Lama aku berpikir untuk tersadar,
selama ini aku terjebak pada perasaanku sendiri. Cinta itu bukan ujung panah
yang menancap dalam dada. Ketika mata panah menusuk jantungmu lalu energi yang
ditimbulkan pun habis karena berhenti. Maka energiku pun akan habis untuk
mencintaimu. Lalu sebenarnya kau tak membalas cintaku. Kau malah melepaskan
anak panah kemudian menusuk hatiku. kehilanganmu, untuk belajar menemukan
jutaan harapan. Cinta adalah arah dimana kamu menuju, bukan arah dimana kamu
berhenti lalu berpaling dan menjauh pergi. Kau akan selalu ada, bahkan saat aku
pergi dengan langkah gontai di malam hari. Untuk menemukan pagi aku harus
berjuang menghabiskan malam seorang diri. Mungkin, kau punya satu alasan untuk
meninggalkanku. Tapi aku masih memiliki jutaan harapan yang lain bahwa bintang
di sana akan selalu tampak bersinar.
Inilah akhir dari setiap bagian
cerita. Aku harus memaksa diriku untuk berhenti mencintaimu. Menutup luka yang
belum sempat mongering, mengunci hati dan menitipkan perasaanku yang remuk. Aku
sudah berusaha untuk bertahan, tapi luka semakin menjalar dan rasa sakit itu
menyebar ke setiap aliran darahku. Bahkan, kau tak pernah berpikir itu
menyakitkanku. Bertahun-tahun seperti merajut mimpi dan harapan, namun terbakar
dalam sekejap. Betapa pilunya hatiku saat bayangmu tengah hadir dalam setiap tidurku.
Seolah cinta masih semanis dulu, kenyataan membuka mataku saat terjaga dan kau tak pernah di sini, lagi. Kesalahan terindah
yang kubuat untuk mencintaimu sampai kini harus kuhentikan. Dimana akhir kisah
tidak selalu terdengar bahagia. Dan aku tidak bisa mengelak dari perpisahan ini
karena keinginanmu. Aku masih mengakui, kamu adalah bagian cerita hidupku
yang indah. Sampai waktu akan membawaku pergi untuk melupakanmu dan menganggap
cinta itu tak ada.
Aku ingat, butiran kapas itu
terbang. Seperti butiran debu yang terhapus angin. Kini, kenangan menjadi
kepingan masa lalu. Terbang, terhapus masa. Aku tak mengerti kenapa aku begitu
lelah untuk mengingatmu. Ketika kenangan, rasa cinta menjadi ilusi. Kenyataan membuatku
bangun dari mimpi sekian lama. Hidup selalu membawaku pergi, cinta selalu
menjebakku. Aku tak ingin, jatuh terlalu dalam. Kau telah membuat segala
keyakinanku selama ini sia-sia. Bahkan, tulisan ini. Tak ada artinya lagi. Selama,
waktu-waktu terbuang percuma. Cinta menjadi bayangan semu. Keterikatan hati
hanya sebuah kata yang terucap. Tapi janji tertinggal cerita. Siapa sangka, air
tenang selalu menghanyutkan. Kau bukan saja telah menghanyutkan hatiku, tapi
menenggelamkannya jauh ke dasar lautan.
Aku terjatuh dan tak bisa bangun
lagi. Ketika air mata mulai mengering di dasar hatiku. Tak ada yang tersisa
kecuali dahaga dan rindu yang tak menentu. Tak ada arah jalan pulang. Tersesat dalam
ruang hampa tak bersudut. Jika nanti, ada kesempatan membawaku kembali pada
cinta yang sama. aku ingin kembali pada keyakinanku. Karena cinta telah
menghabiskan percayaku tentang kesetiaan. Tentang waktu yang membuatku
bertahan. Suatu ketika terkenang kembali aroma tubuhmu yang tercium samar-samar
tak bisa kucegah dan berlari menutup mata, hatiku masih mengejarmu. Ada bayangmu
yang tertinggal membekas jejak kebisuan hatiku yang bungkam karena kesepian. Menatap
langit-langit kosong serta merta cahaya lampu begitu menyilaukan. Malam itu,
aku memelukmu dalam dingin. mengunci rapat pintu, agar kau tak pergi. Tapi kau
tetap pergi, meninggalkanku.
Aku tahu, di sudut kecil hatimu masih
kulihat pelita kecil yang menyala bergoyang. Aku tahu, diam-diam kutitipkan
salam rindu yang kuhembuskan bersama angin setiap hela nafasku. Menyebut bilangan
angka yang tak terhitung sejak pertemuan denganmu. Seketika perpisahan menjadi
jawaban setiap keraguanku. Mataku menghangat dan bulir bening melelehi pipi. Dari
bibir kering yang kemudian basah saat kukecup mengalirkan hangatnya debur dada
dan jantung yang menyatu dengan perasaan cinta yang meletup. Letupan itu kini
tak terasa lagi sejak lava hangat menyembur dari mataku. Setiap malam kulirik
bintang yang enggan menatap lampu. Kamarku sekejap menjadi gulita dan hatiku
mulai meremang. Merindukanmu, sendiri. Apakah aku bisa menawar luka dengan
cinta yang mulai hilang sementara rindu telah menjebakku pada perasaan
bersalah. Menyalahkan waktu dan pertemuan yang tak pernah abadi.
Tak kutunggu senja kembali,
secercah harapan kosong mulai sirna. Lampu kota mulai temaram dan petang kini
semakin muram. Jika aku menjadi orang lain untuk belajar mencari cara bagaimana
menjadi diri sendiri. Seringkali aku tersesat di antara pertanyaan yang tak
kutemui jawabnya. Setelah sekian lama meniti lembar bersama, aku masih ingat
untuk pertama kalinya jantungku berdetak lebih cepat. Saat aku berniat untuk
memanggilmu, dari seberang gagang telpon. Bertanya padamu, tentang kabar,
tentang kamu. Kini, aku harus bertanya pada siapa. Ketika rindu tak bertemu
alamatnya. Ketika dahaga tak bertemu telaga. Sendiri, mencari celah di
sudut-sudut kota. Untuk sekadar membunuh waktu dan melewatkan masa. Membuang segala
keresahan di antara bibir cangkir yang mulai dingin. aku ingin sekali, menghilang.
Tak terhitung berapa kali
terbersit bayang wajahmu melintas di benakku, tak terukur jauh jarak untuk
menggapaimu lagi. Aku kehilanganmu, itu cukup membuatku sedih menumpahkan air
mata. Bukan saja semalam, waktu-waktu berganti dalam sekejap mata dan aku tidak
bisa lari dari kesedihan. Selalu saja, kenangan seperti memutar waktu dan
menampilkan seluruh adegan bersamamu. Saat itu, aku hanya bisa tersenyum. Kemudian
waktu kembali merampas menjadi kepedihan hati yang tak terelakkan. Kau pergi,
tak mampu membuat mataku melihat. Tidur tak mampu lagi kumendekap bayang dalam
pelukmu selain mimpi buruk yang menghantuiku. Adakah cinta membawamu kembali,
seketika jantungku berhenti saat nafasku mulai tertahan. Seperti isak tangis
yang tertawan saat aku mulai merindukanmu. Dari balik tirai keresahan yang
selalu menyelimuti, aku selalu bertanya. Adakah kau kan kembali dengan
senyuman.
Semalam, aku jatuh terkulai
bersimbah air mata. Memimpikanmu bersama orang lain dan aku tak bisa berbuat
apa-apa selain merasakan mimpi seperti nyata. Waktu berjalan lambat dan aku tak
bisa mempercepatnya seperti tiupan angin. Sementara, tetes embun dimataku basah
mengalir cepat tak terhadang. Aku tak bisa membedakannya lagi. Bagiku mimpi dan
nyata sama terasa menyakitkan. Kau pun pergi, bukan saja dalam hidupku. Kau juga
pergi bahkan dari mimpiku, menghapus segala kenangan yang tersisa. Aku tak tahu
lagi cara mengumpulkan waktu bersamamu, aku tak tahu lagi cara menghabiskan
kenangan bersamamu. Ketika kau pun pergi dari sisa waktu hidupku, aku tak
menemukanmu lagi bahkan dalam tidurku. Aku ingin kamu. Kembali mengisi sudut
ruang hatiku yang kosong, dan menguncinya.
Menunggu pagi. Akankah hujan
masih terasa sama, miris diantara gerimis. Aku tak bisa mengabaikan keresahanku
karena terbangun memimpikanmu. Sesaat, masa dapat terhapus. Akan tetapi
kenangan begitu kuat tergambar di setiap malamku. Kemana harus kupergi jauh
melangkahkan kaki, sedang jejak bayangmu masih tercetak jelas di sepanjang
jalan. Menantikan pagi, yang habis perlahan bersama sisa keresahan. Aku hanya
bisa bercumbu dengan bibir cangkir segelas kopi. Membayangkanmu, menikmati
kehangatan yang tak bisa terulang. Seteguk, lalu habis. Tak ada malam-malam
bersamamu merindukan pagi yang datang terlambat sebelum kau terlelap. Aku ingin
bukan sekadar kenangan, aku ingin bersamamu menunggu pagi, terulang.
Kita tak lagi bersama, bukan
karena jarak yang memisahkan kita. Bukan pula rentang waktu yang membedakan
kita. Entah, semacam batas bening tak berbayang jelas menjauhkan kita. Aku tak
mengerti saat alasan bisa sangat memukul perasaanku. Ketika kau ungkapkan pada
pagi hari itu saja, aku tak mampu berdiri untuk melihat bayanganku sendiri. Kupikir,
jarak bukan lagi masalah karena kau akan segera pindah. Aku bisa bertemu
denganmu kapan saja, seketika itu menjadi sia-sia karena kau menyerah pada
perasaanmu sendiri. Aku pun tak sanggup menyelamatkan bulir bening yang jatuh
saat namaku disebutkan. Sampai setiap malam aku takut lagi untuk menatapmu. Waktu
tak lagi berharga ketika bertahun-tahun menjadi sia-sia karena kau hancurkan
dalam sehari. Dimanakah kucari hati yang hilang. Menjelang pagi kutemukan
diriku terbangun bersimbah air mata, memimpikanmu. Bayang-bayangmu memudar,
tapi perasaan itu masih kuat. Justru bertambah sakit.
Menjelang pagi, aku tak sanggup
membangun mimpi. Kenyataan yang memaksaku pergi karena malam adalah mimpi buruk
yang selalu menghantui. Ketika mentari bersembunyi di balik selimut. Aku tak
pernah menemukan cahaya di wajahku. Tidak seberkas senyum, tidak juga pandangan
mata yang berbinar. Melainkan garis hitam melingkar di bawah mata, karena
semalam tak mampu terpejam. Aku takut untuk membuka mata, terlebih hati. Setelah
kutahu kau hujamkan belati tepat menusuk jantungku. Apa salahku, tak pernah kau
tawarkan pilihan. Hingga remuk sedu sedan yang tertahan di dalam dada. Kau tak
pernah tahu masih ada bayangmu dalam mimpiku, setelah kupadamkan lampu
sekalipun. Aku tak bisa membalut luka yang kutahan meski perih terasa. Jika nanti,
kucoba berlari untuk menemukan cahaya. Lebih baik aku terbakar daripada
tertusuk tanpa alasan.
Aku tak menyangka, sekiranya
matahari tak pernah bersinar lagi. Tiba-tiba saja suatu hari laksana bencana,
datang tanpa tiupan sangkakala. Kini, daun mengering selama mentari tak terbit
lagi di ufuk sana. Rerumputan kian merindukaan terpaan cahaya. Sejak, langit
berubah pekat dan mendung sepanjang musim. Bukan saja angin tak punya alamat
untuk berteduh, nyanyian sepi kian menyapa di bawah rindang pohon cemara. Saat itu,
aku terbangun menahan getir yang timbul di sudut mata. Memimpikan layarmu terkembang
dan menjauh pergi menghapuskan namaku yang tertulis di pasir pantai. Nada sendu
mengalun mengiringi pejaman mataku, berharap menjadi akhir dari segala cerita. Tak
ada lagi lambaian tangan di ujung dermaga. Selain luka yang kubalut dengan
senyum paksa. Mengeja gerimis yang jatuh menerpa wajahku. Hatiku tenggelam jauh
ke dasar lautan.
Suatu pagi yang biasa, hadir semacam cahaya kembali menyapa. Tak ada yang berubah manakala rindu pun tak kunjung pulang. Seketika bagian dirimu larut dan hilang. Senyawa cinta yang kini lenyap dalam sekejap lantaran benci yang perlahan tumbuh. Tanpa kutahu ada benih-benih lain yang mengakar perih. Luka masih saja meneteskan darah sejak kau lupa akan janji manismu yang tak terucap kata. Lebih dari sekadar ungkapan bahwa janjimu telah terukir di dalam dada. Entah, apakah benci dapat tersapu angin. Seperti kenangan yang dapat terlupakan begitu saja, ingatan juga album manusia. Suatu waktu dan lupa datang silih berganti. Aku tak menemukan cinta itu kembali. Telah kurantau bilangan kota, kudaki pencakar langit gedung tinggi, kulewati lembah dalam keresahan. Di sudut hatiku masih saja kutemukan namamu, tak pernah hilang.
Di lorong sepi hati aku mulai
menemukan titik-titik nyala lilin yang bergoyang, ketika bisikan hatiku lirih
terdengar. Aku mulai menguping dinding menyimak kata-kata yang tersapu angin. Bahkan,
ada senyum di balik kepiluan hati yang tak terselimuti. Jejak-jejakmu masih
membekas di pikiranku, aku harap akan tersapu masa. Kau telah merampas hatiku,
maka kucari kembali di setiap sudut. Aku tak akan menyerah untuk tetap bertahan
melangkah pergi, menjauh. Ketika kau telah menghancurkan menara di hatiku. Maka,
aku tak berusaha kembali membangunya. Aku akan berusaha pergi untuk menemukan
kembali nyala api yang padam. Entah, di sudut kota, bibir pantai, dermaga
sunyi, kaki langit, celah angin, dedaunan kering. Akan kucari rindu yang tak
kembali pulang. Untuk kudendangkan bersama nyanyian bisu dan keremangan lampu
kamar. Mengisahkan arti kepedihan hati yang terluka karena cinta telah mati.
aku tak berucap kata, ketika ungkapan menari-nari dalam bayangmu. sejak kau diam membisu, di sudut dermaga. aku tak mampu menahan gejolak rindu kala mata pun hujan. gerimis kian menderas kepiluan hati. bibirku menyungging senyum, namun hatiku menangis tanpa suara. selembar ikatan janji yang terbang tersapu angin. membiarkan ombak menggulung kenangan ini. saat hatiku runtuh bersama kepingan luka yang kau beri. aku tak bermaksud memutuskan tali janji suci kita. namun, hadirmu tak pernah wujud nyata. selain, mimpi-mimpi yang terbagi oleh api cemburu, kadang, jauh membutakan mata karena langit tak pernah terlihat sama. terlebih, ketika hatiku terendam benci manakala kau bersama cinta yang lain. apakah harus kuhapus jejak langkah yang tercetak di atas pasir bibir pantai. tempat kita mengadu hati lantas bibir menari memeluk dingin. di sudut gelap hatiku masih membisikan kerinduan yang lirih terdengar samar menggema dalam dada. jika, mungkin akhir menjadi perpisahan yang tak terelakan. lebih baik aku tak menemukanmu, dimana pun. terutama sudut hatiku.
malam ini, kau pun terdiam dengen bibir mengatup. sedang bibirku menahan getir dan getar-getar dalam rongga yang tertutup. keheningan ini tak pula diselimuti kesenyapan. sebab, angin tak mau kembali jika purnama tak menampakkan muka. haruskah kucari bibir yang lain. karena tanpamu aku tak mampu berdenting untuk bersulang dengan teriakan di tengah petang. janji, selalu kau ingkari. cinta, selalu kau dustai. manakah diantara hatiku yang tak tulus menjulurkan kasih sayang. jika, kesetiaanku selama ini masih kau ragukan. mataku tak pernah mampu terpejam jika perih hati ini kau balaskan. dimana rindu adalah anggur yang nikmat memabukkan. kapan kau membelai angin selembut kau membelai dedaunan. semilir angin yang tertiup tak tertangkap telingaku tentang suara-suara bisikan serupa desahan. aku ingin mengecup bibirmu dan kita berciuman untuk mengalirkan cairan dalam tubuh kita. gelas, kukecup dalam keheningan.
suatu malam, kulihat dirimu dalam sekejap mata dalam mimpiku. rupanya, kau bersama seseorang yang baru kutahu adalah impianmu. meneteslah salju dari kelopak mataku. senarai rindu berubah remuk tanpa redam. bahkan tanpa kutahu, kau terlibat dalam ciuman penuh gairah dalam pikiranmu. aku tahu, aku tak bisa mencegah gumpalan awan yang kini menjadi hujan yang deras. kau hanya terdiam, aku telah bicara tapi entah tak ada suara. kau pun bergeming tanpa berucap kata. sejak, hatimu selayang pandang ujung daun di musim gugur yang jatuh terkulai di antara tumpukan daun kering cemara. maka, aku menjadi sehelei tisu yang mulai basah oleh gerimis. aku tak mengerti arti pengkhianatan, ketika permukaanya saja terasa menyakitkan. ujung mata pisau itu seakan mengintai dadaku. hujamkanlah, jika itu akan membuatku mati. siapa yang tahu ketika hati terikat rasa sementara pikiranmu berfantasi dengan orang lain. bahkan, diam-diam dalam tidurmu kulihat kau berpelukan. bukan padaku, miris. maka biarkan lah hati ini berdarah karena aku tak mampu berpikir dan mewujudkan orang lain dalam kepalaku. kau, telah menyalakan api kebencian.
malam ini hatiku tergantung, di langit tak ada awan pun berkabung. sejenak, cinta menjadi kebisuan yang menenangkan. ketika suatu waktu aku masih ingat rasanya kecupan pertama. aku tak mampu menepiskan kegugupan dan getir saat lidahku nyaris terkilir. bukan saja malu, tapi matamu terpejam dan aku kehilangan kendali karena bibirku terkatup. detik-detik yang berguguran seperti menyaksikan dua cangkir saling beradu. kemudian, kau berbisik jauh dari telingaku. mengatakan rindu. maka kukatakan saja sayang. kau pun tersipu, kulihat pipimu merona. aku tahu, saat itu cinta adalah kedipan yang tertahan untuk terus memandang. bahkan tatapan berlangsung lama. kini, hanya kusaksikan sunyi dan gelap menggelayut manja di atas sana. kusaksikan riak di dalam dadaku mulai berombak dan bergulung-gulung. rasanya, aku seperti merasakan kesepian telah memenjarakanku. entah, jika kukecup dirimu akankah masih terasa sama. karena diam-diam bukan saja cinta tapi juga terbit benci dalam hatiku, melihat kau bersamanya.
Aku tak peduli kemana bunyi denting ini terdengar, bahkan suara riuh dan gemuruh dada tak sanggup kuredam. Ada sepercik kerinduan yang tak bertemu tuan, seperti ranting patah yang enggan jatuh. Cinta menjadi debu yang menempel di daun pintu. Ketika ombak mengecup bibir pantai, sajak-sajak cinta menjadi tak penting. Kemana semua tulisan penyair kembali, seperti kerinduan bulan yang tak kunjung bertemu. Barangkali, puisi hanya lahir untuk kembali mengisi keranjang sampah. Seperti makian dan sumpah serapah, mengikuti jejak-jejak kaki yang terhapus angin. Sampai kapan aku menjadi binatang jalang. Sampai kapan rindu ini tak bertemu bayang. Sampai suatu ketika cinta menjelma bahasa yang tak dimengerti, kemudian saling membenci. Adakah seseorang yang bisa menjelaskan arti puisi. Arti kiasan dan ungkapan yang selalu kau dengungkan lalu terdengar berkumandang. Bahkan, aku tak mengerti. Apa sebenarnya hubungan ini.
Aku takkan pernah lupa bahwa hatiku tergores luka. Di antara dendam dan benci yang menyatu, aku tertatih untuk berjalan dan menatap ke depan. Melawan angin dalam kesendirian, membunuh waktu demi merampas rindu. Demi keyakinan yang kurasa bahwa kau terlahir dari tulang rusukku. Aku rela bahkan untuk berdarah, ketika sakit terasa abadi saat kau pergi meninggalkanku. Tak kan kusia-siakan lagi kepedihan dan kesunyian yang membisu. Tak ada dialog malam ini, pun bulan masih sama. aku pun masih cinta, walaupun sakit di dadaku tak tertahankan lagi. Demi seluruh nafasku, aku membungkam jiwa yang hampa karena sakit hati yang terbalut hangatnya pelukmu. Melewati rasa yang pernah mati, takkan kucari jalan untuk kembali. Tanpa kau di sini, kunikmati rindu yang datang memaksaku, meneguk sisa kepiluan hati yang kembali mengepulkan asap di tengah malam di antara denting jam yang mulai berguguran. aku takkan pernah lupa, cinta telah membawaku sejauh ini untuk bertahan, berjalan walaupun kakiku tertancap duri. Untukmu, seluruh nafas ini tak tersisa lagi.
Hari telah kembali kelabu, seperti usang dan lapuk karena waktu. Hati pun menepi enggan untuk berbagi bersembunyi di antara mimpi-mimpi. Sejuta angan tergantung di langit, sejuta rindu terbang tak tergapai. Hidup menjadi lebih kosong karena cinta hanya senyawa kimia. Di antara kepingan rasa benci yang mulai tumbuh menjadi duri. Aku tak berani untuk melangkah bersama sisa luka yang tertinggal. Sisa cinta yang masih tersimpan, menyuburkan rindu yang kembali tumbuh dalam setiap waktu. Kenangan, tak memberiku pilihan untuk berjanji menghapusnya dari memori. Kini, cinta yang telah membeku tak pernah mencair. Selepas angin yang mulai menerpa badai di akhir senja. Berharap, aku bisa menatapmu sesekali dalam mimpi. Memelukmu dalam bayangan.
Seperti yang kau janjikan, aku datang malam ini. Di tempat yang kau suka dan kurasa tampak lebih sepi dari biasanya. Hatiku begitu ramai karena jantungku sedari tadi berdugem kencang. Aku tak tahu, apa yang akan terjadi. Perasaanku mengatakan kau akan datang sembari menyembunyikan setangkai bunga di balik punggung, kau tersipu malu memberikannya padaku. Di tempat ini, tempat aku jatuh hati padamu, lirih musik terdengar pelan ketika petikan gitar itu mengiringi anganku lebih jauh. Sementara hatiku kemudian jatuh di pelukanmu. Detik demi detik saling menyusul pergi. Malam semakin tenggelam. Aku pun masih menatap secangkir resah yang mengepulkan frustasi karena mataku sibuk mengedarkan pandangan. Malam terasa dingin ketika kecemasan menguasaiku. Aku harap kamu datang. Semua kegetiran ini bercampur sendu karena rindu telah menyatu di dalam secangkir kopi yang kusesap perlahan-lahan agar tak segera pergi. Begitu lama kedipan mata melambat menunggumu datang. Pesan singkat kukirimkan. Kau pun tak membalas. Aku cemas, berharap penantian ini berakhir bahagia, kulihat rupa rembulan menyeringai padaku. Aku tak suka, berada dalam titik ragu dan tak pasti setelah kutahu cinta semakin rumit untuk kupahami. Sejak, aku tahu cinta tidak selalu indah. Kau pun tak datang, setelah tegukan akhir kopiku menandai padamnya lampu cafe. Jam satu pagi.
Kuingin lebih dari sekadar rasa, tapi kau tak mengerti. Bagaimana keinginanku untuk bisa kau pahami. Perasaan ini bukan maksud menuntut hanya saja tak pernah aku berhenti untuk berharap. Agar kau lebih memahami perasaanku. Ketika kepastian seperti angin sore dalam musim hujan. Entah, gerimis akan mengiringi nyanyian kepiluan hati menerpa rindu ketika rintik menjadi jejak dan hati seperti tak mengakui. Bahwa aku masih mencintaimu dalam diam. Dalam bisik masih kutiupkan rindu yang kini mulai membisu. Di antara rerumputan yang kini mulai layu, aku terkulai bukan lantaran luka. Tapi cinta telah melemahkanku. Untuk tetap berdiri dan bertahan seperti dulu, menjadikanku selayaknya rintik hujan yang mengalun merdu. Sejak, hari yang kuanggap kelabu. Sementara langit pun berubah mengabu, ketika dinding-dinding senja kini berwarna abu. Hati pun seakan terselimuti kelambu. Coba sedikit saja berikanku pengertian, mencintaimu tanpa syarat.
Aku tak pernah menyangka, cerita ini akan berakhir tanpa kutahu dimana titik aku harus menghentikan perasaanku. Menjalani sisa kepiluan hati yang terkoyak lantaran kau pergi. Setelah semua yang kau coba untuk membangun rasa cinta. Lalu badai dengan mudah meruntuhkan segalanya, termasuk perasaanku. Kau, menyalakan api dan memadamkanya dalam satu tiupan sementara hatiku tak lantas padam dengan seketika. Kecuali derai air mata yang deras turun seperti hujan. Dulu, kau semanis madu di sarang lebah. Dalam waktu yang sama kau menyengat rasa sakit yang tak terperikan. Rindu menerpa tapi sakit begitu menyiksa. Awal selalu indah tapi perpisahan selalu menyisakan drama kesedihan. Tak cukup kutebus ribuan tetes bening kristal yang lahir dari mataku. Ini tak semudah mengarang cerita, alur cinta yang kurangkai tak berakhir dengan luka. Tapi kau begitu mudah membuatnya menjadi nyata. Kisah yang bermula tentu akan menemukan titik. Di mana aku akan menyadari, api cinta akan padam dalam hatiku entah sampai kapan.
Kamu tahu, aku seperti berdiri di ambang pintu sementara kakiku terpaku untuk bergerak atau diam. Tak ada lagi jejak bisu semacam kerinduan. Aku tak tahu kemana hati ini mengarah. Sedangkan aku tak tahu apakah seseorang di sana memendam rasa yang sama. menyembunyikan perih dan kesendirian mengulas senyum yang kuanggap palsu. Jika, hati ini harus bertahan di antara kesepian. Padahal, setiap malam kusapa rembulan yang selalu hadir tengah petang. Seakan janji tak pernah ada. Apa yang terjadi manakala hatiku membisu, karena hati nurani tak lagi bicara. Ketika perasaan seperti tak pernah berkata, menepikan rasa cinta yang selama ini selalu tumbuh tanpa bunga. Mengakar tapi tumbang karena cuaca. Kutepikan rasa rindu di ujung dermaga seperti batu yang terdampar di pantai. Aku tak bisa mengharapkan apa-apa darimu, sang surya. Jika malam ini terasa sama, aku asing tanpamu karena kegelapan tak pernah seterang jika rembulan tak muncul. Menghangatkan hati yang telah membeku.
Suatu waktu, aku ingin melintasi pikiranmu. Kemudian singgah dan menetap entah sampai kapan di hatimu. Membuka jendela dan sekadar menghirup udara dari rongga dadamu. Mengekalkan kerinduan ini yang terus bermuara pada pertemuan yang singkat. Menyusuri setiap celah tubuhmu untuk kuingat. Apakah, ini menjadi hal yang ditakutkan. Perlahan, kau akan terlepas dari ingatanku. Kemudian pergi entah kemana tak kutahu. Sementara hatiku menangis seperti tak ada kesempatan kedua. Tak ada pertemuan lagi, orbit yang melintasi garis edarku begitu berbeda. Melihatmu dalam sekejap menimbulkan semacam rasa yang tak kumengerti. Senyum pun tiba-tiba mengembang di depan cermin. Lalu berubah menjadi raut duka yang tertutup luka. Cinta menjadi tak penting setelah kisah ini berakhir. Manakah di antara detik yang berhenti untuk mengabadikan kenangan. Selain luka yang terus membekas selama waktuku berjalan. Aku ingin menjadi seperti yang kau kenal, seperti yang kau tinggalkan.
Barangkali, kau telah berhasil mencuri perhatianku. Bahkan, kau berhasil merampas hatiku. Setelah kita menjalani cinta yang terikat dalam hati. Kau, mampu membuatku memahami arti saling berbagi. Menjalani kisah dan jalinan cerita yang hangat. Menapaki jejak-jejak rindu yang mulai tertiup angin. Di manakah kelak jalan ini menemukan ujung sementara hatiku meraba karena tak kutemukan cahaya. Secercah harapan seakan menjadi jalan untukku kembali. Berdiri, seolah tak pernah tahu untuk apa cerita ini dimulai. Sebelum akhirnya terpaksa harus usai tanpa seberkas alasan yang menutupi. Malam semakin mesra. Sampai, aku tak menemukan dirimu lagi. Kau pergi jauh, tanpa meninggalkan sepucuk surat maupun kabar. Entah itu pesan atau sekadar catatan kau lenyap seperti debu ketika diterbangkan badai. Kini kusadari bahwa selama ini kau telah mengajariku banyak hal, mencintaimu. Tapi kau melewatkan satu hal untuk mengajariku bagaimana cara melupakanmu.
Lama sekali aku memandangmu, ketika serpihan rindu akan kembali terbit laksana mentari di ufuk sana. Aku ingin menyimpanmu dalam setiap detik mataku berkedip. Menyusuri setiap sudut hati yang akan kembali sepi karena kau pergi. Senyap kembali merayap saat malam kembali tergenang sepi, manakala bahasa kesunyian tak mampu terdefiniskan arti. Bahasa hati tak pernah mampu mengungkap luapan rindu yang menggebu. Hanya, keping-keping cerita di malam itu menjadi bagian yang tersisa. Di depanku, kau tersenyum manis tanpa gula. Begitu menarik dan cantik. Aku suka, ketika harum bunga menyeruak begitu aku mencium aroma tubuhmu. Memanjakan setiap hembusan nafasku yang terhenti tepat sebelum jantuk berdetak. Menjadikan arti hadirmu begitu teringat dalam, mimpi pun tak sanggup mengabadikan cerita selain sesuatu yang terus tumbuh dalam hatiku. Semacam perasaan yang kuat dan tegar untuk tetap berdiri. Melihat, namamu tak pernah hilang barang sedetik masa. Memelukmu erat malam itu seakan hari ini tak pernah usai.
Mungkin, bagimu kenangan bisa seperti mesin waktu. Kembali datang dan kau kunjungi bila saatnya diperlukan. Tapi bagiku kenangan bisa menjadi duri yang mampu menancapkan luka. Jika kubuangpun maka akan menyebabkan luka saat aku berjalan. Seperti percuma, aku berusaha untuk mengubur kenangan. Suatu saat akan kembali dan menghantui, kisah yang dulu tersimpan lalu muncul di permukaan. Rasanya kenangan menjadi cerita yang hidup dalam hati. Kenyataan membawaku pada episode dimana setiap peristiwa terjadi mengingatkanku pada hal yang pernah terlewati. Cinta, menjadi kisah yang tak terhenti saat putus dan hubungan berakhir. Akan ada cerita lain yang kembali berlanjut mengikuti kisah yang lama. Akhir dari segalanya ada perhentian. Cinta barangkali pencarian sementara aku tetap berdiri pada perhentianku. Dimana, akhir menjadi tak ada. Dimana rindu menjadi semu. Dimana, cinta hanya sebatas cerita. Kau takkan mampu membuang segala kenanganmu seperti sampah. Suatu saat, akan terbayangkan pada peristiwa itu suka atau tidak, tiba-tiba dan begitu mendadak. Bahkan, tengah malam saat kau terjaga karena mimpi membuka kenangan itu.
Denting sore, gerimis kembali turun. Sungguh, aku masih bisa merasakan kehadiranmu. Jauh di dalam hatiku, ketika aku terbangun dan aku memeluk diriku sendiri. Menangis, karena aku begitu tak ingin kehilangan. Sementara cerita ini tak pernah kembali berlanjut dalam episode. Matamu, kala terpejam. Memancing senyumku. Kau begitu indah, di saat dirimu benar-benar terlelap. Walaupun seringkali api cemburu menyambar hatiku, aku tetap cinta. Manakah diantara senyumanku yang mengartikan dusta bagimu, sementara kedipan mata bisa sesekali terpejam. Namun titahmu menjelmakan bara. Mampu memanaskan api di dalam hatiku, kau masih bisa bermesraan dalam jejak kata yang tertulis di antara dinding maya. Ketika tak kulihat lagi celah dan ruang untukku berdiam. Sejenak, berdiri kemudian menetap. Walaupun untuk sementara. Bahkan, jika harus aku tak rela untuk membagi kepada siapa pun tanpa terkecuali. Aku tahu, itu hanya tawa untuk menghiburmu. Tapi di dasar lubang hatiku ada rintih, kemudian lirih menahan tangis. Aku cemburu, terkadang tanpa alasan. Karena hatiku tak lebih dari sekedar kepingan yang tak bisa dibagi.
Senyap kembali menjejaki nafasku yang tersengal karena udara dingin merasuk dalam. Ketika separuh jiwaku hilang lantas tak kembali. Pikiranku masih terbayang detik-detik akhir sebelum kau berpaling pergi. Mengucap kata yang terujar perih terdengar. Saat itu, aku tahu bahwa tatapanku akan kembali jatuh dalam kubangan air. Sementara, matamu tak kulihat lagi karena kau pun berbalik. Aku ingin memanggil, tapi lidahku seakan terkilir. Melirik hati yang terlanjur sakit karena perih luka. Menata kembali detak jantung yang sesaat terhenti karena aliran darah tak terpompa lagi. Mataku bening jatuh gerimis membasahi bumi. Aku ingin kembali terang, seperti cahaya. Menerangi tanpa tersentuh. Seperti angin tak terlihat tapi sejuk terasa. Ketika cahaya itu mulai redup lantas padam. Hatiku pun demikian berkata tapi membisu karena bahasa hati tak pernah terdengar lirih terbawa angin, membisikan jeritan hati yang kosong. Menatap jendela seakan tertutup tirai sedang mata memandang. Menjadi bias diantara riak air yang terendam deru ombak. Semilir angin mengantarku pada perhentian. Untuk membuka hati kedua kalinya, tidak untuk menetap. Tapi untuk kemudian pergi, tanpa berharap kembali.
Sedih ketika esok mentari akan terbit di tempat yang sama sementara tak kulihat lagi terangnya. Seperti hatiku yang terkurung oleh keraguanku sendiri. Menatapmu, dalam bayang- bayang tertutup kabut terlihat matamu sendu. Ini adalah perjumpaan yang kuhindari. Setelah sekian lama, aku berkaca dan seolah berbicara sendiri. Kau adalah jejak yang telah kuhapus, namun jejakmu masih membekas. Aku tak bisa mengelak pada garis langkah yang telah mempertemukan kita. Kau masih sama, seperti dahulu tampak bersinar dan memesona. Aku, seperti dahulu tak bisa menyembunyikan kekaguman dan ketertarikan padamu. Kini, semua seolah menjadi beban, pertemuan yang tak kuharapkan selama ini justru terjadi. Di saat, aku masih menata kembali sandaran kakiku yang patah untuk berdiri. Kau, mencoba untuk memancing kembali luka yang telah tertutup rapat. Terkenang dan terbuka perlahan, seperti lembaran poto dalam album. Kemudian bias bening di pelupuk mataku mulai terbit ketika kulihat sebuah lingkaran mengikat jari manismu. Cincin dengan mata yang berkilau. Mestinya, aku tak melihatnya.
Seharusnya, aku mengelak dari keinginan untuk menempatkan ruang kecil di hatiku, untukmu. Ketika semua keraguanku akan mimpi dan cinta membayangi sekelabat dalam pikiranku. Membuatku, bertanya akan arti pertemuan yang kita lalui selama ini. Selama, mataku masih beradu pandang dan tersenyum kemudian. Siapa yang bisa menjelaskan getaran yang timbul kemudian seiring parasmu hadir dalam bingkai hatiku. Saat itu, aku harusnya tak berani menaruh hati. Sengaja, kupikir aku tak akan terjerat oleh degup jantung di dadaku yang semakin kencang. Nyatanya, aku terjebak pada dilema antara perasaan suka dan luka yang rumit dan menggebu. Ketika masih kukemas rapi berbagai serpihan kenangan di masa lalu dalam sebuah kotak penyimpanan dalam benakku. Sementara, masih begitu jelas terbayang matamu yang sendu saat terpaksa harus melepasku pergi. Berharap, saat ini aku tak jatuh pada luka yang sama. luka yang selalu menawarkan manisnya madu saat awal pertama kali bertemu tanpa tahu masih ada kemungkinan untuk berpisah. Menatapmu, saat ini menjadi awal untuk kukembali mencoba merasakan sejumlah arti. Dilema antara luka dan cinta yang menyatu dalam kehatangan yang tak kupahami.
Kau hanya membisu seakan tak punya kata, menyimpan segenggam kalimat dalam pikiranmu sendiri. Sementara kutahu kau begitu merindukan kehangatan, seperti bulan merindukan pelukan. Mata terbang hingga pada pucuk daun ketika jejak pikiranmu tak kembali dalam lamunan. Ada sepenggal pendirian dalam harap, lalu dada mendadak tergagap. Esok pagi, seperti janji. Kau pikir waktu masih tersisa. Aku akan terbujur kaku tak bernyawa. Kau akan kehilangan arti kemungkinan. Senja, rembulan pun menangis. Malam, seperti halnya kita tetap butuh terang. Menjadikan arti hadirku sebagai anugerah. Kesempatan memenjarakan hasrat yang terbutakan oleh pikiranmu sendiri. Harusnya kuakui mencintaimu adalah kesempatanku, sekali. Aku ingin, bahkan dalam pejaman mata terakhirku masih tersimpan detik-detik yang kita bagi bersama, menari layaknya burung terbang. Di saat kau tahu tak ada lagi yang berarti, hidup tak memberikanku kesempatan. Mencintaimu, untuk memilikimu. Kepada angin kusampaikan jerit kepiluan hati sepenggal kisah terbiaskan relikui kematian. Menjemput, cahaya. Kesempatan untuk hidup baru. Membangun kata-kata yang telah hilang sepanjang waktu kuterlelap dalam tidur panjang. Selamat tidur. Aku berharap tak terbangun.
Untuk sekian lama, aku masih termenung membayangkanmu. Betapa aku tak bisa menghapusnya, karena tak ingin. rasaku telah melebur dalam cinta yang membisu. Aku tak tahu, apakah aku bisa melupakanmu barang sekejap masa. Bahkan, sehari saja. Ketika semua kenangan terkunci dalam hatiku dan kau selalu hadir di suatu malam dalam mimpiku. Menyelinap bahkan menginap untuk satu malam. Aku tak bisa mengelak ketika mataku membanjir saat terjaga tanpamu, kecuali ingatan tentangmu. Memeluk tanganku sendiri, seakan memelukmu. Di atas kasur itu, aku masih sadar. Ketika beberapa kepingan hatiku hancur seketika kau memutuskan untuk berpisah. Denting air mata berguguran membasahi bumi. Aku terpejam untuk bersembunyi dari realita. Sementara, dadaku masih terguncang karena luka hatiku menganga. Kehangatanmu kemudian hilang dalam tragis dan aku kembali menangis. Jika, suatu saat aku bertemu lagi denganmu. Aku tak tahu, harus berkata apa. Bahkan untuk tersenyum, rasanya aku akan berpura-pura bisa bangkit tanpamu. Padahal, aku tak bisa. Menyapamu seakan tak terjadi apa-apa, melihatmu dalam jarak pandang biasa. Menyentuhmu, seakan tak ingin. aku tak bisa menjelaskan arti perpisahan, ketika kutahu ada rencana di balik setiap pertemuan. Mungkin, aku tak yakin. Siapa yang bisa menjelaskan arti pertemuan-pertemuan kita selanjutnya. Sekalipun kau tak ingin.
Sepi menyekapku dalam jejak bisu yang tertuang dalam kepulan asap secangkir kopi. Merenda kesunyian yang terlukiskan di antara sudut bibirku yang kering. Kerinduan akan kecupan basah, mengobati dahagaku akan cinta. Menggenggam jemari kita berpelukan dan saling merapat kemudian mengusir tegang. Hatiku tinggal seseruput lagi. Ditemani lagu yang ramah menyapa telinga sanggup menggetarkan hati. Mataku mulai meremang, malam telah tergenang karena bulan terlihat lelah menggantung di sana. Aku menantimu dalam detik yang hilang. Menit-menit menjadi rumit. Tak ada kabar tentangmu, setelah sekian lama. Bayangmu masih terlihat di cangkirku. Sekejap mengecup bibir gelas dan bayangmu hilang tertelan. Apakah aku lelah menantimu, sementara hatiku terpaut olehmu. Malam demi malam habis kubagi sendiri di antara resah. Bukan saja bayangmu, matamu, lirikanmu, bibirmu kemudian kata-katamu telah mampu membuat mataku terpejam beberapa saat. Aku harap, suatu saat nanti kau datang menyapaku seperti dahulu, bibir merekah senyum seraya memelukku. Penuh kehangatan.
Sejak itu, aku tak lagi menunggu datangnya pelangi. Seberkas harapan yang timbul di dinding hatiku seketika terhapuskan tetesan gerimis hujan. Adakah cinta menuai abadi. Ketika yang kutemukan dalam setiap harapan adalah kosong. Aku tak bisa berpura-pura tegar saat kakiku berdiri. Diantara kerinduan yang tertinggal masih menyisakan bingkai kenangan yang terpajang di sudut hatiku. Lantas, aku tak bisa begitu saja membuangnya. Kau, menepikan impianku selama ini. Hari-hariku bersamamu menjadi indah lalu mendadak situasi membuatku mengalah pada jawaban hatiku. Merampas segala luapan cinta yang terendam. Apakah kini aku bisa berharap cinta datang seperti sedia kala. Ketika kurasakan kepingan-kepingan masa lalu membuatku jatuh pada genangan luka dan sakit hati. Aku tak mau, karena hanyalah dirimu yang mampu membuatku melihat. Diantara sudut kenyataan dalam hidup tak bisa dijelaskan dengan pengertian, kau mampu memberiku alasan tentang arti pertemuan dan cinta.
Ada cinta yang terperangkap kenyataan. Sementara perasaanku telah bertalian sama dengan rasa suka. Entahlah, aku tak ingin berdiri di antara sisi terdekatmu. Hatiku tak lantas berhenti karena degup jantungku benar-benar tergetar. Untuk mengungkapkanya butuh sejuta kesadaran agar kalimatku tak salah terujar. Kini, aku bahagia sekalipun rasa sakit kemudian. Melihatmu tersenyum dan mengungkapkan hal yang sama. seakan, rasa sakit tak terlihat lagi di hatiku. Mencintaimu, tak lantas kumiliki. Sebab, aku tahu tak bisa berharap lebih dari sekadar yang kubayangkan, kuharapkan dan kuimpikan. Di sudut ruang kosong itu aku melihatmu, kudekati. Kita beradu pandang lantas berbincang. Setelah sekian lama banyak hal kuketahui, salah satunya perasaanku. Aku jatuh hati padamu. Untuk pertama kalinya, kurasakan. Gejolak rindu di dada untuk terus bertahan dan bertemu di kemudian hari. Tak pernah ada ragu sementara hati tergenang cinta yang tak kumengerti. Kenyataan, tak selalu sama tergambarkan di bayanganku. Kau, disana. Mencintaku tanpa henti. Aku menunggumu, sementara memastikan datangnya kesempatan lain. Untuk kembali mencintaimu, bahkan memiliki.
Akhirnya aku kembali menyusuri jalanan setapak dengan hati kosong. Kegalauan hati sepanjang hari menyelimuti dan mataku dibanjiri kesedihan yang tak berkesudahan. Aku telah membuatmu kecewa. Sungguh, aku tak bermaksud. Sementara pilihanku telah membuatmu merasa begitu tak dipercaya. Cinta apakah mampu menyelamatkanku di saat-saat aku benar-benar hampir tak percaya cinta. Siapa yang peduli, kegetiran hati. Bahkan, aku telah mengutuk dimana hari itu telah menghancurkan cintaku. Tapi, hal itu tak mengembalikan apa pun. Aku sampai ragu tentang jalan cerita hidupku. Ketika rasa takutku sanggup mengalahkan cintaku. Meniti hari-hari penuh kecemasaan sementara hati ini koyak karena kau telah pergi. Setelah pengorbananmu selama ini demi masa depan cinta. Begitu mudah kuhabiskan barang sekejap masa. Kuabaikan rasa rindu, ketika rasa sakit ini menguasaiku, menjadikan ranting yang basah pun jatuh karena terguyur hujan. Apakah detik ini menjadi berguna lagi. Ketika kau pergi, karena bukan kesalahanku. Dulu, aku pergi karena kesalahanmu. Kau pun kehilangan. Kini aku lebih dari rumput yang merindukan hujan. Kehilanganmu, tak pernah terpikirkan untukku menahan detik ini gugur bersama mataku yang mulai basah. Tak habis kumengerti. Kau mengubur cintaku seperti dulu. Lebih dari bertahun-tahun yang lalu. Untuk menutup masa depan cinta yang pernah kita genggam, tak sempat teraih.
Aku menyesal, entah kepada siapa. Ketika rasa sayangku kembali tumbuh setelah sekian tahun lamanya. Kau pun masih menjaga perasaan itu. Kemudian kita sama-sama punya mimpi tentang cinta yang kita rajut bersama. Tapi, kandas. Bukan karena perasaanku. Sayang, ada orang lain. Aku hanya bisa menangis mengunci pintu kamar dan berbincang dengan dinding-dinding ratapan dan tangis yang tersedu. Aku tak bisa mengembalikan waktu untuk bisa meyakinkan orang tuaku. Apalah arti cinta, ketika cinta harus berakhir tiba-tiba. Aku hanya bisa termangu lantas membisu memandang cermin karena mataku memerah. Kau telah pergi, dan berniat tak kembali. Mungkin menyisakan rasa kesal, aku pun menyesal. Namun apa lagi, cerita sudah cukup sampai di sini. Aku hanya bisa berbagi cinta dengan tepian kamar dan lampu yang masih menyala. Kau, telah membuatku bangkit berdiri dan memahami, sepenggal cinta di masa lalu. Tumbuh kembali dalam hatiku tanpa harus kusiram. Lantas tercerabut begitu saja karena orang tuaku meragukanmu. Aku yakin, tapi tak cukup. Kata maaf telah tertambat hati sebatas bibir terucap. Rasa sakit telah merobek hati dan kau pun pasti sangat kecewa. Maafkan aku, tak mampu membuatmu bertahan dengan cinta kita. Aku salah mengartikanmu. Sebenarnya, kau adalah awal untuk membuatku sadar. Cinta ada karena keraguan, ketika hilang aku pun akhirnya merasa yakin. Cinta yang dulu hilang telah kembali, suatu saat akan hilang jika tak kau simpan. Hati, tak pernah berdiri satu kaki. Masih ada cerita lain. Aku hanya bisa menangis, maafkan aku.
Awalnya aku merasa, ketika aku jatuh cinta. Semua terpikirkan adalah antara aku dan kamu. Nyatanya cinta bersemi dan berjalan seiring waktu. Kemudian cinta terbagi dan hubungan putus begitu saja seperti daun yang gugur di musim semi. Banyak alasan, banyak cerita. Tapi cinta bertahan karena kesetiaan. Saat itu, aku belajar arti rasa sayang yang tumbuh mengakar layaknya pohon. Ketika semakin lama akarnya semakin tertanam dalam. Cinta tak pernah habis lekang oleh waktu. Selama bertahun-tahun kau pun bertahan dengan rasa setia. Kita kemudian kembali merajut cinta yang sama-sama masih tersimpan. Namun, cinta bukan soal aku dan kamu. Masih ada orang lain. Masih ada alasan lain, cerita lain yang bisa begitu saja menghancurkan segalanya. Bahkan, kau pun tak lagi percaya bahwa cinta mampu menyatukan hati. Cinta pun menyatukan keluarga. Dan kau pikir itu masalah terbesar. Aku tak tahu, apa yang harus kupercaya. Aku begitu kehilangan bukan seperti dulu, rasa sayang yang memudar. Aku kehilangan tentang arti hidupku yang singkat untuk kumengerti. Tentang cinta, tentang keluarga. Terutama tentang kamu. Aku kecewa, kau pun memilih untuk berpisah karena aku terlanjur untuk percaya. Cinta sebenarnya ada bukan untuk kumiliki sendiri. Cinta adalah perasaan yang harus kubagi, antara aku dan kamu. Kita bersama menyatukan keluarga.
Perasaan ini tak bisa terlukiskan. Seuntai mawar layu pun masih kusimpan. Seperti luka hati yang masih kujaga. Terkadang, suatu malam aku hanya terduduk sendiri dan terpikirkan kenangan yang tak bisa kulenyapkan. Seketika mataku menitikan air karena perih kehilangan begitu tak terelakkan. Bunga di hatiku pun layu. Aku masih menjaga, menyimpanya. Tapi bagaimana hatiku, begitu hancur dan remuk sementara mataku tak bisa berhenti dalam tangis. Semakin kujaga, semakin kurasakan sakit. Saat niatku melemparkan bunga, aku tak bisa membiarkan hatiku semakin pecah. Kau, membuatku bertahan saat keadaan semakin tidak memungkinkan. Ketika aku begitu merindukan hujan saat musim kemarau berkepanjangan. Merindukan kehangatan, sementara hujan tak pernah datang. Seperti dongeng, aku menghibur hatiku saat nelangsa. Kerinduan ini seperti dahaga hulu bertemu muara. Aku masih menjaga, karena ada perasaanmu disana. Saat kau memberikanya dengan cinta. Bunga di hatiku, akan terus tumbuh dan mengakar. Bahkan, saat kutahu tak ada air untuk membuatnya subur dan segar. Aku ingin terus memilikimu. Walaupun sakit kurasakan. Menikmati secercah harapan kosong seuntai mawar layu yang berharap tumbuh di tanah gersang. Kerinduan yang tak bertemu tatap, hati yang tak bertemu tepi. Cinta tak bertemu sukma, benih yang tertinggal tak pernah tersiram. Suatu saat, akan tumbuh. Entah seperti apa.
Cukup lama aku terhenyak, seketika sadarku bangkit akan hadirnya kepiluan hati. Aku telah lama mencoba untuk kuat bersandar seperti karang. Tapi aku tak bisa berpura-pura. Aku tak bisa melepasmu pergi. Bibirku berujar iya namun hatiku bungkam layaknya terkunci. Kau tahu, setelah sekian lama aku mencintaimu. Tak mudah bagiku untuk berkunjung ke lain hati. Tak mungkin bagiku melangkah pergi menantikan cinta yang lain. Cinta tak akan kutemukan sama. ketika kurasakan begitu banyak pengertian darimu. Cinta bukan soal rasa semata. Ada kerinduan yang nyaman bersarang melahirkan benih-benih asmara yang subur, menggelora hingga tertanam dalam lubuk hati. Menghitung hari hingga tahun telah berganti terlewati, hatiku masih terpaut olehmu. Seketika menjadi mimpi buruk ketika kau berkata lain. Cukup sudah, kau menyerah. Kau memilih pergi, tali yang tersambung pun putus tanpa tercegah. Layaknya hujan, begitu tiba-tiba. Hatiku pun menangis lantaran kau sama sekali berubah. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Pilihanmu memang menyakitkan, sedang aku harus tegar berdiri, sendiri. Menata kepingan hati yang telah berserak dalam puing-puing yang entah bisa kutemukan. Kau, lebih dari arti sebagai kekasih. Kau, membuatku belajar lebih untuk bisa percaya. Bahwa, cinta tak diciptakan sama.
Pernahkah kau merasa pada titik terendah dalam hidupmu. Nyaris kehilangan seluruh energi dan semangat. Terlebih, hatimu terluka. Atau tak pernah kau temukan cinta dan kau larut dalam kesendirian. Memandangi langit seakan menatap kosong. Bintang menjadi tak menarik. Cerita hidup menjadi datar. Pada titik itu sebenarnya kau merasa tak punya tempat berpijak. Tempat untuk hatimu bersandar. Tempat untuk hatimu berbagi cerita. Tempat dimana gelora asmara berkobar. Tempat menitipkan rindu dan salam cium hangat. Tak ada yang tahu, pada titik dimana aku bertahan. Sejak, aku tahu kehidupan menjadi cerita yang membosankan. Selain dirimu. Aku tak menemukan cerita apa pun. Hatiku patah, ternyata selalu ada orang lain. Hatiku remuk bersama logika yang hilang. Seluruh waktu yang tersisa menjadi hampa. Cinta seakan telah mencuri hatiku dan tak pernah mengembalikanya. Apa yang terjadi, manakala kerinduan ini tidak ditujukan pada siapa pun. Bukan pada angin, bukan pada langit, bukan pula pada bintang. Kau, dahulu yang selalu menghiasi mimpiku, menjadi seberkas bayangan yang memudar dalam ingatanku. Kecuali, kutahu hatiku terukir namamu. Tapi aku telah menumpahkan segala tangisku karena kesedihan, kehilanganmu. Pada titik itu, aku tak yakin menemukan energi untuk bangkit berdiri. Aku hanya membutuhkanmu.
Tahukah kau, layar di atas perahu yang terbentang menunjuk langit. Kini, kurasakan perasaanku terombang-ambing ombak. Bahtera yang kulayarkan terhadang badai. Seketika dadaku mendadak bergemuruh. Hatiku bimbang. Seperti daun yang diterbangkan angin. Rasaku benar-banar tak mudah kupahami. Terkadang, terbang tak berpijak tanpa arah. Terkadang, aku merasa tersesat dalam labirin yang tak berujung. Kemanakah hatiku berlabuh, sementara tak kutemukan daratan sepanjang mata memandang hanya lautan yang beredar pandang. Kemanakah mata ini jatuh hati merapatkan buih-buih asmara yang selalu kudambakan. Tak ada jejak, tak ada kaki berpijak. Seperti surat dalam botol aku pun terbawa kemana ombak hendak pergi. Tak ada arah dan tujuan. Apakah perasaan sebenarnya tak beralamat. Sehingga terkadang aku merasa hampa dalam kesendirian. Memendam sendiri dan terpaku pada rintik hujan di mataku. Sedih, menuai perih ketika badai di dadaku tak mampu kuredam. Aku begitu merindukan tempat hatiku berlabuh. Tak ada dermaga sementara layarku nyaris tertelan badai. Hatiku benar-benar ingin pelukan. Bibirku kering merindukan cumbu. Ketika bahasa cinta tak lagi mampu diwakili sepanjang kalimat aku hanya ingin pelukan. Seperti halnya ombak kepada buih yang tak mampu bertahan di tepi pantai. Aku tak mampu bertahan dalam kesendirian. Memahami perasaanku yang terombang-ambing ombak. Berharap ada tepian hati kutemukan dermaga. Cintaku tak bertepi.
Malam ini kusendiri. Terjebak pada masa lalu. Hatiku terjerat waktu yang tak mau melepasku pergi. Mataku tak habis meneteskan air mata kerinduan. Sedangkan kesedihanku telah habis karenamu. Kenangan, membuatku merasa haru. Cinta menjadi cerita seutas tali yang tergantung membisu. Aku tak bisa melepaskan ingatan tentangmu. Hatiku masih bersemayam dalam. Ketika perpisahan selalu berhasil membuatku berlutut tak berdaya. Maka kenangan menjadi belati yang cukup tajam menggores masa indah menjadi kesedihan yang berkepanjangan. Di sudut kamar aku bersimpuh, memandang kosong bingkai foto yang berdebu. Antara kita pernah ada cinta. Tapi kini sudah tidak lagi. Aku tahu, semestinya hujan akan berhenti sementara hatiku selalu menangis saat teringat tentangmu. Tentangmu. Bagaimana aku menutup hatiku yang kosong, ketika namamu terukir dalam di jantungku. Rintik hujan mengalunkan dawai indah yang memetik sunyi menjadi bahasa kerinduan. Kita pernah sama, kita saling suka. Tapi cinta tak bertahan lama. Kau pun pergi, meninggalkanku dengan sejuta kenangan yang tak bisa kulupakan. Cerita mungkin mudah kusudahi, sementara perasaanku tak pernah terkubur mati. Aku selalu terluka karena cinta tak pernah kutemukan sama, selain kepadamu. Aku rindu bersamamu.
Sebab, hatiku akan tandus tanpamu ketika cerita cintaku harus berakhir. Aku ingin mengenang segala hal indah bersamamu. Karena esok takkan seindah ini, mengecap bias-bias rona bahagia. Namun kini tak mungkin lagi, katamu sudah tidak artinya. Ketika harapanku semua habis terbilang percuma. Rasa itu pernah hadir mengisi hatiku, mewarnai segala sendu dan hampa hidupku. Jangan berakhir, karena bagiku tak ada hari esok tanpamu. Satu detik saja, kurasakan detak jantungku menyebut namamu. Setiap sudut seakan membisikan kata cinta terdengar lirih. Aku ingin terasa lama, ketika tak ada yang bisa kurasa, selain cinta. Malam yang dingin, angin mulai melambai perlahan menembus kisi-kisi jendela, aku masih terdiam. Membayangkan, tak ada esok. Ketika kutahu, mentari akan terselimuti mendung sepanjang hari, lalu aku harus berlindung ketika gerimis turun. Tapi ketika hatiku bersedih, aku harus berlindung kepada siapa. Sedangkan, kau tak lagi. Memainkan lagu indah yang romantis ditemani api lilin. Menemaniku sepanjang malam, bersama kerlip bintang yang kau bilang lampu abadi. Cintaku tak boleh padam. Jangan berakhir. Aku mohon.
Aku melihatmu dari balik kaca bening. Menatapmu, penuh keraguan. Kau masih tergeletak lemas di atas ranjang. Aku tak mampu menggenggam tanganmu. Dari balik pintu mataku mencarimu, kau disana masih saja terpejam. Sudah beberapa jam yang lalu. Aku hanya duduk menunggu dan termangu. Aku tak tahu apakah cinta masih bisa dilanjutkan. Sementara detik-detik lebih berharga bagimu untuk bisa merampas waktu. Mengembalikan masa dan senyum bahagia di hari yang terlewati. Aku masih disini, menantimu. Di saat kau masih terlelap kulihat ada sendu di mataku. Tak mampu kubendung, seketika air mataku meleleh. Aku baru mendengarnya dan jantungku seakan berhenti berdetak. Apa yang bisa kulakukan selain memanjatkan doa dan merapalkan ayat-ayat untukmu. Ketika aku tak bisa menghentikan waktu. Ketika itu pula aku merasa kau akan pergi. Semakin sesaklah dadaku karena aku tak bisa lagi melihatmu, tersenyum. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Dan kau pun tak meninggalkan sedikit pesan maupun kata terakhir untukku. Selamat jalan, sayang. Takdir memisahkan kita.
Tanganku selalu berusaha meraih ketinggian. Selalu tak sampai. Menggapai pun tak sampai. Ketika hatiku seakan terhimpit oleh dinding dan aku tak melihat cahaya. Aku terjebak pada perasaanku sendiri. Cinta tapi dipendam. Suka tapi Cuma disimpan saja. Saat aku tahu, aku tak bisa berterus terang. Bahkan, kepada langit pun aku tak berani menunjuk. Kepada siapa aku harus ungkapkan. Selain dinding-dinding kamarku yang mendengarkan rintihan bisikan hatiku lirih. Kadang merintih. Sendiri membuatku merasa tak berarti. Bukan karena aku tak punya rasa. Tapi rasa selalu menuntut balas. Maka, selama ini aku hanya tangan yang menggapai pun tak sampai. Menggapai hatimu. Apalagi menyentuhmu, lebih dari sekadar angan. menjemputmu dalam mimpi dan kubawa pergi habis semalam meneguk secawan anggur cinta. Dan aku bisa mabuk karena begitu menikmatinya. Sesaat, sadarku akan rasa. Dadaku mendadak tergagap. Akalku mendadak membekap. Arti hadirku tak selalu berikan warna dalam hidup. Di kejauhan aku melambai, tak juga sampai. Kau, hanya jendela untuk membuka mataku. Hidup, tak lebih dari jarak tak bersudut. Lelahku, menggapaimu.
Kau pikir, aku adalah persinggahan dimana kau berlabuh tanpa jejak. Sementara kau lemparkan jangkar dan tepat mengenai jantungku. Cincin yang kulihat melingkar di jari manismu, membuatku terhunus pedang dan meremukkan seluruh harapanku. Kau datang, seperti mentari tampak bercahaya. Memberikan harapan dan kehangatan yang menyinari jiwaku. Lalu kau pergi, tanpa tanda bahwa kau telah melempar janji. Di sini, aku terhenyak dengan hatiku yang terkoyak. Sementara kau tak tahu, jangkar yang kau lempar tepat di dada. Kita pernah sama menggenggam tangan saling menyapa. Bersentuhan dan bibirku melumat segala kenangan. Kau telah mempermainkan perasaanku. Kau datang di saat kau ingin jiwaku yang malang, kau pergi di saat hatiku tak lagi bisa berdiri. Lemas rasanya persendianku tanpa tulang. Seketika tubuhku lumpuh karena cinta telah mencabut jiwaku. Kosong. Kabar yang kuterima seperti tersambar angin manakala kutunggu dirimu di dermaga, membisu dengan hatiku yang kering. Aku tak tahu, kau berlabuh di hatiku karena ingin, atau sekadar menyapa. Sementara senja kian melepaskan bias jingganya. Kemudian lebur berserta permukaan laut yang berwarna keemasan memantulkan cahaya. Saat itulah, aku tahu tidak ada harapan lagi. Tidak perlu ada persinggahan lagi. Kau telah cukup membuatku jatuh, bahkan tenggelam. Di dasar hatiku, bahkan aku mati. Tak ada api kecil yang bergoyang seperti pertama kali kukenal dirimu. Kecuali, kau lemparkan cincin itu untuk melingkar di hatiku. Tapi aku tak ingin.

















































