaanmu membutuhkan sandaran bahwa hati tak pernah percaya pada jarak, tapi lebih percaya pada kedekatan. Pada cinta. Ada hati yang patah, ketika kau tak mampu lagi mengarungi samudera. Aku tak berani bersumpah. Cinta bukanlah segalanya. Karena hidup bukan saja tentang cinta, tapi tentangmu sayang. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku disini, dia disana. Sebelumnya dia bilang padaku, ingin datang padaku. Aku yang memintanya datang. Karena aku ingin memberikan sesuatu padanya. Sebenarnya aku pun tahu, dia berhalangan. Ada acara yang tak bisa ditinggalkan. Dari situ, menyulut kekesalanku. Aku biarkan dia bertanya-tanya. Aku biarkan dia cemas. Aku biarkan dia khawatir. Awalnya kukira dia batalkan pergi. Karena aku tahu acara itu penting baginya. Tapi selain itu aku tak tahu apakah dia benar-benar membatalkan datang acara karenaku. Karena kesalahanku. Dan semua itu terjadi begitu cepat. Aku tak menyangka. Dia pun pergi, membatalkan janji dan hendak menemuiku. Lantas, di perjalanan. Ketika hujan lebat mengguyur dan jalan basah. Terjadilah kecelakaan. Saat kudengar kabar, hatiku runtuh. Tubuhku jatuh. Aku tak berdaya, dan aku benar-benar tak sanggup. Aku harusnya tak memaksakannya datang. Berita itu baru kudengar sedikit terlambat, dari seorang yang berusaha menyelamatkanya di jalan. Dan aku tak memiliki kesempatan lagi melihatnya untuk terakhir kalinya. Karena dia telah meninggal. Aku tak sanggup berbicara. Aku tak sanggup. Selama berhari-hari aku tak sadarkan diri. Selama berhari-hari hidupku tak normal kembali. Aku kehilangan kesadaranku. Aku kehilangan separuh jiwaku. Tidak ada yang lebih sakit dari penyesalan ini karena telah membuatmu pergi. Aku tak pernah bisa berhenti menangis, karena rasa bersalah. Betapa tidak, ketika itu aku memang kesal padanya, namun tak sepantasnya aku begitu. Aku tahu, aku terlambat untuk menyadarinya dan menyesal sejadi-jadinya setelah semuanya terjadi. Orang yang kusayang, akhirnya pergi. Tanpa pamit. Untuk selamanya. Butiran bening itu menjadi banjir yang melanda dan membasahi pipi. Aku tidak bisa menebusnya dengan apa pun. Aku Cuma bisa berdoa sambil berlinang air mata, orang yang kucintai telah pergi sebelum benar-benar datang. Aku telah membuatnya pergi di saat aku benar-benar menginginkannya datang. Maafkan aku sayang. Aku selalu mencintaimu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Bunyi denting terasa di telingaku, kau pun berbisik. Semalam, kau begitu mesra. Aku pun suka. Tawa yang terlepas dari jeruji beban dan nestapa, menggelegak canda. Kau pun mengelus-elus penuh kelembutan. Cinta, bisa berbagi. Ada kehangatan. Kau pun semakin ranum. Aku ingin sekali menggigitmu lalu menikmatinya. Senyawa yang basah, kemudian melekat karena tubuh kita merapat menyatukan gemuruh yang tak tertahan. Kau terpejam karena pulas sementara matamu tertutup karena aku tak lepas memandangimu, terpesona. Ada bias tak terurai, semacam rasa bahagia. Rona yang tak pudar di atas selilokui. Pelangi karena jingga. Bahagia karena cinta. Setiap sudut tak menyisakan celah. Jika ini adalah bagian cerita. Aku ingin menjadi bagian akhir yang bahagia. Siapa tak menyangka, semua jalan cerita tak pernah pasti berhenti di titik mana. Sementara kau belum siap menerima kenyatan berbeda. Aku hanya bisa memandang sambil menyunggingkan senyum, diantara kekecewan masih ada harapan. Penantian tak pernah tiba pada kata terserah. Aku adalah milikmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kau tahu, aku tak pernah meminta untuk dilahirkan. Aku tak pernah diberi kesempatan untuk memilih. Dimana aku dilahirkan. Maka, setelah sekian lama hidup. Tentu aku ingin segera mati. Berapa banyak orang sakit hati, merasa terbuang dan percuma. Sekian banyak perasaan terhempaskan takdir. Begitu banyak pasangan pecah dan bercerai. Tak ada yang bisa menyatukan kedua insan kecuali pertemuan. Pun berakhir dengan perpisahan yang tak terelakkan. Dimana cinta, adakah bisa membuat semuanya menjadi bersatu kembali. Ketika dunia menjadi arena sandiwara dan perasaan dengan mudah dipermainkan, diperankan. Hatiku jatuh, kutemukan seonggok kesedihan menggantung di suatu malam, tetesan air mata yang tak terdengar jatuh. Kau pun tahu, berapa banyak kesedihan dan tangis menggema tak pernah terdengar kecuali sayup-sayup angin yang mulai merenda tabir kerinduan menjadi peredam rasa sakit dan kecewa. Disini, aku tak tahu. Bagaimana menghentikan pergantian waktu, semua bergilir dan berputar. Kau campakan aku. Tega. Aku hanya bisa berbincang dengan hatiku, semacam berbisik. Lalu terdengar lirih dan menyentuh. Air mata pun mengalir karena kesendirian. Kenangan menjadi duri yang merobek hati. Ingatan akan kisah yang indah menjadi perih untuk dinikmati, terlalu terluka. Untuk apa, lebih baik dilupakan. Akan tetapi semakin kau paksa diriku lenyap dari ingatanmu, hatiku telah bersemayam lama. Kau tak pernah menemukan tempat, kecuali mati. Ragaku terpasung luka akan cinta yang telah membunuhku, perlahan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kalau suatu saat aku merasa lelah. Merasa semuanya tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Tak ada jalan dan kulihat hanya kegelapan di sepanjang  jalan. Aku pun merasa lelah membahas cinta. Ketika cinta tak mampu berjalan searah dengan takdirku. Aku tak tahu harus berkata apa. Apa aku bisa mengucapkan sepatah kata lagi tentang cinta. Bahkan hanya sekadar mengeja. Aku tak yakin bisa meraba ataupun menyentuhnya. Apa aku akan melupakanmu, atau bisa mengusirnya dari ingatanku. Aku tak begitu yakin. Ketika aku menyerah dan kau menjadi orang lain. Mungkin semua tampak tidak menarik lagi bagiku. Tidak ada aroma yang membangkitkan gairahku, seperti peluh yang menempel tubuh. Aku kehilangan energiku. Seperti kehilangan daya untuk menyalakan lampu, atau listik untuk membangkitkan kota. Mendadak langit padam dan kota menjadi mati. Gelap. Mungkin pikiranku kalut dan tampak suram. Mukaku berubah muram dan aku semakin tenggelam. Entah, tidak ada kerinduan dan kehangatan pagi. Atau seperti kehabisan mimpi dan setiap malam hanya terlihat gelap. Tak ada riak tawa dan senyum mengembang yang terbentuk karena bibirku menjadi datar seperti garis lurus horisontal. Mataku pun sendu seperti sembab karena terlalu banyak membendung air. Bahkan, air mataku menyurut dan dangkal seperti air laut tertelan bumi. Kemudian tidak ada jabat tangan ombak kepada pasir memberi salam. Tak kecupan hangat dan lambaian tangan. Kehidupan seperti daun yang tertiup angin, bergoyang dan jatuh. Terbuang, kemudian terhempas. Entah, siapa yang akan memungut dan menyimpannya. Atau sekedar jatuh dan terlupakan. Seperti sebuah surat yang diantarkan ke tengah lautan tanpa alamat. Sisa hidup mudah terombang-ambing, timbul lalu tenggelam. Aku tak mau itu terjadi. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Tiba-tiba, aku ingin sekali mati. Lelah, untuk bertahan pada suatu arti yang tak bisa kuyakini. Semua cerita indah hanya bisa kusaksikan dalam cerita film, atau cerita indah romantika  dalam novel. Atau bahkan bualan-bualan penyair yang merayu hingga mendayu-dayu. Hidup tak  seperti itu. Kenyataan membuatku berdiri pada satu titik dalam waktu yang sama. tidak ada yang menarik. Selebihnya konflik. Atau Cuma intrik. Hidup penuh kepalsuan. Fana. Tak ada keabadian. Petunjuk selalu mengarah pada benar dan salah. Kemudian berkilah. Setiap orang percaya pada kebohongan, pada cerita. Tidak ada yang percaya. Semuanya tenggelam pada dunia maya. Dunia nyata tampak semu dan membosankan. Aku tak bisa mengisi kepalaku lagi dengan hal-hal lain. Penuh sandiwara. Kepribadian pun kini menjadi ganda. Terkadang seseorang bisa menyulap dirinya menjadi sangat baik dan memesona. Terlihat cantik dan menawan. Tidak ada ketulusan dan kemurnian. Semuanya mencari nilai. Ada materi. Bahkan berlomba-lomba meraih kesempurnaan. Setelah semua yang kau peroleh dalam pencapaian hidupmu, lantas apa lagi. Kemudian kau bangga-banggakan. Mendadak kau bisa menertawakanku karena mengganggap tidak sepadan. Lemah. Tidakkah kau ingat perbincangan kita tentang kematian, kelamu. Keranda dan kain putih yang mengantarkan kita pada keabadian. Ketika kehidupan hanya sebentuk perwujudan. Sebenaranya tidak ada kematian. Mati untuk hidup. Siklus reinkarnasi. Ketika manusia hidup setelah dibangkitkan. Dan bersama-sama satu sama lain tidak perlu saling mengenal. Tidak ada kekecewaan. Tidak ada dendam. Tidak ada permusukan. Damai. Kenapa pada akahirnya manusia saling mengenal kemudian bermusuhan. Kenapa pada akhirnya semua ajaran baik malah membuat manusia saling menyalahkan. Kenapa pada akhirnya semua kekayaan membuat manusia saling menjatuhkan. Aku jadi lupa. Bahwa sebenarnya aku hanya ingin mati. Tidak perlu membahas cinta. Kerena sebenarnya tidak ada cinta sejati. Cinta ada sebentuk tumbuhan. Bisa kau tanam dimana saja, asal bisa tumbuh. Maka cinta tumbuh layaknya benih yang menemukan unsur hara dalam tanah. Bahkan bisa mendua. Bercabang. Selingkuh. Kehidupan manusia tanpa cinta seperti kehidupan tanpa tumbuhan. Kering. Tak ada makanan. Mati. Kau menikah, lalu bercerai. Jodoh, siapa tahu. Aku dan kau sering mempertanyakannya. Tak cukup dalil menguaknya menjadi jawaban. Tak cukup bukti. Jodoh bisa bertemu di syurga. Setelah aku mati. Kau pun tak perlu tahu. Dimana aku dikuburkan. Tak perlu kau datangi makamku. Kau boleh mendoakanku, tidak juga tidak apa-apa. Biarkan aku istirahat dengan tenang. Aku bisa melihatmu dari jauh. Kau mungkin tak percaya. Sejauh apa pun kau mengenalku, kau tak lebih mengenaliku daripada mengenali dirimu sendiri. Kau bisa melanjutkan hidupmu. Aku juga. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Saat mataku terpejam. Lalu kubuka dan kulihat seluruhnya adalah hitam. Saat itu aku sadar. Aku buta. Aku buta karena aku tak melihat kebaikanmu. Aku buta karena aku tak memandang sosok indahmu. Aku buta karena aku terlalu mencintaimu. Aku buta karena aku tak berhenti merindukanmu. Aku buta karena aku bertahan dengan cinta. Aku buta karena aku tak lagi bisa membedakan realita. Aku buta karena bukan saja mataku, tapi juga hatiku. Aku tak bisa berdiri dan menuntun jalanku sendiri. Akalku hilang dan kesadaranku tak kembali. Kau telah merebut segalanya. Bukan saja mataku, hatiku dan pikiranku. Kau mencuri hidupku. Dawai-dawai nada terputus karena gerimis perlahan berhenti dan ritme hujan tak terdengar lagi. Di sudut kursi aku terduduk sendiri. Memikirkanmu. Kau tak pernah ada. Kau bagiku cahaya. Tanpamu tak ada yang lebih berarti. Cahaya menemukan segala keindahan karena pertemuan berbagai warna. Ketika cahaya padam, aku lebih dari sekadar buta. Aku tak menemukan terang. Aku tak menemukan surya. Aku bisa terjatuh dan menabrak apa saja. Bisakah kau kembalikan semuanya padaku. Aku mohon. Karena tidak mungkin kutemukan cinta yang lain. Kau telah merampasnya dariku. Kau berjanji untuk menyimpannya sementara di belakangku kau berdusta. Karena cintaku yang kupunya hanya satu. Tak pernah terbagi. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ada surat undangan yang kuterima, kertasnya indah berukir dan bertuliskan tinta emas. Ada kau disana, tertulis. Aku tahu, itu kau. Aku pun tak bisa berbuat apa-apa selain tersenyum getir menahan dada. Kemudian kubaca perlahan penuh seksama, bukan saja namamu. Tapi kulihat ada nama lain. Nama yang tidak begitu kukenal. Dia adalah orang lain. Aku hanya bisa menghitung hari, aku juga hanya menghitung jari. Memandang kosong hamparan rumput dan pemandang alam. Aku baru tahu, sebentar lagi. Tapi aku harus sanggup menerima kenyataan ini. Kau akan menikah, sementara aku mencintaimu. Ada perasaan yang tak mudah kuredam. Mungkin harusnya aku lebih menerima. Sebentar lagi juga waktunya aku pergi. Aku tak perlu memberitahunya. Bahwa hidupku tinggal sebentar lagi. Tapi apakah aku akan bisa menerima, ketika dia menikahi orang lain. Apakah aku bisa menerima, ketika dia hidup bersama yang lain. Biarkan saja, karena hidupku tidak lama lagi. Biarkan dia bahagia. Seuntai harapan yang tergantung di langit kemudian padam dan awan bergemuruh karena hujan akan membasahi tanah. Diam-diam, aku menangis. Kemudian meraung dan berteriak histeris. Tidak menyebut namamu. Tapi nama Tuhan. Segeralah bawa aku pergi. Menjemputku.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kau perlu tahu, ini untuk terakhir kalinya kusampaikan kepadamu. Aku mencintaimu. Terserah apakah ungkapan cinta ini seperti angin melintas saja bagimu. Cukup, lebih dari cukup untuk  mencintaimu. Setelah kau biarkan aku dalam kesengsaraan ini. Mudah saja bagiku untuk menyudahinya. Jangan kau pikir aku tidak berani melakukannya. Kau tidak akan pernah melihatku lagi. Aku bisa pastikan itu dan hidupmu tidak akan terganggu olehku. Tidak perlu mengiba, tatapan matamu terlalu memesona. Aku tak sanggup untuk menolak segala ketertarikan padamu. Tapi kau tak mudah terkalahkan. Aku menyerah, bukan karena mengalah. Tapi aku tahu bahwa aku harus sadar. Cinta tak pernah pantas untukku. Rumput tak pernah memeluk bulan. Begitu pun daun tak pernah memeluk bunga. Kau terlalu indah. Lebih dariku untuk memilikimu. Aku ucapkan salam, jangan kau menangis. Sebentar lagi aku akan pergi. Menutup lembaran hidupku yang kelam. Di hatiku yang terdalam, aku pernah mencintaimu. Tapi cinta tak berarti lagi. Cinta tak mengubah apa pun. Sementara kau punya jalan hidup sendiri. Aku tak punya kesempatan untuk mendapatkanmu. Dan aku tak punya takdir untuk bersamamu. Aku hanya punya satu mimpi, kelak menemanimu di syurga. Selamat tinggal. Darah mulai mengalir perlahan dari pergelangan tanganku. Rasa sakit tak pernah lagi terasa karena senyumku tak pudar mengembang membayangkanmu di syurga. Sementara belati itu masih bersimbah darah. Selamat tinggal
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku termenung beberapa saat, tanpa ditemani kata dan nada. Sendiri, mendekap sunyi dan mencoba bercengkrama dengan kesendirian. Baru saja, tidak lebih dari sejam, kuterima kirimanmu. Kugenggam sepucuk surat, ada semerbak aroma bunga. Diantara gulunganya terdapat pita berwarna merah muda merona yang kusuka. Kutahu, ada untaian rindu. Bisa kubayangkan, kalimat indah mengalun seperti nada dan puisi cinta sang pujangga yang dimabuk asmara di dalam surat itu. Terukir indah huruf yang tertulis disana. Aku masih terdiam. Belum sempat kubaca. Tapi aku tahu sebagian besar isinya. Ungkapan rasa cinta yang begitu menyentuh kalbu dan merangsang hati. Pernyataan cinta. Bukan sekali ini saja. Dia mengirimiku surat seperti ini. Telah kusimpan puluhan isi hatinya di laciku. Sementara, aku harus bisa menjaga hati. Aku telah melabuhkan hatiku di dermaga lain. Ada seseorang yang kusukai. Memang berat ketika cinta bertepuk tanpa tangan. Tak pernah tergapai selalu menggantung di angan. aku tak bisa mencintaimu, karena aku mencintainya. Apa yang harus kupilih. Dirimu, atau dirinya. Akhirnya, kulipat surat itu. Kumasukkan ke dalam amlop. Kutuliskan namanya. Cintamu kepadaku adalah cintaku kepadanya. Cinta bukan menjadi pilihan. Cinta adalah perhentian. Seperti surat, kadang cinta tak berbalas. Begitu pun cinta terkadang datang salah alamat. Kepada siapakah kukirim cinta, kepadamu atau kepadanya. Kukirim sejuta cinta, barangkali hanya satu yang kau dapat. Berharap merpati datang dengan seuntai tali terikat di kakinya membawa bingkisan kertas berisi ungkapan cinta. Cinta membuatku tak perlu malu untuk bertanya. Dimanakah alamatnya, sehingga bisa kukirimkan cinta kepadanya. Atau kepadamu. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bulan tinggal sepotong, aku tak  bisa membagimu. Di kamar ini cinta tinggal sepotong, aku pun tak bisa membagimu. Ketika jiwamu terlepas, selaksa butir kristal putih menggenang di permukaan mataku. Aku tak memaksa. Ragamu dekat lebih dekat dari pandangan mataku, tapi jiwamu terbang melintasi jutaan kota yang mati. Aku tak bisa mengembalikanmu. Selepas senja kau rebahkan dirimu di dadaku. Melabuhkan rindu dan penat yang menyatu. Pikiran kita berkelana pada rimba imaji dan persenggamaan yang bergelora. Berurai resah dan desah. Benih-benih cinta melebur diantara kecupan hangat dan pelukan. Lalu mendadak dadamu tertegap. Air mata luruh bersama isak tangis dan kebisuan tanpa kata. Aku benci saat ini. Ketika cinta tak lagi bisa mengobati. Derai air mata seperti hujan di malam hari. Dingin. kau pun termenung seperti termangu. Aku tak bisa mereka pikiranmu, sementara hatiku koyak lantaran kau hempaskan aku seperti ini. Menyiksaku tanpa menyentuh. Kau duduk tertunduk lesu. Bagaimana kubagi perasaan seperti sepotong roti tanpa selai. Bahkan saat kau berada sedekat ini, aku tak bisa mengenalimu. Kau tidak lagi senikmat anggur dalam cawan. Semakin banyak kuminum, aku semakin kehilangan kesadaranku. Mencintaimu, lebih dari cukup menyakitkan. Untuk berpisah. Dan api mulai bergoyang di ujung lilin yang mulai habis. Aku segera meniupnya. Selamat tinggal.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sehangat mentari pagi. Kau pun tersenyum manis membingkai seulas pesona di antara sudut parasmu yang kukagumi. Ada getir. Kau pun menggenggam erat jemariku. Senyummu tak mampu membungkus resahmu. Tatapan matamu sendu. Aku mencoba gentar. Kau pun tak bicara, aku pun hanya terdiam berharap bisa membunuh waktu. Menikmati kebisuan yang terjebak karena perpisahan. Tak ada lagi yang bisa mengembalikannya. Ketika kau berdiri di hadapanku untuk terakhir kalinya. Kutatap matamu yang indah. Ada bias bening yang memenuhi kelopak matamu. Aku tak ingin ada tangis memecah sunyi. Aku pun menyambut tanganmu dan menggenggamnya penuh kelembutan. Jari-jari kita saling berpelukan bukan karena dingin, tapi karena ingin. Seperti tak mau dilepas, begitu erat dan keras. Dirimu, di hatiku sudah terlalu lama. Kau tak bisa meninggalkanku begitu saja. Aku tak butuh ucapan terakhir. Karena semuanya seperti sia-sia. Biarlah kunikmati akhir dari cerita ini tanpa tahu kisah apa selanjutnya yang bisa kuhadirkan untuk menemaniku, sendiri. Ada luapan yang tertawan di dadaku. Seperti gejolak untuk lebih cepat mengakhirinya. Kau lebih sekadar kenangan untuk kuingat. Kau lebih dari sekadar foto untuk kubingkai. Kau lebih sekadar detak untuk menghidupkan jantungku. Kau lebih dari sekadar darah untuk mengalir di seluruh tubuhku. Aku tak bisa melepasmu. Sungguh, aku tak sanggup. Kau membuat derai hujan kembali menerpaku. Tak sehangat pagi. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Terkadang, kau tak pernah tahu bagaimana semuanya begitu saja terlewati. Sementara kau tak punya waktu untuk memastikannya dan membiarkannya pergi. Tapi sungguh. Aku telah mengenalimu. Aku juga telah menyadari perasaanku sepenuhnya kepadamu. Ketika setiap penantian dan iringan waktu berhenti tepat di hadapanku. Aku tak bisa membiarkanmu. Mendapati ribuan cahaya seperti kunang bekerlipan setiap malam. Aku pun ragu, untuk tetap menjagamu. Di antara deru ombak dan hempasan karang, kau selalu tak terlihat seperti tenggelam. Di balik cemara kau pun memanggil sambil berlari dan melambaikan tangan padaku. Maka, aku tak bisa berkedip. Karena air mataku akan berjatuhan. Aku tak ingin semuanya lenyap sampai tak tersisa. Seperti belaian ombak kepada pasir hanya berjabat tangan dan terpisah tak berbekas karena buih pun hanyut bersama kilau pasir yang mulai mengering diterpa surya. Aku tak mau mataku kering karena kehilanganmu. Ketika pusara air di hatiku selalu bermuara pada hatimu. Aku ingin dirimu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sadarkah, ketika hamparan langit yang membentang dan awan berarak beriringan. Perlahan sang surya perlahan kembali ke peraduan. Aku masih menunggumu. Untuk kesekian kalinya secangkir gelas tak mampu meredam kegelisahanku. Bahkan ketika segalanya berhasil kuabaikan. Aku tak bisa menghapus jejakmu. Di balik gerimis aku bersembunyi. Di balik hujan aku mencari. Kau selalu pergi. Aku masih saja menunggu senja yang telah habis. Kau, telah mencuri hatiku. Membawaku pergi jauh. Menitipkan sejuta rindu yang kau tanam jauh di dasar hatiku. Kemudian tumbuh bunga-bunga mawar putih yang indah. Menyapa langit dan membawa kehangatan cinta yang terselip di antara celah celah ventilasi. Aku bisa melihatmu, disana. Duduk menggenggam jari dan sabar menanti. Di antara kerinduan butir butir pasir pada lautan, ombak telah menghapus jejakmu. Tapi di hatiku, kau selalu ada.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Mungkin, kau tidak punya cukup waktu untuk memperbaikinya. Kau pun tak berdaya untuk mengikat kenangan itu terus dalam mimpi dan bayanganmu menjadi nyata. Terakhir kali kau ingat, kau menggenggam tanganku. Tapi kini semua telah berubah. Bahkan dari hal terburuk, kau telah terpisah. Tak ada lagi kesempatan. Hati yang terkoyak berkeping-keping. Sakit hati yang penuh kepiluan. Aku lebih dari sekadar mencintaimu. Namun apa daya. Kau tak bisa mengubah waktu menjadi kutukan untuk memperolehnya kembali. Cinta begitu kuat. Kau pun tak sanggup kehilangan. Beberapa hari matamu berderai air mata. Kau melupakan senyuman. Kau bahkan lupa bagaimana caranya tertawa. Hatimu telah tertutup kabut kesedihan dan matamu buta karena duka. Aku mencintaimu tidak sedikit. Bagaimana caranya agar kau kembali. Aku lemah tanpamu. Ini bukan tentang kesendirian. Aku tahu, ini lebih dari sekadar angan. Tapi aku mohon, jangan kau pergi dari ingatanku. Apa yang kuingat adalah harta terakhir yang bisa kusimpan mengenaimu. Tentangmu, wajahmu, senyummu bahkan kedipan matamu. Aku hanya ingin kau selalu berada di sini, di dasar hatiku. Selalu kuingat. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ditemani sebotol teh manis. Aku pun menuangkan kegelisahanku. Bosan aku dengan penat. Aku pun lelah hingga menyerah. Pasrah. Tak ada lagi niat kecuali berserah. Dirimu sangat berarti bagiku. Tak ada jalan bagiku untuk berlari. Tak ada lagi tempat untukku bersembunyi. Hatiku telah penuh. Tak ada lagi celah. Kenapa harus berpisah. Seperti cinta yang telah mendesah. Aku pun mengalah. Kau biarkan diriku hanyut dalam kesedihan yang basah. Mata yang dibanjiri oleh duka tak pernah memberiku kesempatan mengecup manisnya cinta. Manisnya rindu. Sebutir gula yang hanyut di tengah samudera. Tak berbekas. Aku lemas. Dimana cinta menjadi dilema. Dimana kenyatan berakhir tanda tanya. Dimana kepastian adalah ujung belati yang kau tusukkan padaku. Aku lebih baik mati. Aku menghargaimu. Tapi rasa ini begitu kuat. Aku tak sanggup mengangkatnya karena berat. Berat bagiku meninggalkanmu. Berat bagiku melupakanmu. Berat bagiku menyadari kau bukanlah kekasihku lagi. Aku hanya duduk terdiam memaku di ujung sudut ruangan melipat kaki dan menundukkan muka. Mata luruh bersama air mata yang mulai menderas seperi hujan. Hujan bulan juni. Hujan di akhir kerinduan. Ketika dinding hatiku mulai runtuh karena keputusanmul. Kita tak bersama lagi. Aku tak percaya. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Malam terbungkus dingin. hatiku terjerat di dua hati. Seandainya malam menjadi sekeping sendu yang menawan. Aku rela kau menahanku. Agar aku tak perlu memilih. Tapi matamu semakin senja dan tepian sungai selalu mengalir seperti mengiba. Aku tak sanggup. Ini tentang aku, kau dan dia. Seperti segitiga yang sama setiap sudutnya. Aku tak pernah tahu kalau perasaanku bisa hanyut diantara dua samudera. Kemanakah pusara ini akan menemukan titiknya sehingga tak perlu lagi ada yang terluka. Seandainya kau tahu bahwa tatapanmu membuatku ragu. Aku tak pernah memilih jatuh cinta untuk kedua kalinya. Tapi kau hadir di setiap sudut pikiranku, di saat keraguan masih mengambang tentang satu cinta. Aku tak menemukan pengertian tentang arti kata setia. Hatiku tak pernah menjawab, sebenarnya cinta tak pernah ada. Kau hanya membuat perasaanku hanyut dalam kesedihan yang sama. Aku harus memilih.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Apakah kau masih percaya cinta itu seputih salju. Tapi aku lebih percaya cinta itu seputih awan. Seperti gumpalan yang terbang di awang lantas tak pernah turun. Cinta bagimu salju yang dingin, kuat dan mampu bertahan. Kini salju tak pernah datang, apakah juga dengan cintamu. Ketika kau lihat awan di atas sana, berarti kau masih melihat cintaku. Salju dan awan sama putihnya. Begitu juga dengan cintaku padamu yang tak pernah ternodai. Putih bersih. Dimanakah hujan dan rinai gerimis yang mampu menjadikannya pelangi di antara tepian awan. Dan kau masih menunggu turunnya salju, mungkin awan bisa membantu. Sehingga cinta kita saling membantu. Ini bukan kiasan. Tapi aku tahu cinta yang bersih tak pernah lelah untuk bertahan. Bahkan ketika kau tak lagi percaya tentang cinta itu sendiri. Cinta mampu membuatmu bertahan meski kau sadar salju tak pernah turun di sini. Perlu kau tahu, aku pernah melihat salju bukan turun dari awan. Tapi turun dari matamu yang bening itu. Sehingga kau tak perlu percaya. Diantara awan dan salju aku masih mencintaimu. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Izinkan aku sejenak memandangmu, sayang. Sebelum kau pejamkan mata dan meninggalkanku. Aku ingin memandangmu barang sebentar, bukan untuk kulihat. Aku akan menyimpan seluruh tentangmu pada pandanganku. Ketika kau terlelap, maka aku bisa menyaksikanmu lebih lama. Tapi aku ingin melihat bola matamu yang indah. Mata teduh yang basah karena sendu. Mata seperti bola kristal yang mengkilat diterpa cahaya. Mata yang ingin kusimpan. Mata yang tak pernah padam karena dendam. Sejak kutemukan, matamu lebih indah dari batu mulia intan. Tapi perlahan matamu mulai mengatup kemudian tertutup. Tak ada lagi celah untuk kulihat, mata yang berkisah tentang cinta. Mata yang utuh karena kesetiaan. Mata yang penuh ketegaran untuk sabar menanti. Aku pun mulai cemas. Apakah kau akan membuka matamu lagi. Sehingga bisa kusaksikan bola matamu yang indah itu, sementara aku tak sanggup untuk memastikan. Matamu tak pernah terbuka lagi. Bahkan dari sudutnya mengalir perlahan. Tetesan air yang berubah menjadi telaga. Berjelaga.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Entahlah, ini mungkin hanya lambaian tangan. Ketika kau mulai melaut dan aku masih terdampar. Separuh jiwaku lepas dan membuatku terkapar. Aku akan menantikanmu kembalil. Ketika hari yang kuhabiskan hanya menunggumu menepi. Malam ini akan kuhabiskan sendiri. Biarkan bulan menjadi hiasan yang kupajang di dinding kamar. Setelah kutuangkan kegelisahanku bersama secangkir coklat. Aku tak bisa menahan perasaanku untuk segera menuntaskannya. Menelannya sehabis tegukan sekali. Mungkin kita punya bulan yang sama sepanjang malam. Tapi bulan malam ini tampak dingin dan pucat pasi. Aku takut bulan sedang sakit dan kau tidak bisa menemukannya lagi di sepertiga malam. Aku akan duduk di tepian dermaga dan menarikan jari. Ketika kulitku bersentuhan tanah dan kuterbangkan pasir di permukaan tanganku. Menyampaikan salam rindu yang terbawa angin. Di sudut kota, aku menantimu pulang.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Semalam, aku baru tahu rasanya cinta. Seperti coklat panas yang terasa hangat di lidah dan manis dikecup bibir. Aroma begitu membelai lembut hidung dan membuatku sedikit terpesona. Coklat itu seperti menatap lekat-lekat. Kau bukan saja membuatku kagum, kau begitu menarik perhatianku. Setelah kau kisahkan ceritamu. Aku tahu rasanya cinta. Melewati berbagai konflik dan tragedi, menyisakan pengertian dan arti kasih sayang. Kau setia menghitung detik untuk terus bersamaku. Menjaga perasaan ini yang terus bersemi dan kadang menggelora. Asmara menjadi seperti selezat coklat. Dan kita habiskan sepotong demi sepotong sampai ujung malam berakhir menjadi kesunyian. Aku ingin sekali memelukmu malam itu, berlari dan menghampirimu. Mendaratkan ciuman terhangat di setiap sudut yang bisa kucapai. Kau membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Karena kau lebih dari sekadar untuk dicintai. Semalam, aku baru tahu rasanya cinta.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Di sini, sepiku sendiri. Kubungkus selaput duka dengan secarik tisu yang kemudian basah kuusap saja membasuh luka. Cinta tidak seperti pisau, tapi tajam mampu menorehkan luka. Bukan lantaran kau nyanyikan senandung sendu dan rapalan doa, melainkan bait-bait titian sunyi yang teriris kepiluan hati. Di sini, hatiku terbagi. Antara cinta dan benci. Dua keping rasa yang bersatu dalam sebongkah hati yang mulai karat karena debu dan dosa. Ketika matamu seperti bola lampu yang berpijar menyala api. Aku ingin menebus dosa. Mungkin dengan secawan anggur merah, atau barangkali sekalian saja dengan darah. Aku tak tahu arti keabadian. Ketika semuanya bisa terjadi oleh keniscayaan. Disini, sunyi menyepi. Tak ada riuh tawa memecah telinga di tengah malam kota.  Hanya rinai gerimis yang menepis kerinduanku tentang pelangi yang tak pernah datang lagi. Di antara tepian sungai yang kutemukan seuntai selendang sutra. Kemanakah harus kukembalikan rindu. Ketika kau titipkan cahaya senja di setiap pejaman mataku. Memanjakanku. Di sini, mataku merapi.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Akhirnya aku rindu pada angin dan belain lembut yang mesra serupa kain sutra yang tersulur dari benang emas. Aku rindu pada rintik air yang gemercik menerpa batu-batu kali yang menganak mengalir tepian mengantarku pada kesunyian yang tak kuketahui. Aku rindu pada deretan huruf mati yang berderet panjang terpajang di lembaran-lemabaran cerita kisah perjalanan hidupmu. Aku rindu padamu. tak bisa kutepis perasaan ini, hingga tetes terakhir di gelas menyisakan aroma yang membuatku lupa tentang waktu. Kini, aku hanya bisa pasrah memandang kosong tentang bulan yang terpasung luka. Apakah kau juga merindukanku, seperti tarian ilalang yang tak sempat memeluk bulan, bahkan sekadar mencumbu. Aku ingin desahmu, seperti rintihan yang tertahan karena cinta. Tapi cinta tinggal sepotong, aku tak bisa membaginya. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Benar saja, kau tidak hanya membuatku buta. Kau juga membuatku tidak percaya lagi tentang cinta. Kau masih saja menyembunyikan rahasia. Setelah ujung belati yang kau simpan menusuk jantungku. Kau membuatku tak berdaya hingga melumpuhkan akalku. Meruntuhkan seluruh persendianku, aku tak bisa apa-apa, sembari bersimbah air mata dan aku tak bisa memejamkan mata. Lantaran darah telah menetes. Aku  lemas, kau tega membuatku tak hanya menderita, tapi tersiksa. Setiap yang kulakukan hanya untukmu, tapi kau mengacuhkanku seakan tiada berarti apa-apa. Kau tidak saja menembakan peluru timah panas itu ke dadaku, tapi kau juga tembakkan tepat di kepalaku. Aku terkapar dan berlumuran darah. Kau yang kukenal selama ini, lenyap bersama seluruh kenangan yang tak bisa lagi kuingat. Kau mendustakanku dan membuatku ragu, apakah sebenarnya cinta. Ketika rasa itu hanya bisa tergenggam dalam jarak yang terhitung. Aku tidak cukup punya angka untuk menebusnya dan berjalan tanpa arah. Aku tak percaya, kau bisa berbuat begitu padaku. Sekali, tapi menyakitkan dan selalu kuingat.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kau bisa saja berkilah, atau beralasan. Cukup sudah kebohonganmu, aku tak suka. Kau membuatku berpikir menjadi berputar terhadap kebalikan fakta, atau menganalisa kemungkinan dan prasangka, itu membuatku nyaris putus asa. Kau bisa bicarakan hal ini pun sambil berbisik-bisik, jangan kau kubur dalam hatimu. Lelah kakiku melangkah, karena kau adalah telapak yang menahanku selama ini dari kata menyerah. Kemanakah angin harus berpulang, tiada rumah berteduh untuk sejenak singgah. Ketika rasaku bercampur menjadi arah angin yang tak menentu aku ingin bertemu kamu, menjadikannya garis senyum mengulas indah di bibirmu. Kau mampu mewarnai bibirku. Karena aku tidak bisa mengarang bahwa takdir telah mengikatku bersamamu. Aku hanya mencoba mengiringi kisah hidupku hanya bersamamu. Menjadikanmu kisah yang mungkin indah terdengar, manis dan penuh mesra. Jangan kau pergi.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sebenarnya apa kisah kehidupanmu yang membuatku terpukau. Kembali kubertanya, hidup adalah sejarah, cerita dan kisah. Sejauh mana alur itu berjalan dan menuai konflik. Dimana titik balik untuk berdiri di puncak dan lupa akan daratan, atau diterbangkan angin karena tak pernah kembali berpijak di tanah. Dalam setiap detik kita bergerak dan melakukan perubahan pada garis linear atau secara variabel, di setiap titik itu ada kemungkinan dan kesempatan. Untuk berubah maju berkembang, atau tidak sama sekali, bahkan terpuruk jatuh mundur jauh ke belakang. Sejenak,  pikirkan mengenai perubahan dalam hidupmu. Semuanya tentu ada bayaranya, kau harus berkorban banyak. Buatlah keputusanmu untuk mengambil sikap. Ini bukan kisah dalam film, yang mungkin membuatmu bertepuk tangan karena kagum, tapi film hanya berdurasi. Hidupmu jauh lebih berjangka, untuk mencapai apa yang menjadi impianmu. Mungkin suatu saat aku akan mengakuinya, dan menyesal, bahkan ketika kau tak sadar. Bahwa jalan yang kupilih saat ini hanya untuk membuat garis linear pada hubungan kordinat bertemu pada titik simpul denganmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku masih merasakan nafasmu. Ketika semua darah mengalir menjadi begitu cepat. Deru nafasmu yang terasa di telingaku. Bahkan, belenggu itu mampu merengkuh bibirku. Aku ingin terus di sini, menemanimu. Ketika setiap gerakanmu mampu terlihat, dan aku tidak bisa bersembunyi, apalagi perasaanku. Aku tidak bisa lepas darimu, merindukanmu. Kau pun tak banyak bicara, hanya sesekali tertawa, atau tersenyum. Tapi aku suka, bukan dari caramu tersenyum tapi caramu menatapku, lekat, penuh cinta. Masih adakah ketidakmengertian diantara kita, ketika rasa ini bercampur ke dalam gelas. Kau pun dengan seketika menuntaskannya dalam satu tegukan dan tarikan nafas. Aku pun mengerti, lebih dari sekadar arti pelukan hanya untuk menerjemahkan arti kedekatan. Kau mampu menyatukan semunya bahkan di saat matamu terpejam.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Malam ini aku mulai bisa tersenyum. Kau tahu, bagiku kau adalah jelaga jernih layaknya danau di musim kemarau yang menghempaskan dahagaku. Ketika kurasa kalut dan resah jiwa, aku hanya ingin menemui dan sedikit membagi kisah denganmu. Kuakui, pengertianmu adalah kesabaranmu. Kurasa kau mampu melampauinya. Langit tetap hitam, tapi bintang tak pernah padam. Aku pun selalu senang bahkan hanya mendapat pesan atau sapaan darimu. Bahkan ketika tak bisa kulihat matamu, aku selalu mengikuti ucapanmu. Bahkan, ketika kau tak sadar. Aku tak pernah habis mencintaimu. Karena kau lebih dari sekadar alasan. Untuk tetap kucintai. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sepasang merpati merapatkan cengkeraman di atas ranting dan dahan. Gerimis masih turun perlahan dan bias kaca membekas menyamarkan padangan mata. Aku menatap kosong. Lampu-lampu jalanan seperti kunang-kunang di musim hujan. Adakah kau memikirkan bulan malam ini. Ketika tak kulihat lagi sinarnya tertutup mendung. Dan aku di sini masih menunggumu. Aku ingin menemuimu, tapi kau tak ingin. Aku ingin menemanimu, tapi kau bilang tak usah. Aku pun resah. Hadirku hanya untuk membuatmu sekadar melepas tawa. Mungkin, kau masih menunggu bulan itu datang agar aku bisa menemuimu
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  Maret (2)
      • Surga dari Hongkong!
      • Moammar Emka's Jakarta Undercover: Sex Supermarket?
  • ►  2016 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (45)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (16)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (59)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (9)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2011 (116)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (16)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2010 (39)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (12)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates